**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************
---------------------
Artikel Eskol-Net:
---------------------
Sambungan tulisan:
"Masalah Pendongkelan Gus Dur dan Kemerosotan Moral"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
JARINGAN MAFIA BESAR-BESARAN REZIM ORDE BARU
(Oleh: A. Umar Said)
Sejarah sistem politik Suharto dan kawan-kawannya (para pendukung setia
rezim militer Orde Baru) adalah sejarah penyalahgunaan kekuasaan dan
penggunaan kekerasan secara sewenang-wenang dan besar-besaran dalam jangka
panjang. Suharto dkk telah membangun suatu jaringan kekuasaan mafia yang
menyeluruh. Jaringan mafia inilah yang telah menimbulkan
kerusakan-kerusakan
besar dan parah, terutama di bidang moral atau akhlak. (Berkaitan dengan
ini, mohon diingat kasus-kasus : Pertaminanya Ibnu Sutowo, Bulog,
pembabatan
hutan, perampokan bank-bank oleh para pimpinannya sendiri, kolusi dan
permainan komisi oleh para pejabat, dll)
"Berkat" sistem politik inilah, para jenderal dan penguasa-penguasa militer
dan para elite dari berbagai kalangan ( Golkar, konglomerat, sebagian tokoh
kalangan Islam) - dari berbagai tingkat -- telah mendapat "pembagian kueh
pembangunan". Di samping itu, dengan memberikan dukungan kepada rezim
militer Orde Baru, mereka juga mendapat perlindungan politik dan
perlindungan hukum dari jaringan mafia ini. Adalah menarik sekali untuk
dicatat, bahwa selama 30 tahun Orde Baru, sedikit sekali peristiwa korupsi
atau tindak pidana yang terjadi di kalangan elite yang diajukan ke
pengadilan. Padahal, korupsi atau berbagai penyelewengan kekuasaan begitu
banyak terjadi. Baik di kalangan para menteri, di kalangan Mahkamah Agung,
di kalangan DPR-MPR, di kalangan DPRD, di kalangan kejaksaan dan pengadilan
negeri, di kalangan gubernur dan bupati, maupun di kalangan militer dan
kepolisian.
Suharto yang korup dan banyak menjelewengkan kekuasaan memerlukan dukungan
dari birokrasi dan para elite dari berbagai kalangan. Untuk itu, segala
tindak pidana yang dilakukan oleh para pendukung setianya dibiarkan saja,
atau ditutup-tutupi, atau dilindungi, atau dima'afkan, asal saja mereka
tetap setia mendukungnya!. Kesalahan atau tindak kriminal para elite
pendukungnya merupakan senjata Suharto untuk menyandera mereka, lewat
"kemurahan hati"-nya. Karenanya, maka banyak "tokoh" berbagai kalangan
(resmi maupun swasta) berani - dengan seenak hati -- melakukan hal-hal yang
bersifat kriminal, hanya dengan modal bisa menunjukkan kesetiaan politik
mereka kepada Suharto. Agaknya, bagi Suharto, berlaku prinsip : kesalahan
kriminal boleh-boleh saja dilakukan oleh para pendukungnya, asal tetap
setia
kepada politiknya. Itu semua adalah sebagian dari penjelasan mengapa KKN
merajalela, mengapa hukum dan keadilan tidak berjalan, mengapa negara telah
menjadi acak-acakan, dan mengapa kebobrokan moral membudaya. Situasi yang
demikian itu telah berlangsung lebih dari 32 tahun. Jangka waktu yang lama
sekali! Itu semua telah merupakan penyakit kangker ganas yang menyerang
tubuh bangsa, yang akibat-akibat parahnya sedang kita warisi dewasa ini.
Dari pengamatan kita bersama terhadap perkembangan akhir-akhir ini, maka
jelaslah bahwa walaupun Suharto sudah lengser keprabon dan Orde Baru sudah
ambruk (resminya!) tetapi sisa-sisa kekuatan gelap Orde Baru masih tertanam
dan sembunyi di berbagai kalangan (militer, birokrasi, pengusaha besar,
sebagian dari ulama dan kyai, intelektual dll). Mereka inilah yang dewasa
ini sedang berusaha -- dengan segala macam cara - untuk merongrong
kedudukan politik Gus Dur, untuk menyabot usaha-usaha Gus dalam meneruskan
reformasi di berbagai bidang. Mereka juga berusaha menjegal Gus Dur dalam
usahanya memberdayakan demokrasi, menjunjung tinggi-tinggi Hak Asasi
Manusia, atau, singkatnya, melikwidasi sisa-sisa buruk Orde Baru.
KEPENTINGAN MEREKA DIRUGIKAN DAN TERANCAM
Adalah logis bahwa, bagi sisa-sisa kekuatan Orde Baru, keberhasilan usaha
Gus Dur dalam menegakkan hukum dan keadilan dan dalam usaha pembrantasan
korupsi, merupakan kerugian bagi kepentingan mereka. Dan adalah juga wajar,
agaknya, bahwa pendukung-penduikung setia Orde Baru merasa terancam oleh
politik Gus Dur di berbagai bidang. Karenanya, akhir-akhir ini mereka sudah
mulai secara ramai-ramai menabuh genderang untuk mendongkel Gus Dur dalam
sidang umum MPR yad. Segala macam alasan (tidak peduli masuk akal atau
tidak) telah dicari-cari, dan segala dalih (yang palsu) juga telah
diciptakan, untuk menyerang arah politik Gus Dur.
Mengingat itu semuanya, maka bisalah kiranya kita perkirakan bahwa tugas
Gus
Dur, sebagai kepala negara dan sebagai pemimpin ummat Islam, amat berat,
amat rumit dan amat besar. Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terlalu
banyak, sedangkan lawan-lawan politiknya juga tidak sedikit. Pertarungan
antara kekuatan pro-reformasi dan pro-HAM yang diwakili oleh sosok Gus Dur
yang berhadapan dengan kekuatan-kekuatan pro Orde Baru akan berlangsung
terus, bahkan bisa tambah meruncing, dan perdebatan-perdebatan juga bisa
tambah panas, dalam masa-masa yang akan datang. Tetapi, keadaan semacam itu
juga ada hikmahnya. Dipandang dari sudut sejarah dan perkembangan
dialektis,
pertarungan atau perdebatan ini akan merupakan proses kristalisasi dan
seleksi. Dengan begitu, maka kita semua akan bisa melihat lebih jelas lagi,
seseorang itu sejatinya siapa dan sesuatu itu sebenarnya apa. Dalam bahasa
sederhananya, akan ketahuanlah mana yang baik dan mana yang busuk, atau
mana
yang betul-betul bunga dan mana yang benalu.Proses kristalisasi dan
seleksi,
yang akan makan waktu panjang dan melalui jalan yang berliku-liku dan turun
naik ini juga akan merupakan pendidikan politik bagi banyak orang.
Agaknya, dalam perspektif yang demikian itulah kekuatan-kekuatan
pro-reformasi dan pro-Hak Asasi Manusia perlu mengumandangkan suara mereka
untuk mendukung berbagai politik yang positif Gus Dur. Sebab, untuk
perkembangan situasi di Indonesia dewasa ini, dan mengingat problem-problem
rumit dan penting yang harus diselesaikan (masalah penegakan hukum,
perbaikan ekonomi, pembrantasan korupsi, supremasi sipil, demilitarisasi
kekuasaan politik, penegakan Hak Asasi Manusia, perbaikan moral bangsa,
penyuburan toleransi SARA, pluralisme dalam berbagai bidang kehidupan
bangsa
dll), maka peran Gus Dur adalah amat penting. Justru di tangan Gus Durlah
masih bisa diharapkan adanya kemajuan-kemajuan dalam menangani begitu
banyaknya persoalan parah yang diwariskan Orde Baru. Walaupun Gus Dur
mempunyai kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan, tetapi wawasannya
yang luas dan ketulusannya dalam membela HAM, demokrasi dan keadilan, masih
mengungguli tokoh-tokoh lainnya yang sekarang sedang beramai-ramai mejeng
di
panggung politik negeri ini.
Dalam konteks situasi yang demikian itulah, kiranya kita bisa mentafakuri
bahwa Gus Dur, yang sedang membidani lahirnya era baru di Indonesia kita
ini, perlu mendapat dukungan yang kuat dan besar dari seluruh kekuatan yang
pro-reformasi dan pro Hak Asasi Manusia. Dari apa yang sudah kita dengar
dan
baca selama ini, agaknya jelaslah sudah bahwa politik Gus Dur adalah
mengajak seluruh bangsa kita untuk meninggalkan jauh-jauh segala praktek
yang tidak bermoral yang telah ditanam-suburkan oleh Orde Baru selama lebih
dari 32 tahun. Gus Dur mengajak kita semua untuk membangun demokrasi yang
segar, untuk membumikan Islam yang sejuk, untuk merakit rekonsiliasi
nasional yang mendamaikan hati.
Kerusakan akhlak sudah terlalu parah dan kebobrokan moral sudah terlalu
besar pula, sehingga kadang-kadang kita bertanya-tanya : adakah kiranya
tokoh lain yang, dewasa ini, bisa memimpin bangsa secara lebih baik, untuk
mengatasi berbagai masalah bangsa yang begitu rumit, selain Gus Dur ?
Paris, 21 April Th 2000
-----------------------------
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l