**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Laskar Jihad,
Kekeruhan Politik, dan
Nasib Gus Dur
~~~~~~~~~~~~~~~~

Kendati bersedia menyerahkan senjata, Laskar Jihad tetap akan pergi ke
Maluku dengan target menangkap Benny Doro. Dari mana dana mereka? Benarkah
ada yang memanfaatkannya?

Mengancam dan diancam bisa terjadi pada siapa saja. Itu pula yang dialami
Laskar Jihad Ahlussunnah Wal Jamaah. Dua pekan lalu, dengan pedang di
tangan, mereka unjuk kekuatan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, dalam
acara Tablig Akbar. Setelah itu, mereka datang ke Istana Negara dan
mencerca kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka juga mengancam, jika
keinginan jihad ke Maluku dihalangi, aksi itu akan dilakukan di Pulau Jawa.

Namun, pekan lalu, giliran mereka yang diancam. Itu terjadi saat mereka
menggelar Latihan Gabungan Nasional di Kampung Munjul, Kelurahan Kayu
Manis, Kecamatan Tanah Sereal, Bogor. Latihan yang diselenggarakan sejak 7
April itu seharusnya baru selesai 16 April lalu. Tapi, Kamis, 13 April
silam, kepolisian mengancam mereka agar segera angkat kaki dari tempat
latihan. Kapolwil Bogor, Kolonel Edi Darnadi, mengaku mendapat surat dari
warga yang merasa terganggu kehadiran Laskar Jihad. "Pokoknya, sekarang
juga mereka harus meninggalkan tempat itu," ujarnya.

Sebelumnya, Kapolri Letjen Rusdihardjo memang telah memerintahkan Kapolwil
Bogor untuk melakukan pendekatan persuasif terhadap Laskar Jihad. Lantas,
Kolonel Edi pun datang ke kamp latihan mereka dan bertemu dengan Panglima
Laskar Jihad, Ustad Ja�far Umar Thalib. Saat itu, menurut Ustad Ja�far,
Kapolwil memohon agar mereka tidak membawa-bawa senjata. Sebab, hal itu
bisa mencemaskan penduduk sekitarnya, terutama warga agama lain. Tapi, Ja�
far menolak imbauan itu. "Kami tak akan berbuat apa-apa terhadap Nashara
[Nasrani] di sini [di Bogor]. Ancaman kami bagi saudara-saudara mereka di
Ambon yang membantai umat Islam," ujarnya lagi.

Kendati begitu, upaya pelucutan terus ditingkatkan. Akhirnya, pada Kamis
itu, Kapolwil mengultimatum. "Saya telah menyiapkan dua Satuan Setingkat
Kompi (SSK) untuk melakukan sweeping di tempat latihan mereka," ujar Edi.
Negosiasi pun dilakukan lagi. Sore hari, Ustad Ja'far dijemput sebuah mobil
Kijang dan dibawa ke Kapolwil. Di sana, Ja'far dan Edi mengadakan
pertemuan.

Perundingan yang dimulai pada pukul 17.50 WIB itu berjalan cukup alot.
Bahkan, sempat terdengar teriakan dari ruangan pertemuan. Tak lama
kemudian, seorang staf berlari mengambil betadine. Menurut seorang perwira,
Kapolwil sempat menggebrak meja, entah karena apa. Tiga jam kemudian,
barulah pertemuan itu selesai.

Hasilnya, Laskar Jihad mengalah. "Karena imbauan Kapolri dan kami bukan
gerombolan preman dan kami menjunjung tinggi hukum, secara sukarela kami
menyerahkan senjata tajam kepada Kapolwil Bogor," ujar Ja'far.

Sementara itu, situasi di markas Laskar Jihad pada Kamis malam itu cukup
mencekam. Apalagi beredar isu bahwa aparat akan menggerebek. Selain
menyiapkan pasukan, Polwil juga melengkapinya dengan empat kendaraan taktis
dengan water cannon. Di sekitar Kemang, Bogor, telah disebar aparat
kepolisian di berbagai tempat. Terlebih setelah rencana peletakan senjata
diumumkan. Di mulut-mulut jalan ditempatkan satu grup polisi, lima-sepuluh
orang, yang merazia setiap kendaraan dan orang lewat. Di dekat Kayumanis,
Lasem, disita satu peti senjata tajam dari sebuah kendaraan. Tak diketahui
pasti asal senjata tajam itu. Daerah sekitar lokasi latihan praktis
diblokir aparat.

Sebenarnya, jadwal perlucutan senjata tak terlalu jelas. Menurut Kolonel
Edi, pengumpulan senjata dan sweeping akan dilakukan malam itu juga. Tapi,
ternyata, pada malam itu para anggota Laskar Jihad masih melakukan kegiatan
rutin. Dan, hingga dini hari tak ada kejadian apa pun.

Namun, pada pukul 04.30, sebuah pickup putih meninggalkan Kayumanis dengan
kecepatan tinggi. Diduga, kendaraan itulah yang mengangkut senjata para
Laskar Jihad. Soalnya, paginya, terdengar kabar bahwa Laskar Jihad telah
menyerahkan senjata. Sebanyak 487 buah senjata diserahkan Hendro, Komandan
Pasukan Khusus Laskar Jihad. Kemungkinan, hanya sebagian senjata yang
diserahkan. Soalnya, anggota laskar yang berlatih mencapai 1.000 orang dan
semua bersenjata.

Kekecewaan tampak jelas di wajah para anggota Laskar karena senjata
kebanggaan mereka dirampas. Kendati begitu, menurut Ja�far, perlucutan
senjata itu tak mempengaruhi semangat mereka untuk tetap berangkat jihad ke
Maluku. "Kami akan tetap mengirimnya. Insya Allah, akhir April ini kami
akan mengirimkan mujahidin lagi ke Maluku," ujarnya. Boleh jadi, Ja'far
serius. Sebab, disebut-sebut, selama ini pun sebagian anggota Laskar Jihad
telah dikirim secara diam-diam ke sana.

Yang jelas, menurut Ja�far, setelah dibubarkan Ahad lalu, mereka akan
kembali ke rumah masing-masing. Setelah itu, tanggal 29 April mereka akan
berkumpul lagi di Yogyakarta dalam sebuah Tablig Akbar. Nah, dari situlah
mereka kemudian berkonvoi menuju Surabaya. Di "Kota Buaya" itulah, 300
perahu pinisi telah menunggu untuk mengantarkan mereka menuju titik-titik
sasaran di Maluku.

Rencana itu memang kontroversial. Soalnya, selama ini pemerintah dan aparat
keamanan selalu mengatakan bahwa kondisi Maluku sudah aman meskipun belum
100 persen. Menteri Tolchah Hasan pun berpendapat begitu. "Keadaan Ambon
dan Maluku Tenggara bagus sekali. Hubungan antargolongan sudah berjalan,"
ujarnya.

Boleh jadi, kondisi Maluku memang berangsur-angsur membaik. Karena itu,
menurut sosiolog dari UGM Lambang Triyono, pengiriman pasukan itu bukanlah
langkah yang tepat. "Itu hanya akan menyebabkan perang yang berlarut karena
pihak Kristen juga akan melakukan hal serupa," ujarnya kepada M. Faried
Cahyono dari FORUM. Demikian pula pendapat Ketua Krisis Centre PGI, Dicky
Mailoa. "Sukar dibayangkan bahwa semakin banyak laskar jihad datang ke
Maluku, konflik akan berhenti," katanya.

Bahkan, sosiolog UI Thamrin Amal Tomagola pun menganjurkan agar mereka
mengurungkan niatnya. Sebab, menurut putra Galela itu, Maluku Utara pun
relatif aman, tinggal beberapa letupan saja di sekitar Masohi dan Pulau
Buru. Sementara, di Halmahera Utara, meskipun masih berkobar perang,
kendali ada di tangan kelompok Islam. Jadi, kata Thamrin, "Pengiriman
pasukan jihad itu tidak perlu lagi."

Diakui oleh Muslim Arbi, kini kelompok muslim telah menguasai 80 persen
Maluku Utara. Tapi, kata tokoh muslim Maluku Utara itu, pengiriman pasukan
tersebut wajib hukumnya. "Demi membela saudara-saudara mereka yang
terbantai secara zalim di sana," ujarnya memberi alasan.

Memang, menurut seorang mujahidin yang baru pulang dari Maluku Selatan,
kondisi Ambon relatif aman. Tapi, hal itu terjadi lantaran pengerahan 3.000
pasukan TNI. Dan, sebenarnya, kelompok muslim di Ambon dalam kondisi
terjepit karena banyak pengungsi Kristen dari Maluku Utara. Sementara, di
Pulau Buru Selatan dan beberapa pulau kecil kondisinya masih cukup gawat.
"Situasi di sana sewaktu-waktu masih bisa meledak," ujarnya.

Mungkin, itulah alasan Laskar Jihad berkeras tetap berangkat ke Maluku.
Apalagi, beberapa tokoh yang menurut mereka menjadi pemicu konflik,
terutama di Maluku Utara, belum tertangkap. "Yang pertama kami kejar adalah
Benny Doro [Panglima Perang Kelompok Kristen]," ujar Ja'far. Jika Pangdam
XVII/Pattimura Brigjen Max Tamaela melindunginya, ujar Ja'far, pihaknya
tidak peduli.

Tapi, di tengah gegap gempita semangat Laskar Jihad itu, isu miring pun
mulai beredar. Disebut-sebut, ada pihak yang mendanai aksi mereka. Malah,
menurut seorang perwira menengah di Dispen Polda Metro Jaya, Laskar Jihad
mendapat kucuran dana dari Cendana. "Mereka yang dulu biasa disebut Muslim
Pancasila," ujarnya. Beberapa pengusaha dan mantan Menteri Keuangan Fuad
Bawazier disebut-sebut sebagai penyalur dana itu. Tapi, Fuad membantah
berita itu. "Enggak benar itu," ujarnya.

Bantahan tersebut juga datang dari Ustad Ja�far. Menurut Ja�far, pengusaha
yang memberikan sumbangan adalah kalangan Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal
Jamaah (FKAWJ) sendiri. Dan, mereka juga ikut berlatih di Bogor. Jadi,
menurut Ja'far, "Dana Laskar Jihad diperoleh dari berbagai sumbangan
donatur, baik dari dalam maupun luar negeri, yang tak ada kaitannya sama
sekali dengan elite politik dalam negeri." Hasilnya, mereka mampu
menggalang dana miliaran rupiah. "Sampai saat ini, sekitar Rp 700 juta
sudah terpakai," katanya lagi.

Laskar jihad pun dituding bermain untuk kepentingan kelompok tertentu yang
mencoba menggoyang kekuasaan Gus Dur. "Ada usaha menjatuhkan pemerintahan,
sehubungan dengan masalah Sidang Umum. Ada pula usaha-usaha mengadakan
kerusuhan," kata Gus Dur di Havana, Kuba. Karena itu, ia memerintahkan
Kapolri mengawasi perkembangan mereka. "Sebelum berangkat, saya sudah
bilang kepada Kapolri. Mereka yang pakai sorban, jubah, anak-anak jihad
itu, supaya dimonitor," kata Gus Dur.

Bisa saja, langkah mereka bermuatan agenda politik. Sebab, selama ini
kelompok-kelompok Islam memang agak gusar terhadap Gus Dur yang lambat
menyelesaikan masalah Ambon. Mereka menilai Gus Dur terlalu lentur dan
terkesan selalu memojokkan Islam. Tapi, "Saya pikir, itu sebuah ekspresi
ketidakpuasan terhadap lemahnya supremasi hukum. Terutama, berkaitan dengan
kasus Maluku," kata Ahmad Sumargono, Ketua Harian Komite Indonesia untuk
Solidaritas Dunia Islam (KISDI).

Demikian pula pengakuan Ma�ruf, pengurus FKAWJ yang sejak beberapa tahun
terakhir gigih merekrut anggota Laskar Jihad. Menurut Ja�far, tak tebersit
sedikit pun niat untuk mengambil keuntungan secara politis. "Kalaupun ada
kelompok tertentu yang beroleh untung dari ikhtiar kami, ya, itu rezeki
mereka," ujarnya.

Yang jelas, kini kondisi Gus Dur dalam keadaan yang sulit. Banyak agenda
baru Gus Dur yang justru membuatnya terpojok. Misalnya, soal ide pencabutan
Tap MPRS No. XXV tahun 1966 tentang pelarangan PKI. Masalah seperti itu,
ditambah perbaikan ekonomi yang belum membuahkan hasil, akan menjadi batu
sandungan bagi mantan Ketua Umum PBNU itu.

Mungkin saja, dalam Sidang Umum MPR Agustus mendatang, akan muncul upaya
mengganti Gus Dur. Apalagi, Ketua DPR Akbar Tandjung pun telah melihat
gejala itu. "Secara eksplisit, beberapa delegasi yang datang ke sini
meminta agar Gus Dur diganti," kata Akbar.

Jadi, kali ini tampaknya Gus Dur tak bisa menganggap enteng dan terus
bersikap tak mau repot.
(Hanibal W.Y. Wijayanta dan A. Usmar Almarwan)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke