**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
    Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************
---------------------
Artikel Eskol-Net:
---------------------

SEJARAH VERSI ORDE BARU PERLU DIREVISI !
                    (Oleh: A. Umar Said)

Dari segi-segi yang tersebut di atas, kiranya kita bisa melihat pentingnya
pleidoi Kol. A. Latief yang telah diucapkannya dalam tahun 1978 (artinya,
sudah 22 tahun yang lalu). Sebab, dalam pleidoinya itu, ia telah
mengemukakan berbagai hal penting yang berkaitan dengan : peran Soeharto,
watak rezim militer Orde Baru, pelanggaran Hak Asasi Manusia, penggulingan
kedudukan Presiden Sukarno, peran PKI, peran para jenderal Angkatan Darat
waktu itu.

Tetapi, patutlah disadari bersama bahwa pleidoi itu tidak bisa memberikan
penjelasan yang lengkap dan tepat mengenai semua soal yang berkaitan dengan
G30S. Kol. A. Latief telah menyusun pleidoi itu dalam keadaan terkungkung
dalam sel selama belasan tahun, dengan kesehatan yang amat buruk akibat
dahsyatnya siksaan fisik dan moral, tanpa hubungan dengan luar (kecuali
pembela-pembelanya), dan tidak mempunyai fasilitas yang leluasa untuk
mendapatkan bahan-bahan atau dokumentasi secukupnya yang dibutuhkan. Namun,
apa yang sudah dikemukakannya dalam pleidoi itu merupakan karya yang
luarbiasa. Apa yang dikemukakannya itu bisa merupakan titik permulaan untuk
usaha kita bersama dalam meninjau kembali atau meneliti kembali, tentang
kebenaran versi resmi Orde Baru tentang peristiwa G30S. Karena, apa yang
telah dipasarkan kepada masyarakat, atau yang diajarkan dalam
sekolah-sekolah selama lebih dari tiga puluh tahun, adalah sejarah yang
sudah dikebiri, sejarah yang sudah divermak, sejarah yang bopeng-bopeng.

Sejarah versi Orde Baru tentang G30S perlu diteliti lagi, dan dikoreksi
sesuai dengan kebenaran yang bisa ditemukan dengan penelitian yang serius,
jujur, objektif dan independen sama sekali dari pertimbangn politik dan
kepentingan ideologi yang manapun. Yang jelas, yalah bahwa sudah cukup
banyak bukti dan fakta tentang sejarah Orde Baru yang perlu direvisi atau
dikoreksi, karena sudah tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi
sesungguhnya. Revisi atau koreksi sejarah Orde Baru  -- termasuk masalah
sejarah G30S  -- mutlak untuk dilakukan dengan segera. Karena, kalau tidak
dikoreksi, maka bisa TETAP TERUS menjadi  racun atau penyakit ganas, yang
merongrong kesehatan tubuh bangsa kita, terutama generasi muda kita
sekarang, dan generasi yang akan datang.

TNI-AD PERLU BERANI MENGKOREKSI DIRI

Sebagai perwira TNI-AD, Kol. A. Latief telah banyak mengemukakan dalam
pleidoinya berbagai  soal yang berkaitan dengan masalah-masalah militer.
Banyak kesalahan atau praktek-praktek yang buruk Angkatan Darat telah
dibeberkannya, di samping ditonjolkannya peran positif dan tradisi baik
Angkatan Darat selama revolusi dan ketika menghadapi pergolakan-pergolakan
yang merongrong keselamatan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, mengingat pernyataan permintaan maaf TNI-AD (yang
diucapkan oleh KSAD Tyasno Sudarto) atas kesalahan-kesalahan dan
dosa-dosanya kepada rakyat, maka patutlah kiranya dianjurkan kepada
pimpinan  TNI-AD untuk
menyerukan kepada anggota-anggota  militer (terutama AD), untuk mempelajari
isi buku pleidoi Kol. A. Latief. Sebab, pleidoi yang bersejarah ini, penuh
dengan pelajaran  -  juga peringatan!  -  tentang kesalahan dan dosa yang
telah dilakukan oleh pimpinan AD (khususnya Soeharto dkk) terhadap panglima
tertinggi/presiden, terhadap MPRS, terhadap DPR, terhadap demokrasi,
terhadap Hak Asasi Manusia. Singkatnya, terhadap rakyat.

Lebih dari itu! Dalam rangka reformasi, transformasi, reposisi Angkatan
Darat, sesuai dengan tuntutan perkembangan situasi nasional (dan
iinternasional!) maka sudah waktunyalah bahwa TNI-AD membentuk komisi
khusus untuk mempelajari, mengumpulkan, dan kemudian menyimpulkan tentang
kesalahan-kesalahan TNI-AD selama ini, termasuk kesalahan-kesalahan dalam
menghadapi peristiwa G30 beserta buntut-buntutnya yang menyusul. Kita sudah
sama-sama melihat bahwa Orde Baru telah melakukan banyak
kesalahan-kesalahan berat dan monumental di berbagai bidang, sehingga
keadaan negara kita
menjadi demikian kacau seperti sekarang ini. Dan, karena tulang-punggung,
bahkan konseptor atau pembangun Orde Baru adalah Angkatan Darat, maka
kesalahan dan dosa-dosa Orde Baru adalah pada intinya, atau pada
hakekatnya,
kesalahan TNI-AD.

Apakah dengan membentuk komisi khusus semacam itu, TNI-AD akan makin
terpuruk namanya atau makin buruk citranya? Ataukah langkah semacam itu
perbuatan yang hina? Ataukah juga memalukan diri ? Justru sebaliknya. Kalau
TNI-AD mengambil langkah-langkah serupa itu, pastilah akan mendapat
penghormatan  - dan juga kehormatan -  dari pendapat umum, baik dari
dalamnegeri maupun luarnegeri.  Memeriksa kesalahan, dan kemudian
mengakuinya, dan selanjutnya  mengkoreksinya adalah justru satu-satunya
jalan untuk memperbaiki citra TNI-AD dan untuk bisa meletakkannya pada
tempat terhormat dalam hati Rakyat.

BUKALAH ARSIP MILITER DEMI PENELITIAN

Dalam rangka usaha untuk merevisi versi resmi sejarah Orde Baru, nyatalah
bahwa diperlukan adanya kemauan-baik dari berbagai fihak, dan terutama
sekali dari pimpinan TNI. Sebab, patutlah diperkirakan bahwa berbagai
instansi militer, baik di Pusat maupun di daerah masih menyimpan berbagai
dokumen penting yang berkaitan dengan peristiwa G30S maupun yang dengan
peristiwa-peristiwa kelanjutannya. Kalau TNI-AD memang betul-betul secara
tulus dan jujur ingin memperbaiki kesalahan-kesalahannya, dan mau
memberikan sumbangan kepada usaha untuk mencari kebenaran, maka perlulah
adanya
langkah-langkah (secara politik maupun administratif) supaya arsip militer
(atau arsip sejarah militer) bisa dibuka secara leluasa demi pekerjaan
penelitian. Pekerjaan penelitian ini sangat penting untuk melengkapi,
memeriksa kembali, bahkan mengkoreksi isi pleidoi Kol. A. Latief.

Mungkin ada di antara kita yang berpendapat bahwa gagasan yang semacam itu
adalah utopis belaka kiranya. Apalagi kalau mengingat bahwa masih terlalu
banyak mantan perwira tinggi (dan menengah) -  atau yang masih aktif --,
yang mungkin akan keberatan adanya langkah semacam itu. Berbagai dalih bisa
saja mereka kemukakan untuk menentang dibukanya arsip militer yang
berkaitan  dengan peristiwa G30S, umpamanya : dalih rahasia negara, dalih
keamanan negara, dalih tidak adanya UU yang mengaturnya, dalih rahasia
jabatan, atau segala macam dalih lainnya, baik yang masuk akal maupun yang
tidak.

BUKU YANG HARUS DIBACA

Buku pleidoi Kol. A. Latief  mengungkap satu hal yang luarbiasa pentingnya,
yaitu bahwa Soeharto terlibat dalam G30S, dan bahwa pimpinan Angkatan
Daratlah yang melakukan kudeta terhadap Presiden Sukarno, yang waktu itu
masih secara sah menjabat sebagai kepala negara (untuk lengkapnya, mohon
baca sendiri, yang tercantum di berbagai halaman buku ini). Asumsi semacam
ini sudah lama beredar dalam masyarakat, bahkan juga di luarnegeri. Jadi,
bukan soal baru. Tetapi, dengan membaca buku pleidoi Kol. A. Latief, maka
kita akan mendapat persepsi yang lebih mendalam dan lebih jelas tentang
persoalan ini.

Apakah Soeharto betul-betul terlibat dalam G30S? Justru masalah yang
mahapenting inilah yang harus diteliti secara serius lebih lanjut. Sebab,
Soeharto sudah mengetahui tentang akan adanya aksi terhadap sejumlah
jenderal-jenderal, tetapi mengapa tidak melaporkan atau tidak bertindak?
Maka patutlah kiranya kita duga bahwa memang ada hal-hal yang masih belum
terungkap selama ini. Pengkhianatan? Sikap licik? Perhitungan yang
berdasarkan kepentingan pribadi? Banyaklah kiranya pertanyaan-pertanyaan
lainnya yang bisa diajukan.

Namun, terlepas apakah Soeharto terlibat dalam G30S atau tidak, tetapi
sudah jelaslah bahwa, bersama-sama dengan pimpinan Angkatan Darat lainnya
waktu itu, ia telah mengobrak-abrik pemerintahan yang sah, dan kemudian
melakukan
sederetan panjang pelanggaran-pelanggaran (dan kejahatan!!!) terhadap
kehidupan demokratis, terhadap hak asasi manusia, terhadap rakyat (soal ini
tidak perlu direntang-panjangkan lagi, karena sudah cukup jelas berdasarkan
pengalaman kita selama ini).

Bukan itu saja. Pleidoi yang diucapkan 1978 itu telah membongkar bahwa
Soeharto dkk sudah melakukan insubordinasi (pembangkangan) terhadap
panglima tertinggi, dan menyalahgunakan SP 11 Maret, yang akibatnya begitu
luas selama pemerintahan Orde Baru. Jadi, kesalahannya amat besar, dan
dosanya juga berat sekali.

Dengan sorotan dari segi-segi  itu semualah  maka munculnya buku pleidoi
Kol. A. Latief ini perlu kita sambut dengan positif. Buku ini bisa
memperkaya bahan studi dan bahan refleksi kita bersama untuk merenungkan
dan memeriksa kembali masalah-masalah seputar G30S, yang selama tigawarsa
menjadi landasan bagi TNI-AD untuk melakukan kerusakan-kerusakan besar
terhadap Republik kita, dan yang dengan Orde Barunya telah membikin negara
dan bangsa seperti yang kita saksikan dewasa ini.
Dengan semangat untuk bersama-sama menegakkan kebenaran dan mencari
keadilan demi rekonsiliasi nasional, perlulah kiranya semua kekuatan
pro-reformasi, pro-demokrasi dan pro-HAM  -bahkan juga kalangan militer -
dianjurkan untuk
membaca buku pleidoi yang bersejarah ini. Sebab, dengan membaca buku ini,
kita mendapat tambahan bahan untuk lebih yakin lagi bahwa Orde Baru, yang
pernah disanjung-sanjung itu, memang sejak semula dibangun atas dasar-dasar
yang batil dan haram.

Akhirulkalam, penulis menyampaikan : selamat membaca pleidoi yang
bersejarah ini.


"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke