**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************
---------------------
Artikel Eskol-Net:
---------------------
Buku Pleidoi (pidato pembelaan) Kolonel A. Latief :
S U H A R T O T E R L I B A T G - 3 0 S
```````````````````````````````````````````
(Oleh : A. Umar Said)
Barangkali, dari berbagai buku-buku penting yang akhir-akhir ini
diterbitkan di Indonesia, buku dengan judul "Pleidoi Kol. A. Latief :
Soeharto terlibat G30S" adalah salah satu di antaranya yang patut --
bahkan, sangat perlu -- mendapat perhatian kita semua. Sebab, terbitnya
buku ini bukan saja merupakan sumbangan bagi kita semua untuk bisa lebih
mengenal berbagai hal tentang peristiwa besar yang terjadi dalam tahun 1965
itu, melainkan juga tentang peran yang dipegang oleh Suharto di dalamnya,
tentang komplotan untuk menggulingkan Presiden Sukarno, tentang pelanggaran
besar-besaran Hak
Asasi Manusia, tentang lahirnya rezim militer Orde Baru, yang selama ini
masih belum sepenuhnya terungkap secara jelas.
Di samping itu, buku ini juga merupakan bantuan bagi kita semua untuk
mendapatkan bahan-bahan atau informasi yang berbeda dari versi resmi yang
selama lebih dari tiga dasawarsa telah disajikan (atau lebih tepat :
disodorkan? dipaksakan?) oleh para penguasa Orde Baru, dan juga
segi-seginya yang sengaja disembunyikan oleh mereka. Karena peristiwa G3OS
merupakan peristiwa besar, maka segala usaha dari pihak mana pun untuk
mencari kebenaran tentang peristiwa itu sendiri, serta sebab-sebab dan
latarbelakangnya - dan juga akibat-akibat selanjutnya - adalah sangat
berguna bagi sejarah bangsa kita.
Diterbitkannya buku ini merupakan panggilan bagi kita semua untuk berani
mengadakan berbagai langkah, secara bersama-sama, untuk memeriksa kembali
segala persoalan yang berkaitan dengan G30S, demi keadilan, demi kebenaran,
demi kejujuran. Sebab, Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto telah
menjadikan peristiwa ini sebagai dalih untuk melegitimasi berdirinya
diktatur militer (berselubung), yang selama lebih dari 32 tahun telah
merusak sendi-sendi Republik Indonesia. Atas dasar peristiwa G30S itulah
telah dibangun rezim militer, yang telah membikin berbagai dosa kepada
rakyat, antara lain : membungkam kehidupan demokrasi selama puluhan tahun,
membunuh jutaan manusia tak bersalah, menyengsarakan puluhan juta orang
keluarga para korban pembunuhan 65/66 dan ex-tapol, memporak-porandakan
nilai-nilai moral, menyebarkan budaya korupsi, menyuburkan perpecahan
antara berbagai komponen bangsa, dan seribu satu kerusakan dan kebobrokan
lainnya, yang akibatnya kita saksikan secara nyata sampai sekarang ini.
SEJARAH YANG SEBENARNYA
Sebenarnya, di berbagai kalangan, baik di Indonesia maupun di luar negeri,
pleidoi Kol. A. Latief sudah pernah beredar dalam berbagai bentuk. Sekitar
tahun 1979-1980, satu bundel tebal pleidoi ini pernah diselundupkan ke
Eropa
lewat seorang. Melalui jaluran yang tidak perlu disebutkan dalam tulisan
ini, pleidoi yang ketikannya jelek dan kabur (karena sudah difotokopi
berkali-kali), telah ditik kembali di satu kota di Eropa dengan mesin-tik
listrik sehingga lay-outnya menjadi lebih bagus dan enak dibaca. Setelah
dicetak dengan offset beberapa ratus eksemplar, bundel pleidoi ini beredar
di berbagai negeri Eropa, dengan judul "Sejarah yang sebenarnya". Kemudian,
dari berbagai sumber didapat kabar, bahwa sekitar tahun 1980 itu juga,
bundel pleidoi ini juga sudah sampai di tangan berbagai pakar luarnegeri.
Jadi, sejak tahun 1980, pleidoi ini sudah dikenal oleh berbagai kalangan di
luarnegeri - walaupun terbatas sekali - baik orang-orang Indonesia maupun
asing, dan telah dipakai sebagai bahan analisa tentang soal-soal yang
berkaitan dengan peristiwa G30S dan berdirinya rezim militer Orde Baru.
Sepanjang yang kita ketahui selama ini, di Indonesia sendiri pleidoi Kol.
A. Latief ini tidak dikenal secara luas dalam masyarakat, kecuali di
kalangan-kalangan tertentu (sejarawan, aktivis Hak Asasi Manusia, sejumlah
LSM, oposan Orde Baru dll). Sebab-sebabnya sudah jelaslah kiranya. Di bawah
kekuasaan Orde Baru, memiliki fotokopi pleidoi Kol. A. Latief, adalah
risiko besar, yang bisa membahayakan keselamatan seseorang. Sebab, isinya
penuh dengan hal-hal yang tidak menguntungkan Soeharto dan para jenderal
pendukung setianya, atau, singkatnya, para penguasa rezim Orde Baru.
Hanya sekarang inilah, ketika Soeharto bersama rezimnya sudah ambruk berkat
perjuangan para mahasiswa dengan dukungan massa luas, maka buku pleidoi ini
bisa diterbitkan dan beredar dalam masyarakat. Yaitu, lebih dari 20 tahun
kemudian setelah pleidoi itu diucapkan. Suatu peristiwa yang jarang terjadi
dalam sejarah dunia modern.
BAGIAN DARI KHASANAH SEJARAH KITA
Munculnya buku pleidoi Kol. A. Latief, yang diterbitkan oleh ISAI dan
redaksinya dipersiapkan oleh ISAI-Hasta Mitra, adalah langkah penting dalam
usaha bersama kita untuk menegakkan kebenaran dan menemukan keadilan
seputar
peristiwa G30S beserta buntut-buntutnya yang menyusul kemudian. Patutlah
kiranya dikatakan bahwa buku ini merupakan salah satu bagian yang sangat
berharga dalam khasanah sejarah modern Indonesia. Mengapa demikian ?
Hal-hal
yang berikut di bawah ini mungkin bisa kita jadikan renungan bersama :
- Peristiwa G30S adalah peristiwa terbesar - dan terparah - dalam
sejarah Republik Indonesia, dibandingkan dengan serentetan
peristiwa-peristiwa politik-militer yang pernah dialami oleh bangsa kita,
umpamanya : DI-TII,
peristiwa Madiun, pemberontakan Andi Aziz, pemberontakan Kahar Muzakkar,
RMS, Angkatan Perang Ratu Adil, PRRI-Permesta dll
- Korban jiwa sebanyak lebih dari satu juta (atau : dua juta? Tiga juta?
Pen.) manusia tidak bersalah, merupakan tragedi nasional yang harus
didjadikan pelajaran bagi generasi-generasi selanjutnya di kemudian hari.
Demikian juga penderitaan puluhan juta orang keluarga para korban
pembunuhan besar-besaran 1965/1966, dan keluarga para eks-tapol.
- Pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto selama lebih dari 30
tahun telah lahir sebagai kelanjutan peristiwa G30S. Oleh karena itu,
berbicara tentang Orde Baru, tidak bisa tidak harus ingat kepada cikal
bakalnya, yaitu G30S beserta akibat-akibatnya.
Mengingat itu semua, maka jelaslah bahwa terbitnya buku pleidoi Kol. A.
Latief "Soeharto terlibat G30S" merupakan peristiwa yang amat penting,
ketika kita dewasa ini sedang berusaha bersama-sama melepaskan bangsa dan
negara kita dari belenggu Orde Baru, dan ketika kita sedang berjuang untuk
menghilangkan segala borok-borok yang telah membikin kerusakan-kerusakan
begitu dahsyat dalam tubuh bangsa.
Dalam situasi ruwet seperti yang kita hadapi bersama dewasa ini, patutlah
kiranya kita menyambut munculnya buku penting ini dengan mendengar himbauan
atau pesan moral yang terkandung dalam isi buku ini, yaitu : menegakkan
kebenaran dan menjunjung tinggi rasa keadilan. Sebab, seperti yang
sama-sama kita rasakan selama ini, masalah G30S berikut peristiwa-peristiwa
serius yang menyusulnya, masih terus -- sampai sekarang! -- menjadi
faktor-faktor yang menimbulkan pertentangan dan rasa permusuhan di antara
berbagai kalangan atau komponen bangsa. Faktor-faktor perpecahan dan
permusuhan (yang
sengaja dipupuk oleh rezim Orde Baru!) itulah yang harus bersama-sama kita
hilangkan, guna tercapainya rekonsiliasi nasional yang kita butuhkan dewasa
ini.
bersambung ................)
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l