**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
    Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************
---------------------
Artikel Eskol-Net:
---------------------

"Solidaritas Insani, Murka Tuhan,
Kematian dan Kebangkitan Yesus"
==============================

Kehidupan manusia pasti menuju kematian. Semua manusia pasti akan mengalami
kematian. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat meluputkan nyawanya
dari kuasa dunia orang mati. Kematian tidak memandang usia; tua, muda,
anak-anak dan bayi. Kematian membuat jabatan, kecantikan, pamor, harta, dan
rencana seseorang menjadi sirna, menjadi tanah.  Dunia orang mati
barangkali secara umum dapat dipahami dengan mudah sebagai 'kuburan' yang
besar, di tengah-tengahnya gentayangan ulat-ulat, dan di situlah roh orang
mati tinggal sebagai hantu. Dunia orang mati juga sebagai nama lain dari
'maut', yaitu perhentian akhir bagi semua manusia. Dunia orang mati tak
ubahnya seperti raksasa yang tak pernah kenyang dan selalu siap menelan
siapa saja. Akhir kehidupan manusia ini mengingatkan penulis kepada ratapan
Pengkotbah, "Kesia-siaan di atas segala kesia-kesiaan, segala sesuatu
adalah sia-sia."

Pada perkembangan radikal pemikiran teologis, kualitas moral hidup sangat
ditekankan dalam rangka hubungan dengan pemberi hidup (Tuhan). Sehingga
kematian tidak lagi dipandang sebatas jasmaniah. Kematian dapat juga
dipandang sebagai keterpisahan manusia dengan Tuhannya. Sedangkan seseorang
yang terpaut dalam hubungan dengan Tuhannya dapat dianggap 'hidup' meskipun
secara jasmaniah sudah mati. Keterpisahan manusia dengan Tuhan terjadi
dikarenakan hakekat manusia tidak sesuai lagi dengan hahekat Tuhan itu.
Hampir dalam semua pemahaman teologis selalu mengklaim bahwa Tuhan sebagai
oknum yang suci, mulia, agung, maha pengasih dan penayang. Oleh karena itu,
Tuhan tidak mungkin kompromi dengan hal-hal yang bertentangan dengan
hakekatNya itu. Ia tidak mungkin bersekutu dengan pribadi-pribadi (manusia)
yang hidup tidak sesuai dengan hakekatNya itu, yang disebut dengan istilah
dosa.

Dosa adalah "hamartia", "hamartema", "parabasis" (Yunani), yang diartikan
sebagai kegagalan, kekeliruan, kesalahan, kejahatan dalam segala bentuk
(rupa), pelanggaran, kelaliman, ketidakadilan. Ciri utama dosa dalam segala
seginya pasti tertuju kepada Tuhan. Manusia tetap berdosa terhadap Tuhan
walaupun berbagai rupa dosa itu dilakukan terhadap diri sendiri maupun
orang lain, misalnya; membunuh, mencuri, berdusta, dan sebagainya. Jadi,
dosa merupakan penentangan atas apa yang dituntut kesucian dan keagungan
Tuhan dari manusia, yang pada hahekatnya sama dengan menentang Tuhan
sendiri.

Berdasarkan defenisi dosa di atas, ternyata sepanjang sejarah manusia tidak
bisa lepas dari berbagai ragam perbuatan dosa, seperti pembunuhan,
pemerkosaan, aborsi, korupsi, fitnah, amarah, dusta, berzinah, iri hati,
pikiran jahat, kesombongan, peperangan, perselisihan, egoisme, menghujat
Tuhan dan sebagainya. Rupa-rupa dosa ini jelas bertentangan dengan hakekat
Sang Pencipta. Dosa tidak bermula pada tindakan yang terang-terangan
melainkan dari hati dan pikiran. Kebusukan hati akan terungkap dalam
perbuatan melanggar hukum Tuhan. Secara dogmatis teologis (Alkitab) asal
mula dosa ialah akibat kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) yang tidak
taat kepada Tuhan. Kejatuhan ini berakibat tetap dan menyeluruh, sehingga
tidak hanya menimpa Adam dan Hawa, melainkan juga turunannya. Dalam ihwal
dosa dan kejahatan terkandung solidaritas insani, yaitu sama-sama langsung
terhisab dalam perbuatan dosa itu dan menanggung segala akibatnya.

Dosa inilah yang membuat banyak orang terpisah dengan Tuhan yang suci dan
agung itu. Terpisah dengan sumber hidup berarti sudah tergolong 'mati'
rohani. Keterpisahan ini mengakibatkan kebaikan dan kebenaran tidak lagi
berstandar kepada apa yang dikehendaki Tuhan, melainkan menurut standard
manusia yang cenderung relatif. Dosa mengakibatkan penolakan terhadap
Tuhan. Akibat dosa yang terakhir adalah adanya penghukuman (murka) dari
Tuhan.  Murka Tuhan tidak diartikan sebagai bentuk dan sifat kemarahan yang
kalap tidak menentu. Murka Tuhan merupakan rasa tidak senang atas dasar
pertimbangan yang benar-benar matang dan tegas sebagai tuntutan
kesucian-Nya. Murka Tuhan tidak diartikan sebagai akibat dendam atau
kebencian kepada manusia, melainkan kemarahan sebagai tuntutan hakekatNya
yang suci. Murka Tuhan merupakan pengejawantahan positip dari ketidakpuasan
kepadaNya.  Siksaan yang bersifat hukuman adalah ungkapan murka Tuhan. Rasa
bersalah dan tersiksa adalah pantulan di alam sadar manusia berdosa atas
ketidaksenangan Tuhan. Bobot inti penghukuman terakhir (setelah kematian
fisik) adalah siksaan yang tak terbatas (di neraka) akibat murka Tuhan.

Untuk menjembatani keterpisahan Tuhan dengan orang berdosa maka diperlukan
suatu tindakan penyelamatan yang berasal dari Tuhan sendiri sebagai bukti
hakekatNya yang Maha Kasih, tanpa bertentangan dengan hakekatNya yang Maha
Adil (yang berdosa harus dihukum). Tindakan itu mengandung solidaritas
insani, dengan maksud agar orang-orang berdosa langsung terhisab dalam
suatu karya penyelamatan oleh Tuhan. Dengan karya penyelamatan itu manusia
tidak lagi menanggung sendiri segala akibat dosanya. Tindakan Tuhan itu
telah terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu, yaitu melalui kematian Yesus.
Ia mati disalibkan sebagai substitusi atas keberdosaan manusia sekaligus
menjembatani jurang pemisah antara Tuhan dengan manusia. Ia menderita
menggatikan penghukuman yang seharusnya diterima oleh manusia berdosa.

Sebelum Yesus mengalami kematian, Ia melakukan gebrakan reformasi moral
hingga Ia dibenci oleh banyak orang, termasuk penguasa waktu itu. Kebencian
terhadap berita kebenaran. Akhirnya Yesus ditangkap, disiksa, dihina hingga
mati disalibkan. Jadi, penyaliban Yesus adalah perpaduan antara rencana
penyelamatan orang-orang berdosa dengan kondisi orang-orang yang membenci
kebenaran, termasuk menolak Tuhan. Meskipun sebenarnya manusia berdosa bisa
saja langsung dibinasakan oleh Tuhan (otoritas Pencipta), seperti yang
terjadi pada peristiwa air bah di jaman Nuh. Namun Tuhan juga mempunyai
otoritas untuk tidak melakukannya karena kasihNya kepada manusia.

Kuasa kebangkitan Yesus dari kematian, sebagaimana diyakini oleh umat
Kristiani, menjadi bukti bahwa kuasa kematian telah dikalahkan oleh Yesus.
Dalam kemenangan atas maut itu, Ia mengambil kembali nyawaNya (sebuah
misteri yang tak tergambarkan oleh akal manusia). Dan dengan kuasa
"hidupNya yang tak mungkin terbinasakan" Yesus menjadi pemberi hidup.
Kematian dan kebangkitan Yesus memberi pengharapan baru bagi orang-orang
berdosa, yaitu menghapus ancaman dunia kematian atas jiwanya untuk
selama-lamanya. Ia menjadi "Roh yang menghidupkan", yang berkuasa memberi
kemenanganNya itu  kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Yaitu mereka
yang mau menerima kemenangan Yesus itu dalam kehidupannya, sehingga ia
diperdamaikan kembali dengan Tuhan yang Maha Suci.  Orang yang merasa tak
berdosa tidak mungkin membutuhkan kemenangan Yesus. Oleh karena itulah
Yesus mengatakan: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi
orang berdosa, supaya mereka kembali kepada jalan Tuhan."  Selamat Paskah.
(Augustinus Simanjuntak, S.H)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke