'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
SARI BERITA : Kamis, 13 Juli 2000
================================
<>Pelaku pemboman Kejagung bekas Paspampres berpangkat Serma
<>Presiden Abdurrahman Wahid :
Kesalahpahaman Bukan Pada Agama
<>800 Pengungsi Sambas Terancam Berhenti Sekolah
<>Posisi Gus Dur Justru Rawan karena Hak Angket
+++++++++++++++++++++++

Pelaku pemboman Kejagung bekas Paspampres berpangkat Serma
---------------------------------------------------------------------
satunet.com - Teka-teki siapa pelaku pemboman gedung Kejaksaan Agung
sedikit terungkap, berdasarkan informasi polisi, pelaku pemboman adalah
bekas anggota Paspampres berpangkat Sersan Mayor dan kini masih dalam
pengejaran.
Menurut sumber di kepolisian yang tidak mau disebut namanya, pengejaran
terhadap pelaku tersebut dikabarkan sampai ke tempat persembunyian mereka
di daerah Cileungsi, Bogor. "Tetapi orang yang dimaksud tidak berada di
tempat tersebut," katanya di Jakarta Rabu malam. Ia juga menolak memberikan
inisial nama pelaku tersebut.
Seperti diberitakan satunet.com sebelumnya, pihak Polri saat ini masih
melakukan pengejaran terhadap dua orang yang diduga sebagai pelaku
pemboman. Dugaan pelaku muncul berdasarkan keterangan 11 saksi yang telah
diperiksa pihak Polres Jakarta Selatan.
Lengkapnya: http://satunet.com/artikel/isi/00/07/13/20598.html

Presiden Abdurrahman Wahid :
Kesalahpahaman Bukan Pada Agama
-----------------------------------------
TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Abdurrahman Wahid berpendapat bahwa
kesalahpahaman antarumat beragama yang menjadi penyebab berbagai kericuhan
belakangan ini lebih banyak ditimbulkan oleh perseteruan dalam diri
masing-masing pribadi penganutnya, bukan pada faham agamanya. Yang menjadi
kunci penyelesaian adalah kerukunan dan sikap saling menghargai. Tanpanya,
kedamaian tak akan tercipta. Demikian diungkapkan Presiden Wahid dalam
sambutannya ketika meresmikan Indonesian Conference on Religion and Peace
(ICRP) di Wisma Antara Lt.2, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat,
Rabu (12/7) malam.
Gus Dur hadir terlambat hampir 30 menit dari jadwal pukul 19.00 WIB. Ia
tampak didampingi Ibu Shinta Nuriyah, putri kedua mereka Yenni, Menteri
Agama, Tolchah Hasan, dan Menteri Luar Negeri, Alwi Shihab. Sekretaris
Negara, Johan Effendy, yang menjadi Koordinator dari ICRP ini tampak
menggandeng tangan kiri Gus Dur saat memasuki ruangan. Di dalam auditorium
Wisma Antara sendiri sudah hadir puluhan tamu dari kalangan agama, etnis
dan kepercayaan.
Soal kerukunan sebagai kunci, presiden mencontohkan bahwa dirinya, Megawati
Soekarnoputri (Wakil Presiden), Amien Rais (Ketua MPR) dan Akbar Tanjung
(Ketua DPR) adalah sama-sama penganut agama Islam. "Tapi kepentingan
politiknya lain-lain. Makanya hanya bisa ditengahi dengan semangat
kerukunan," ucapnya. Menurut Presiden, institusi seperti ICRP sangat
penting bagi para individu untuk bisa menggalang kerukunan yang dimaksud.
"Ajak bergabung orang-orang yang cenderung fundamentalis. Jangan maunya
menang sendiri saja," ujarnya setengah mengecam.
Lengkapnya: http://www.tempo.co.id/news/2000/7/12/1,1,38,id.html

800 Pengungsi Sambas Terancam Berhenti Sekolah
----------------------------------------------------
detikcom - Pontianak, Sekitar 800 anak pengungsi korban kerusuhan Sambas
yang tertampung di kamp-kamp pengungsi Pontianak terancam berhenti sekolah.
Mereka terdiri 650 anak Sekolah Dasar (SD), 127 anak Sekolah Menengah
Pertama (SMP) dan 23 anak Sekolah Menengah Umum (SMU).
Menurut Ketua Posko Pengungsi di GOR Universitas Tanjungpura, Pontianak,
Muharram Sanmucemhi, kepada detikcom, Rabu (12/7/2000), tidak tertampungnya
anak-anak pengungsi tersebut karena daya tampung sekolah-sekolah yang ada
di Pontianak tidak mencukupi, dimana tiap sekolah maksimal hanya dapat
menampung 45 anak per kelas.
Jika dipaksakan, lanjut Muharram, akan menyulitkan murid dalam proses
belajar mengajar. "Dan tidak mungkin tiap-tiap sekolah dipaksakan kelasnya
untuk diisi oleh semua anak pengungsi. Nanti malah anak-anak diluar
pengungsi tidak dapat bersekolah," kata Muharam.
Lengkapnya: http://www.detik.com/peristiwa/2000/07/13/2000713-021406.shtml

Posisi Gus Dur Justru Rawan karena Hak Angket
---------------------------------------------------------
JAKARTA, Mandiri - Kendati Gus Dur sudah melakukan rekonsiliasi dengan
mengadakan pertemuan beberapa kali bersama ketiga tokoh penting seperti
Akbar Tanjung, Amien Rais dan Megawati, namun posisinya pada Sidang Tahunan
MPR Agustus mendatang masih dianggap rawan, terutama menyangkut usulan
penggunaan Hak Angket oleh dewan usai Presiden menjawab Hak Interpelasi,
kata pengamat.
Menurut pengamat politik dari Univesitas Indonesia [UI] Amir Santoso, jika
pertemuan-pertemuan dengan tiga tokoh itu memunculkan kesepakatan, itu
hanya pada tingkat pimpinan, sementara pada level bawah masih belum ada
kesepakatan bulat untuk mendukung Gus Dur terutama menyangkut penggunaan
Hak Interpelasi.
Seperti diberitakan Mandiri Online sebelumnya, para elite politik malam ini
sekitar pukul 21:30 WIB akan melakukan pertemuan di kediaman Ketua DPR
Akbar Tanjung. Pertemuan itu akan dihadiri Ketua MPR Amien Rais, Wakil
Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden KH Abdurrahman Wahid.
Lengkapnya:
http://www.mandiri.com/ASPs/Fullstory1.asp?NewsID=POL200007120017

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke