************************** Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************** Pengamat: Pertikaian Ambon Tidak Spontan, Tapi Terorganisir --------------------------------------------------------------- Reporter: Arifin Asydhad detikcom - Jakarta, Ambon memanas lagi. Kini pertikaian sesama warga muncul kembali. Kerap kambuhnya pertikaian di Ambon, muncul kesan, seolah-olah masalah Ambon sulit dihentikan. Mengapa? Karena pertikaian bukan terjadi secara spontan, tapi sudah terorganisir. Demikianlah pendapat pengamat masalah Ambon Lambang Triono saat dihubungi detikcom, Jumat (23/6/2000). Menurut Lambang, dengan sudah terorganisirnya kelompok-kelompok itu, maka akan semakin sulit untuk mencegahnya. Menurut Lambang, adanya kelompok teroganisir, atau sebut saja dengan 'gank', tak terlepas dari kondisi sosial ekonomi di Ambon. Seperti diketahui, sosial ekonomi di Ambon begitu buruknya, sehingga menyebabkan pengangguran yang begitu banyak. "Bayangkan saat ini, pengangguran di Ambon sudah mencapai 65%," kata peneliti Ambon alumnus UGM ini. Menurut Lambang, pengangguran yang begitu hebat itu, membuat anak-anak remaja, terbiasa dengan lontang-lantung, dan terjerumus dalam kehidupan 'gank'. Gank yang terjadi, kata Lambang, bukanlah gank yang biasa. Gank terbentuk, berdasarkan agama yang dimiliki. "Oleh sebab itu, di Ambon, ada gank dari kelompok merah (Kristen), dan ada gank dari kelompok putih (Islam)," kata dia. Sebetulnya, masyarakat yang terlibat dalam kehidupan 'gank-gank' itu hanyalah minoritas dari masyarakat Ambon. Tapi, pengaruhnya sangat besar sekali. Pasalnya, gank ini telah dimanfaatkan oleh suatu kelompok untuk tujuan tertentu. Selain disebabkan oleh hal yang berbau SARA itu, menurut Lambang, meluasnya pertikaian di Ambon, juga disebabkan oleh adanya konflik vertikal antara warga dengan pemerintah. Masyarakat melihat pemerintah tentara dan aparat yang bertugas di sana. Lambang menyatakan, masyarakat di Ambon sebenarnya saling mencurigai aparat keamanan telah memihak ke salah satu kelompok. Maka, mereka tak percaya dengan keberadaan aparat keamanan. "Ini diperparah dengan adanya tekanan yang sangat kuat dari aparat keamanan ke masyarakat," kata dia. Oleh karena itu, kata Lambang, saat ini dibutuhkan, sensitifitas untuk tidak berpihak kepada siapapun. Makanya, pergantian Pangdam Maluku dari Brigjen Max Tamaela ke Kolonel Inf I Made Yasa yang beragama Hindu, dipandang Lambang, sebagai hal yang positif. "Hal itu berdampak agak positif. Itu bisa meredakan ketegangan kelompok Islam yang sangat mencurigai Max Tamaela," ujar peneliti Pusat Studi Ketahanan dan Perdamaian (PSKP) ini. Namun, sebetulnya, kata Lambang, selain dibutuhkan Pangdam yang netral dari sudut agama, perlu juga dipertimbangkan agar di Ambon ditempatkan Pangdam yang terbaik dan profesional. Profesionalisme Pangdam ini, kata Lambang, diperlukan untuk menyelesaikan kasus Ambon yang sudah njlimet. (asy) "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
