**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
```````````````````````````````````

"Wacana Teologis Mencegah Eksklusifisme Gereja"
           Oleh: Augustinus Simanjuntak, S.H.
            ````````````````````````````

Kehidupan bergereja akhir-akhir ini menunjukkan suatu fenomena eksklusif,
dimana gereja yang satu cenderung tertutup bagi gereja yang lain.
Masing-masing lembaga gereja sibuk dengan lembaganya sendiri tanpa
memperhatikan upaya-upaya menuju terciptanya suasana kehidupan bersatu
sebagai sesama gereja Tuhan. Antar lembaga gereja saling mengklaim paling
benar dan menganggap gereja lain salah (sikap punitif), atau bahkan sampai
ada tuduhan gereja lain sesat, dan sebagainya.

Lebih parah lagi kalau perpecahan dalam gereja akibat perbedaan pemahaman
dan perbedaan kepentingan menimbulkan kesan negatip bagi masyarakat
sekelilingnya yang belum mengenal Kristus. Pertentangan antar denominasi
gereja menjadi suatu kesaksian yang buruk bagi dunia, karena ternyata kasih
yang ditampakkan oleh orang Kristen semata-mata bagi golongan atau
denominasi mereka sendiri. Ada denominasi tertentu yang sejak awal selalu
menutup diri bagi denominasi yang lain dengan memegang teguh pemahaman yang
ia anggap paling benar, tanpa ada suatu usaha ke suatu proses pengujian
terhadap pemahaman gereja lain.  Padahal, Firman Tuhan dalam I Tesalonika
5: 21 berkata: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik."

Sikap gereja yang punitif ini yang banyak turut andil dalam menciptakan
suasana eksklusif dalam kehidupan bergereja. Merasa pemahamannya-lah yang
paling benar sehingga pemahaman teologi gereja lain harus dipersalahkan,
atau bahkan divonis sesat.  Sehingga seorang jemaat menjadi khawatir akan
terkontaminasi atau takut dipengaruhi oleh pengajaran lembaga gereja lain
hanya karena beda institusi. Atau, suatu lembaga gereja khawatir menerima
seorang pendeta dari lembaga lain karena takut jemaatnya tercemar oleh
pengajaran pendeta itu. Dengan demikian, gereja yang esa menjadi hal yang
sulit untuk dicapai.

Keesaan Gereja yang dimaksud bukanlah berarti semua gereja harus mengarah
pada satu institusi. Keesaan gereja bukan dilihat dari bersatunya semua
gereja di bawah naungan sebuah lembaga tertentu. Buat apa gereja-gereja
berada dalam wadah yang satu kalau ternyata di dalamnya banyak perpecahan
terselubung akibat perbedaan prinsip pemahaman akan Firman Tuhan, serta
akibat perbedaan kepentingan yang tidak lepas pula dari faktor pemahaman
Firman Tuhan. Jadi, persoalan mendasar yang mengakibatkan sulitnya tercapai
suatu gereja yang
esa adalah faktor proses pemahaman dan pengkajian Firman Tuhan.

Kita memang tidak boleh kompromi terhadap sesuatu hal yang salah. Yang
salah katakanlah salah.  Namun, yang perlu diperhatikan ialah, bahwa sesama
seiman kita memerlukan waktu dan proses untuk memahami sesuatu materi
tertentu yang dianggap benar, misalnya masalah pemahaman doktrin Alkitab.
Menjadi persoalan mendasar ketika kita bermaksud menyatakan kesalahan
ajaran gereja lain dengan cara menghakimi, bahkan sampai memvonis bahwa
ajaran gereja lain itu sesat.

Menghakimi sesama dengan tegas dilarang dalam Alkitab.  "Jangan  kamu
menghakimi, supaya kamu jangan dihakimi." (Matius 7:1).  Lalu di Kitab Roma
14: 4 dikatakan: "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain
?. Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya
sendiri." Menghakimi adalah tugas Allah, bukan manusia. Menghakimi sesama
berarti mengambil tugas Allah.  Berhakkah manusia melakukannya ?.

Oleh karena itu, dialog teologis guna menyamakan persepsi dan pemahaman
akan Firman Tuhan di antara gereja-gereja merupakan faktor yang penting
untuk segera dilakukan kalau masih ada kerinduan bersama untuk berada dalam
keesaan dalam Kristus. Wacana teologis melalui dialog, diskusi, ceramah,
dan sebagainya, perlu dikembangkan guna mempertemukan pemahaman
masing-masing yang diadakan dengan didasari oleh kerendahanan hati di
antara masing-masing gereja, sebagaimana juga Tuhan Yesus mengajarkan untuk
rendah hati.

Firman Tuhan bukanlah untuk diperdebatkan namun untuk dipelajari (belajar
bersama). Dipelajari bukan berati hanya sebatas "knowlegde", melainkan
harus pula bisa tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Doktrin itu indah
kalau bisa mengubahkan pola hidup dan kharakter seseorang.  Justru tidak
baik, apabila seseorang anak Tuhan mengerti banyak tentang doktrin dalam
Kekristenan akan tetapi pengertiannya itu membuatnya jadi sombong rohani,
eksklusif dan bahkan punitif.

Namun apabila didasari oleh kerendahan hati maka sikap punitif atau
"menghakimi" itu diharapkan tidak terjadi selama proses saling belajar dan
saling menguji pemahaman masing-masing mengenai Firman Tuhan. Perbedaan
konsep maupun pandangan seharusnya dipecahkan secara bersama-sama dengan
penuh kasih persaudaraan, kerendahan hati, penuh kesabaran, arif dan
bijaksana, serta saling membuka diri.

Dalam berwacana teologis perlu pula diperhatikan 1 Tesalonika 5: 11:
"Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu
seperti yang memang kamu lakukan."  Motifasi yang tersirat dalam ayat ini
jelas bukan menghakimi sesama. Tetapi ada motifasi membangun sesama, bukan
malah menjatuhkan sesama.

Menghakimi sesama tidak akan menyelesaikan persoalan. Menghakimi adalah
salah satu cerminan kesombongan manusia yang muncul karena kemungkinan ia
lebih dahulu tahu atau ia lebih tahu, sehingga memandang rendah orang lain
yang belum tahu, dan tidak mensyukuri bahwa pemahamannya itu berasal dari
Tuhan semata. Berbeda apabila berangkat dari rasa syukur kepada Tuhan Yesus
sehingga memiliki motivasi dan kerinduan untuk membangun sesamanya yang
lain otomatis memerlukan suatu sikap kerendahan hati untuk bisa saling
menerima satu dengan lainnya. Kerendahan hati sikap yang harus kita
tunjukkan dalam hal   perbedaan di bidang ajaran kekristenan. Mengutamakan
suatu keinginan untuk memecahkan persoalan dengan keterbukaan mengadakan
diskusi bersama tentang Firman Tuhan daripada dengan keinginan untuk
menang.

Selain itu, yang terpenting lagi adalah dalam wacana teologis masing-masing
pihak harus dengan rendah hati memohon pertolongan kuasa Roh Kudus agar
masing-masing perbedaan dapat menemukan kebenaran yang sesungguhnya sesuai
dengan apa yang dimaksudkan dalam Firman Tuhan itu. Pentingnya suatu
persekutuan di antara orang-orang percaya sebagai wadah untuk saling
menguatkan, saling mengingatkan, dan saling menguji pengetahuan
masing-masing tentang Firman Tuhan tersebut, tanpa menonjolkan kemampuan
ratio, melainkan menonjolkan kuasa Tuhan (pekerjaan Allah Roh Kudus).

Kerinduan Calvin (1552) diharapkan pula menjadi kerinduan kita semua.
Calvin pernah berkata:  "Dapatlah kiranya kita satu kali mengadakan
pertemuan antara tokoh-tokoh gereja, yang sungguh-sungguh hatinya ingin
memperbincangkan masalah iman pasal demi pasal, agar kita dapat mewariskan
ajaran Alkitab ... mengenai segala hal yang kita sama mengakuinya. Tetapi
adalah termasuk keburukan terpenting dari jaman kita bahwa gereja yang
berlain-lainan itu begitu bercerai-berai sehingga rasa persekutuan suci
sebagai anggota-anggota tubuh Kristus, yang memang dengan bibir diakui,
tetapi hanya oleh sekelumit orang dipraktekkan dengan benar-benar dan
jujur... Saya sendiri bersedia jika perlu, mengarungi sepuluh lautanpun
untuk tujuan ini.

Kita tidak dapat mengharapkan bahwa dunia akan percaya bahwa Bapa mengutus
anak, bahwa tuntutan Kristus adalah benar, bahwa orang Kristen adalah
benar, kecuali dunia melihat kesatuan yang betul antara orang Kristen
sejati. Kasih yang ditampakkan oleh orang Kristen sejati bukan semata-mata
bagi golongan mereka sendiri. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk
mewujudkan gereja yang esa itu. Amin. **

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke