'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''""''''
SARI BERITA : Selasa, 12 September 2000
====================================
<->HMS Diancam Pelanggaran HAM
Marzuki: Akan Dibentuk Komisi Khusus
<->Peringati 16 Th Priok Berdarah, 4 "Jenderal" Dibakar
<->Penyidikan Koneksitas 27 Juli:
Penyerbuan Kantor PDI Atas Perintah Soeharto
<->Penyitaan Senjata Milisi Pemerintah Harus Dukung DK PBB
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

HMS Diancam Pelanggaran HAM
Marzuki: Akan Dibentuk Komisi Khusus
----------------------------------------------
koridor.com [12 Sep, 4:21] Jaksa Agung menyatakan, selain dijerat dengan
dakwaan
penyelewengan dana yayasan, mantan Presiden HM Soeharto (HMS) juga akan
diancam dengan pelanggaran HAM.
"Tidak benar jika mantan Soeharto hanya akan diadili karena penyelewengan
dana yayasan saja, tapi juga kesalahan yang lain seperti pelanggaran HAM.
Kasus penyelewengan dana yayasan ini, hanya sebagai salah satu awal
pengungkapan dari berbagai kesalahan yang dilakukan oleh Pak Harto," kata
Marzuki Darusman kepada wartawan usai kuliah umum mengenai hukum, Sabtu; di
Universitas Surabaya (Ubaya).
Diakui jika selama ini dakwaan terhadap HMS hanya berkutat
di sekitar penyelewengan dana yayasan, tapi hal itu bukan berarti kasus
yang lain tidak akan tersentuh.
Marzuki juga mengakui selama berkuasa, HMS telah banyak melakukan
pelanggaran hukum dan dosa, sehingga perlu tindakan hukum secara konkret
terhadap mantan presiden ini.
Lengkapnya:
http://www.koridor.com/artikel.php3?token=b677fdcd0ca19be8a0c05609f9a279081
&in_no=101155

Peringati 16 Th Priok Berdarah, 4 "Jenderal" Dibakar
----------------------------------------------------------------
detikcom - Jakarta, Selasa (12/9/2000) bertepatan dengan 16 tahun Peristiwa
Priok yang hingga kini masih jadi tanda tanya. Dan untuk mengenang
peristiwa berdarah itu, sebuah peringatan akan digelar. Caranya dengan
membakar 4 'jenderal'!
Peringatan 16 tahun Priok berdaran itu akan digelar oleh keluarga korban
dan masyarakat Tanjung Priok, Jakarta Utara, pukul 12.30 WIB. Mereka akan
melakukan napak tilas yang dimulai dari halaman Perguruan Tinggi Darul
Islam (PTDI) Tanjung Priok.
Dalam acara itu akan dilakukan pembakaran 4 patung jenderal yang diduga
terlibat dalam peristiwa pembantaian berdarah tersebut. Jenderal-jenderalan
yang dibakar itu diantaranya patung LB Moerdani dan Try Soetrisno.
Lengkapnya: http://www.detik.com/peristiwa/2000/09/12/2000912-093245.shtml

Penyidikan Koneksitas 27 Juli:
Penyerbuan Kantor PDI Atas Perintah Soeharto
-------------------------------------------------------
TEMPO Interaktif, Jakarta: Penyerbuan kantor DPP PDI tanggal 27 Juli 1996
berawal dari perintah Presiden Soeharto. Presiden memerintahkan pembubaran
mimbar bebas di halaman kantor DPP PDI dalam pertemuan dengan delapan
pimpinan TNI/Polri, termasuk Sutiyoso, di kediamannya di Jalan Cendana,
tanggal 19 Juli 1996. Pernyataan tersebut dilontarkan mantan Pangdam Jaya,
Letjen (Purn) Sutiyoso, usai menjalani pemeriksaan di Puspom TNI, Senin
(11/9) malam.
Ia menjelaskan, berkumpulnya delapan orang pimpinan itu memang atas
permintaan Soeharto. Soeharto menilai mimbar bebas sudah meresahkan. Isinya
pun dipandang sangat menghina pemerintah. Selain itu, pelaksanaan mimbar
bebas tidak pernah mendapatkan izin dari aparat keamanan. Perintah Soeharto
tersebut kemudian diperkuat dengan keputusan Rakor Polkam yang diadakan
setelah pertemuan itu. Rakor memutuskan untuk membubarkan mimbar itu.
Ketika ditanya siapa saja yang terlibat dalam penyerbuan itu, Sutiyoso
tidak menyebutkan nama. "Yang jelas Pangdam tidak bekerja sendiri. Ada
Pangab, Kapolda," ujarnya sambil memasuki mobilnya.
Pernyataan Sutiyoso ini jelas merupakan kesaksian baru dalam pengungkapan
kasus ini. Meski sebelumnya pernah diakui ada pertemuan di Cendana,
Soeharto tidak pernah disebut-sebut memerintahkan langsung penyerbuan itu.
Dalam pertemuan itu, dinyatakan, Soeharto hanya menanyakan kondisi keamanan
secara umum. Hal ini dipertegas dengan kesaksikan mantan Kasospol, Letjen
(Purn) Syarwan Hamid dan mantan KSAD, Jenderal (Purn) R. Hartono
Lengkapnya: http://www.tempo.co.id/news/2000/9/11/1,1,34,id.html

Penyitaan Senjata Milisi Pemerintah Harus Dukung DK PBB
---------------------------------------------------------------------
JAKARTA, Mandiri - Pemerintah RI perlu memberi dukungan atas desakan DK PBB
untuk melakukan penyitaan senjata terhadap milisi yang ada di Timor Barat.
Sikap pemerintah sampai saat ini dinilai belum dalam menanggapi seruan PBB
bahkan ancaman isolasi dari AS dan sekutu-sekutunya.
Itu perlu dilakukan menyusul penyerbuan terhadap Kantor PBB urusan
pengungsi (UNHCR), meski untuk melakukan penyitaan senjata di sana tidak
gampang, apalagi dengan sikap-sikap yang ditunjukkan oleh Australia, dan
Amerika termasuk PBB sendiri yang hanya banyak bicara, dalam membantu para
pengungsi.
"Kita tahu bahwa PBB ingin melucuti, tapi bagaimana sikap pemerintah
Indonesia sendiri yang belum jelas hingga sekarang dalam kasus perlucutan
senjata itu. Jangan PBB yang menyuruh Indonesia melakukan perlucutan
senjata," tegas Ketua BKSAP, sabam sirait, kepada wartawan di Gedung
DPR/MPR RI Senayan Jakarta, Senin (11/9).
Lengkapnya:
http://www.mandiri.com/ASPs/Fullstory1.asp?NewsID=POL200009120004

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke