A. Umar Said
(sampai September 1965, mantan Pemimpin Redaksi suratkabar harian EKONOMI
NASIONAL (Jakarta)dan pengurus PWI-Pusat periode kongres 1963-1965. Juga
anggota Sekretariat PWAA (Persatuan Wartawan Asia-Afrika) yang didirikan di
Jakarta dalam tahun 1963. Sekarang tinggal di Paris, sejak 1974).

======================================
KEBOHONGAN SEJARAH ORDE BARU HARUS
KITA BONGKAR BERSAMA-SAMA

(Oleh : A. Umar Said)

Akhir-akhir ini, menjelang dan sesudah tanggal 30 September, kita baca
dalam
media cetak Indonesia, banyak artikel, analisa dan wawancara, yang
mengungkap kembali berbagai masalah yang berkaitan dengan peristiwa  yang
terjadi pada tanggal 30 September 1965 (atau, lebih tepatnya, tanggal 1
Oktober 1965). Dalam situasi sekarang ini, ketika negara dan bangsa kita
sedang bebenah untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan berat di berbagai
bidang yang ditimbulkan oleh Orde Baru selama lebih dari 32 tahun, usaha
untuk mengkaji-ulang tentang peristiwa tahun 65 adalah perlu sekali.

Sebab, kalau kita bersedia merenungkan dengan fikiran yang jernih, dan juga
dengan hati yang lapang, maka akan jelaslah bahwa banyak persoalan rumit
yang sedang dihadapi negara dan bangsa kita dewasa ini ada sangkut-pautnya
yang erat  -  baik secara langsung atau tidak langsung - dengan
peristiwa-peristiwa  yang terjadi dalam tahun 65. Atau, dengan kalimat
lain,
bisalah kiranya dikatakan bahwa situasi dewasa ini yang penuh dengan
berbagai masalah politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, moral bangsa, cara
berfikir berbagai komponen masyarakat, adalah produk, atau akibat, atau
kelanjutan dari apa yang terjadi dalam tahun 1965.

Oleh karena itu, adanya berbagai tulisan, analisa, atau ungkapan fikiran
dari banyak fihak untuk menelaah kembali peristiwa-peristiwa 65 - beserta
akibat-akibatnya - adalah perlu bagi usaha kita bersama untuk bisa mengerti
mengapa bangsa dan negara kita menjadi seperti yang sama-sama kita saksikan
dewasa ini. Sekarang ini, kita mulai mengetahui dan lebih mengerti secara
gamblang, bahwa selama lebih dari 32 tahun banyak masalah tentang  65 yang
ditutup-tutupi, atau dipelintir dan dibengkok-bengkokkan. Dalam jangka yang
begitu lama, hanya sejarah versi Orde Baru-lah yang disajikan secara paksa,
atau dicekokkan lewat indoktrinasi secara besar-besaran dan sangat
sistematis. Lagi pula, lewat berbagai cara dan menggunakan segala sarana.
(Mohon diingat, antara lain : kewajiban semua televisi untuk memutar film
G30S, peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya). Sejarah, yang
dipalsukan, telah dijadikan alat politik. Dan, dampak negatifnya ternyata
dahsyat sekali.

MENYINGKAP PERISTIWA 65 ADALAH TUGAS NASIONAL

Usaha untuk mengungkap berbagai masalah yang berkaitan dengan peristiwa 65
adalah tugas nasional kita. Karena, akibat yang disebabkan oleh
peristiwa-peristiwa itu  adalah besar sekali bagi perjalanan kehidupan
bangsa kita. Ini sudah sama-sama kita rasakan secara langsung selama ini,
tidak peduli dari golongan suku yang manapun, dari kalangan agama yang
manapun, dan dari komponen masyarakat yang manapun.

Mengingat besarnya dampak peristiwa 65 bagi kehidupan bangsa, baik dewasa
ini maupun selanjutnya di kemudian hari, agaknya perlu sekali disambut
dengan positif segala usaha  - dari fihak yang manapun juga! - untuk
bersama-sama mencoba menelaahnya dari berbagai segi. Penelaahan kembali
ini,
kalau sungguh-sungguh dibimbing oleh semangat mencari kebenaran dan
keadilan
demi tercapainya persatuan atau rekonsiliasi bangsa, akan merupakan
sumbangan besar bagi kehidupan bangsa dan negara kita dewasa ini, dan juga
bagi generasi kita yang akan datang.

Sekarang ini, mereka yang mau merenungkan secara dalam-dalam, tidaklah bisa
mengingkari bahwa Orde Baru telah melakukan berbagai kejahatan negara dan
kekerasan negara (state violence) terhadap banyak komponen bangsa. Rezim
ini
telah membunuh kehidupan demokrasi dalam jangka puluhan tahun. Kekuasaan
politik yang dipegang oleh Suharto, dengan mendapat dukungan sepenuhnya
dari
para pimpinan militer (terutama dari TNI-AD), telah menjadikan negara
sebagai jaring-jaringan mafia, yang dengan semena-mena telah
menyalahgunakan
kekuasaan secara besar-besaran. Diktatur militer ini pulalah yang telah
berhasil, selama puluhan tahun, telah mengintimidasi para intelektual,
merekayasa manuver politik (ingat, umpamanya : opsus, intervensi dalam
partai-partai), "membeli" sejumlah ulama dan kyai (atau pendeta),
membungkam
pers.

Sudah sama-sama kita saksikan juga, bahwa mesin raksasa militer ini
jugalah,
yang selama puluhan tahun telah menggunakan Golkar (juga PPP, dan
kelompok-kelompok politik lainnya) untuk menyelenggarakan, secara
berturut-turut, pemilihan umum yang palsu dan tidak sah, dan menjadikan
parlemen hanya sebagai barang hiasan yang buruk. Dengan mengangkangi
kekuasaan politik yang busuk inilah maka KKN merajalela, dan korupsi
menjadi
"budaya bangsa" seperti yang masih terus juga kita saksikan sampai dewasa
ini di seluruh tanah-air. Nyatalah sudah dengan gamblang, bahwa kejahatan
rezim militer Suharto dkk yang amat serius adalah pelanggaran Hak Asasi
Manusia, yang telah dilakukan selama puluhan tahun dan secara besar-besaran
dan sistematis.

Hal dan keadaan semacam itu sudah diketahui, disaksikan, atau dialami
sendiri oleh banyak orang, dan sejak lama pula. Jadi, masalahnya sudah
jelas. Pemaparan kembali itu semuanya adalah sekedar untuk menyegarkan
ingatan kita semua, dan untuk mendapatkan gambaran sekedarnya betapa
dahsyatnya kerusakan yang telah dibikin oleh Orde Baru (beserta
pendukung-pendukungnya) terhadap bangsa dan negara. Artinya, banyak sekali
orang-orang dari berbagai golongan suku, berbagai kalangan agama, atau
berbagai komponen masyarakat, yang telah dilanggar hak-haknya sebagai
warganegara yang sah, yang diperlakukan tidak adil, yang ditindak tidak
menurut hukum, yang diperlakukan secara sewenang-wenang. Dan itupun dalam
jangka waktu yang amat panjang.

PERISTIWA 65 ADALAH SUMBER KERUSAKAN DEWASA INI

Namun demikian, masih ada juga orang-orang yang - sampai sekarang ini !!!
tidak menyadari atau belum mengerti juga secara gamblang bahwa segala
kerusakan dan kejahatan yang dibuat Orde Baru selama puluhan itu  adalah
pada dasarnya bersumber pada peristiwa tahun 1965. Dan karena peristiwa
tahun 1965 itu mengandung berbagai aspek yang rumit, dan juga disebabkan
oleh faktor-faktor pelik yang memainkan berbagai peran waktu itu, maka
usaha
untuk menjabarkan berbagai segi yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa
65
adalah amat diperlukan. Oleh karena itu, segala usaha dari semua fihak
(!!!)
yang ingin ikut - dengan jujur - mencari kebenaran tentang peristiwa 65
adalah penting sekali. (Harap, diperhatikan tanda seru tiga kali itu)

Mencari kebenaran dari fakta-fakta  atau situasi kongkrit yang berkaitan
dengan peristiwa 65 adalah syarat bagi bangsa kita untuk bisa memberikan
interpretasi yang tepat (atau relatif tepat) atau bisa mempunyai analisa
yang mendekati kebenaran objektif dan yang bisa diterima secara rasional.
Tetapi, kiranya kita semua pun patut menyadari bahwa peristiwa 65 adalah
persoalan besar dan rumit, yang amat sarat dengan muatan politik dan
ideologi, atau berbagai macam kepentingan. Dan, karenanya,  adalah wajar
bahwa konsensus tidak bisa dicapai dengan mudah tentang adanya KEBENARAN
yang TUNGGAL. Jadi, dalam usaha bersama untuk mengungkap peristiwa 65,
perlulah kiranya kita anjurkan kepada semua fihak untuk lebih berani
bersuara, atau untuk menyatakan pendapat mereka masing-masing.

Terutama sekali, mereka yang mengalami peristiwa-peristiwa itu secara
langsung, bisa dianjurkan untuk berani secara jujur mengungkap berbagai hal
yang mempunyai nilai sejarah. Namun, karena rumitnya persoalan dan juga
karena kemungkinan adanya berbagai kepentingan (umpamanya : kepentingan
pribadi, kelompok, faham agama, politik atau ideologi), wajarlah agaknya
kalau muncul berbagai versi tentang suatu hal atau suatu peristiwa. Keadaan
semacam itu perlu kita hadapi dengan sikap demokratis dan kritis. Sebab,
melalui penyajian fakta atau kesaksian, atau dengan adu argumentasi yang
fair, dan lewat perdebatan yang sehat, akhirnya akan ketahuan jugalah
kiranya mana yang emas dan mana yang loyang. Dengan kalimat lain, dalam
pertarungan mencari kebenaran, maka akan muncullah, lambat laun, mana yang
benar dan mana yang palsu..

Dalam rangka ini pulalah kiranya kita patut menanggapi berbagai tulisan,
wawancara, atau ulasan yang akhir-akhir ini muncul dalam pers Indonesia,
yang berkaitan dengan peristiwa 65. Kita bisa bahwa di dalamnya tercermin
adanya pemihakan subjektif dalam memandang persoalan-persoalan, dan bahwa
beraneka ragam persoalan juga telah diangkat. Umpamanya : apakah PKI
terlibat sebagai organisasi ataukah hanya sejumlah kecil orang-orang
tertentu dalam pimpinan PKI? Apakah Bung Karno menyatukan diri dengan PKI?
Apakah Suharto tahu tentang G30S, dan kalau ya, mengapa ia tidak bertindak?
Fihak manakah yang sebenarnya menggulingkan Bung Karno? Apakah CIA  dan
MI-16 (Inggris) tidak terlibat dalam penghancuran kekuatan Sukarno, dengan
menghancurkan PKI? Apakah ada Dewan Jenderal? Apakah versi Latief tetang
keterlibatan Suharto tidak benar? Siapa yang bertanggungjawab terhadap
pembunuhan besar-besaran tahun 65? Sampai di manakah permusuhan antara PKI
dan sebagian dari pimpinan TNI-AD? Mengapa ratusan ribu atau jutaan
warganegara biasa telah dibiarkan dibantai? Dan apakah yang menjadi
latar-belakang yang sebenarnya peristiwa 65? Mengapa fihak Barat waktu itu
melihat pada Sukarno dan PKI sebagai bahaya? Apakah betul bahwa G30S,
adalah
pada dasarnya, pertentangan intern di kalangan Angkatan Darat?

(bersambung)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke