''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''' Sari Berita : Kamis, 22 Juni 2000 ================================ *Porsea kembali berdarah *KOTA AMBON TEGANG, RENTETAN TEMBAKAN MASIH BELANJUT *Laskar Jihad Dalang Kerusuhan Galela *Diduga Tempat Ajaran Sesat, Mesjid Dibakar *Kudeta Terselubung Gulingkan Gus Dur +++++++++++++++ Porsea kembali berdarah ----------------------------- satunet.com - Konflik antara masyarakat Porsea, Tapanuli Utara, dengan PT Inti Indorayon Utama (IIU) kembali menelan korban jiwa setelah masyarakat setempat bentork dengan aparat keamanan Rabu. Dalam bentrokan tersebut, Herman Sitorus, pelajar STM asal Porsea tewas terkena peluru aparat dari Polsek/Brimob Tapanuli Utara sekitar pukul 13.00 WIB di Porsea. Bentrokan itu dipicu oleh penculikan sekelompok oknum berpakaian ala ninja terhadap 13 warga dari beberapa desa dan posko bersama masyarakat di Sirait Uruk pada Selasa malam. Sejauh ini baru ke-13 orang tersebut yang diketahui pasti keberadaannya sementara sisanya 27 orang belum diketahui, demikian siaran pers Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kamis dinihari. Lengkapnya: http://satunet.com/artikel/isi/00/06/22/18683.html KOTA AMBON TEGANG, RENTETAN TEMBAKAN MASIH BELANJUT -------------------------------------------------- Ambon, 22/6 (ANTARA) - Situasi keamanan di wilayah Kota Ambon dan sekitarnya masih terus dilanda ketegangan akibat adanya aksi dua kelompok warga yang saling ingin berhadapan melakukan kontak fisik namun aparat keamanan berupaya melakukan penghalauan dengan berondongan senjata otomatis. Pemantauan ANTARA di Ambon, Kamis dinihari, kondisi keamanan semakin memburuk akibat pertikaian terus meluas ke pusat kota Ambon sejak merebaknya kerusuhan di kawasan Tantui Rabu siang (21/6) menewaskan lima orang dan sembilan luka-luka. Korban meninggal dunia di antaranya Wakil Komandan Satuan Brimob Polda Maluku Mayor Pol Edy Susanto dan empat korban lainnya adalah warga sipil, satu di antaranya adalah anak usia 3,5 tahun. Ledakan bom-bom rakitan dan granat tangan disertai rentetan panjang tembakan aparat keamanan terus bersahutan terutama di kawasan Ponogoro, Mardika, Talake dan seputaran jalan Sedap malam. Arus pengungsi juga terlihat pada kawasan-kawasan yang tengah dilanda konflik, terutama wanita, anak-anak dan orang tua jompo mencari tempat-tempat perlindungan yang aman dari sasaran tembakan. Kendati aliran listrik di sekitar lokasi konflik tetap normal namun warga sipil tetap melakukan pemadaman karena takut menjadi sasaran empuk para penembak gelap, sementara korban jiwa sampai saat ini belum diketahui pasti. Akibat bunyi ledakan dan tembakan tersebut, banyak warga masyarakat tidak dapat tidur dengan tenang dan tetap melakukan penjagaan wilayah masing-masing secara ketat. (sumber: Antara) Laskar Jihad Dalang Kerusuhan Galela ---------------------------------------------- JAKARTA, Mandiri - Kelompok Laskar Jihad dituduh mendalangi kerusuhan Galela yang menewaskan 114 orang. Tudingan tersebut diperkuat dengan fakta bahwa sekitar 2000 orang anggota Laskar Jihad yang dikirim dari Jawa mempunyai kemampuan seperti militer profesional. Mereka menyerang warga Galela yang dianggap jadi musuh umat Islam di daerah itu. Tuduhan tersebut dilontarkan Wakil Ketua Komisi Hak Azasi Manusia, yang sekaligus Ketua Komisi Penyelidik Mediasi Maluku (KPMM), Bambang W Soeharto, kepada Mandiri Online, Rabu (21/6) di Kantor Komnas HAM Jakarta Pusat. Menurut Bambang, apapun alasan kelompok Laskar Jihad yang datang dari Jawa, mereka tetap berperan jadi provokator kerusuhan antar etnis di wilayah tersebut. "Walau selama ini mereka berdalih datang sebagai tim sosial atau penengah, nyatanya persepsi masyarakat setempat tetap menganggap mereka yang datang di Maluku jadi provokator agar saling serang," tegas Bambang W Soeharto. Dikatakannya, dengan adanya kerusuhan baru tersebut, rencana mediasi antar warga yang bertikai dengan Tim penengah dari KPMM jadi buyar. Jika kerusuhan ini tetap berlangsung tanpa ada upaya penghentian, dikawatirkan Tim Perdamaian International akan turun tangan. Jika ini terjadi, semua pihak di Indonesia seharusnya merasa malu (sumber: Mandiri Online) Diduga Tempat Ajaran Sesat, Mesjid Dibakar -------------------------------------------------- TEMPO Interaktif, Pekan Baru: Kerusuhan bermuatan SARA nyaris meletus di Pekanbaru, menyusul dibakarnya sebuah masjid oleh 500-an warga Dusun Kubang, Desa Teratak Buluh, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar Riau, Rabu (21/6) siang. "Jika tidak segera diselesaikan, ini tentu saja bisa melebar. Untungnya, ini hanya menyangkut hilasyiah agama antara jamaah As-Syalafi dengan warga Islam lainnya," ujar Drs Jamaluddin Wahid, Camat Siak hulu. Menurut Jamaluddin, aksi anarkis itu tidak seharusnya terjadi. Sebab sebenarnya bisa diselesaikan secara musyawarah dan mufakat. Apalagi sebelumnya, jamaah As-Syalafi yang dinilai warga sebagai ajaran sesat itu, sudah dilaporkan ke bupati Kampar. Namun memang sampai peristiwa itu meletus, Bupati belum memberikan reaksi. "Sebelum aksi pengrusakan dan pembakaran, sejumlah warga memang sudah melaporkan dan saya meneruskannya ke Bupati. Namun tampaknya warga sudah tak sabar lagi. Mereka langsung main bakar," tambahnya. Lengkapnya: http://www.tempo.co.id/news/2000/6/21/1,1,31,id.html Kudeta Terselubung Gulingkan Gus Dur --------------------------------------------- JAKARTA, Mandiri - Isu pemeriksaan kesehatan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dilakukan oleh elit politik tertentu, merupakan cerminan adanya upaya kudeta terselubung untuk menjatuhkan pemerintah. Ada upaya politisasi isu sebagai bagian dari skenario kudeta terselubung untuk menjatuhkan Gus Dur. Demikian ditegaskan Koordinator Wacana Indonesia Mohamad Tohadi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/6). Menurut dia, isu tentang pemeriksaan kesehatan presiden menunjukkan sebuah pernyataan yang menyakitkan. "Itu sebuah pernyataan yang reaktif, dangkal serta menjurus pada pelecehan pribadi yang menunjukkan cara-cara Orde Baru," katanya. Lebih jauh, Wacana Indonesia --sebuah kelompok diskusi yang beranggotakan generasi muda NU-- menilai saat ini ada kalangan politisi dan kekuatan politik yang melakukan politisasi isu untuk menjatuhkan pemerintahan yang ada. "Politisasi isu secara kasar untuk menjatuhkan kepercayaan pemerintah di mata rakyat," katanya. Menurut Mohamad Tohadi, politisasi isu dengan mengatasnamakan rakyat dan memojokkan pemerintah itu dilakukan dengan menyerang pernyataan-pernyataan Presiden serta mengarahkan beberapa skandal ke pribadi Gus Dur. Ia mencontohkan, pernyataan Gus Dur tentang usulan pencabutan TAP MPRS No. XXV/1966 tentang pembubaran PKI telah "diplintir" sedemikian rupa untuk mendiskreditkan Gus Dur. Selain itu, kata dia, Buloggate, Brunaigate, penanganan masalah Papua serta penanganan musibah gempa di Bengkulu, telah didramatisir untuk menjatuhkan kepercayaan pemerintah di mata rakyat. Lengkapnya: http://www.mandiri.com/ASPs/Fullstory1.asp?NewsID=POL200006220003 ++++++++++++++++++++++++++++++ "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
