72 Tahun Sumpah Pemuda: "FLUKTUASI NASIONALISME PEMUDA KITA" ```````````````````````````````````````````` Oleh: Augustinus S, S.H Tujuh-puluh-dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dicetuskan di Jakarta oleh pemuda-pemudi dari beraneka ragam suku, agama, budaya, dan daerah di Indonesia. Di dalam situasi perjuangan kedaerahan dan kesukuan menghadapi kolonialisme, Kongres II Pemuda saat itu berhasil mendeklarasikan suatu tekad bersama, berupa sebuah sumpah. Yaitu: Satu Nusa (Tanah Air Indonesia), Satu Bangsa (Bangsa Indonesia), dan Satu Bahasa (Bahasa Indonesia). Bila kita cermati selama perjalanan sejarah bangsa Indonesia, ternyata nasionalisme pemuda kita tidak selalu dalam keadaan stabil setiap saat. Ada kalanya rasa nasionalisme itu menguat dan ada kalanya melemah. Rasa nasionalisme pemuda, yang pada awalnya muncul sebagai reaksi terhadap kolonialisme, sempat melemah ketika tahun 1970-an suasana kehidupan bangsa kita sedang mengalami disintegrasi akibat mementingkan loyalitas primordialisme eksklusif (agama dan kesukuan). Kemudian gejala penguatan muncul kembali ketika pemuda diperhadapkan dengan sebuah sistem kekuasaan yang penuh dengan ketidakadilan dan cenderung korup. Penguatan nasionalisme pemuda itu tampak pada Bulan Mei 1998 lalu, ketika berlangsung aksi demonstrasi besar-besaran menuntut perubahan serta mendesak Soeharto mundur dari jabatan Presiden. Meskipun kekuatan mahasiswa saat itu tidak sempat terwadahi dalam sebuah organisasi tertentu akan tetapi hampir semua elemen mahasiswa di seluruh Indonesia terlibat dalam pergerakan menuntut reformasi. Sadar akan siapa 'musuh' bersama yang sebenarnya, membuat sikap yang mencerminkan primordialisme di kalangan mahasiswa hilang seketika. Penulis masih ingat dalam aksi demonstrasi waktu itu, pernyataan bersama rekan-rekan mahasiswa di tengah-tengah semaraknya tuntutan reformasi. Bahwa musuh rakyat dan mahasiswa bukanlah agama tertentu atau etnis tertentu atau suku tertentu. Tetapi musuh kita adalah kezaliman. Mahasiswa 1998 mempunyai visi yang sama, menuntut diadakannya suatu perubahan yang bersifat struktural terhadap sistem yang dibangun oleh rezim Orde Baru. Sistem yang cenderung hanya menguntungkan beberapa gelintir orang, dan penuh dengan praktek-praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), serta seringkali mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan demokrasi. Untuk merombak sistem inilah diperlukan persatuan dan kesatuan di kalangan mahasiswa. Namun setelah berhasil mendesak Soeharto mundur, kekuatan pemuda tidak lagi menunjukkan kekompakan. Seolah-olah perjuangan bersama telah selesai. Pergerakan mahasiswa akhirnya mengalami disorientasi, berjalan sendiri-sendiri dan bersifat lokal dengan visi yang berbeda. Beberapa hari setelah Soeharto "lengser", terdapat perbedaan pandangan di kalangan mahasiswa menyangkut status pemerintahan Habibie dan tuntutan diadakannya Sidang Istimewa MPR untuk membentuk pemerintahan transisi. Demikian juga pergerakan pemuda akhir-akhir ini. Pemuda belum memiliki persepsi yang sama tentang persoalan-persoalan berat yang sedang dihadapi negara RI saat ini. Misalnya, persoalan penegakan hukum, aborsi, narkoba, gejala disintegrasi teritorial (kasus Aceh dan Irian Jaya), masalah hutang luar negeri, kasus SARA dan sebagainya. Di saat-saat seperti itulah kebersamaan pemuda di seluruh Tanah Air sangat dibutuhkan. Seharusnya seluruh elemen pemuda mengambil sikap bersama, misalnya, ketika pemerintahan Habibie menawarkan opsi kepada rakyat Timor Timur. Sulit memang menyatukan kembali kekuatan pemuda seperti halnya pada tanggal 28 Oktober 1928, atau paling tidak seperti dalam aksi demonstrasi mendesak Soeharto mundur. Padahal, bagaimana pun juga kebersamaan seluruh pemuda Indonesia sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa akhir-akhir ini. Agenda reformasi belum selesai. Semangat Sumpah Pemuda masih sangat diperlukan dalam langkah-langkah reformasi selanjutnya. Persoalan bangsa bukan lagi hanya menyangkut kebobrokan sebuah sistem pemerintahan. Pemuda sebagai pelopor reformasi diharapkan tidak lagi terjebak dalam perjuangan sempit untuk kepentingan kelompok maupun golongannya dalam menyikapi persoalan bangsa. Sudah sepatutnya organisasi-organisasi pemuda di Indonesia lebih mengedepankan dimensi keindonesiaan di dalam realitas bangsa yang majemuk. Sehingga kekuatan pemuda benar-benar dapat memainkan peranan strategisnya secara optimal di dalam proses penguatan persatuan dan kesatuan bangsa, disamping mengawasi jalannya agenda reformasi. Kehadiran sebuah forum yang bisa mengakomodasi potensi seluruh pemuda, mulai dari Sabang sampai Merauke, sangat dinantikan guna memikirkan keutuhan bangsa ini secara bersama. Apabila hal ini bisa terwujud maka pemuda dan mahasiswa sebagai "leader for tomorrow" sah berbicara mengatasnamakan rakyat dalam setiap perjuangannya. ** "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
