"BHINEKA TUNGGAL IKA" KITA
MENGHADAPI BAHAYA !

(Oleh : A. Umar Said)


Tulisan ini adalah sekedar "urun rembug"  dan sekaligus juga merupakan
ajakan, untuk bersama-sama,  mencoba merenungkan gejala-gejala berbahaya
yang akhir-akhir ini muncul di tanah-air kita. Bangsa kita sedang melalui
masa transisi, dengan berusaha meninggalkan  masa panjang yang kelam selama
lebih dari tiga puluh tahun, menuju ke arah yang menjadi idaman kita
bersama, yaitu kehidupan demokratik bagi rakyat, kemajuan ekonomi yang bisa
dinikmati oleh sebagian terbesar bangsa kita,  kestabilan keamanan yang
bisa mengayomi seluruh warganegara republik kita.

Tetapi, dengan amat sedih - dan perasaan was-was - banyak di antara kita
dewasa ini menyaksikan bahwa harapan akan datangnya perbaikan di berbagai
bidang itu masih jauh,  di ufuk sana! Ternyata, (dan ini kelihatan jelas
sekali di banyak bidang), bahwa  kekuatan Orde Baru  masih cukup kuat. Dan,
mereka tidak diam. Karena itu, tidak boleh diremehkan atau dianggap enteng
saja. Seperti yang bisa kita baca dalam media pers setiap hari, banyak
orang mendapat kesan bahwa reformasi, yang menjadi tuntutan angkatan muda
sebelum dan sesudah jatuhnya Suharto dalam tahun 1998, berjalan lambat,
pincang, bahkan sudah macet.

Kekuatan Orde Baru ini bukan hanya terdapat di kalangan militer (terutama
TNI-AD), tetapi juga di kalangan birokrasi (pemerintahan), dan bukan hanya
di Jakarta saja, tetapi juga (dan bahkan, terutama !) di tingkat propinsi,
kabupaten, bahkan kecamatan. Dan gejalanya bukan hanya tercermin pada masih
megahnya kantor-kantor Golkar, dan bukan pula pada masih banyaknya
papan-papan nama Korpri, Darmawanita dll, yang sampai sekarang masih"
bersemarak" di seluruh Indonesia. Gejala yang paling menyolok adalah yang
berikut ini : "kultur" Orde Baru"  yang masih berakar kuat dalam fikiran
banyak orang,  terutama di kalangan "elite". Ini bisa kita saksikan dalam
ucapan dan tingkah laku politik sebagian besar anggota DPR, MPR,
tokoh-tokoh berbagai partai politik dan kalangan agama, dalam menghadapi
berbagai masalah gawat dan pelik yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini.

Ketika berseliweran berbagai perbenturan kepentingan yang mengatasnamakan
kepentingan rakyat, atas nama agama atau Tuhan,  atas nama bangsa, atas
nama tegaknya hukum atau keadilan, maka penting sekali bagi kita semua
untuk
tidak kesasar dalam membaca situasi yang semrawut seperti sekarang ini.
Pada intinya, sekarang ini,  sedang  berkecamuk - baik secara terbuka
maupun tertutup, dan, dalam berbagai bentuk pula - perjuangan yang sengit
antara kekuatan pro-rakyat atau pro-reformasi berhadapan dengan  sisa-sisa
kekuasaan politik Orde Baru. Artinya, antara berbagai golongan dalam
masyarakat (mohon catat  : jadi, bukan hanya mereka yang pro-PKI atau
pro-Bung Karno saja, yang anggota keluarga mereka dibunuhi, atau
dikucilkan, dipersekusi, selama puluhan tahun) menghadapi kekuatan laten
pendukung-pendukung Suharto dkk. Kita menyaksikan bahwa mereka yang tadinya
pernah tertipu oleh indoktrinasi rezim militer, sekarang juga ikut dalam
perjuangan, karena menyadari betapa  jahatnya sistem politik yang lama.
Dan, jumlah mereka yang begitu itu cukup banyak.

PERJUANGAN INI AKAN PANJANG

Mengingat itu semua, seyogyanyalah kita menanamkan persiapan mental :
perjuangan ini akan makan waktu panjang!  Sebab, dari pengamatan
perkembangan situasi akhir-akhir ini, jelaslah bahwa kita harus
mencampakkan ilusi bahwa sesudah Suharto dkk tumbang, maka tugas kita
bersama untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan besar yang telah dibuat rezim
Orde Baru akan bisa berjalan mulus dan cepat. Nalarnya begini: Suharto dkk
(sekali lagi baca : pimpinan TNI-AD, Golkar, dan sebagian kalangan Islam)
telah mengangkangi sambil sekaligus mengobrak-abrik tatanan negara  kita
selama
lebih dari 32 tahun, artinya, lebih dari separoh umur republik kita!

Hiruk-pikuk akrobasi politik yang sedang digelar oleh para reformis
gadungan dan pendukung-pendukung gelap Orde Baru di DPR, MPR dan oleh
berbagai tokoh masyarakat dewasa ini, kiranya dapat dilihat dengan
kaca-mata yang demikian
itu. Artinya, bahwa sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih kuat, dan juga mampu
membikin onar politik, dan makin menambah banyaknya kekisruhan yang sudah
bertumpuk-tumpuk sebagai warisan zaman gelap itu. Itu semua dengan tujuan
untuk menggulingkan Gus Dur, dan merebut kembali kekuasaan politik. Jadi,
bahaya restorasi Orde Baru (dalam kemasan baru tetapi dengan isi yang
itu-itu juga) adalah nyata.

Karena itu, adalah kewajiban kita bersama untuk waspada dan siap-siap untuk
menghadapi adanya "arus balik ". Demi kelanjutan reformasi, seluruh
kekuatan pro-rakyat dan pro-demokrasi perlu memobilisasi diri untuk
mencegah
kelahiran Orde Baru edisi kedua. Tantangannya berat, dan risikonya juga
besar. Sedikit kemajuan kehidupan demokrasi (kemerdekaan pers dan kebebasan
berpolitik), yang sudah direbut oleh rakyat akhir-akhir ini, akan bisa
lepas, kalau bahaya restorasi Orde Baru ini tidak kita cegah bersama-sama.

Edisi kedua Orde Baru, dalam bentuknya yang bagaimanapun, berarti
kemunduran ke belakang yang panjang bagi rakyat yang mendambakan
perobahan-perobahan mendasar. Penderitaan yang berkepanjangan akan bisa
terulang lagi. Cukuplah
sudah kiranya bangsa kita mengalami malapetaka yang bernama Orde Baru!.
Terulangnya, sekali lagi, walaupun dengan bentuk baru, akan makin  membikin
negara lebih porak-poranda lagi. Pedoman besar bangsa kita Pancasila dan
Bhineka Tunggal Ika akan, seperti yang sudah-sudah selama kekuasaan rezim
militer Suharto dkk, akan dikentuti saja oleh para penguasa baru.

Pengalaman di masa-gelap yang lalu membuktikan bahwa pembodohan politik
(dan perusakan moral!) yang dijalankan secara besar-besaran oleh kekuasaan
yang lama itu telah membikin banyak orang lupa  - atau bahkan tidak
mengerti - tentang kebesaran arti kedua pedoman besar kita itu. Memang,
seperti kita saksikan di mana-mana, lambang Bhineka Tunggal Ika banyak
dipasang di kantor-kantor atau gedung-gedung, baik yang pemerintah atau pun
swasta. Tetapi, kita juga bisa mengamati bahwa lambang negara dan bangsa
yang agung itu hanyalah dijadikan pajangan saja, yang tidak mempunyai  arti
apa-apa.

Kenyataan ini bukan saja memprihatinkan, tetapi juga menyakitkan hati.
Sebab, justru begitu banyak politik atau "kebijakan" Orde Baru telah
terang-terangan di bikin dalam ruangan-ruangan yang dihiasi oleh Bhineka
Tunggal Ika. Seolah-olah, segala kejahatan Orde Baru telah di buat dengan
"kesaksian", atau "pengayoman" atau "restu"  sang Bhineka Tunggal Ika. Dan
ini merupakan kejahatan ganda. Sebab, begitu banyak politik Orba yang
ternyata terang-terangan bertentangan dengan jiwa atau isi yang dikandung
dalam Bhineka Tunggal Ika. Dalam bahasa yang polos, Orde Baru telah
mengkhianati, atau melecehkan, atau merusak jiwa besar yang terkandung
dalam Bhineka Tunggal Ika.

PERSATUAN DALAM KERAGAMAN

Seperti yang  kita fahami atau hayati, Bhineka Tunggal Ika mengandung pesan
: berbeda-beda tetapi satu, bersatu dalam perbedaan,  kesatuan dalam
keragaman. Wawasan agung inilah yang telah ditegakkan oleh para pejuang
kemerdekaan dan para pembangun bangsa Indonesia dalam tahun 20-an. Dengan
menyimak lebih lanjut masalah-masalah yang berkaitan dengan lambang negara
kita itu, maka makin jelas pulalah keagungannya.  Penjelasannya adalah,
antara lain, yang berikut :

Penduduk Republik  Indonesia berjumlah sekitar 210 juta orang, yang terdiri
dari sekitar 300 suku, dan yang menggunakan  sekitar 580 bahasa dan dialek.
Mereka menghuni 6000 pulau dari seluruh jumlah kepulauan sebesar 17 508
pulau. Di antara penduduk yang begitu besar itu (ke-4 di dunia) kira-kira
87% memeluk agama Islam, 6% agama Protestan, 3% agama Katolik, 2% agama
Hindu, 1% agama Budha, dan selebihnya memeluk berbagai kepercayaan.. Luas
wilayahnya (darat dan laut) dari Sabang ke Merauke bisa menutupi seluruh
Eropa, dari London sampai pegunungan Ural.

Kalau melihat angka-angka tersebut di atas maka nyatalah bahwa bangsa
Indonesia memang terdiri dari beraneka ragam suku, agama (atau
kepercayaan), adat-istiadat, kebiasaan hidup sehari-hari, dan berbagai
aspek lainnya.

Dari sejarah kita mengetahui bahwa gerakan politik rakyat  untuk melawan
kolonialisme Belanda, telah mempersatukan atau menyatukan berbagai
golongan, suku dan agama, dan aliran politik dalam semangat Sumpah Pemuda
dalam tahun 1928, yang mengikrarkan : "satu bangsa, satu tanah-air dan satu
bahasa".

Dari sudut pandang inilah kiranya kita bisa menilai betapa besarnya arti
lambang Bhineka Tunggal Ika, yang merupakan produk perjuangan yang begitu
panjang oleh para perintis kemerdekaan dan pejuang pembebasan nasional. Dan
dari sudut pandang itu pulalah kita bisa mengukur betapa besar kerusakan
yang telah disebabkan oleh rezim militer Orde Baru. Akibat
kesalahan-kesalahan politik itulah yang sekarang  sedang kita warisi
dewasa ini, umpamanya : berbagai gejolak di daerah-daerah yang menginginkan
kemerdekaan, tuntutan otonomi yang lebih luas (catatan : tuntutan ini
adil!), ketidak-percayaan kepada Pemerintah Pusat, pertentangan antar-suku
dan antar-agama.

Ketika membaca bagian di atas, mungkiin ada orang yang menyeletuk bahwa
Orde Baru telah bisa  berhasil mempersatukan bangsa atau menjaga kesatuan
negara kita selama 32 tahun. Terhadap ungkapan orang yang semacam ini
patutlah
kiranya dijawab bahwa persatuan bangsa atau kesatuan negara selama itu
adalah sebenarnya semu, dan di dasarkan pada ancaman ujung bayonet.
Persatuan yang sungguh-sungguh (artinya, bukan semu)  tidak mungkin
dibangun oleh suatu diktatur militer. Jadi, singkatnya, dan pada intinya,
kekuasaan militerlah (dalam hal ini, sekali lagi, TNI-AD) yang merusak
Bhineka Tunggal Ika.

Dan sekarang ini, kekuatan-kekuatan gelap Orde Baru beserta reformis
gadungan sedang berusaha untuk tampil lagi di panggung kekuasaan politik.
Mereka sedang melakukan berbagai kegiatan (baik terbuka maupun tertutup)
untuk menimbulkan berbagai keruwetan politik dan  keonaran, untuk
menggulingkan Gus Dur.  Menghadapi bahaya ini, seluruh kekuatan
pro-reformasi dan pro-demokrasi perlu mengatur barisan dan mempersatuan
kekuatan untuk melawannya. Sebab, betapapun merdunya nyanyian yang mereka
dendangkan, adalah omong kosong besar kalau para reformis gadungan akan
bisa, atau akan mau, melaksanakan reformasi secara tuntas dan
sungguh-sungguh.

Reformasi berarti talak-tiga dengan fikiran, praktek, mental atau "kultur"
Orde Baru. Reformasi yang sungguh-sungguh tidak mungkin dilakukan oleh para
reformis gadungan yang bersekongkol dengan kekuatan-keuatan gelap Orde
Baru.
Karenanya, reformis gadungan ini harus tetap terus dijadikan sasaran
serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh kekuatan demokrasi dan
pro-reformasi. Sebab, mereka ini sama berbahayanya dengan sisa-sisa
kekuatan Orde Baru yang masih bersembunyi di mana-mana. Bahkan mungkin
lebih berbahaya, sebab mereka bisa  menipu dengan topeng yang molek.

Dengan menggelar berbagai kegiatan  - dan keonaran - untuk menggulingkan
Gus Dur, pada hakekatnya kaum reformis gadungan ini sedang menyatukan diri
dengan kepentingan Suharto dkk. Sebab, kalau seandainya Gus Dur bisa
digulingkan, maka kekuatan-kekuatan gelap Orde Baru akan mendapat peluang
yang besar untuk melanjutkan kejahatan mereka terhadap rakyat dan negara.
Dengan kalimat lain, kalau Gus Dur bisa digulingkan, maka bahaya restorasi
Orde Baru mungkin akan bisa  menjadi kenyataan. **

(Penulis adalah, sampai September 1965, pemimpin redaksi suratkabar Harian
EKONOMI NASIONAL (Jakarta), anggota pengurus  PWI Pusat periode kongres
1963, dan anggota Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Sekarang
tinggal di Paris). Untuk kontak dengan E-mail :  [EMAIL PROTECTED]



"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke