************************* Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************* BERITA HARIAN UMUM SIWALIMA EDISI: SENIN, 23 OKTOBER 2000 Bicara Kristen tak Mau Dialog, Thamrin Elly Dinilai Keliru Noija: Belum Bisa Dialog bukan tak Mau Dialog Menyusul kesiapan umat Islam untuk melakukan dialog tanpa syarat guna mengakhiri konflik saudara di Maluku, maka jawabannya tidak ada bedanya dengan sikap umat Kristen yang juga siap berdialog. "Umat Kristen pada prinsipnya mau berdialog sepanjang dialog itu dilakukan dengan hati yang tulus dan tidak bersifat retorika semata," tegas Praktisi Hukum Fileo Pistos Noija yang juga adalah anggota Tim Pengacara Gereja. Menjawab Siwalima di Ambon, Sabtu (21/10) berkaitan dengan kesiapan umat Islam tersebut Noija mengatakan selentingan yang menganggap umat Kristen tidak mau berdialog kendati sudah dua kali momentum tersebut dimediasi penguasa darurat sipil di daerah pun saat keberangkatan menghadap Presiden KH Abdurrahman Wahid, bukan karena umat Kristen tidak mau namun belum bisa untuk berdialog. "Kita belum bisa berdialog bukan kita tidak mau berdialog. Semisal saat dialog pertama kita belum bisa berdialog karena waktu itu masih ada gempuran terhadap Desa Waai," tandas Noija. Seperti yang dilansir harian ini, Sabtu (21/10) Ketua Fraksi Pembela Negara Kesatuan, Thamrin Elly, SH mengungkapkan umat Islam pada dasarnya ingin berdialog namun umat Kristen kendati sudah dua kali momentum dialog diadakan namun tidak bersedia berdialog dengan umat Islam. "Kita ditawarkan berdialog, dan kita bersedia namun ada segelintir tokoh Kristen yang menolak untuk duduk bersama," ungkap Thamrin, sembari memberi alasan yang diterima pihaknya adalah umat Kristen mengajukan syarat bahwa Laskar Jihad harus dipulangkan dalam tempo 2x24 jam. Menurut Noija, persyaratan untuk memulangkan Laskar Jihad bukan ditujukan kepada umat Islam tapi kepada penguasa darurat sipil. "Makanya, kalau Thamrin berbicara atas nama staf ahli darurat sipil maka alangkah sangat memalukan pernyataan seperti itu," ungkap Noija. Sebaliknya, kata Fileo, jika itu penilaian Thamrin Elly secara pribadi berarti dengan sendirinya dia mau mengatakan bahwa darurat sipil tidak mampu.untuk memulangkan Laskar Jihad. "Kenapa saya bilang begitu karena darurat sipil adalah pemerintah, dan pemerintah punya kekuasaan un-tuk memulangkan mereka," tegas Noija. Sementara itu Fileo menilai, pernyataan Thamrin dengan mengungkapkan umat Islam siap berdialog tanpa syarat, merupakan pernyataan yang keliru. "Dengan mengungkapkan konsep tanpa syarat, itu syarat. Jadi tanpa syarat yang bagaimana," tanya Fileo. Ditambahkan, saat itu umat Kristen meminta penguasa darurat sipil untuk memulangkan Laskar Jihad, jadi prinsipnya permintaan itu bukan syarat bukan ditujukan kepada komponen lain melainkan ditujukan kepada yang punya kekuasaan yakni penguasa darurat sipil. "Jadi penguasa darurat sipil harus mendefinisikan dan bertindak tegas terhadap kelompok yang menamakan diri laskar jihad dan tengara keterlibatan oknum-oknum anggota TNI yang terkontaminasi, begitupun oknum-oknum anggota Polri. Ya, dalam pengamatan kami, selama ini mereka juga merupakan sumber konflik," kata Noija, sembari menambahkan, jika penguasa darurat sipil sudah mendefinisikan dan bertindak tegas atas komponen-komponen yang disinyalir merupakan sumber konflik maka dialog antar kedua kubu bertikai akan berjalan dengan mulus. "Jadi kami minta ketegasan dari penguasa darurat sipil supaya bisa memediasi dialog hingga bisa berjalan dengan mulus," harapnya. Fileo juga menilai, Thamrin Elly, keliru bila menganggap warga Buton Bugis Makasar (BBM- Red) adalah orang luar Maluku. "Mereka itu juga lahir dan besar di Maluku dan hidup selama bertahun-tahun di sini, makanya bukan orang luar lagi namun sudah menjadi orang Maluku," tegas Noija. (cep) Anggota Komnas HAM, BN Marbun "Kami Siap Jadi Mediator Dialog Islam-Kristen" Ambon, Siwalima Komisi nasional (Komnas) HAM lewat Kantor Perwakilan Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Mediasi I Maluku (KPMM), menyatakan siap memediasi dialog Islam-Kristen sebagaimana diharapkan berbagai kalangan di Maluku. "Komnas HAM siap menjadi me-diator yang netral, menjadi peng-hubung maupun penyambung bagi komunitas Islam maupun Kristen," tutur anggota Komnas HAM, BN Marbun, kepada pers, Sabtu (21/10). Dikatakannya, akhir-akhir ini timbul banyak harapan dari berbagai kalangan masyarakat agar kehadiran Kantor Perwakilan KPMM yang berkedudukan di Ambon, dapat menjalankan tugasnya seefektif dan seefisien mungkin guna memediasi terwu-judnya Dialog Islam-Kristen. "Dengan tidak mengabaikan tugas pokoknya sebagai badan pemantau pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), kami memberikan pikiran kepada dewan pe-nguasa darurat sipil dalam men-jalankan tugas untuk mengupa-yakan cara mempertemukan kedua kelompok da-lam satu wadah menuju rekonsiliasi," jelas Marbun. Marbun menambahkan, pihaknya akan berupaya maksimal melakukan fungsi mempertemukan kedua kelompok bertikai terutama dalam upaya menuju dialog. Jika memang kedua pihak belum mau berdialog, mungkin masing-masing pihak secara terpisah berdialog dengan KPMM. (Dikutip dari Harian Siwalima - Ambon) "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
