``````````````````````` Refleksi 72 Tahun Sumpah Pemuda: "Seputar Nasionalisme Pemuda Kita" ```````````````````````````````` Oleh: Augustinus Simanjuntak, S.H Dalam kancah pergumulan bangsa Indonesia kurun waktu 2 tahun terakhir ini (pasca runtuhnya Orde Baru) kehidupan para pemuda kita tidak lepas dari berbagai pengaruh, baik pengaruh dari dalam maupun dari luar, yang telah melemahkan rasa nasionalisme-nya. Sebagian di antaranya ialah akibat merebaknya pola hidup materialistik, individualistik, hedonis, dan radikalisme golongan di kalangan pemuda. Pola hidup materialis dan hedonis, misalnya, telah membuat pemuda menjadi apatis atau "cuek" terhadap persoalan-persoalan kebangsaan. Sehingga bagaimana mungkin seorang pemuda yang telah terlibat dalam dunia narkoba maupun kehidupan "free sex" dapat diharapkan berperan dalam memikirkan penguatan nasionalisme pemuda. Atau, bagaimana mungkin nasionalisme pemuda bisa menguat kalau mereka hanya mementingkan dan memperjuangkan individu dan golongannya masing-masing. Padahal, tugas dan tantangan pemuda di era sekarang kian berat, sehingga diperlukan suatu kebersamaan dan komitmen para pemuda dalam menghadapinya. Jangan dikira bahwa persoalan kebangsaan hanya menyangkut persatuan bangsa semata. Akan tetapi persoalan kebangsaaan memiliki cakupan yang sangat luas dan sangat kompleks, menyangkut persoalan rasa keadilan masyarakat, demokrasi dan penghargaaan atas hak-hak asasi manusia. Tiga hal inilah yang paling rentan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Misalnya, munculnya keinginan sebagian Rakyat Aceh dan Irian Jaya untuk melepaskan diri dari negara kesatuan RI tidak lepas dari faktor keadilan. Dengan demikian, persatuan hanya bisa dipertahankan kalau keadilan, demokrasi, serta penghargaan terhadap hak asasi manusia bisa ditegakkan di negeri ini. Untuk menghadapi tantangan inilah diperlukan suatu kebersamaan dan komitmen di kalangan para pemuda untuk terus-menerus memperjuangkannya. Perbedaan latar belakang pemuda, yang tampak jelas pada perbedaan prinsip teologis maupun dogmatis keagamaan, bukan berarti menjadi penghalang dalam menggalang suatu kebersamaan di antara pemuda. Perbedaan nilai-nilai primer (fundamental) dalam hal religi bukan berarti pemuda mesti terkondisi atau terjebak dalam pola hidup eksklusif. Perbedaan prinsip keagamaan bukan berarti pemuda menjadi bersikap "punitif" (menghakimi) pemuda golongan lain yang berbeda keyakinan. Sebab, keagamaan bukan hanya berbicara masalah-masalah prinsip doktrinal, akan tetapi berbicara pula tentang nilai-nilai universal, seperti nilai kasih, kebaikan dan keadilan. Untuk itu, menciptakan kebersamaan dalam gerakan pemuda dalam kondisi yang majemuk memerlukan suatu titik temu, yakni bertemu dalam tataran "Discovered Truth" (meminjam istilah Pdt. Dr. Yakub Susabda). "Discovered Truth" merupakan nilai-nilai yang bersifat toleran, bisa diterima oleh semua golongan. Mengembangkan dan memancarkan "Discovered Truth" dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bukan berarti mengarah kepada pluralisme, sebab landasannya tetap ada yaitu "Revealed Truth" (nilai-nilai mendasar yang bersifat intoleran, yang tidak bisa diganggu gugat oleh golongan lain). Justru dengan dilandasi suatu landasan prinsip keagamaan para pemuda seharusnya semakin mampu mencerminkan "Discovered Truth" dalam kehidupan bermasyarakat, bukan malah sebaliknya semakin eksklusif. Oleh karena itu, seseorang dikatakan sebagai fundamentalis seharusnya bukan malah semakin menunjukkan sikap hidup eksklusif, apalagi sikap atau tindakan yang menakutkan bagi golongan lain. Akan tetapi, seorang fundamentalis sejati semestinya semakin inklusif, karena makin mampu memancarkan "Discovered Truth" dari ajaran agamanya. Acapkali seseorang dikatakan sebagai fundamentalis akan tetapi sikap dan tindakannya (dalam kehidupan berbangsa dan bernegara) tidak menunjukkan sesuatu yang baik berdasarkan standard nilai universal. Kalau demikian yang terjadi maka wajar kalau banyak orang yang akan mempertanyakan kebenaran segala landasan keyakinannya itu (mempertanyakan kebenaran 'Revealed Truth'). Apabila setiap kaum beragama menyadari peran dan posisi 'Discovered Truth' dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka bisa dipastikan setiap umat beragama akan berlomba-lomba menyumbangkan/memancarkan nilai-nilai yang terbaik dari ajaran keyakinannya ke dalam realitas kehidupan sehari-hari (dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan hukum), karena hal ini menyangkut perjuangan menjaga nama baik atau validitas "Reveald Truth" masing-masing. Kendala yang cukup memprihatinkan dalam nasionalisme pemuda kita dulu dan masa kini ialah masih terjadinya kekacauan dalam penempatan posisi "Revealed Truth" dengan "Discovered Truth". Artinya, memancarkan nilai-nilai kebaikan dari masing-masing keyakinan sering disertai dengan simbol-simbol maupun dogma-dogma, sehingga sering terjadi benturan-benturan dalam kehidupan bermasyarakat akibat 'perang' simbol dan dogma. Bahkan bisa sampai kepada persaingan yang tidak sehat hingga pemicu lahirnya konflik. Sehingga nilai-nilai universal yang seharusnya baik menurut pemegang suatu keyakinan menjadi tidak baik menurut golongan lain hanya karena dibumbui dengan simbol atau dogma. Jadi, supaya nilai-nilai yang baik menurut keyakinan suatu golongan baik pula menurut golongan lain maka simbol-simbol dan dogma itu tidak perlu ditonjolkan, kecuali kalau ada golongan lain yang memang betul-betul menginginkan suatu penjelasan mengenai dogma tersebut dalam suatu forum dialog keyakinan yang sudah disepakati bersama dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Kendala lain yang tak kalah pentingnya untuk dicermati adalah, ketika nasionalisme pemuda kita sudah menjadi bopeng karena kepentingan golongan bukan lagi sekedar isu nasional akan tetapi sudah terangkat menjadi isu internasional. Kepentingan golongan di dalam negeri mempunyai ikatan yang kuat dengan golongan yang sama di luar negeri, sehingga bisa melemahkan ikatan nasioanlisme bangsa, bahkan ikatan primordialisme golongan itu bisa melebihi kekuatan ikatan kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia. Dengan demikian, yang tampak bukan lagi identitas sebagai suatu bangsa dalam "scope" negara RI akan tetapi yang menonjol ialah identitas golongan. Sehingga nasionalisme yang seharusnya bercorak tersendiri sebagai bangsa Indonesia tercabik-cabik oleh kuatnya primordialisme golongan dalam 'scope' internasional. Fenomena yang tampak sebagai akibat primordialisme golongan dalam "scope" internasional ini, misalnya, bila suatu golongan tertentu di luar negeri (A), yang memiliki ikatan primordial dengan golongan tertentu di dalam negeri (A'). Golongan A mengalami tekanan atau diperlakukan tidak adil maka golongan A' akan menunjukkan solidaritasnya, sedangkan golongan lain di dalam negeri tidak perlu merasa ikut bersolidaritas. Sebaliknya, kalau golongan A' mengalami tekanan dari golongan lain di dalam negeri maka golongan A akan menunjukkan solidaritasnya, entah secara terang-terangan maupun secara rahasia. Jadi, rasa nasionalisme kita sudah menjadi bopeng, tidak lagi bulat yang bisa menunjukkan suatu identitas sebagai suatu bangsa dalam negara kesatuan RI. Seharusnya bangsa kita tidak perlu terkotak-kotak mengikuti berbagai golongan di dunia ini, karena dalam tataran nilai-nilai universal masyarakat Internasional pun seharusnya bersatu dan memiliki persepsi yang sama tentang penghargaan terhadap hak asasi manusia. Terkotak-kotaknya masyarakat Indonesia ke dalam berbagai golongan masyarakat dunia justru membuat ketahanan nasional melemah, karena masing-masing golongan berjuang sendiri-sendiri, tanpa memiliki arah dan persepsi yang sama tentang nasib negeri ini. Suatu bangsa dan masyarakat nasionalis sejati adalah masyarakat yang rela sesama golongannya (di luar negeri) dipersalahkan kalau memang sesama golongannya itu salah. Juga, rela ikut memperjuangkan golongan lain yang tertindas di dalam negeri maupun di luar negeri dengan standard nilai-nilai universal. Jadi, tidak hanya "care" terhadap persoalan golongannya semata. Ini juga merupakan wujud solidaritas kebangsaan. Maukah kita ?. Sekian. ** "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
