============
Artikel Lepas
============

Kubur Yusuf
----------------
(dikirim oleh Bp. Ot Loupatty)

Ketika terjadi kerusuhan di Israel belakangan ini, saya dan istri saya
Marianne, berada di Israel untuk kunjungan kerja. Saya, sebagai anggota
pengurus international (kemungkinan besar saya sendiri yang bukan berlatar
belakang Yahudi), menghadiri rapat pengurus: 'College of Judea and Samaria'
, dengan kira-kira 6000 mahasiswa di Ariel. Calon universitas ini terletak
di Samaria, yang termasuk 'daerah-pendudukan', tetapi daerah ini saya lebih
senang menyebutnya sebagai: daerah Alkitab Yudea dan Samaria. Yudea adalah
tanah dua suku di Selatan, Samaria adalah tanah sepuluh suku Israel di
sebelah Utara, yang terbentuk setelah kematian raja Solomo. Yerusalem
terletak diantara kedua daerah ini.

Berabad-abad lamanya orang-orang kafir memasuki dan mendiami Yerusalem dan
tanah Yahudi, setelah di tahun 70 AD, orang-orang Romawi membakar habis
kota dan Bait Allah. Israel terpencar ke seluruh penjuru dunia. Umat Israel
dikejar-kejar, dirampok dan dibunuh. Sampai tiga tahun setelah pembantaian
besar-besaran orang Yahudi di Eropa Kristen (!), pada tahun 1948,
diproklamasikan kemerdekaan negara Israel. Sebuah negara demokrasi yang
dikelilingi negara-negara diktator Arab.

Palestina (penduduk campuran, terbentuk selama berabad-abad, dari berbagai
latar belakang) dihalau atau meninggalkan daerah itu atas kemauan sendiri,
atas desakan negara-negara Arab tetangga. Segera setelah kemerdekaan
Israel, Yordania menduduki sebagian dari Yerusalem, termasuk bukit tempat
reruntuhan Bait Allah. Mereka menjajah daerah ini sampai tahun 1967.
Puluhan Synagog dihancurkan, dirusakkan, dijadikan WC umum. Mereka tidak
memiliki rasa hormat untuk tempat-tempat kudus Israel. Ketika Israel
merebut kembali tempat itu di tahun 1967, tidak ada satu mesjid, atau
gerejapun yang hancur. Israel menjamin dan menjaga tempat-tempat ibadah
serta kebebasan untuk memasuki tempat-tempat yang dikuduskan oleh
agama-agama lain. Hal mana tidak dilakukan oleh orang-orang Arab atau
Palestina.

Contoh yang masih segar dalam ingatan kami terjadi pada kunjungan kerja
ini. Atas perintah Arafat terjadi kerusuhan-kerusuhan di wilayah sejarah
Israel, maka tentara-tentara Israel meninggalkan kubur Yusuf. Setelah itu
kubur Yusuf ini dibakar oleh orang-orang Palestina dan tembok-temboknya
dirusak. Semua orang bisa menyaksikannya melalui layar TV di seluruh dunia.

Dikejutkan oleh reaksi atas pelanggaran kesucian tempat kudus Yahudi ini,
api segera dipadamkan dan bangunan itu sedikit diperbaiki. Sekarang dicat
dengan warna hijau, menurut penuturan kenalan kami, dijadikan mesjid.

Kubur Yusuf: dengan sumpah, wakil raja Mesir Yahudi ini mengeluarkan
perintah untuk membawa pulang tulang-belulangnya ke Israel, (Kejadian
50:25-26). Karena di sanalah tanah tumpah darahnya, di Tanah Perjanjian. Ia
mau supaya dikuburkan di situ. Di sanalah ia akan dibangkitkan dari
kematian. Musa menghormati sumpah Yosuf ini, dan pada perjalanan keluar
dari Mesir Musa membawa tulang-belulang Yusuf, Keluaran 13:19. Hal ini
merupakan kenyataan iman Yusuf, yakni dengan mengeluarkan perintah untuk
membawa pulang tulang-belulangnya ke Tanah Perjanjian, Ibrani 11:22.

Orang-orang Israel belum tinggal di situ. Tanah itu masih dalam pendudukan
bangsa-bangsa lain. 430 tahun setelah itu barulah iman Yusuf menjadi
kenyataan dengan keluarnya anak-anak Israel yang membawa serta
tulang-belulangnya. Tetapi akhirnya janji Tuhan sendirilah yang tergenapi.
Pasti! Tetapi menurut waktuNya.

Sekarang ini kubur Yusuf sebagai tanda kesaksian janji Tuhan dirusak,
sangatlah mengenaskan. Karena kubur Yusuf di Nablus (dekat Sikhem) adalah
saksi janji Tuhan kepada Israel yang berhubungan dengan Tanah Perjanjian.

Kebencian terhadap Israel sama dengan kebencian terhadap Tuhan Allah
Israel, Mazmur 83. Kebencian terhadap janji-janji Tuhan Allah untuk Israel
tentang negara, umat Israel dan kota Yerusalem.

Kembali lagi kami menyaksikan hal itu terjadi dengan mata kami.

Pada perundingan di Camp David, Arafat tidak mendapat keinginannya 100%,
lalu segeralah terjadi kerusuhan. Tentu saja orang-orang Israel tidak
membiarkan hal itu terjadi, tetapi mereka hanya mempertahankan diri.
Kemudian jatuhlah korban, di kedua belah pihak. Pertama-tama di Gaza, di
mana seorang serdadu Yahudi dibunuh. Api segera menyebar luas.

Pemimpin oposisi Sharon, dengan jelas menekankan bahwa bukit reruntuhan
Bait Allah sangat kudus bagi orang-orang Yahudi maupun Muslim.

Sekarang "Yahudi dilarang masuk" (seperti yang terjadi di Jerman pada masa
Hitler) tidak bisa diterapkan di bukit reruntuhan Bait Allah ini, walaupun
telah didirikan dua mesjid di sini ketika orang-orang Islam merebut kota
Yerusalem dari orang-orang Kristen.

Bukit reruntuhan adalah juga bukit Moria, di mana Abraham bermaksud
mempersembahkan Isak anaknya, adalah milik orang Yahudi. Bukit itu dibeli
dan dibayar oleh raja Daud sendiri. Ia membayar 50 syikal perak, dan untuk
tempat mezbah kudus ia membayar 600 syikal emas. 2 Samuel 24:18-25 dan 1
Tawarikh 21:21-22. Apa yang sudah dibeli menjadi hak milik. Orang lain yang
datang dan menduduki tempat itu adalah pencuri. Jadi, hal ini juga berlaku
untuk bukit Moria. Apakah sekarang ini orang-orang Romawi, Byzantium,
Mameluk, ataupun orang-orang Turki.

Tentu saja karena kerusuhan kami tidak bisa menghadiri rapat badan pengurus
di Ariel. Hari pada saat kami mau pergi, kementerian luar negeri Belanda
mengeluarkan larangan ke situ. Tetapi untunglah International Board Of
College Of Judea And Samaria masih bisa pergi ke Yerusalem. Supaya, bersama
kami, diterima oleh presiden Irael yang baru Moshe Katsav. Seorang yang
penuh persahabatan dan rendah hati. Ia sangat mengesankan kami, juga pada
saat pertemuan singkat dengan kami pribadi.

Berita pembantaian di Ramallah sangat mengerikan. Tentara cadangan Israel
yang kehilangan jalan di Ramallah langsung ditangkap dan diseret ke kantor
polisi dan di situ (!) dibantai seperti binatang. Hal yang sama terjadi
juga pada saat Rabi Hillel Lieberman dibunuh, yang terkejut karena
penyerahan kubur Yusuf ke tangan-tangan orang Muslim, pergi ke situ dan
dibantai.

Kemudian saluran pemberitaan media masa. Seorang sahabat kami di Jerman
mengirim sebuah foto dari harian New York Times dengan judul seorang polisi
Israel dan seorang Palestina di bukit Moria. Polisi itu sedang memegang
pentung dan orang Palestina itu bermandian darah.

Sayang sekali ayah 'si Palestina' yang membaca harian ini di Amerika
menjadi sangat murka. Karena si anak muda itu ternyata bernama Tuvia
Grossman, seorang mahasiswa Yahudi dari Chicago.

Apa yang terjadi diputar-balikkan. Hal ini terbukti dengan:

a. Sama sekali bukan di bukit Moria, karena pada latar belakang foto itu
terlihat sebuah pompa bensin. Tidak ada satu pompa bensinpun di bukit
Moria.

b. Jadi sebenarnya bukanlah seorang Palestina, tetapi seorang anak muda
Yahudi yang diseret keluar dari taxi oleh orang-orang Palestina dan dipukul
setengah mati.

c. Polisi Israel itu adalah seorang tentara Israel yang sedang berusaha
menyelamatkan anak muda itu.

Hal ini sangat mengejutkan kami, tentang keberpihakan media masa, dengan
CNN International sebagai pendahulunya, yang melaporkan jalannya kejadian.
Sangat anti Israel. Tentu saja kami menyesali terjadinya korban kematian
dan luka-luka. Tetapi orang-orang Palestina bisa membayangkan bahwa siapa
yang menabur angin, akan menuai puyuh. Dan bukannya menyalahkan sini-sana
setelah membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Dunia, menghakimi Israel karena penggunaan 'kekerasan yang melampaui batas'
.

Apa yang harus dilakukan Israel? Pasrah melihat bagaimana orang-orang
banyak yang marah membuat kehancuran di sana-sini?

Pemberitaan di televisi di mana seorang ayah Palestina dengan anaknya yang
berumur 12 tahun terserang peluru-peluru Israel mempengaruhi seluruh dunia.
Tetapi seorang profesor Yahudi asal Rusia, yang mengajar Matematika di
Universitas Ariel berkata kepada kami: "Di Rusia, kami tidak pernah
mendapat informasi yang pasti, jadi kami berusaha melihat dengan teliti
pada keterangan untuk sampai pada kebenaran.

Kalau saya melihat foto ini, maka saya melihat si ayah, yang aman di
belakang beton, dan anaknya yang ia peluk di luar beton pelindung. Lalu
saya bertanya-tanya, apa yang diperbuat sang bapak dengan anaknya di situ?
Mencari apa mereka ini? Melempar batu? Dan mengapa ia tidak melindungi
anaknya dalam pelukannya, terhadap serangan peluru-peluru mematikan itu?
Memilih secara sadar untuk menjadi martir atas nama Allah? Martir seperti
ini bernilai dua ribu dollar US, yang dijanjikan oleh mulut Arafat....."

Kita tidak bisa lagi mengatasi pemberitaan seperti ini. Sangat memuakkan.
Kami hanya bisa melakukan satu hal: berdoa! Memohon Tuhan mematahkan
kuasa-kuasa kegelapan. Berdoa untuk perlindungan umatNya. Berdoa untuk
kedatangan Mesias dan damai abadi. Untuk orangYahudi, Palestina, dan Arab.

Akhirnya kami pulang ke Belanda, tetapi dengan hati sedih, dengan perasaan
seolah-olah bahwa kami meninggalkan umat Israel begitu saja, untuk kembali
ke tanah kami yang aman di Belanda, dengan menyadari bahwa sahabat-sahabat
Yahudi kami sehari-hari hidup dalam ketegangan dan tekanan dari sana-sini.
Mereka tidak pernah diyakinkan bahwa bahaya dari segala sudut tidak akan
mengintip dan menyerang.

Tetapi Tuhan Allah memegang janjiNya. Ia menepati janjiNya yang diikat
dengan bangsa Israel. Kadang-kadang terlihat bahwa Ia sendiri turun tangan.

Ketika Israel bersedia untuk menyerahkan Golan (Bashan di dalam Alkitab,
adalah bagian dari Tanah Perjanjian) kepada Syria, tiba-tiba presiden Assad
dari Syria meninggal dunia. Persoalan ini (sementara) dihentikan.....

Ketika perdana menteri Barak bersiap untuk menyerahkan sebagian besar tanah
perjanjian, bahkan sebagian kota Yerusalem termasuk bukit Moria, tiba-tiba
Arafat berkata: Tidak!

Ketika Shimon Peres, tokoh persetujuan Oslo, diramalkan akan menang
pemilihan presiden di Knesset, tiba-tiba Moshe Katsav yang terpilih.
Seorang yang setuju dengan perdamaian (siapa tidak?), tetapi penentang cara
perdamaian seperti ini. Sebagaimana 80% orang Palestina/Arab dan penduduk
Yahudi di Israel hanya mau berdamai, ditegaskan oleh salah seorang teman
Yahudi kami. Tetapi tidak mengorbankan semuanya.

Satu hal yang pasti: Tuhan Allah memimpin umatNya. Pasti akhirnya akan ada
damai. Ia membawa umat Yahudi kembali ke Israel bukan untuk membuat sebuah
Auschwitz (di mana dibangun ruang gas untuk membunuh orang Yahudi) di sana.
Karena Israel sedang dalam perjalanan untuk beristirahat. Pemulihan
nasional akan diikuti oleh pemulihan rohani. Hal ini akan menembus segala
sesuatu.

Tetapi satu hal yang pasti: Mesias akan datang, bersama kerajaanNya. Bagi
orang-orang Israel dan Palestina. Untuk orang-orang Kristen dan Islam.
Untuk orang-orang Yahudi dan bukan-Yahudi. Ya, untuk semua ciptaan Tuhan.

Dengan pengharapan ini, kita berjalan maju dengan gagah, bersama-sama dan
menguatkan Israel. Terus-menerus, sampai Ia datang untuk membuat segala
sesuatu menjadi baru sampai selama-lamanya.

Kesaksian Pendeta Willem Glashouwer, direktur Christians for Israel dan
Ketua EO (Siaran Injili di Belanda)



"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke