```````````````````````

"Jangan Sampai Yang Ulang Tahun Tak Merasa Dirayakan"
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Ketika Tuhan Yesus ulang tahun di Bulan Desember, sebagian besar manusia di
dunia, khsususnya umat Kristiani mulai sibuk dengan berbagai persiapan
untuk menyambut hari-hari bersejarah bagi umat manusia itu.  Panitia Natal
di masing-masing gereja/institusi kekristenan sudah mulai sibuk dengan
penyusunan acara,  pemberian hadiah untuk anak-anak sekolah minggu,
dekorasi gereja, mencetak undangan natal, mempersiapkan konsumsi, dan lain
sebagainya.  Akhirnya, dana yang dibutuhkan pun cukup banyak, ada yang
sampai jutaan, bahkan puluhan juta rupiah.  Penggalangan dana pun mulai
dilakukan. Sesuai dengan jadwal yang ditentukan tibalah saatnya hari "H"
perayaan natal itu.

Fenomena yang tampak, gedung-gedung gereja pun penuh. Semua kursi-kursi
tidak ada yang kosong, bahkan pihak panitia pun harus menyediakan kursi
cadangan di halaman gedung, itu pun sudah penuh semua.  Tempat parkir
kendaraan, baik roda dua maupun roda empat terisi semua, bahkan ada yang
tidak bisa lagi parkir di
halaman gedung, akhirnya di pinggir jalan pun jadi. Suatu kali penulis
sempat bertanya dalam hati, dimanakah gerangan mereka selama ini ?.

Mengapa ketika merayakan Hari Kematian dan Kebangkitan Tuhan Yesus orang
yang hadir tidak sebanyak itu ?.  Suatu pemandangan yang kurang mengenakkan
lagi ialah, ketika anak-anak Tuhan itu merayakan ulang tahun Tuhan Yesus,
di sekitar gedung banyak mata yang terheran-heran, bertanya-tanya, ada apa
gerangan di dalam gedung itu ?.  Para fakir miskin pun memanfaatkan
kesempatan itu untuk mengulurkan tangannya seraya memohon belas kasihan
dari setiap anak Tuhan yang dilihatnya. Ada yang peduli, tapi ada juga yang
sinis dan cuek terhadap mereka yang membutuhkan belas kasihan itu.  Setelah
acara utama selesai, tibalah saatnya pembagian konsumsi. Semua jemaat yang
hadir pun kebagian, bahkan ada pula yang berlebih. Maklum dana yang
ditargetkan untuk semua pos bisa terpenuhi.  Panitia pun tidak mau rugi,
sisa konsumsi itu dibawa pulang untuk dikonsumsi di rumah padahal
sebenarnya di sekeliling gedung masih ada yang lapar dan haus.

Padahal Tuhan Yesus berfirman di dalam Matius 25: 31-46:
" ..... Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku
haus, kamu tidak memberi  Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak
memberi tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. "

".....Aku berkata kepadamu: sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu
lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak
melakukannya juga untuk Aku..."

Di kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, gedung-gedung
perbelanjaan pun mulai semarak dengan dekorasi yang megah dan mewah.
Rupanya para pelaku bisnis pun, entah ia Kristen atau tidak, seolah-olah
ikut menyambut ulang tahun Sang Juru Selamat itu. Perayaan Natal memang
menjadi peluang bisnis yang besar setiap tahunnya. Kartu Natal pun muncul
dengan berbagai warna, bentuk, ukuran, dan gambar.  Tapi, gambar siapakah
yang paling menonjol dalam hiasan gedung dan kartu Natal itu ?.  Ternyata,
yang paling menonjol ialah Santa Klaus (sinterklas), disusul dengan gambar
malaikat, pohon natal, dan burung merpati.  Lalu, "gambar" yang ulang tahun
sendiri ditaruh di mana ?.  Gambaran kerendahan hati Tuhan Yesus (lahir di
kandang domba) itu di mana ?. Gambar salib Kristus di mana ?.  Betulkah
Tuhan Yesus dirayakan oleh mereka ?.

Setelah Bulan Desember apa yang terjadi di gereja ?.  Gedung gereja
seolah-olah kembali lagi seperti bulan-bulan biasa di tahun sebelumnya.
Kursi-kursi gereja kembali banyak yang kosong.  Kursi bagian VIP (bagian
depan) kembali sebagai momok bagi jemaat. Kursi belakang menjadi favorit.
Timbul pertanyaan: kemanakah semua yang dulu ikut natal itu ?.  Di manakah
makna natal yang telah dirayakan itu ?

Uraian di atas sekedar refleksi bagi kita anak-anak Tuhan di dalam
merayakan Natal tahun 1999 ini.  Dengan tulisan sederhana ini diharapkan
kita dapat merayakan Natal dengan makna yang sesungguhnya. Natal bukan
tanpa makna.  Natal bukan sekedar kemeriahan dan kemewahan. Semangat Natal
harus diwujudkan dalam solidaritas kemanusiaan kita, terutama di masa-masa
krisis ekonomi ini dimana banyak orang membutuhkan kasih. Dan yang lebih
penting lagi ialah bagaimana menempatkan Kristus sebagai hal yang paling
utama dalam hidup kita, yang ditunjukkan dengan kesetiaan dan ketekunan di
dalam Tuhan, serta menyatakan kasihNya kepada sesama yang masih membutuhkan
kasih.  Kasih itu bukan eksklusif, tetapi perlu dibagikan. Hidup
orang-orang percaya hendaklah seperti lilin yang menyala menerangi
kegelapan.   Semoga Tuhan Yesus memampukan kita.  Amin. (Augustinus S)

****SELAMAT MENYONGSONG HARI NATAL TAHUN 2000 ****

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke