**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************
<> TPF Wijaya II Jangan Bawa Kepentingan Islam
*Kurangkah Menuding TNI RMS?
<> Uskup Kaget Ada Tim Mendahului Gubernur
<> Yon-Gab Sergap 4 Perusuh di Hatu Alang
* Sita Ratusan Bom-Munisi dan 40 Detenator
<> Evakuasi Kesui, Tokoh Kristen tidak ke Darat
<> Siluman ke Kesui, Harus Jadi Perhatian Dewan
<> Tim Datang Kesui 'Damai'
*Rukka Bantah Ada Tim Siluman Kesui
<> Sitepu 'Tak Bersalah' Kapolda Langkahi Pengadilan
**************************
TPF Wijaya II Jangan Bawa Kepentingan Islam
*Kurangkah Menuding TNI RMS?
-------------------
Ambon, Siwalima
Salah seorang tokoh pemuda Kristen Drs Rolly S Ubro, mengharapkan,
kedatangan Tim Pencari Fakta (TPF) seputar kasus komando liar di Hotel
Wijaya II, yang menggerakan kerusuhan Ambon, Jumat (19-22/1/2001) harus
bebas kepentingan. Artinya, tidak sekedar datang untuk memuaskan tekanan
kelompok Islam yang berusaha mendiskreditkan keberadaan Yon-Gab TNI yang
sukses mengeliminir konflik.
"TPF datang untuk mencari kebenaran dan klarifikasi pemutarbalikan fakta
yang telah dilakukan orang atau kelompok tertentu melalui media cetak dan
elektronik di pusat. Kalau datang untuk kepentingan Islam sebaiknya
tinggalkan Ambon. Masyarakat Maluku sudah muak dengan cara-cara media cetak
dan elektronik di pusat yang seenaknya menjatuhkan Yon-Gab TNI. Saya kira
justru yang harus dilakukan adalah proses hukum kepada oknum TNI-Polri yang
berhasil dilumpuhkan Yon-Gab TNI ketimbang mencari-cari kesalahan Yon-Gab
TNI," tandas Ubro kepada Siwalima kemarin di Ambon.
Menurut Ubro, ada kalangan tertentu dalam tubuh Islam yang belum rela
melihat turunnya eskalasi konflik di Ambon, Maluku. "Jangan karena
kepentingan kita terganjal oleh taktisnya Yon-Gab TNI mengatasi konflik di
lapangan, lalu kita mulai balik menghujat Yon-Gab TNI. Itu kan gampang
terbaca. Apa lagi yang mau dicaricari? Masih kurangkah menghujat TNI
sebagai antek-antek RMS? Masih kurangkah oknum Saragih Cs itu menjadi bukti
dalang kerusuhan pada saat situasi mulai tenang? Kok manusia-manusia
penjahat seperti itu sudah tertangkap malah balik menuding Yon-Gab TNI yang
bukan-bukan. Siapa saja harus berterima kasih karena melalui oknum Saragih
Cs bisa ditarik benang merah skenario kerusuhan selama ini," jelas Ubro,
sem-bari mengharapkan, TPF Wijaya II harus sungguh-sungguh me-lakukan
klarifikasi informasi yang dikembangkan media cetak dan elektronik di
pusat. "Liputan media-media pusat tentang ke-rusuhan Ambon, Maluku, selama
ini berada dalam kesesatan," jelasnya menambahkan.
Sementara itu, TPF yang datang atas instruksi Panglima TNI, Cq Kadispen TNI
untuk menyelidiki secara tuntas kasus Wijaya II, keseluruhan anggotanya
memilih untuk tutup mulut. Buktinya, salah seorang anggota tim yang dicegat
Siwalima di hotel Manise Sabtu pekan lalu, berusaha mengelak.
"Aduh.nanti saja ditanyakan sama Ketua Tim," katanya singkat. Alhasil,
pimpinan TPF, Wasintel Kasum, Brigjen TNI Zulfahmi, yang coba diusik malah
berkelit langsung ngumpet di samping pintu restaurant hotel Manise. Namun
ketika Siwalima memaksakan bertemu dengan jenderal bintang satu itu, hanya
sepata dua kata yang keluar dari mulutnya. "Wah saya tak bisa berkomenntar.
Saya tak punya kapasitas untuk berbicara," ujar Zulfahmi, langsung
menggunakan lift menuju kamarnya. Berpakaian dinas TNI, akhirnya semua
anggota kemudian berganti pakaian uniform mereka dengan pakaian safari.
Sekitar pukul 09.15 WIT, TPF langsung menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara)
di kawasan Mardika, guna mengadakan investigasi lapangan. Namun, mereka
belum menuju hotel Wijaya II, yang menjadi markas komando liar oknum
TNI/Polri itu. Selanjutnya, TPF mengadakan pertemuan dengan Kapolda
Ma-luku� Brigjen Pol Firman Gani, sekitar pukul 11,25 WIT. Tak ada se-suatu
pun yang dapat diper-oleh dari pertemuan itu. "Maaf ini pertemuan
tertutup," kata Aju-dan Kapolda. Bahkan, usai bertemu Kapolda keseluruhan
anggota TPF buru-buru masuk ke mobil masing-masing dan lang--sung
menghilang. Kapolda Firman Gani sendiri memilih un-tuk berdiam diri di
ruang kerja-nya, tidak seperti tempoe doeloe yang suka bicara kepada media
cetak dan elektronik.
Diketahui usai bertemu Ka-polda Firman Gani, Selanjutnya TPF yang juga
terdiri dari ang-gota Kontras itu, langsung me-nuju ke Makodam XVI
Pattimura, menemui Panglima Kodam XVI, Brigjen TNI I Made Yasa. Infor-masi
yang diperoleh Siwalima, bahwa dalam penyelidikan di Am-bon TPF akan
mengadakan per-te-muan dengan sejumlah OKP Muslim, seperti HMI (Himpunan
Mahasiswa Islam) dan pihak MUI Maluku. (lek/tin)
Uskup Kaget Ada Tim Mendahului Gubernur
------------------
Ambon, Siwalima
Uskup Diosis Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi Msc mengatakan dirinya
kaget kalau ada satu tim tak resmi yang di-berangkatkan ke Kesui dan Teor
di luar tim resmi yang mewakili ketiga komponen agama dan Penguasa Darurat
Sipil.
"Setahu saya tim yang di-berangkatkan ke Kesui yang di-anggap resmi hanya
tim yang di-pimpin gubernur selaku PDS. Tapi mengapa ada satu tim yang
berangkat mendahului tim resmi ke Kesui dan Teor. Ada apa de-ngan tim yang
tidak jelas itu," ujar Uskup mempertanyakan.
Ditemui Siwalima di Ambon belum lama ini, Uskup berharap kiranya tidak ada
permainan politik soal masalah Kesui dan Teor dengan tim tersebut.
Pasal-nya, bila tim si-luman itu sampai mempolitisir masalah Kesui dan
membuat no-da pada tim yang di-harapkan membela masalah kemanu-sia-an yang
ada di Kesui, dirinya mengutuk keras per-bua-tan tim tersebut.
Uskup mengancam bila sampai masalah Kesui dan Teor dipoli-tisir lagi, maka
Keuskupan Am-boina tidak segan-segan me-minta ke-hadiran dunia
inter-nasional tu-run tangan langsung me-ng-atasi masalah kemanusiaan
paling krusial di dunia yang ter-jadi di Kesui itu. "Kalau seandai-nya
pemerintah lokal maupun nasional tidak dapat menyele-saikan masalah
islamisasi Kesui dan Teor, kenapa tidak, kita da-tangkan pasukan
internasional untuk menyelesaikannya. Se-bab, menurut Uskup, hanya du-nia
in-ternasional yang dianggap inde-penden dan netral untuk me-nye-lesaikan
masalah Kesui dan Teor.
Meski begitu, Uskup sangat ya-kin dan percaya bahwa tim resmi dibewa
koordinasi PDS yang telah diberangkatkan me-nuju Kesui dapat menyelesaikan
masalah Kesui secara arif bijak-sana dan netral. Diharapkan pula setibanya
tim ini ke sana maka masyarakat yang diliputi suasana ketakutan dan
keterbelengguan, mereka cepat mendapat pertolo-ngan.
Dan bagi umat Kristen Pro-testan dan Katolik yang telah dipaksa dengan
kekerasan untuk berpindah ke agama yang lain, supaya segera ditolong untuk
di-bebaskan agar mereka ini bisa menghirup kembali udara kebe-basan dalam
beragama.
Uskup juga berharap agar tim ini bersama aparat keamanan setibanya di sana
dapat membela korban Kesui dan Teor dari para perusuh yang masih terus
ingin menghalangi kegiatan evakuasi para korban. (via)
Yon-Gab Sergap 4 Perusuh di Hatu Alang
* Sita Ratusan Bom-Munisi dan 40 Detenator
-------------------
Ambon, Siwalima
Sukses menyergap anggota dewan Maluku dan sejumlah Perwira Menengah (Pamen)
TNI dan Polri di Hotel Wijaya II pekan lalu, Rabu (24/1) Yon-Gab TNI
bersama Yon 731/Kabaresi di Dusun Hatu Alang-Piru Keca-matan Seram Barat
kembali me-nyergap 4 perusuh berikut ratu-san bom dan munisi serta 40
detenator rakitan.
Penyergapan dan penyitaan itu berawal dari aksi penye-ra-ngan yang
digencarkan 500-an perusuh dari pantai terhadap warga Kristen di Dusun Hatu
Alang. Dalam penyerangan itu tercatat seorang aparat Yon 731/Kabaresi,
Serda Inf Yusman te-was tertembak dan warga se-tempat lari puntang panting
tinggalkan perkampungannya masuk hutan-hutan belantara cari keselamatan
diri.
Pangdam XVI Pattimura, Brig-jen TNI I Made Yasa kepada pers di kediamannya,
Sabtu (27/1) malam menyebutkan, ke-4 peru-suh yang disergap bawahannya itu,
2 orang diantaranya warga Desa Tulehu dan 2 lainnya ber-asal dari Jawa
Tengah, masing-masing, Heru Yulianto (23), kelahiran Wonogiri dan Ngaderi
(25) kelahiran Cilacap.
"Kedua orang tersebut dari Wonogiri dan Cilacap, yang ditangkap Yon-Gab
saat penyi-siran, setelah melakukan penye-rangan ke Dusun Hatu Alang, Rabu
lalu. Bersama itu disita 620 bom rakitan, 240 munisi AK-47 dan peralatan
bahan peledak lainnya," tandas Pangdam Made Yasa.
Lengkapnya berdasarkan ke-terangan dari sumber kuat Siwa-lima, tercatat 620
bom rakitan, 6 bom ranjau rakitan, 6 bom seberat 10 kg/bom, 40 detenator
rakitan dan munisi jenis AK-47 se-banyak 240 butir.
Sedangkan 2 perusuh ke-lahiran Jawa Tengah, yakni Heri Yulianto, kelahiran
Desa Kem-bang, RT 02/4 Keca-matan Suko--boyo, Wonogiri, 23 Juli 1978 dan
Ngaderi kelahiran Desa Lantasari Kecamatan Ka-rang Ngaten Cilacap, 15 Maret
1976.
Pangdam Made Yasa yang tampil santai dalam acara resepsi sederhana dengan
sejumlah war-tawan di kediamannya, Sabtu malam menjelaskan, ke-4 peru-suh
tersebut sudah diserahkan Yon-Gab kepada kepolisian se-tempat (Polsek Piru,
Red), se-dangkan barang bukti masih di-amankan Posko Yon-Gab II di Seram
Barat.
Menyinggung keberadaan 2 perusuh yang diduga kuaat anggota laskar jihad,
Pangdam Made Yasa belum dapat memas-tikan.
"Walaupun orang itu dari Jawa karena memang KTP demikian, namun saya belum
berani me-mastikan mereka itu laskar jihad, nantilah jika penye-lidikan
telah selesai dilakukan di sana (Piru, Red) baru dapat di-pastikan," tandas
Made Yasa. (lek)
Evakuasi Kesui, Tokoh Kristen tidak ke Darat
------------------
Ambon, Siwalima
Ketua tim evakuasi warga Ke-sui, Rudolf Rukka, SIP, mengakui saat
dilangsungkannya evakuasi tehadap warga kristen Kesui, Teor dan Utha (KTU),
tokoh aga-ma Kristen yang ikut dalam tim yakni Ketua Sinode Pdt Sammy
Titaley dan Pastor Agus Ulahai-ya-nan tidak diperkenankan turun dari kapal
Teluk Ende. Alasan-nya, saat itu kondisi keamanan tidaklah memungkinkan.
"Saat itu kan warga tidak me-ngenal tokoh-tokoh Kristen yang ikut dalam
tim. Karena itu, mereka hanya tinggal di kapal. Setelah proses evakuasi
selesai dan semua warga sudah berada diatas kapal, baru mereka mela-kukan
penyegaran maupun pela-yanan pastoral,"tandas Rukka.
Sementara itu, Rukka yang juga Bupati KDH Tk II Maluku Tengah pada
kesempatan itu juga menampik selentingan yang beredar luas di masyaralat,
bah-wa ada tim siluman yang sudah berangkat sebelum tim evakuasi turun ke
Kesui,
"Itu tidak benar. Yang turun duluan itu bukannya tim siluman, tetapi tim
yang ditugaskan Bapak Gubernur ke Gorong, Kataloka, Ondor dan Ambarskaru,
Tujuan-nya yakni mengadakan pende-ka-tan dengan tokoh-tokoh mau-pun
raja-raja yang ada disana untuk bersama-sama tuirun ke Kesui," jelasnya
sembari me-ngatakan bahwa setelah perte-muan itu, semua tokoh maupun raja
bersedia membantu kerja tim untuk melakukan evakuasi.
Alhasil, setelah tim evakuasi berangkat dari Ambon, Selasa (23/1) dan tiba
di Gorong, Rabu (24/1), tim langsung menjemput tokoh maupun raja-raja tadi
yang sudah bersedia membantu me-nyelesaikan kasus Kesui yang cukup mendapat
sorotan publik itu.
Tidak Akan Menyerang
Sementara itu, Rukka juga me-nandaskan, hal menggem-birakan yang diperoleh
tim adalah ada-nya kesepakatan damai warga Kesui. "Jadi, setelah tim ke
Kesui sudah ada suatu kesepakatan bersama antara Raja Kondor, Ka-kanwil
Agama, dan Bupati Ma-luku Tengah serta gubernur de-ngan warga setempat
bahwa tidak akan ada penyerangan lagi," jelasnya dan mengatakan bahwa
kesepakatan itu juga sudah disetujui para raja-raja dari Gorong.
Dia juga mengatakan, kendati warga Kesui sudah dievakuasi, namun, jika
nanti kondisinya aman, maka warga Kesui, Teor maupun Utha yang ingin
kembali ke tanah petuanannya, "Saya akan kembali-kan mereka dan melakukan
reha-bilitasi dan re-kon-struksi rumah penduduk," janji Rukka. Juga hak
petuanan dan tanah adat mereka akan te-tap dijaga, karena itu milik
pu-saka.
Selain itu, dia juga menga-ta-kan, tim sudah mengirimkan se-banyak 12 ton
beras untuk pen-duduk Muslim disana. Bantuan ini diberikan menyusul
kekura-ngan pangan yang dialami warga disana."Jadi, waktu pertemuan, salah
satu permasalahan yang menge-muka yakni kurangnya pangan dan kami sudah
meme-nuhinya," kata dia. (ana)
Siluman ke Kesui, Harus Jadi Perhatian Dewan
------------------
Ambon, Siwalima
Munculnya "tim siluman" ke Pulau Kesui mendahului PDS dan timnya, seperti
yang disinya-lir Uskup Amboina, Mgr Petrus Kanisius Mandagi, MSc ternyata
gayung bersambut dengan ang-gota DPRD Maluku, Chris Sahe-tapy, STh.
"Kalau tim siluman seperti di-katakan Uskup Mandagi itu me-mang ada, maka
saya kira ini harus menjadi perhatian dewan Maluku," tandas Sahetapy yang
juga anggota Fraksi PDI-P DPRD Propinsi Maluku kepada Siwa-lima di Baleo
Rakyat Karang Pan-jang, belum lama ini.
Menurutnya, Islamisasi secara paksa terhadap warga Kristen di Pulau Kesui,
sungguh masalah yang sangat riskan bagi Indo-nesia dan internasional,
bahkan tergolong pelanggaran HAM terbesar.
Terkait dengan konflik Ma-luku, kata Sahetapy, menggam-barkan Indonesia
sedang dikua-sai kelompok mayoritas. Mengi-ngat kasus di Kesui merupakan
pelanggaran HAM terbesar, maka secepatnya diselesaikan de-ngan
mengedepankan prinsip transparansi.
"Untuk soal ini, pemerintah melalui PDS harus jujur menga-takan bahwa telah
terjadi pe-langgaran HAM di Maluku," te-gas anggota dewan ini sembari minta
pimpinan DPRD untuk se-cepatnya mengagendakan kasus Kesui, termasuk
masalah-ma-salah kerusuhan lainnya di Ma-luku secara serius. Pasalnya,
"Se-lama ini rakyat menunggu kita, rakyat sedang mem-per-tanyakan apa yang
selama ini dewan lakukan, dan hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja,"
timpalnya.
Sebaliknya, bila DPRD Ma-luku tidak menyikapi masalah tersebut, termasuk
masalah-ma-salah lainnya dengan memanggil Gubernur, Kapolda dan Pang-dam,
maka diduga keras di tubuh DPRD Maluku sendiri ada ok-num-oknum yang
terlibat dalam skenario kerusuhan.Lebih lanjut, dikatakannya, seluruh
perma-salahan di Maluku tidak lepas dari permainan orde baru.
"Kalau dewan tidak melihat ini, maka saya anggap DPR Maluku adalah DPR orde
baru, baik pim-pinannya maupun anggota-anggotanya.
Untuk itu, mari kita sama-sama menyikapi hal itu dengan inde-penden tanpa
mem-perhitungkan kepentingan golo-ngan agama apapun, yang salah katakan
salah dan benar katakan benar," tandas Sahetapy. (das)
Tim Datang Kesui 'Damai'
Rukka Bantah Ada Tim Siluman Kesui
------------------
Ambon, Siwalima
Selentingan adanya tim 'silu-man' ke Kesui bentukan Pe-ngua-sa Darurat
Sipil (PDS) Daerah Ma-luku yang diturunkan men-da-hului tim inti pimpinan
Dr Ir MS Latu-con-sina untuk tujuan yang sama, menyelidiki kasus
Isla-misasi di Pulau Kesui, Seram Ti-mur, dibantah oleh Ketua Tim Evakuasi
warga Kesui, Rudolf Rukka
"Tim siluman apa. Itu hanya istilah yang bikin susah orang," ujar Rudolf
Rukka ketika mem-berikan penjelasan pers menge-nai proses evakuasi korban
Is-lamisasi di Kesui - Teor, kemarin di Kantor Gubernur Maluku.
Rukka mengakui memang ada tim yang lebih dulu berangkat mendahului tim yang
dibentuk oleh PDS Daerah Maluku. "Tim tersebut lebih dulu berangkat de-ngan
tujuan Gorom (Seram Timur) guna mengumpulkan para raja setempat," katanya.
Para raja di wilayah Gorom ter-sebut, katanya sengaja dikum-pul-kan untuk
mengadakan per-temuan dengan Gubernur Ma-luku.
Pertemuan dimaksudkan un-tuk mengajak seluruh masya-rakat di wilayah
tersebut melalui para raja guna menghentikan se-gala bentuk penyerangan
seperti yang dilakukan selama ini.
"Keberangkatan tim tersebut lebih daulu atas diketahui dan merupakan
perintah langsung dari Gubernur Maluku selaku PDS Daerah Maluku," katanya
sembari menambahkan kata siluman mengibaratkan tim tersebut sama dengan
setan.
Ruka juga membantah sinya-lemen di masyarakat bahwa ada maksud-maksud
tertentu ketika PDS Daerah maluku membagi tim dalam dua kapal. "Tidak ada
mak-sud apa-apa. Kebetulan Gu-bernur meng-gunakan KN Ma-yang lebih dulu
harus menying-gahi Gorom se-dangkan tokoh agama dan tokoh masyarakat serta
sejumlah komponen terkait langsung menuju Pulau Kesui dan membawa sejumlah
bahan makanan," jelas Bupati Maluku Tengah ini.
Sementara itu, Uskup Diosis Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi Msc pekan
lalu me-ngatakan dirinya kaget kalau ada satu tim tak resmi yang
di-be-rangkatkan ke Kesui dan Teor di luar tim resmi yang mewakili ke-tiga
komponen agama dan Pe-nguasa Darurat Sipil.
"Setahu saya tim yang di-berangkatkan ke Kesui yang di-anggap resmi hanya
tim yang di-pimpin gubernur selaku PDS. Tapi mengapa ada satu tim yang
berangkat mendahului tim resmi ke Kesui dan Teor. Ada apa de-ngan tim yang
tidak jelas itu," ujar Uskup mem-pertanyakan.
Ditemui Siwalima di Ambon pekan lalu, Uskup berharap kira-nya tidak ada
permainan politik soal masalah Kesui dan Teor dengan tim tersebut.
Pasal-nya, bila tim si-luman itu sampai mem-politisir masalah Kesui dan
mem-buat no-da pada tim yang di-ha-rap-kan membela masalah ke-ma-nu-sia-an
yang ada di Kesui, diri-nya mengutuk keras per-bua-tan tim tersebut.
Kesui 'Damai'
Sementara itu, menurut bebe-rapa sumber Siwalima yang tu-rut mengikuti tim
evakuasi ter-sebut, menuturkan situasi dan kondisi Pulau Kesui dan
sekitar-nya ketika tim tersebut tiba ter-lihat damai yang diskenariokan.
"Masyarakat di wilayah itu terlihat begitu rukun namun ada nuansa lain
seperti dibuat-buat dan telah didramatisir oleh ok-num-oknum tertentu,"
kata sum-ber tersebut.
Bahkan personil TNI dari Batalyon Gabungan (Yon-Gab) yang sengaja
dikirimkan bersama tim evakuasi guna mencegah hal-hal yang tidak diiingikan
tetap berada di atas geladak KRI Teluk Ende dan tidak turun ke daratan.
Dalam wawancara yang dila-ku-kan tim evakuasi terhadap war-ga Pulau Kesui,
menurut sum-ber tersebut menggunakan sis-tem kuisioner tertutup. "Pilihan
jawabannya hanya ya atau ti-dak," ujarnya. (lai)
Sitepu 'Tak Bersalah' Kapolda Langkahi Pengadilan
------------------
Ambon, Siwalima
Pernyataan Kapolda Maluku, Brigjen Pol Firman Gani bahwa Komisaris Pol.
Abdi Darman Sitepu "tidak bersalah" saat diser-gap Yon-Gab di markas
komando liar, di Hotel Wijaya II dinilai praktisi hukum, Wilson Renyaan, SH
sebagai sikap yang melangkahi pengadilan. "Ini kan Kapolda sudah mendahului
sebuah putusan pengadilan," tandas Renyaan di Ambon kemarin.
Lebih tegas lagi Renyaan menuturkan, dengan pernyataan tersebut menunjukkan
bahwa Kapolda 'tidak' memahami hu-kum. "Orang awam saja menge-tahui, apa
itu azas praduga tak bersalah, kok Kapolda selaku aparat penegak hukum
dengan tergesa-gesa menyatakan sese-orang yang ditangkap saat ber-ada di
Tempat Kejadian Perkara (TKP) tidak bersalah," keluh-nya.
Olehnya, dengan peristiwa penangkapan terhadap Sitepu Cs itu, dia minta
aparat penegak hu-kum (polisi, Red) agar tidak ber-tele-tele mem-prosesnya
sesuai hukum yang berlaku. Pasalnya, peristiwa tersebut sudah diketa-hui
umum, apalagi berdasarkan Kitab Undang Hukum Acara Pi-dana (KUHAP)
diesebutkan bah-wa, "Sesuatu yang sudah men-jadi pengetahuan umum tidak
perlu dibuktikan lagi."
Sikap Kapolda membela bawa-hannya itu, kata Renyaan tidak dapat dibenarkan,
karena ber-kaitan dengan masalah pidana, maka butuh proses hukum untuk
mencari kebenaran materialnya.
"Bukan seperti yang dibilang Kapolda itu, seolah-olah Ka-polda itu hakim.
Kapolda harus patut terhadap ketentuan hukum dong. Sadarkah Kapolda bahwa
statement--nya itu sudah mele-cehkan hukum? lalu bagaimana dengan
masyarakat sipil, kalau aparat penegak hukum saja su-dah bersikap
demikian?," ujarnya bertanya.
Menyangkut rencana pelanti-kan Sitepu sebagai Dan Sat Brimob Maluku, sebut
Renyaan, merupakan urusan institusi Polda Maluku. Namun demikian proses
hukum tetap dilakukan, karena di negara ini tidak ada yang kebal hukum.
"Sitepu saat itu kan berada di tempat kejadian, setidaknya ada
dugaan-dugaan keras terhadap keterlibatannya dalam peristiwa tersebut. Masa
kejadian yang begitu fatal kok dia berada di TKP," ungkapnya
terheran-heran. (lis)
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l