**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************
<> FKM Telah Dikampanyekan Thamrin Ely
<> Kompak Bela Diri, PDS Diminta Lacak Kebenaran
<> Ananda, Bocah Kesui yang Pintar Mengaji
<> Fraksi Penegak Segera Buang Hasrat Militerisme
<> Tak Perlu Provokasi, Yon-Gab Patut Diteladani
<> Internasional Bantu Atasi Masalah Maluku
**************************
BERITA HARIAN UMUM SIWALIMA
EDISI: RABU, 21 FEBRUARI 2001
FKM Telah Dikampanyekan Thamrin Ely
-------------------------------------------
Ambon, Siwalima
Pernyataan sikap memoran-dum bela negara yang dikeluar-kan Fraksi Pembela
Negara Ke-sa-tuan (F-Penegak) DPRD Ma-luku sebagai sikap politiknya,
di-tanggapi tokoh grass root Agus Wattimena. Pernyataan tersebut dinilai
sebagai pernyataan yang tidak menempatkan orang Islam dan Kristen Maluku
pada harkat dan martabatanya karena berbau militerisme. "Walaupun bersifat
menghujat kita bersyukur bahwa Tharin Ely sudah ikut mengkam-panyekan
keberadaan FKM. Jadi tolong dan silakan terus berkam-paye. Mempersolkan FKM
se-cara tidak langsung ikut memberi perhatian kepada FKM sebagai milik
orang Maluku Islam-Kris-ten," tegas Wattimena kepada Siwalima kemarin di
Ambon.
Wattimena mengatakan Tham-rin Ely Cs sebagai orang Maluku sejati harus
membantu kampanye FKM sampai ke semua pelosok Maluku. Sebab FKM ada bukan
menuntut kemerdekaan tetapi me-mulihkan harga diri masyara-kat Maluku Islam
dan Kristen. FKM ingin ada penegakkan supremasi hukum di tanah Ma-luku dan
masalah HAM. "Saya melihat ini suatu kelemahan Tham-rin Ely karena dia
telah be-rada dalam suatu ketakutan. Saya berani bilang Thamrin Ely
me-mancing umat Muslim tetap ber-ada dalam kerusuhan, tanpa me-lihat
penderitaan bersama yang kini dialami masyarakat Muslim dan Kristen di
Maluku, pasca ke-ru-suhan. Kemudian dia meminta TNI-Polri membasmi RMS yang
identik FKM, yang katanya punya permainan. Aduh.FKM bukan makar. Yang makar
adalah Aceh dan Papua, dan tindakan Las-kar jihad di Maluku," tandas-nya.
Justru mengejutkan, kata Watti-mena, ketika Thamrin Ely meminta TNI-Polri
membasmi Bangsa Alifuru. "Lalu Thamrin Ely itu bangsa apa? Dia lupa bah-wa
pernyataan itu bisa me-mancing emosional orang Malu-ku keseluruhan. Dengan
pernya-taan Ely yang menganggap diri-nya bukan orang Alifuru, berarti dia
bukanlah orang Maluku tapi blaster Arab," sinis Wattimena.
Untuk Thamrin Ely tahu siapa yang coba-coba menghancurkan Maluku dia akan
dihancurkan karena negeri ini Allah berikan untuk orang Maluku. Nama saja
Alif artinya apa? Orang nomor satu atau orang pertama. Mari kita uji,
selama ini laskar jihad dengan kekuatan persenjataan yang canggih tapi
ternyata tidak mampu menghabiskan Maluku. Apalagi begitu gampang menu-duh
FKM itu RMS.
Wattimena melihat ini adalah trik Thamrin Ely yang dimainkan untuk
menyukseskan ide relokasi yang pertama kali digagaskan diantaranya Pulau
Ambon harus dibagi dalam dua wilayah, ma-sing-masing Ambon Utara untuk
warga Muslim dan Ambon Selatan untuk warga Kristen, dan ternyata itu jalan
sampai saat ini. "Saya tidak bisa pergi ke Poka - Rumahtiga, saya tidak
lagi rasa aman di saya punya negeri sen-diri. Yang terjadi sekarang
komu-nitas Kristen sudah berada pada satu jalur dan komunitas Muslim sudah
berada pada jalur lain," kesal Wattimena.
Dia menghimbau semua pihak yang merasa dirinya orang Ma-luku agar lepaskan
baju agama lalu duduk pada satu meja untuk membicarakan masa depan Ma-luku.
Sebab, yang bisa menye-lesaikan Maluku hanya orang Maluku.(fan)
Kompak Bela Diri, PDS Diminta Lacak Kebenaran
-----------------------------------------------------
Ambon, Siwalima
Pembelaan diri yang dilakukan oleh Komite Penanggulangan Krisis (Kompak)
dengan menya-takan, bahwa karton yang berisi-kan amunisi yang ditangkap
oleh SGI itu, bukan kiriman Yayasan AL Falah, ditanggapi Fileo Pis-tos
Noija.
Menurutnya, kendati membe-rikan klarifikasi tetapi sudah ada dua kejadian
serupa sebelum-nya, yakni bom dalam karton bantuan Kuwait ketika sweeping
Yon-Gab TNI di Hatu Alang, serta indikasi Kopiah dan Saja-dah kiriman ke
Kesui yang dipak juga dalam karton bantuan Ku-wait.
Kepada Siwalima kemarin di Ambon, Fileo mengatakan, justru penguasa darurat
sipil (PDS) me-lalui aparat penegak hukum ha-rus menyelidiki secara tuntas
per-masalahan-permasalahan ter-sebut. "Ini sudah merupakan ke-jadian yang
ketiga, dimana setiap ada kejadian serupa pasti ada pembelaan diri,
sehingga agar tidak ada pembelaan diri lagi maka PDS harus mengadakan
penyelidikan terhadap hal ini," kata Noija.
Menurutnya, perlu diperta-nya-kan, apakah PDS melakukan cek atau tidak
terhadap setiap bantuan yang datang ke Maluku baik dari LSM, perorangan
mau-pun negara luar. "Ini kan perlu diteliti, apa benar ada kiriman kur-ma
dari sana jangan karena ditemukan bom maka dibuat ala-san. Coba saja kalau
saat itu dite-mukan uang mungkin saja justru akan mengakui itu miliknya
sehingga PDS sudah seyogya-nya melakukan kontrol terhadap setiap bantuan
yang datang se-hingga jangan ada kambing hitam-dari hal-hal seperti ini,"
ujar Noija.
Bahkan akibat dari seringnya kemasukan benda-benda maut itu ke-Ambon,
akibat dari tidak transparan dan keseimbangan sweeping yang dilakukan di
pelabuhan Yos Soedarso yang selama ini disinggahi kapal-kapal Pelni diluar
Dobonsolo sudah jelas tidak dilakukan sweeping. "Penumpang dengan bebasnya
naik dan turun, lalu anda banding dengan pelabuhan Halong ke-tika Dobonsolo
merapat. Peme-riksaan dilakukan berlapis-lapis, ini kan tidak logis
namanya," kritik Noija.
Lantaran itu, dia mengingatkan segera memperketat dan mening-katkan
kegiatan sweeping bila perlu memerintahkan semua kapal Pelni di periksa di
Halong. "Kan pernah sikap seperti itu kenapa tidak diberlakukan," ujar-nya
penuh tanya. (lek)
Ananda, Bocah Kesui yang Pintar Mengaji
---------------------------------------------
Ambon, Siwalima
Inilah kisah nyata seorang bocah asal Kesui saat mereka berada di
perkampungan Muslim setelah kampung mereka dibumi hanguskan awal Desember
lalu oleh pasukan Laskar Jihad. Ananda, itulah nama asli yang tertera
dalam surat babtisnya. Namun kemudian nama yang telah dimeteraikan lewat
percikan air di kepalanya, diganti menda-dak dengan nama Muslim Wa Ana. Dia
kini baru berusia enam tahun, belum sekolah. Kenangan manisnya semasa di
Sekolah Minggu, mendadak masuk ke dunia lain, yaitu di tempat pe-ngajian
(pesantren). Setiap saat Ananda dan anak-anak Kesui lainnya diajar mengaji.
Kini bo-cah ingusan ini mengaku sudah pintar mengaji. Meski sudah pin-tar
mengaji, tapi pelajaran semasa di sekolah Minggu belum terlupakan. Ia
masih menghafal betul ceritra-ceritra tentang Tu-han Yesus semasa di Sondak
School (sekolah Minggu). Misalnya, ceritra tentang Tuhan Yesus memberi
makan 5000 orang hanya denganh 2 ekor ikan dan 5 buah roti, kisah Yesus
mem-buat air menjadi anggur di pesta Kana dan sejumlah ceritra ten-tang
kisah perjalanan Yesus yang tak terlupakan oleh Ananda.
Senin (19/02), Ananda dan Ibunya Like, mendatangi kantor Siwalima di
Lorong Mayang. Ananda tampak pemalu. Muka-nya terus merunduk di bawa me-ja,
tempat rapat Redaksi Siwa-lima. Saat ini Ananda dan adik-nya yang laki-laki
berusia 3 ta-hun bersama ibunya tinggal di desa Hatalai. Sebelumnya Ia
ber-sama ayah dan adiknya yang laki-laki dievakuasi ke Tual, Maluku
Tenggara.
Kisah Ananda alias Wa Ina dan rekan-rekan seusianya cu-kup sedih. Bagaimana
via dolo-rosa (jalan kesengsaraan) yang ditempuh Ananda bersama ayah dan
adiknya?
Ketika perkampungan mereka di Kesui di serang tiba-tiba, ia dan adiknya
dibopong ayahnya. Ibunya Like, waktu itu sedang bertada di Ambon untuk
suatu keperluan rumah tangga. Inilah kisah selengkapnya perjalanan hidup
Ananda, adik dan ayah sewaktu masuk hutan.
Waktu itu, kampung mereka tiba tiba dikepung ribuan laskar jihad dari
beberapa jurusan. Se-mua orang panik dan ketakutan, lantaran hujan mortir,
senjata api dan bom-bom rakitan mengge-mu-ruh di seantero perkampung-an
mereka. Tanpa memikirkan harta dan rumah, orang tua hanya bergegas
menyelematkan ana-nak dan beberapa potong pakaian seadanya di isi ke dalam
tas plastik. Lari masuk hutan men-daki gunung, satu-satunya tindakan
penyelamatan warga Kesui. Tapi begitulah Pulau Ke-sui bukanlah pulau Seram
yang luas. Memang benar, kata pepata dunya tak selebar daun kelor, tapi
luas Pulau Kesui boleh di-kata ibarat daun kelor saja. Lari kesana, lari
kesini bertemu mu-suh, tidak lari takut mati, toh akhir-nya mereka
berputar-putar di tempat itu menunggu nasib di tangan jihad.
Isak tangis anak-anak dan para ibu tak terbendung lagi. Akhir-nya mereka
disergap para jihad. Mereka ditawar, mau ikut ke Kampung Muslim atau mati.
Rupanya ratusan orang yang sedang dihimpit rasa takut itu mengikuti saja
kemauan laskar jihad. Mereka diturunkan di sebuah desa Muslim.
Kemudian mereka dimasukan ke sebuah mesjid. Tapi sebelum masuk, mereka
dimandikan ber-samaan dengan orang-orang de-wasa dengan air masing-masing
empat ember per orang. Katanya, air itu untuk membersihkan tubuh-tubuh
mereka yang kotor. Mau masuk pintu masjid, mereka disuruh lepaskan sandal.
Ada yang berteriak dengan nyaring, ini Mesjid bukan Gereja cepat lepaskan
sandal.
Mendengar kata-kata seperti itu, mereka pun tenang-tenang saja. Maklumlah
semuanya dalam ketakutan, mereka terpaksa meng-ikuti saja kemauan para
anggota laskar jihad. Pada saat yang sama umat Muslim setem-pat sedang
berpuasa. Mereka harus beradaptasi untuk mena-han lapar sebelum berbuka
pua-sa. Sewaktu-waktu bila anak-anak ini lapar, sulit sekali untuk
mendapat makan. Kalaupun ada yang berupaya untuk makan, harus
sembunyi-sembunyi mi-sal-nya masuk ke kamar, lalu ber-pura-pura tidur baru
mengambil sepotog singkong rebus untuk dimakan. Tapi kalau ketangkap-an,
dipukul.
Dari mana makanan yang mereka peroleh? Yah, mereka de-ngan dikawal ketat
para laskar jihad, pergi ke kebun-kebun di desa asalnya untuk mengambil
hasil umbi-umbian untuk dima-sak. Kebebasan sama sekali tidak diperlihatan.
Malam harinya anak-anak kecil dan dewasa se-muanya diajar mengaji. Yang
anak-anak kecil diatur waktunya sehingga pada jam tertentu sudah selesai.
Namun untuk anak-anak di atas 17 tahun khususnya putera puteri, mereka
belajar mengaji, terhitung selesai jam makan malam sampai jam 3 pagi.
Begitu setiap tugas mereka.
Waktu berputar terus. Bagi yang dewasa bila salah meng-ucapkan
kalimat-kalimat dengan bahasa Arab, kadang mereka dipukul atau ditendang.
Mereka tetap sabar, Meski di hati mereka berucap, mengucapkan kata Arab itu
sangat sulit. Jangankan orang Kristen, sebab Islam saja kadang tak mampu
menghafal.
Menurut Like ibunya Ananda, puteri-puteri Kesui yang berusia 17 tahun ke
atas, setiap mendapat bimbingan pengajian setiap malam, mereka sering
diajak oleh guru pengajian harus dikawini. Putera-puteri ini semuanya
disunat. Ketika giliran boca-boca seusia Ananda hendak disunat, datanglah
kapal dan selanjutnya lolos setelah dievakuasi. Ananda bilang dia tetap
cinta Yesus Sang Juruselamt. (fan/eda)
Fraksi Penegak Segera Buang Hasrat Militerisme
-------------------------------------------------------
Ambon, Siwalima
Buntut dari tuntutan Fraksi Penegak DPRD Maluku yang menginginkan TNI
segera me-numpas RMS/FKM yang maih perlu pembuktian, maka praktisi hukum,
Herman Hattu, SH me-ngingatkan agar F-Penegak sege-ra membuang hasrat
militerisme sebab jelas terlihat F-Penegak me-nginginkan adanya
pemban-tai-an warga sipil. Padahal, secara institusi TNI-Polri sedang
ber-anjak meninggalkan cara-cara de-mikian setelah menguatnya civil society
di alam reformasi ini.
"Masak ada pikiran seperti itu padahal demonstrasi ribuan massa yang begitu
beringas dan ada bentrok antar masyarakat de-ngan aparat keamanan saja
tidak satu pun pelor keluar dari mon-cong senjata TNI-Polri. Kok se-ba-gai
wakil rakyat malah meng-inginkan TNI-Polri menumpas warga sipil," kecam
Hattu, mem-beri contoh warna militerisme yang hilang atau mulai
diting-galkan manakala berlangsung aksi unjuk rasa di Jawa berkaitan dengan
kepemimpinan nasional.
Kepada Siwalima kemarin di Ambon Hattu mengatakan, de-ngan mengeluarkan
memoran-dum bela negara yang intinya me-mojokan bangsa Alifuru -, warga
sipil yang disebut RMS/FKM berarti F-Penegak telah mengangankan sesuatu
yang irasional. Apalagi TNI-Polri sen-diri mulai berbenah diri.
Berkaitan dengan dukungan Thamrin Ely yang nota bene menjabat Ketua Fraksi
Penegak DPRD Maluku, untuk dibuat suatu pernyataan sikap bahwa orang
Kristen berada dalam ko-mitmen NKRI ketika berlangsung wokrshop di Bali,
Hattu menga-takan, itu bukti dari perasaan prejudice (curiga-Red) terhadap
umat Kristen padahal selama umat Kristen masih tetap berada di dalam
kerangka NKRI. "Alasan yang dikemukan Thamrin seakan dibuat-buat gu-na
menyudutkan orang Kristen," kata Hattu.
Menjawab Siwalima menge-nai Sedangkan memorandum bela negara point keempat
yakni, bahwa untuk mewaspadai ke-mungkinan pemberontakan ber-senjata oleh
RMS/FKM dan antek-anteknya di Maluku yang memanfaatkan situasi
ketidaksta-bilan nasional, maka pemberla-kuan status darurat sipil dan
ban-tuan militer perlu diperpan-jang sampai waktu yang tidak di-tentukan
tergantung pemuli-han keadaan atau keamanan. Oleh sebab itu jumlah pasukan
yang sekarang digelar tidak perlu ditarik dari Maluku.
Dikatakan, negara manapun termasuk Indonesia dan khu-susnya Maluku
membutuhkan militer, tetapi bukan tindakan-tindakan yang mengarah pada
anarkhis sehingga melahirkan militerisme. "Jangankan daerah Maluku yang
membutuhkan militer, desa saja membutuhkan bimbingan masyarakat desa
(Babinsa), asalkan tindakan yang diambil tidak mengarah pada militerisme,"
ujarnya.
Kebijakan Pangdam Pattimura Brigjen I Made Yasa untuk me-narik pasukan dari
Maluku pasti mempunyai pijakan yang jelas mengingat kondisi cooling down
buat apa banyak pasukan di Maluku.
Kendati begitu, perlu diingat hal ini bukan berarti dengan se-dikitnya
jumlah pasukan militer di Maluku lantas menjadi embrio pemicu konflik.
"Walaupun jum-lah militer banyak tetapi kadang kala konflik lebih
berkualitas dari jumlah pa-sukan militer yang ada, oleh se-bab itu
alangkah baiknya jumlah satuan itu kecil tetapi kua-litas pelayanan
terhadap masya-rakat dalam rangka penyelesaian kon-flik itu yang harus
diuta-makan," katanya. (via)
Tak Perlu Provokasi, Yon-Gab Patut Diteladani
---------------------------------------------------
Ambon, Siwalima
Pernyataan resmi Panglima TNI Laksamana Widodo AS mengenai tindakan Yon-Gab
I saat penyergapan sejumlah ang-gota TNI-Polri yang selama ini ikut bermain
dalam kerusuhan Maluku di Wijaya II dan insiden Batu Merah, merupakan final
dari tindak sesuai prosedur kendati melalui proses panjang.
"Oleh sebab itu apa yang di-sampaikan Panglima TNI harus dijadikan sebagai
pukulan bagi orang Maluku dalam menilai kinerja Yon-Gab selama enam bu-lan
terakhir bertugas di Maluku," tegas salah seorang wartawan se-nior, Max
Aponno kepada Siwalima kemarin di Ambon.
Menurutnya kontribusi pers selama ini jelas dan hasil akhir-nya telah
disampaikan Panglima TNI yang juga merupakan pe-nang-gungjawab keamanan
ter-tinggi di Indonesia bahwa tinda-kan Yon-Gab dalam kasus di ho-tel
Wijaya II sesuai dengan pro-se-dur. "Polemik yang selama ini muncul seputar
tudingan miring kepada Yon-Gab sebaiknya di-hentikan karena dapat merugikan
diri sendiri," ujar Aponno sem-bari menambahkan apa yang di-lakukan pasukan
Yon-Gab patut diteladani demi menciptakan Ma-luku yang aman dan damai.
Menurut Aponno, se-be-lum Panglima Widodo meluruskan kasus ini otomatis
Widodo su-dah dilengkapi dengan bukti-bukti lapangan yang kuat, dan data
hasil tim investigasi dan tim penyelidik yang datang ke Am-bon juga menjadi
acuan bagi Widodo dalam mengambil sikap dan tindakan.
Aponno juga mengharapkan agar pasukan yang nantinya akan menggantikan
Yon-Gab I harus bisa mengikutti pola main yang telah diterapkan sebelumnya
agar masalah keamanan dapat teratasi dengan baik sesuai me-ka-nisme dan
prosedur yang ada.
Ditanya soal adanya indikasi pergantian Pangdam dalam waktu dekat, Aponno
mengatakan dalam institusi TNI maupun Polri pergantian maupun rolling
se-orang pemimpin atau pejabat di jajaran TNI-Polri merupakan hal yang
wajar dan tidak bisa dika-takan bahwa kepindahan terse-but dipengaruhi oleh
image bu-ruk masyarakat terhadap kinerja-nya. "Karena itu sekali lagi
ma-syarakat sebaiknya menghenti-kan anggapan miring terhadap kinerja Yon-
Gab selama ini," ha-rap Aponno.
Sementara itu di tempat ter-pisah, staf pengajar Fisip UKIM, Robert
Tutuhatunewa, SH.Msi mengatakan, apa yang telah disampaikan Panglima TNI
bukan sesuatu yang bukan tanpa alasan tapi sudah berdasarkan hasil
investigasi yang telah dilakukan tim investigasi Mabes TNI maupun laporan
dari tim pe-nyidik Puspom TNI. "Ini adalah sebuah fakta yang benar-benar
valid dari sisi penelitian dan harus diterima sebagai hasil akhir oleh
semua pihak. Selanjutnya se-mua komponen masyarakat Maluku harus sudah
mulai ber-pikir bagaimana menciptakan suatu proses baru menciptakan
rekonsiliasi," tandas Tutuhatu-newa .
Dia berharap jangan ada lagi perjuangan-perjuangan dari kelompok-kelompok
tertentu untuk menghambat sikap tegas dan netral dari aparat keamanan,
lewat pernyataan-pernyataan yang sama sekali nilai obektifnya diragukan.
(ana/lis)
Internasional Bantu Atasi Masalah Maluku
-----------------------------------------------
Ambon, Siwalima
Konflik di Maluku ternyata tak luput dari perhatian dunia inter-nasional.
Pasalnya, guna men-cari solusi pemecahan komplek-sitas persoalan yang
dialami oleh masyarakat Maluku,
Hal itu diungkapkan Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Harold Sandberg saat
presentasi teknis pembangunan daerah oleh sejumlah dinas maupun intansi
terkait yang berlangsung di Ke-diaman Gubernur Maluku, tadi malam.
Sandberg mengatakan kun-jungannya bersama Menteri Per-mukiman dan Prasaran
Wilayah (Menkimpraswil) Ir Erna Witoelar dilandasi semangat untuk men-cari
solusi bagi penyelesaian masalah Maluku. "Kami sangat prihatin terhadap
kondisi yang terjadi di Maluku dan kami akan membantu semampu kami,"
ujarnya.
Swedia maupun dunia inter-nasional, menurutnya sangat sangat berterima
kasih terhadap dialog-dialog yang telah dila-kukan menuju rekonsiliasi.
"Kun-jungan ini untuk mengeta-hui permasalahan yang dihadapi oleh daerah
ini," katanya.
Gubernur Maluku, Saleh Latu-consina selaku Penguasa Daru-rat Sipil Daerah
Maluku pada ke-sempatan tersebut menjelaskan bahwa masalah-masalah yang
terjadi dan juga menjadi potensi konflik selama ini di Maluku antara lain
masalah keberadaan laskar jihad, pengungsi, sosial ekonomi, transportasi,
pendidi-kan, kesehatan, pemerintahan, keterlibatan oknum personil
TNI-POLRI, penegakan hukum dan pemberitaan pers.
"Program-program yang su-dah maupun yang akan dilak-sanakan oleh Penguasa
Darurat Sipil Daerah Maluku dalam me-ngatasi persoalan yang ada, yakni
upaya pemulihan keama-nan, rekonsiliasi, rehabilitasi dan rekonstruksi dan
pemberdayaan masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, Kapolda Ma-luku, Brigjen Pol Firman Gani men-jawab
Pertanyaan salah satu anggota rombongan sempat me-nanyakan proses penegakan
hukum di daerah ini, mengatakan kendala-kendala yang di hadapi ter-hadap
proses penegakan hu-kum di Maluku yaitu tidak kom-paknya aparat penegak
hukum yang terdiri dari Polisi, Jaksa dan Hakim, jumlah kriminal sangat
besar, dengan indikator banyak-nya kasus pembakaran, pembu-nuhan yang
dilakukan secara masal sehingga untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku
mengalami kesulitan, ketidak-siapan masyarakat untuk mene-rima penegakan
hukum, diskrimi-nasi terhadap hukum dan pelece-han hukum yang dilakukan
oleh masyarakat.
Ditambahkannya, dalam si-tuasi chaos, maka penegakan hu-kum yang berlebihan
akan me-nimbulkan kondisi chaos yang berlebihan lagi.
Masalah-masalah yang dipre-sen-tasikan diantanya masalah pembangunan barak
pengungsi, masalah kesehatan, pendidikan, pengangguran, koperasi mau-pun
masalah pembangunan Kampus Unpatti.
Hadir dalam acara presentasi dinas maupun instansi terkait dengan
pembangunan kembali sejumlah saranan dan prasarana di Maluku, yakni Dubes
Swedia, Harold Sandberg, Dubes Inggris, Richard Gogney dan Dubes Belanda
Baron Van Heemmstra. Turut juga perwakilan dari Ke-dubes Australia, Jepang,
USA dan perwakilan UNDP. (lis)
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l