Rekan's,
Info lain tentang vektor Flu Burung / AI.

Semoga bermanfaat.

Salam,
Dwidjo

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Anung Asmoro
Sent: Friday, September 30, 2005 10:21 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [timperkututmania] RE: Vaksinasi AI (Bung Jasman)


Salam kuuuuuuuuuuuuung,
setelah Jakarta, Tangerang, ...sekarang Bandung mulai musim bakar2 ayam ... dan 
ternyata dari hasil penelitian ini :

Malaikat Pencabut Nyawa itu Ternyata Lalat
PEMBARUAN/FUSKA SANI EVANI 

LALAT BEKU - Ahli penyakit hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah 
Mada (UGM) Prof drh R Wasito MSc PhD menunjukkan lalat beku yang didapatnya 
dari berbagai daerah. Saat ini baru lalat Makassar dan Karanganyar yang sudah 
positif mengandung AI. 

SATU lagi temuan yang sangat berarti, lalat (Musca domestical) merupakan 
"malaikat pencabut nyawa" yang selama ini diremehkan kehadirannya, bahkan luput 
dari analis kesehatan. 

Dengan bukti penelitian yang digarap kurang lebih dua tahun, ahli penyakit 
hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof drh R Wasito 
MSc PhD bersama istrinya, yang juga peneliti di fakultas yang sama Prof drh 
Hastari Wuryastuti MSc PhD, menyimpulkan lalat merupakan vektor yang 
mengantarkan avian influenza (AI) kepada manusia. 

Meski belum mendapat lisensi internasional, kehadiran ahli virus dari Amerika 
Serikat Prof Roger K dalam lingkup penelitian mereka itu, cukuplah menjawab apa 
yang membuat heboh dunia kesehatan belakangan ini. 

Lalat. Mengapa harus lalat? Di Laboratorium Imunologi dan Molekuler UGM itulah 
mereka mendapat jawaban. Dugaan sementara, burung-burung liar, tikus, dan 
kecoa, mampu menjembatani AI kepada manusia setidaknya terbantahkan. 

Diteliti 

"Prof Hastari yang pertama mengungkapkan kegelisahannya. Kalau semua tidak 
terbukti, lalu apa? Istri saya itu curiga, jangan-jangan serangga yang ada di 
sekeliling kita adalah penyebabnya. Nah, sejak dua tahun lalu, kami diam-diam 
mengumpulkan sample dan baru sekarang kami berani mempublikasikannya," ucap 
Wasito, Rabu (21/9) di Yogyakarta. 

Mantan Dirjen Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian itu lantas 
mengemukakan, lalat yang dikumpulkannya dari berbagai provinsi itu sedang dalam 
proses diteliti. Namun, ia sudah menyimpulkan, setidaknya lalat Makassar dan 
Karanganyar, Jateng, yang diambilnya di sekitar peternakan dan sebagian lalat 
rumah, positif mengandung AI subtype H5 N1. "Kami baru selesai memproses dua 
tempat itu, yang lain masih berjalan," ucapnya. 

Rasa penasaran pasangan profesor itu berawal dari kota Makassar, yang sebelum 
tahun 2004 tidak pernah mendapat kasus AI. Namun, pada akhir 2004, AI langsung 
menyerang dengan ganas. "Itulah sumber pertanyaannya. Dari mana AI itu 
menyerang?" ia menjelaskan. 

Jawabannya? Lalat, hewan yang hidup dan berkembang biak di semua tempat, juga 
bisa tumbuh di feses binatang. 

"Begitu bertelur di feses hewan yang positif AI, maka anak turunnya, sudah 
membawa AI. Kita tidak pernah berpikir bahwa sepatu kita juga bisa jadi sarana 
menempelnya telur lalat itu. Lalu dengan mobilitas manusia, telur itu terbawa 
dan berkembang biak di tempat lain. Nah, bayangkan, dari sepasang lalat, bisa 
tumbuh triliunan lalat dalam jangka waktu 3 sampai 5 bulan," ia memaparkan. 

Mukosa 

Meski sudah cukup berani menyampaikan hasil penelitiannya itu, Wasito mengaku 
belum bisa memastikan, bagian mana dari lalat yang mengandung AI itu. Hal itu, 
menurutnya, masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam, karena untuk 
sementara lalat memang dihancurkan untuk mendapatkan selnya. 

"Sedang untuk menentukan lokasi pastinya, apakah di bagian kaki atau tubuhnya, 
butuh bedah anatomi kan?" kata Wasito. 

Lalu, bagaimana pula sampai bisa menularkan AI kepada manusia? Satu-satunya 
yang paling pasti adalah lewat mukosa (kelenjar) saluran pernapasan dan itu 
bukan karena udara. "Tepatnya, kalau kita dengan tidak sengaja mengorek hidung 
dalam kondisi tangan kotor, dan AI menempel, maka virus itu akan melekat di 
kelenjar mukosa yang di dalamnya terdapat reseptor virus," ia menjelaskan. 

Satu-satunya upaya untuk menolak kehadiran "malaikat maut" itu adalah sanitasi 
lingkungan dan menumpas habis kehadiran si lalat itu. 

Berkaitan dengan kesimpulan sementara penelitiannya itu, Wasito mengatakan yang 
baru merespons positif adalah Pemerintah Jawa Timur. Gubernur Jatim sudah 
mengeluarkan kebijakan dan dana untuk diaplikasikan sampai ke tingkat rumah 
tangga dengan menggerakkan seluruh aparat dan PKK," ujarnya. 

Ia mengakui, yang jelas, masih banyak lalat dari berbagai daerah, menunggu 
untuk diuji. Beralih ke unggas yang selama ini jadi momok, Wasito justru 
menekankan bahwa usaha peternakan besar, sudah melakukan upaya mandiri dan 
melakukan biosecurity dengan baik. 

"Pekerja di peternakan besar justru tidak tertular flu burung. Saat ini, justru 
yang harus mendapat perhatian serius adalah peternakan-peternakan milik rakyat. 
Manajemennya harus dibenahi. Hindarkan ayam-ayam berkeliaran," katanya. 

Terbagi Dua 

Profesor spesialis penyakit hewan itu juga memaparkan, hingga detik ini, hanya 
tinggal dua negara di dunia yang memberikan vaksin kepada unggas. Negara itu 
adalah Indonesia dan Cina. 

Berdasarkan tingkat patogenitas (kemampuan menyebabkan sakit), Wasito 
menjelaskan virus AI terbagi atas dua, yaitu HPAI (Highly Pathogenic Avian 
Influenza) dan LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza). Namun, dalam 
perkembangannya, karena tipe virus itu adalah tipe abnormal, suatu saat low 
pathogenic bisa berubah menjadi highly pathogenic. 

"Selain itu, belum tentu saat ini AI di Indonesia hanya tipe H5 N1. Mungkin 
sudah menjadi H5 N20 atau mungkin ada tipe baru lagi yang muncul. Jadi 
vaksinasi H5 N1 itu akan percuma," katanya. 

Di negara lain, katanya, unggas positif AI lebih baik dimusnahkan dengan cara 
dibakar dan dikubur. Itu jalan satu-satunya dan setelah itu sanitasi lingkungan 
ternak sebelum kembali memulai. 

Soal kematian Rini Dina, Riska, dan keluarga Iwan, Wasito sangat tidak setuju 
dengan sikap pemerintah yang banyak mengandalkan kata-kata "diduga". Padahal, 
untuk memastikan apakah mereka benar-benar positif flu burung atau tidak, tidak 
perlu mengirim sample ke Hong Kong. 

"Kirim pada kami, jawabannya pasti, dan tidak usah menunggu lama. Cukup dua 
sampai tiga hari, kami bisa menganalisis darah dan sel jaringan," katanya. 

Wasito juga mengkritik apakah karena harus ikut prosedur, Pemerintah Indonesia 
tidak percaya diri kalau bangsanya juga bisa melakukan tes. 

"Kami memiliki laboratorium yang mampu menganalisisnya. Ya memang kecil, tetapi 
yang penting SDM-nya. Okelah kalau itu prosedur, namun data bandingan juga 
dibutuhkan untuk sesegera mungkin mengantisipasi dan mengambil tindakan," ia 
menegaskan. 


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Dwidjo Suwignyo
Sent: 30 September 2005 10:12
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [timperkututmania] RE: Vaksinasi AI (Bung Jasman)


Kleeow tek tek tek tek Kooooongggggg..............

Bung Jasman,
Kalo untuk petugas dari Dinas Peternakan, biasanya hanya 'semprot' saja.  Tapi 
kalo dari Dinas Kesehatan yg datang, biasanya ambil sample darah (dan kadang 
juga burungnya). Di tempat saya pernah 2x kasus diambil 2x juga dgn hasilnya 
negatif namun tidak diberikan copy hasil lab-nya.

Kalo mau vaksinasi dgn jumlah yg terbatas, sebaiknya Rekan's ngumpul dlm satu 
tempat sehingga memudahkan proses vaksinasinya dan menghemat biaya. Satu paket 
vaksin AI 100 ml untuk 200 ekor. Kalo ada kemasan yg lebih kecil, barangkali 
lebih bisa dihemat lagi.

YURIsol itu disinfektan (biasanya untuk rumah tangga), biasa dijual di 
supermarket. 

Bung Jasman,
Tidak dilepas semua khan...? He he he he he......... Entar kita tdk punya 
'indikator' adanya flu burung. Kebanyakan kasus adl mereka yg tidak piara 
burung, krn virus tidak ada pilihan vektor/inang lain kecuali manusia........  

Salam,
Dwidjo

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of JASMAN
Subject: [timperkututmania] Vaksinasi Flu Bur di Cobra Bf & Ratna 70 Bf

Kooouuung

Bung Dwidjo, kemaren ini selain penyemprotan dan vaksinasi, ada ngak sih yang 
ditest secara sample perkutut nya, apakah positif atau negative dari virus yang 
sedang rame sekarang ini.

Trus bagaimana nih buat kita kita yang koleksi nya hanya beberapa kutut, 
bagaimana cara vaksinasi nya. Bagaimana langkah yang baik yang bisa kita 
lakukan untuk hal ini.
YURIsol ini apa ? maaf saya belum kenal.      

Saya sendiri sudah melepas beberapa kutut untuk mengurangi beban kotoran, beban 
phisikologis, bisik bisik tetangga, dan ketakutan keluarga.

Salam




 
Yahoo! Groups Links



 





 
Yahoo! Groups Links



 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Put more honey in your pocket. (money matters made easy).
http://us.click.yahoo.com/r7D80C/dlQLAA/cosFAA/qO4qlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected] 
* Subscribe    : [EMAIL PROTECTED] 
* Unsubscribe  : [EMAIL PROTECTED] 
* List owner   : [EMAIL PROTECTED] 
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Kunjungi Blog MANTAN BBD di http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/estika/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke