Subject:
dibalik Gempa dan Merapi dia Yogyakarta
Saat terjadinya gempa besar kekuatan 9.0 skala Richter yang 26 Desember 2004 di
Aceh, para ahli mulai mengamati lebih detail daerah tumbukan lempeng 'tripple
junction', mulai dari sebelah barat Sumatera, selatan Jawa hingga Nusa Tenggara
dan Utara Irian. Gempa yang menyebabkan terjadinya rekahan sebesar 1/3 pulau
Jawa yang tenggelam dalam waktu sangat cepat, lebih cepat dari kedipan mata
kita, menuntut 'kompensasi' baru. Volume 1/3 pulau Jawa yang 'tenggelam' dalam
sekejap 'terpaksa' diisi oleh air laut yang ada, konsekwensinya, arus balik
yang ada menghasilkan gelombang dasyat, tsunami. Bagi ahli geologi &
geofisika, kejadian tersebut bukan lah akhir dari segalanya, tapi justru awal
dari rangkaian peningkatan aktifitas tektonik & vulkanik yang ada, persis
seperti intro sebuah lagu.
'Keseimbangan' yang ada sebelumnya terpaksa 'direnovasi' setelah gempa
tersebut, untuk membentuk 'keseimbangan' baru. Ibarat sekelompok anak yang
bergandengan tangan membentuk lingkaran, saat salah seorang dari mereka keluar
secara tiba-tiba, maka lingkaran yang ada menjadi kacau, perlu koordinasi &
usaha untuk membuat lingkaran baru.
Maka, setelah gempa Aceh, tercatat rentetan peristiwa di 'jalur panas' Ring of
Fire tersebut. Gempa Nias, gempa yang disusul dengan letusan G Talang & G
Marapi di Sumatera barat, gempa di Bandung, peningkatan aktifitas vulkanik G
Anak Krakatau hingga erupsi G Lokon di Sumbawa, merupakan 'usaha membentuk
keseimbangan baru' tersebut.
Rangkaian usaha tersebut kemudian nyaris hilang dari ingatan kita karena
maraknya PILKADA dan sejumlah isu lainnya, hingga akhirnya kita tersentak
kembali dengan 'aksi solo' G Merapi di perbatasan Jateng-DIY. Hanya saja, bagi
sebagian orang, 'improvisasi solo' G Merapi ini ditanggapi beragam, karena
memang termasuk salah satu gunung api teraktif di dunia. Betul bahwa secara
fisik, magma dalam tiap gunung api tersebut tidak selalu berhubungan langsung.
Namun gunung-gunung tersebut berada pada satu lempeng benua yang saling bergerak.
Pergerakan lempeng-lempeng tektonik tersebut diukur dengan cara menentukan
titik-titik pada batuan yang dianggap stabil di sejumlah tempat. Di atas
titik-titik itu dipasang alat ukur posisi yang amat teliti dengan perangkat
Global Positioning System (GPS). Pengukuran ini memakan waktu setidaknya tiga
kali 24 jam dan harus dilakukan serentak. Dengan pengukuran teliti ini,
didapatkan koordinat yang kesalahan relatifnya kurang dari 5 milimeter.
Beberapa tahun kemudian, dilakukan pengukuran ulang di tempat yang sama dengan
metode serupa. Dari dua koordinat beda waktu ini, didapatkan data adanya
pergerakan lempeng benua beberapa centimeter per tahun.
Kemudian pada pengukuran ketiga, didapatkan arah dan kecepatan gerakan lempeng
benua tadi. Karena penelitian geodinamika ini dilakukan di seluruh dunia, maka
didapatkanlah peta pergerakan lempeng benua. Lempeng ini bergerak beserta
seluruh mahluk di atasnya, termasuk gunung-gunung. Dalam Qur'an tertulis:
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu
sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.(QS 27
- an-Naml:88).
Akibat dari pergerakan sebuah benda adalah hadirnya Energi Kinetik, yang
sebanding dengan massa (m) & kecepatan (v) pergerakannya, Ek = ½ mv2. Jika
kita amati sebuah peluru yang ditembakkan, massa peluru tentu
terlalu kecil, tapi dengan kecepatannya yang tinggi plus dipangkat duakan, maka
energi yang dihasilkan cukup dasyat. Sebaliknya, dalam pergerakan
lempeng-lempeng tektonik ini, kecepatan yang berkisar 5-12 cm/tahun tentu
nyaris tak berarti, walaupun dipangkat duakan. Tetapi, untuk lempeng tektonik
seukuran benua yang bergerak, massa menjadi sangat berpengaruh. Dengan
ketebalan kurang-lebih 20-30 Km, energi kinetik yang dihasilkan jauh lebih
dasyat dari peluru senapan tadi. Pergerakan terus terjadi membuat energi yang
ada berusaha mencari 'saluran pelepasan' sesuai dengan 'Hukum Kekekalan Energi'
bahwa energi tidak dapat diciptakan & tidak dapat pula dimusnahkan, hanya
berubah bentuk ke energi lainnya. Sebagian energi yang ada menghasilkan energi
panas yang membuat sebagian lempeng yang menghunjam ke bawah menjadi cair
menghasilkan magma. Magma yang ada kemudian menerobos ke atas menghasilkan
erupsi vulkanis, baik yang melaui kepundan gunung api seperti Merapi, atau
hanya melalui rekahan saja seperti lazimnya di Hawaii. Lantas, energi panas
yang dilepas tadi sebagian menghasilkan arus konveksi di dalam lapisan mantel
bumi. Arus inilah yang kemudian kembali menggerakan lempeng-lempeng tektonik
raksasa tadi. Sebuah silkus keseimbangan yanng mengagumkan:
" Rabbana ma kholaqta haza batila..'' ,
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia.." (QS Ali Imran 191)
lantas bagaimana dengan sebagian energi lainnya? Terkadang energi ini tertahan
bertahun-tahun. Artinya, ketika geodinamika mencatat pergerakan yang melambat,
atau bahkan terhenti, maka kita justru harus curiga. Ketika elastisitas
material di dalam bumi tidak sanggup lagi menampung energi yang tertahan ini,
dia bisa "beralih" dalam bentuk gempa tektonik mendadak yang sangat
berbahaya (apalagi bila terjadi di laut dan menyebabkan tsunami), atau dalam
bentuk muntahan material (magma) lewat gunung-gunung berapi di perbatasan
lempeng. Kalau teratur, muntahan itu bisa dikendalikan dalam bentuk energi
panas bumi, namun sebagian besar keluar tak terkendali dalam bentuk awan panas,
lava pijar atau hujan abu.
Yang jelas, mekanisme ini sepertinya memang sengaja didesain untuk menjaga
stabilitas energi geodinamik. Dalam Qur'an tertulis:
"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di
bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu" . (QS 16 - an-Nahl: 15).
Indonesia "beruntung" berada di perbatasan tiga lempeng utama, yaitu
lempeng Pasifik, lempeng Indo-Australia (termasuk Samudra Hindia) dan lempeng
Eurasia. Dari data seismik dan vulkanik ratusan tahun, dunia juga mencatat
adanya dua "cincin api" (Ring of Fire) yang terbentang mengelilingi
Samudra Pasifik dan mengikat dari Nusa Tenggara ke Himalaya sampai kawasan
Mediterania di Eropa. 90% gempa dan 81% gempa terbesar dicatat di cincin api
ini.
Hebatnya lagi: dua cincin api ini bertemu di Indonesia. Kita memang berada di
kawasan terpilih! Mestinya, kita justru memiliki kemampuan 'berkomunikasi'
dengan alam lebih baik daripada penduduk di lokasi lain. Sayangnya, jangankan
berkomunikasi dengan mahluk-mahluk tersebut, berhubungan dengan sesama kita
saja kadang masih mengalami banyak kesulitan, belum lagi ditambah 'embel-embel
baju & bendera' yang berbeda'. Sehingga wajar saja jika kemudian kita pun
keliru dalam menterjemahkan isyarat' dari lingkungan kita.
Dua hari sebelum terjadinya gempa Bantul, saya sempat tercengang mendengar
cerita istri yang menyaksikan liputan khusus CNN tentang fenomena Merapi. Jika
hanya 'atraksi wedhus gembel' tentunya bagi saya itu hal biasa. Tapi mengapa
CNN menayangkannya dalam liputan khusus bertajuk "Magic Behind Merapi
Volcano"? Liputan tersebut didahului oleh tayangan orang yang sholat, lalu
keyakinan penduduk bahwa Merapi tidak akan menyakiti mereka. Penduduk Yogya
lebih yakin lagi bahwa mereka dilindungi oleh Keraton, sehingga walau Merapi
meletus sekalipun, mereka yakin tidak akan terkena dampak dari letusannya. Ini
karena keyakinan 'Trinitas: Laut Selatan-Keraton-Merapi'.
Selanjutnya, muncul serombongan artis yang membawa sesaji yang akan
dipersembahkan ke Merapi, dipimpin oleh seorang tokoh paranormal.
Masyarakat kita memang sedang sakit, sakit luar dalam. Secara fisik hidup dalam
kondisi dimana nyaris semua kebutuhan terpaksa 'di
adjust' mengikuti arus permainan kapitalis. Tekanan fisik membuat beban mental
bertambah yang sayangnya justru sebagian besar memilih shortcut, jalan pintas
tadi. Mengesampingkan akal & menisbihkan logika yang ada. Kembali
ke fenomena tektonik, perubahan-perubahan yang ternyata menjadi 'sarana' untuk
mendaur ulang. Ya, daur ulang tanah pertanian yang mulai jenuh dengan
bahan-bahan sintesis, daur ulang mineral-mineral berharga seperti emas, besi
dan lain-lain, termasuk memberikan jalan kepada emas hitam, minyak bumi, untuk
mendekati permukaan Semuanya untuk kemakmuran kita. Lahan pertanian menjadi
lebih subur, dan potensi mineral & migas menjadi lebih mudah & murah
untuk ditambang. Hanya saja, jika proses 'mengolah & menambang' potensi
alam tersebut dilakukan dengan cara yang keliru, maka fenomena tektonik &
vulkanik ini juga menjadi sarana 'daur ulang manusia di sekitarnya'.
"Jika Dia menghendaki, niscaya Dia
memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk
menggantikan kamu)". (QS. 35 - al-Faatir:16)
Silahkan manfaatkan 'peluang gemilang' belajar berkomunikasi dengan 129 gunung
api yang ada plus 'native speaker' triplle junction pembentuk Ring of Fire.
Sinyal bersahabat telah diulurkan lewat wedhus gembel dan gempa Bantul. Jangan
sampai kita salah menangkap & mengartikan sinyal tersebut, terlebih jika
yang kita baca ternyata 'false signal'. Khawatir sinyal sebenarnya yang
menjadikan kita obyek 'daur ulang' dari rangkaian proses ini. Ucapan
terimakasih kepada saudara-saudara kita syuhada Bantul karena atas 'jasa' mereka
kita masih diberi pengajaran & diasah sensitifitasnya. Sambil membantu
korban semampunya, jangan lupa juga melakukan 'kalibrasi' terhadap
sinyal-sinyal alam tadi. Gempa Bantul merupakan akibat dari tumbukan lempeng
tektonik yang membentuk palung Jawa. Berada di Selatan Jawa. Letaknya yang 'di
selatan' bukan karena itu 'peringatan dari Penguasa Pantai Selatan'. Nggak ada
hubungannya sama sekali. Saya malah pingin tau, jangan-jangan Nyi loro Kidul
juga termasuk korban dalam gempa kali ini, hanya saja tidak ada yang meliput
akibat gempa 'di wilayah teritorialnya' ini.
Wallahu 'alam bishowab.
-----Original
Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of kangucup
Subject: balesan oom riyanto....
Re: [ex-be2de] FW: SErem juga nih......:
![]()
ada deh....