<http://kangucup.multiply.com/photos/hi-res/23/22?xurl=%2Fphotos%2Fphoto\ %2F23%2F22> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/2> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/8> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/22> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/17> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/26> <http://kangucup.multiply.com/photos/hi-res/23/8?xurl=%2Fphotos%2Fphoto%\ 2F23%2F8>
Kalau sesuatu benda menjadi kotor, maka perlu di-lap. Kalau dilap sekali belum bersih, harus diulangi lagi, paling tidak dua kali atau orang Sidoarjo bilang "pindo" . Logo group keluarga mbah Bakrie (pak Dhe Ical, Oom Nirwan dan Indra) adalah seperti bekas goresan kuas atau lap "dua kali" yang diatasnya titik-titik percikan membentuk "lintang waluku". Eee... ndilalah kumpeni yang terkait grup mbah Bakrie yang sedang tersandung dengan lumpur di Porong Sidoajo adalah "Lapindo Brantas Inc". Ketika krisis mendera negeri ini, keluarga Bakrie terpaksa "ngaplo" (kehilangan segalanya) karena seluruh perusahaan dibawah kendali pihak lain. Dan ketika krisis mulai pulih, mereka bangkit bahkan mampu berkibar dari sektor migas dan pertambangan batubara. Namun tiba-tiba saja mereka harus tertimpa beban yang maha berat dari lewat bencana lumpur Porong Sidoarjo. Kita tidak boleh mendahului kehendak Yang Maha Berkehendak, bahwa mereka akan di-lap atau bakal kolaps "pindo" atau dua kali. Karena kita tahu, bahwa mereka pasti lebih mampu untuk melepaskan diri dari belitan lumpur Porong Sidoarjo ini ketimbang penduduk desa Siring, Mindi, Jatirejo, Renokenongo dan wilayah sekitarnya yang kini menderita berkepanjangan dan tidak tahu kapan berakhir. Adalah Abah Anas.. kyai kharismatik dari desa Jatirejo yang kini masjid dan pondoknya sudah ada di dasar danau lumpur. Beliau sempat membangkang atau "mokong" menurut penduduk setempat, tidak mau meninggalkan pondok meskipun lumpur panas yang tak diundang itu mulai ikut ngaji di pondoknya. Ketika beliau akan dibujuk bahkan didatangi utusan orang penting, dengan tegas Abah menolaknya "ola opo koen mrene, tatanen ae hatimu" (ngapain kesini, benahi saja hatimu). Ucapan yang multi tafsir, bisa jadi cetusan rasa kesal, namun bisa jadi sebuah kearifan yang dalam, karena kata "hati" bagi kita adalah sesuatu yang sangat luas dan dalam pengertiannya. Setelah menyadari apa yang terjadi di sana, ada suatu kesadaran dalam diri bahwa kita memang harus banyak "menata diri" atau "berbenah diri". Mulai mawas diri untuk tidak serakah dan semena-mena dalam mengeksploitasi alam, peka dalam membaca sinyal-sinyal bahaya, mengantisipasi setiap kemungkinan bakal terjadinya suatu bencana secara proporsional dan rasional, tanggap dalam mengatasi dan mampu membuat keputusan lan langkah yang cepat dan tepat dalam penanggulangan bencana, peduli kepada penderitaan korban dan mengembangkan sikap yang lebih tawadhu kepada Yang Maha Pengatur Alam. Malam itu, baru saja kami meninggalkan Porong dalam perjalanan menuju Surabaya dengan kereta komuter, tiba-tiba terima SMS yang mengabarkan bahwa baru saja ada ledakan di lokasi lumpur itu. Alhamdulillah, ada hikmah balik itu, rupanya kami bukan orang yang terpilih untuk terlibat atau minimal menjadi saksi dari ledakan pipa gas Pertamina itu. Semua itu sudah diatur oleh Kuasa Tuhan. Kuasa Tuha juga telah mengatur, kapan bencana di sana akan berakhir, bisa saja semburan lumpur akan berhenti besuk pagi tetapi bisa saja besuk pagi justru semakin meluas. Kita tidak tahu, akankah penduduk sekitar masih akan menderita beberapa hari lagi, beberapa minggu lagi, beberapa bulan lagi, satu tahun lagi, sepuluh tahun lagi, ratusan tahun lagi, ribuan tahun lagi atau bahkan tidak akan berakhir sampai akhir dunia. Sebagian desa Jatirejo, Mindi, Siring, dan Renokenongo sudah terbenam lumpur. Beberapa desa sekitarjuga hanya tinggal tunggu waktu untuk segera menyusul karena aliran lumpur masih cenderung membesar, karena perpindahan massa ke permukaan menyebabkan terjadinya tanah amblas yang mengakitkan jebolnya tanggul, dan sebentar lagi musim hujan yang akan memperburuk keadaan. Upaya pembuangan lumpur ke sungai Porong maupun ke lautpun bukan suatu solusi yang tepat dan realistis secara teknis, di samping costly juga mustahil bisa berhasil. Kini rumah, sekolah, pabrik, bangunan pemerintah, tepat ibadat, pesantren, pekuburan sudah terpendam lumpur. Di daerah genangan, tidak ada lagi jejak kampung mereka, tidak ada lagi tempat bersejarah yang bisa menguak kenangan mereka waktu masih kanak-kanak, tidak ada lagi tempat meraka bermain masa kecil dulu, tidak ada bukti warisan leluhur, tidak tempat dimana mereka pernah bertetangga. Kini semua musnah hanya tersisa atap-atap yang menyembul di tengah kubangan "truly kuala lumpur". Tidak seperti bencana gempa bumi, tsunami atau banjir, mereka tidak tahu kapan akan berakhir, mereka kini hanya bisa pasrah dan merasa seperti harus mati pelan-pelan. Beberapa bulan lalu, pesohor Doyok Sudarmaji menangis meraung-raung ketika untuk mungkin terakir kalinya ia nyekar di makam orang tua dan leluhurnya dipemakaman umum Mindi. Demikian Abah Anas yang pondoknya cuma tersisa bubungan atap dan mustaka masjidnya. Para santri beliau kini bercerai berai, mas Djoko Sampurno dan tetangganya pak Sapari kini hanya jadi tukang ojek merangkap guide bagi orang yang ingin tahu lokasi bencana. "Rumah yang saya bangun dari menabung sedikit demi sedikit selama puluhan tahun, kini musnah ditelan lumpur. Saya gak punya apa-apa lagi, dulu masih bisa dagang kecil-kecilan di desa Jatirejo yang mulai ramai. Hidup saya kini hanya bisa "nyadong" uang lauk dari Lapindo", aku pak Sapari. Mas Djoko dan pak Sapari merupakan representasi keluguan dan kejujuran warga korban luapan lumpur panas, bahkan ketika selesai memandu kami menyusur tepian lumpur "menembus" barikade aparat yang ketat sewaktu tim evakuasi mencari mayat korban ledakan, ketika kami tanyakan berapa yang harus kami bayar untuk jasa mereka, hanya mengatakan "terserah Bapak saja". Jawaban itu yang membuat saya terharu, mengingat orang seperti saya belum tentu dua kali pergi ke daerah itu. Memang ada hal kecil, ketika kami sholat di stasiun Porong, ternyata sepatu bututku diminati oleh orang, namun hal yang kuperoleh di bencana ini rasanya jauh lebih bernilai ketimbang sepasang sepatu gluprut (belepatan) yang sudah butut. Duh... Lapindo, Ya Tuhan kami nggak mau kalau harus mengalami dilap maupun kolap ping "pindo"... Sekelumit gambar di lokasi bencana silahkan tengok di http://kangucup.multiply.com/photos/album/23 <http://kangucup.multiply.com/photos/album/23>
