Kang Ucup,  Pak Idham Prayugo (ex UPK sekarang ada di CRG I) belum pernah 
menerima kiriman dari
 [email protected] - mungkin belum tercatat, tolong di tambahkan karena 
beliau sering tidak tahu
 kalau ada acara/berita ex BBD
 tx (unang) 

> -----Original Message-----
> From: [email protected] [SMTP:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of kangucup
> Sent: 28 November, 2006 9:21 AM
> To:   [email protected]
> Subject:      [exbe2de] Di-lap pindo: Catatan kecil dari semburan lumpur 
> Porong
> 
>  
> <http://kangucup.multiply.com/photos/hi-res/23/22?xurl=%2Fphotos%2Fphoto%2F23%2F22>
>  <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/2> 
> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/8> 
> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/22> 
> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/17> 
> <http://kangucup.multiply.com/photos/photo/23/26> 
> <http://kangucup.multiply.com/photos/hi-res/23/8?xurl=%2Fphotos%2Fphoto%2F23%2F8>
> 
> Kalau sesuatu benda menjadi kotor, maka perlu di-lap. Kalau dilap sekali 
> belum bersih, harus diulangi lagi, paling tidak dua kali atau orang Sidoarjo 
> bilang "pindo" .  Logo group keluarga mbah Bakrie (pak Dhe Ical, Oom Nirwan 
> dan Indra) adalah seperti bekas goresan kuas atau lap "dua kali" yang 
> diatasnya titik-titik percikan membentuk "lintang waluku".  Eee... ndilalah 
> kumpeni yang terkait grup mbah Bakrie yang sedang tersandung dengan lumpur di 
> Porong Sidoajo adalah "Lapindo Brantas Inc". 
> Ketika krisis mendera negeri ini, keluarga Bakrie terpaksa "ngaplo" 
> (kehilangan segalanya) karena seluruh perusahaan dibawah kendali pihak lain. 
> Dan ketika krisis mulai pulih, mereka bangkit bahkan mampu berkibar dari  
> sektor migas dan pertambangan batubara. Namun tiba-tiba saja mereka harus 
> tertimpa beban yang maha berat dari lewat bencana lumpur Porong Sidoarjo.  
> Kita tidak boleh mendahului kehendak Yang Maha Berkehendak, bahwa mereka akan 
> di-lap atau bakal kolaps "pindo" atau dua kali.  Karena kita tahu, bahwa 
> mereka pasti lebih mampu untuk melepaskan diri dari belitan lumpur Porong 
> Sidoarjo ini ketimbang penduduk desa Siring, Mindi, Jatirejo, Renokenongo dan 
> wilayah sekitarnya yang kini menderita berkepanjangan dan tidak tahu kapan 
> berakhir. 
> Adalah Abah Anas.. kyai kharismatik dari desa Jatirejo yang kini masjid dan 
> pondoknya sudah ada di dasar danau lumpur. Beliau sempat membangkang atau 
> "mokong" menurut penduduk setempat, tidak mau meninggalkan pondok meskipun 
> lumpur panas yang tak diundang itu mulai ikut ngaji di pondoknya. Ketika 
> beliau akan dibujuk bahkan didatangi utusan orang penting, dengan tegas Abah 
> menolaknya "ola opo koen mrene, tatanen ae hatimu" (ngapain kesini, benahi 
> saja hatimu).  Ucapan yang multi tafsir, bisa jadi cetusan rasa kesal, namun 
> bisa jadi sebuah kearifan yang dalam, karena kata "hati" bagi kita adalah  
> sesuatu yang sangat luas dan dalam pengertiannya.
> Setelah menyadari apa yang terjadi di sana, ada suatu kesadaran dalam diri 
> bahwa kita memang harus banyak "menata diri" atau "berbenah diri". Mulai 
> mawas diri untuk tidak serakah dan semena-mena dalam mengeksploitasi alam, 
> peka dalam membaca sinyal-sinyal bahaya, mengantisipasi setiap kemungkinan 
> bakal terjadinya suatu bencana secara proporsional dan rasional, tanggap 
> dalam mengatasi dan mampu membuat keputusan lan langkah yang cepat dan tepat 
> dalam penanggulangan bencana, peduli kepada penderitaan korban dan  
> mengembangkan sikap yang lebih tawadhu kepada Yang Maha Pengatur Alam. 
> Malam itu, baru saja kami meninggalkan Porong dalam perjalanan menuju 
> Surabaya dengan kereta komuter, tiba-tiba  terima SMS yang mengabarkan bahwa 
> baru saja ada ledakan di lokasi lumpur itu.  Alhamdulillah, ada hikmah balik 
> itu, rupanya kami bukan orang yang terpilih untuk terlibat atau minimal 
> menjadi saksi dari ledakan pipa gas Pertamina itu.  Semua itu sudah diatur 
> oleh Kuasa Tuhan. 
> Kuasa Tuha juga telah mengatur, kapan bencana di sana>  akan berakhir, bisa 
> saja semburan lumpur akan berhenti besuk pagi tetapi bisa saja besuk pagi 
> justru semakin meluas. Kita tidak tahu, akankah penduduk sekitar masih akan 
> menderita beberapa hari lagi, beberapa minggu lagi, beberapa bulan lagi, satu 
> tahun lagi, sepuluh tahun lagi, ratusan tahun lagi, ribuan tahun lagi atau 
> bahkan tidak akan berakhir sampai akhir dunia.  Sebagian desa Jatirejo, 
> Mindi, Siring, dan Renokenongo sudah terbenam lumpur. Beberapa desa 
> sekitarjuga hanya tinggal tunggu waktu untuk segera menyusul karena aliran 
> lumpur masih cenderung membesar, karena perpindahan massa ke permukaan 
> menyebabkan terjadinya tanah amblas yang mengakitkan jebolnya tanggul, dan 
> sebentar lagi musim hujan yang akan memperburuk keadaan. Upaya pembuangan 
> lumpur ke sungai Porong maupun ke lautpun bukan suatu solusi yang tepat dan 
> realistis secara teknis, di samping costly juga mustahil bisa berhasil. Kini 
> rumah, sekolah, pabrik, bangunan pemerintah, tepat ibadat, pesantren, 
> pekuburan sudah terpendam lumpur. Di daerah genangan, tidak ada lagi jejak 
> kampung mereka, tidak ada lagi tempat bersejarah yang bisa menguak kenangan 
> mereka waktu masih kanak-kanak, tidak ada lagi tempat meraka bermain masa 
> kecil dulu, tidak ada bukti warisan leluhur, tidak tempat dimana mereka 
> pernah bertetangga. Kini semua musnah hanya tersisa atap-atap yang menyembul 
> di tengah kubangan "truly  kuala lumpur". Tidak seperti bencana gempa bumi, 
> tsunami atau banjir, mereka tidak tahu kapan akan berakhir, mereka kini hanya 
> bisa pasrah dan merasa seperti harus mati pelan-pelan.
> Beberapa bulan lalu, pesohor Doyok Sudarmaji menangis meraung-raung ketika 
> untuk mungkin terakir kalinya ia nyekar di makam orang tua dan leluhurnya 
> dipemakaman umum Mindi. Demikian Abah Anas yang pondoknya cuma tersisa 
> bubungan atap dan mustaka masjidnya. Para santri beliau kini bercerai berai, 
> mas Djoko Sampurno dan tetangganya pak Sapari kini hanya jadi tukang ojek 
> merangkap guide bagi orang yang ingin tahu lokasi bencana. "Rumah yang saya 
> bangun dari menabung sedikit demi sedikit selama puluhan tahun, kini musnah 
> ditelan lumpur. Saya gak punya apa-apa lagi, dulu masih bisa dagang 
> kecil-kecilan di desa Jatirejo yang mulai ramai. Hidup saya kini hanya bisa 
> "nyadong" uang lauk dari Lapindo", aku pak Sapari.
> Mas Djoko dan pak Sapari merupakan representasi keluguan dan kejujuran warga 
> korban luapan lumpur panas, bahkan ketika selesai memandu kami menyusur 
> tepian lumpur "menembus" barikade aparat yang ketat sewaktu tim evakuasi 
> mencari mayat korban ledakan, ketika kami tanyakan berapa yang harus kami 
> bayar untuk jasa mereka, hanya mengatakan "terserah Bapak saja". Jawaban itu 
> yang membuat saya terharu, mengingat orang seperti saya belum tentu dua kali 
> pergi ke daerah itu. Memang ada hal kecil, ketika kami sholat di stasiun 
> Porong, ternyata sepatu bututku diminati oleh orang, namun hal yang kuperoleh 
> di bencana ini rasanya jauh lebih bernilai ketimbang sepasang sepatu gluprut 
> (belepatan) yang sudah butut.
> Duh... Lapindo, Ya Tuhan kami nggak mau kalau harus mengalami dilap maupun 
> kolap ping "pindo"...
> 
> Sekelumit gambar di lokasi bencana silahkan tengok  di 
> <http://kangucup.multiply.com/photos/album/23>
> 
>  

Kirim email ke