Menyusuri Sungai Segah (3)
Menuju Air Terjun Tar Hi Meta
Dicky Lopulalan
Dwi R. Muhtaman
Berperahu di Sungai Segah memang dapat menjadi pengalaman estetika kala
memandangi warna-warna di pinggiran sungai. Boleh jadi ketakjuban akan
terkeluarkan setelah menyadari lingkungan yang demikian kaya warna.
Aneka warna menyatu dalam penataan ruang dan cahaya yang sempurna.
Warna-warna cerah, merah, putih, kuning, oranye, hijau muda, biru,
menyembul di sana-sini, di sela-sela warna hijau daun dalam pelbagai
gradasi. Inilah lukisan pemandangan yang sesungguhnya, beda dengan
lukisan pajangan karya maestro terkenal, sebuah lukisan yang hidup dan
menghadirkan tata warna yang berbeda mengikuti tata lampu bergeser ke
barat.
Kalau beruntung, manakala sore hari berada di Sungai Segah, pemandangan
menakjubkan di atas sungai akan muncul. Kalong-kalong raksasa Pteropus
vampyrus pemakan buah itu akan terbang dalam barisan pita yang panjang
dan lebar, menyusuri aliran sungai yang berfungsi sebagai jalan lalu
lintas bagi burung, kelelawar dan binatang lainnya. Ratusan kalong akan
terbang merentang sayap seperti menghayutkan diri dalam aliran angin
mengikuti alur sungai yang berkelok-kelok untuk mencari makan.
Menghadap ke hulu, sebelum memasuki wilayah perkampungan Long Ayap, mata
akan dipuaskan daerah terbuka dengan pemandangan Gunung Kung Abau yang
sering dipeluk kabut tipis di lereng dan puncaknya. Hutan hijau dan
lebat masih memenuhi kaki dan lereng gunung yang memiliki legenda
sebagai tempat pemakaman Raja Long Laai (Daya Gaai) yang bernama Hajang
Kumiu. Berdasarkan penuturan penduduk, di hutan Gunung Kung Abu dapat
ditemukan batu besar setinggi 15 meter yang dulunya dipakai sebagai
tempat berdiri raja menyumpit manakala musuh menyerang. Keturunan raja
yang bernama Bit Labat, bahkan pernah dikabarkan mengikuti perlombaan
menyumpit sampai ke Gunung Kujut hanya untuk memperebutkan seorang
perempuan bernama Bong Hala. Konon, dialah pemenangnya.
Persis memasuki kampung, perjalanan ketinting harus melewati jeram
sepanjang 200 meter yang diberi nama oleh penduduk Giram Panjang. Airnya
cukup deras dengan banyak batu-batu besar tersebar di sepanjang jeram.
Jeram dengan tingkat kesulitan rendah ini cocok untuk mereka yang ingin
mencicipi sensasi petualangan mengarungi jeram/arus deras tanpa harus
berisiko perahu terbalik. Juga, tidak perlu mendayung karena menggunakan
ketinting (bermotor) yang tanpa kesulitan "naik" ke atas jeram-jeram,
meliuk-liuk di antara bebatuan. Begitu lepas dari Giram Panjang,
pandangan di depan langsung jatuh pada bentuk Gunung Kujut yang langsung
menyembul dari dataran di pinggir sungai. Terletak di sebelah kiri
sungai, kehadiran gunung lebat dan tebal ini langsung menandakan
sampainya perjalanan di Kampung Long Ayap.
Kampung Long Ayap tidak seramai Kampung Punan Malinau ataupun Long Ayan,
hanya memiliki 28 KK dari Punan dan Kenyah yang sebelumnya berada di
hilir dan pindah karena wabah penyakit. Kampung ini terdiri dari
deretan rumah-rumah panggung yang berhadapan dengan sungai dan Gunung
Kujut. Di ujung kampung bagian hulu terletak gereja, sedangkan di ujung
bagian hilir adalah sekolah dasar. Letak desa yang berada di tepi
belokan sungai itu menyebabkan Kampung Long Ayap memiliki "pantai"
sungai yang lebar dan berbatu. Di tempat inilah, para motorist
menyandarkan ketinting-ketinting mereka dan menjadi tempat bagi para ibu
mencuci dan menjemur pakaian. Satu-satunya jalan yang ada di Kampung itu
terbuat dari tangga semen beton dengan lebar 1,5 meter dari tepi sungai
dan sepanjang kampung, yang total panjangnya tak lebih dari 200 meter
itu. Jalan semen ini dulunya, seperti juga papan nama, mendapat bantuan
dari HPH Sumalindo yang pernah beroperasi di kawasan itu sebelum
dihentikan karena berkonflik dengan masyarakat.
Pagi hari di Long Ayap sungguh bersuasana kelabu dan menyegarkan.
Letaknya yang sudah terbilang tinggi dan terhalangi puncak bukit di
depannya, pagi di Long Ayap akan menghadirkan kabut berwarna kelabu.
Cahaya matahari yang terhambat gunung, menyebabkan udara dingin dan
suasana pagi menggantung berlangsung dalam waktu yang panjang. Pagi di
Long Ayap juga saat yang tepat melihat kesegaran dan keceriaan ternak
penduduk, ayam, babi dan anjing pemburu yang terlihat akrab satu sama
lain dan makan dari dari tangan bocah-bocah yang masih bertampang
mengantuk. Lelaki-lelaki desa duduk di teras rumah sambil memangku anak
bayi, sementara para ibu dan perempuan menabur beras dan sisa makanan
semalam pada binatang-binatang piaraan yang langsung merubutinya.
Sebagian lagi, perempuan yang lebih muda, akan turun ke sungai untuk
mencuci baju. Perempuan-perempuan muda di desa ini relatif pemalu dan
menghindari orang asing.
Di kampung yang penduduknya beragama Kristen Protestan dan Katolik ini
masih dapat ditemui satu-dua orang perempuan tua yang masih melaksanakan
tradisi penggunaan cincin-cincin timah sebagai anting-anting, sehingga
cuping telinga menjadi panjang karena dilakukan sedari kecil. Juga,
kerajinan-kerajinan berbahan bambu dan rotan, seperti tas gendong pung,
tas gendong bayi, keranjang kulit rotan halus bermotif hiasan dayak dan
topi caping. Bagi masyarakat Long Ayap, kerajinan-kerajinan tangan itu
tidak bersifat sebagai hiasan atau pajangan dinding, melainkan digunakan
pula untuk kegiatan berladang, mengumpulkan hasil hutan dan berburu rusa
atau babi hutan dengan sumpit atau tombak bermata besi yang telah
dilumuri racun.
Perjalanan ke hulu harus melalui air sungai yang menyempit
dan menyurut. Juga, semakin jernih karena tak banyak membawa lumpur.
Setengah jam melewati hutan-hutan lebat, perahu memasuki kawasan sempit
berbatu. Dari atas setinggi delapan meter, air seperti ditumpahkan. Air
terjun Tar Hi Meta, namanya. Memang, airnya tidak terlampau besar, tapi
jarang kering. Tebing batu karst yang telah menghijau kegelapan oleh
lumut dengan latar belakang sungai bertepikan hutan berpohon
dipeterokarpa dan kayu besi yang lurus tinggi menjulang, adalah panorama
yang dipersembahkan air terjun Tar Hi Meta. Di dekat air terjun itu
terdapat tebing batu yang oleh masyarakat sekitar dinamakan Dinding
Batu. Di sampingnya ada batu bundar yang konon memiliki legenda, konon
batu itu adalah batu pancing Bang Meal, sejenis raksasa hutan. Ada yang
mengatakan, bila dinding batu itu diselimuti embun biasanya akan
berbarengan dengan terdengarnya suara-suara aneh. Katanya, dulu tempat
itu adalah kampung orang halus. Kemudian, bila terdengar ayam berkokok,
atau suara gendang dan seakan-akan ada "bayangan" orang menari, atau
suara orang membuat sampan, maka kita tidak boleh melihat ke arah suara
itu. Apalagi mengoloknya, bakal terjadi bencana. Misalnya, sampan
terbalik. Tebing batu ini cukup tinggi dan lebar, dapat digunakan
sebagai media olahraga panjat dinding walau belum dalam katagori
ekspedisi. Tingkat kesulitan terletak pada batu kapur yang tajam dan
basah, gampang melukai tangan, dan aliran air sungai yang deras di
bawahnya yang akan menyulitkan pengamanan si pemanjat.