Mari tambah mengenal sedikit budaya bangsa Menyusuri Sungai Segah (2) Rumah Panggung Kayu dan Bunga-bunga Dicky Lopulalan Dwi R. Muhtaman Belum lagi jauh melewati Kampung Punan Malinau, pandangan mata langsung dihadapkan pada atraksi hutan di pinggiran sungai. Daerah yang sudah dibuka penduduk mulai berkurang, kanan-kiri sungai mulai dipenuhi oleh tumbuhan kayu yang tinggi dan pohon rambatan di beberapa tempat terbuka. Sepasang burung enggang hitam terbang di langit dalam kepakan-kepakan besar, melintasi sungai dan bertengger di pucuk yang tinggi. Scene selanjutnya diambil oleh rombongan enam sampai tujuh burung bubut (berwarna coklat, sebesar burung gagak) yang pantang dimakan penduduk. Karena, burung ini dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Saat melewati pinggiran sungai, dekat dan bersentuhan dengan ranting dan daun pepohonan yang menjurai ke permukaan sungai, pandangan mata sebaiknya awas. Penampilan burung-burung kecil yang bagian badannya berwarna merah, sayap berwarna hitam dengan paruh yang panjangnya melebihi badan akan terlihat sedang pindah dari satu bunga ke bunga lain, menghisap madu. Seperti sedang berada di bioskop hidup, saat memandangi pohon-pohon di sepanjang Sungai Segah. Mata menjadi teduh dipuaskan aneka warna hijau dan kejutan-kejutan di sepanjang perjalanan. Bergantian, para penumpang ketinting akan berseru-seru sambil menunjuk dan memberitahu rekan yang lain. Elang yang sedang bertengger membusungkan dada di atas pucuk pohon tinggi, burung-burung gagak yang terbang berkelompok sambil berkaok-kaok, monyet berekor panjang sekeluarga asyik bercengkrama di dahan pohon besar dan tinggi, mereka semua menjadi aktor-aktor hidup film tentang pedalaman Berau. Beda dengan Tepian Buah, pinggiran sungai di Kampung Long Ayan yang dihuni Suku Gaai (dikenal juga sebagai Dayak Segai) tidak dipenuhi deretan WC terapung. Dari arah sungai, terlihat rumah-rumah panggung kayu dan papan berkapur putih kusam dengan atap seng gelombang tanpa cat menghadap ke sungai di batasi jalan beton selebar satu meter, namun di beberapa bagian rumah terlihat menyembul antena parabola. Anjing-anjing pemburu seukuran paha orang dewasa bertubuh liat terlihat duduk di teras dermaga-dermaga kecil di depan tiap-tiap rumah dengan tangga untuk naik ke tepian (tinggi tebing tepian bisa tiga meter) menggunakan batang kelapa bertakik-takik. Kampung Long Ayan terbagi atas dua, kampung Islam dan kampung Kristen, sesuai dengan agama penduduknya, yang ditandai dengan keberadaan gereja dan masjid. Selain Gaai, di kampung bagian Islam juga tinggal Dayak Tunjung. Jumlah penduduk yang beragama Islam 60 jiwa dari 88 kk yang tinggal di kampung itu. Sejak abad 18, Dayak Gaai sudah bermukim di tempat itu, bahkan sempat memiliki kerajaan (kecil) Gaai. Dayak Gaai sendiri adalah suku bangsa Bahau, yang biasa dikenal dulunya dengan sebutan Suku Modang yang berasal dari Apo Kayan dan melakukan migrasi saat peperangan, pengayauan dan penaklukan masih marak di daerah pedalaman. Di hutan dekat kampung ini, terdapat peninggalan sejarah tengkorak dan mandau yang diletakkan oleh ketua adat dan tidak semua anggota suku boleh melihat. Masih dipandang sebagai benda keramat. Peninggalan itu sendiri adalah sisa dari tradisi pengorbanan manusia dalam upacara-upacara ritual di masa lampau. Sore hari, pemadangan sungai dari Kampung Long Ayan sangatlah menarik. Lalu lintas perahu ramai, ketinting dan long boat saling berpapasan, para penumpang dan motorist saling memberi salam dengan melambaikan tangan penuh semangat sambil melemparkan senyum . Sungai pun benar-benar terlihat sebagai aliran kehidupan masyarakat Dayak. Sesekali dua perahu melintas saling berkejar-kejaran dalam dipacu tenaga motor di belakang perahu, menyebabkan air sungai tersibak dan memercik tinggi. Anak-anak lelaki bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana dalam sibuk mengarahkan perahu dengan tongkat panjang dari tengah sungai menuju ke tepian. Para perempuan muda duduk di kursi-kursi panjang menghadapi sungai, bercengkrama, bercanda, melambaikan tangan pada lelaki yang melintasi sungai dengan ketinting disertai senyuman lebar dan seruan-seruan menggoda. Ada kehangatan di kampung menjelang sore hari di Sungai Segah. Belum terlampau jauh dari Kampung Long Ayan, suara kicau burung ramai terdengar meningkahi suara motor ketinting. Juga cericit burung layang-layang dan wallet yang terbang di atas kepala, melintasi sungai, menukik lalu menyambar serangga yang melayang-layang di atas genangan-genangan air. Bunga-bunga tumbuhan hutan berwarna putih bersemu hijau dan kuning oranye menyembul di sana-sini, tak jarang bunga yang berasal dari tanaman rambat itu membungkus seluruh pohon inangnya, sehingga menampilkan sosok yang cantik dan mempesona. Mengingatkan pada taman-taman kota yang pohon-pohon bunganya dipangkas rapi. Berseling-seling secara rapat dengan jambu-jambuan Eugenia, merbau Palaquium, dan pelawan Tristania yang mengelupas pepagannya, serta pandan Pandanus dan pinang raja Cyrtostachys. Pucuk-pucuk rotan menyembul melampaui puncak-puncak pohon tinggi, mencoba menggapai pohon di dekatnya yang bisa dirambatinya untuk bergerak lebih tinggi lagi, menjangkau sinar matahari.
