Yok
Tak pikir gratis..............gak sido balik neng nyogja bae......
Haryoko Poerworiono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear friends
Teman2, kalau ada yang pingin pulang kampung ke Yogyakarta pada saat liburan
panjang nanti....tapi ngga bisa pulang karena sulit transportasi.....
Saya menawarkan Ticket Kereta Api jurusan Jakarta - Yogyakarta yang ngga jadi
saya gunakan.
Jenis KA : Taksaka II
Hari/tanggal : Kamis, 20 Desember 2007
Jam : 20:45
Jml seat : 3 orang
Harga sesuai tarif resmi
Demikian info
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of kangucup
Sent: Wednesday, November 28, 2007 11:18 AM
To: [email protected]
Subject: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi
Beberapa waktu lalu nggak sengaja mampir ke Bakmi JawaDU67 di pojokan Jl
Dipati Ukur dan Jl Tengku Angkasa Bandung (terserah aja kalo dianggap iklan).
Di situ pula nggak nyangka ketemu dengan pemiliknya yaitu mas Murtioso Salamun,
alumni Elektronika ITB dan baru saja pensiun dari LEN LIPI (udah kenal lama
karena dari "kampung" yang sama). Beliau buka warung Bakmi Jawa DU67 (Fortuga)
itu konon karena terinspirasi oleh Wahyu Saidi yang di kartu namanya
menyebutkan Doktor - Tukang Bakmi.
Siapa sih Wakyu Saidi? Berikut kliping profil dan sepakterjang beliau sebagai
dosen UNJ, sering memberi seminar, nulis di Kontan dan tentu saja sebagai
"tukang bakmi"...
salam..
Wahyu dan "Virus" Wirausaha
Di kartu namanya tercetak Dr Ir Wahyu Saidi MSc. Tentu tidak istimewa karena
masih banyak orang yang memiliki gelar lebih panjang dan lebih banyak. Baru
terasa luar biasa ketika membaca profesi yang tercetak pada kartu namanya:
tukang bakmi. Boleh jadi dialah satu-satunya tukang bakmi bergelar doktor
insinyur.
Beneran, bukan gelar dengan ijazah belian. Alumnus Institut Teknologi Bandung
ini kini memang menjadi pengajar di Universitas Negeri Jakarta.
Mantan manajer sebuah perusahaan jalan tol dan perusahaan pertambakan
terbesar di dunia itu bertekad menularkan ?virus? kewirausahaan kepada sebanyak
mungkin orang Indonesia. Ia bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya orang yang
mampu menciptakan lapangan kerja buat dirinya sendiri dan orang lain, di tengah
semakin ketatnya perebutan lapangan kerja formal.
Karena itu, hampir separuh waktunya kini dipakai keliling Indonesia memenuhi
undangan berbicara dalam forum seminar, diskusi, atau apa pun namanya. Tidak
lain kecuali menggugah orang Indonesia untuk menjadi pengusaha profesional.
Ia tidak hanya bicara. Kini, bekerja sama dengan UNJ, ia mulai memformalkan
upayanya itu. Mereka yang berminat berwirausaha diberikan pendidikan dan
pelatihan secara formal lalu diberi paket usaha, semisal usaha bakso, pijat
refleksi, salon kecantikan, dan bengkel.
?Jadikan bisnis sebagai suatu pilihan hidup. Kalau jadi pengusaha kue apem,
jadilah pengusaha apem yang profesional, tekun, disiplin, pasti jadi.
Masalahnya, kalau orang Indonesia menjual kue apem, kue cucur, mereka tidak
menganggap dirinya sebagai pengusaha. Padahal, di situ ada potensi keuntungan
besar. Kalau cuma uang 100 ribu rupiah sehari, gampang dapatnya,? katanya.
Berawal dari krisis moneter, ketika perusahaan tempatnya bekerja terpaksa
?tidur?, dengan jabatan manajer tentulah sulit mencari pekerjaan di perusahaan
lain untuk jabatan dan gaji yang setimpal. Maka, pilihannya adalah berhenti dan
mencoba berusaha sendiri. Mulailah ia memasuki agrobisnis dengan bertanam cabe,
ternak ayam, pembesaran ikan, buka bimbingan belajar, dan usaha makanan
Palembang.
Saat berusaha makanan Palembang ini, pengalaman mengajarinya bahwa makanan
Palembang adalah makanan besar dan untuk orang dewasa. Seharusnya yang
diusahakan adalah makanan untuk semua umur dan semua waktu. Sepanjang jalan di
Margonda, Depok, ditelusuri untuk survei. Pilihan jatuh pada usaha mi ayam.
Persoalannya, mi ayam apa yang dijual supaya laku? Diupayakanlah untuk
bekerja sama dengan bakmi GM yang sudah lebih dulu populer. Tetapi, apa daya
tangan tak sampai. ?Wara laba mereka enggak mau, kerja sama enggak mau juga. Ya
belajarlah sendiri. Saya tidak malu-malu mengatakan saya follower GM. Saya
sebut bakmi ala GM, dan strategi ini efektif sekali kala itu. Untungnya, bakmi
GM tidak ada di mana-mana, hanya tempat tertentu saja,? paparnya.
Ia pertama kali membuka ?warung? bakmi ala GM itu di Menara Kadin, Jakarta,
pada Januari 2002. Omzetnya pada hari pertama sebanyak Rp 66.000. Tak lama
kemudian dibukanya lagi satu warung di Jalan Pemuda dengan omzet hari pertama,
Rp 200.000. ?Dua bulan kemudian baru mencapai omzet Rp 1 juta,? kenangnya.
Setelah dirasa usaha ini sudah bisa berjalan, dipatenkanlah nama sendiri,
yakni Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet pada tahun 2004. Ketika itu, ia sudah
memiliki 36 cabang.
Langgara berarti langgar, tempat orang berkumpul, juga bisa diartikan mampir
pada saat lewat. Sementara Tebet, diambil dari sebuah nama kawasan yang
berkonotasi Jakarta, untuk menciptakan kesan bagi orang yang berdomisili di
luar Jakarta.
Konsep waralaba mulai dikembangkan pada saat membuka cabang ke-11. ?Tapi
sebenarnya lebih pada konsep joint operation, partnership. Waralaba penuh nanti
pada cabang ke-12 untuk bakmi Langgara,? kenang Wahyu yang merasa mantap
berusaha bakmi pada saat membuka cabang ke-10.
Kini Wahyu yang lahir di Palembang tahun 1962 sudah punya 39 cabang restoran
bakmi merek Langgara dan 62 cabang bakmi Tebet, di 18 kota di seluruh
Indonesia. Total karyawan mencapai 700 orang. Sebentar lagi ia akan membuka
cabang di Kucing dan Kuala Lumpur, Malaysia, serta di Mekkah, Arab Saudi.
Meski demikian, bukan cerita sukses saja yang mengiringi perjalanan
bisnisnya. Ada 15 cabang tutup.? Salah pilih lokasi, kontrak tempat habis, dan
tidak cocok dengan partner,? katanya.
Bisnis mi ini, menurut Wahyu, tidak bisa asal-asalan, harus serius dan
disiplin. Bagi orang yang sudah punya duit, bisa saja menjadikannya usaha
sampingan sehingga tidak serius. ?Nah kalau berhenti, bagi mereka tidak soal,
tetapi bagi saya ya nama rusak,? paparnya menjelaskan tentang kriteria mitra
usahanya dalam setiap pembukaan cabang.
Cintai profesi dan menganggapnya ibadah juga sangat ditekankan kepada semua
mitranya. Mengelap meja buat pengunjung, hal biasa baginya. (Andi suruji)
****
Bakmi Lahir dari Tangan Doktor
Resep bakminya mengacu pada cita rasa Bakmi GM. Kendati meraih gelar doktor
dan menjabat manajer proyek pembangunan jalan tol, H Wahyu Saidi tidak merasa
gengsi berjualan bakmi. Krisis ekonomi yang mendera Bumi Pertiwi sejak akhir
1997 malah menjadi peluang baginya untuk mengembangkan usaha yang sudah lama
diimpikannya.
url:
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251
Berani Memulai Bisnis
Seorang pemenang mampu menangkap peluang, berprestasi, berani bersaing,
bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. H Wahyu Saidi, (42 tahun), dengan
bangga menyatakan bahwa mungkin dialah satu-satunya insinyur lulusan ITB yang
kini berprofesi sebagai tukang bakmi. Pria kelahiran Palembang 24 Oktober 1962
lulusan Teknik Sipil ITB (1987) dan S2 Teknik Industri ITB (1991), memang patut
berbangga. Karena sebagai dikemukakannya sendiri, 'Bakmi Langgara' dan 'Bakmi
Tebet' yang didirikan dan dikembangkannya sejak tiga tahun silam, kini punya
cabang di hampir seluruh tempat di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi).
Bahkan jangkauannya sudah meluas hingga ke Cilegon, Bandung, dan Yogyakarta.
Lulusan Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (2000) itu
mengungkapkan, Bakmi Langgara-nya sudah mempunyai 38 cabang dan Bakmi Tebet 47
cabang.
url=
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152
Bakmi Langgara
Muhammad Firdaus (bukan nama sebenarnya), bisa dijadikan contoh. Profesi
sehari-harinya adalah wartawan salah satu media cetak yang terbit di Jakarta.
Tertarik dengan konsep bisnis waralaba Bakmi Langgara, ia pun kemudian membuka
cabang di wilayah Sawangan, Depok.
"Dari segi nilai investasi, Bakmi Langgara masih terjangkaulah. Saya pilih
Sawangan karena di sini banyak permukiman (Bukit Rivaria) dan belum banyak
saingan," jelasnya. Ia mengambil waralaba Bakmi Langgara sekitar pertengahan
tahun 2004. Investasi awal yang harus ia keluarkan adalah Rp 60 juta.
Itu untuk pembayaran franchise fee sebesar Rp 30 juta dan sisanya Rp 30 juta
untuk peralatan, perabotan hingga pegawai yang semuanya disuplai oleh
franchisor. Selaku terwaralaba (franchisee), dirinya masih harus mengeluarkan
biaya tambahan untuk sewa tempat.
Besarnya bervariasi tergantung mahal tidaknya lokasi usaha. Untuk Sawangan
katanya, jelas lebih murah dibandingkan Margonda atau Warung Buncit misalnya.
Untuk manajemen, selain ada kontrol rutin dari pihak Bakmi Langgara,
operasional sehari-hari dijalankan oleh saudaranya.
Setelah buka beberapa bulan, dirinya gembira karena bisnis waralabanya
berkembang cukup baik. Setiap bulannya paling tidak omzetnya mencapai Rp 45-50
juta. Dari jumlah itu, sekitar 20-30 persen menjadi keuntungan bersih baginya.
"Lumayanlah. Kalau omzet seperti ini terus, paling lambat setahun saya sudah
mencapai BEP (Break Even Point atau titik impas)," katanya berbangga hati. Yang
penting bagi seorang pemula, katanya, adalah berani nekat namun tetap smart
(pintar). Soal uang untuk investasi awal menurutnya bisa dengan mengajak teman
atau saudara sehingga beban yang ditanggung lebih ringan.
url: http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html
***
Bisnis Berbendera Islam Laris Manis
-- truncated---
Nama lain yang juga mengusung bendera Islam dalam bisnis adalah Bakmi Langgara.
Mendengar kata Langgara, asosiasi banyak orang segera saja tertuju kepada
Langgar atau Mushalla yang merupakan tempat ibadah umat Islam (semacam masjid
kecil dan tersebar di kantong-kantong pemukiman penduduk). ''Memang, Bakmi
Langgara adalah bakmi yang dibuat oleh orang Islam (Muslim), dan merupakan
bakmi halal. Inilah positioning kami. Meskipun dibuat oleh Muslim, Bakmi
Langgara ditujukan untuk semua orang atau kalangan,'' kata pendiri dan pemilik
Bakmi Langgara Group, Dr Ir H Wahyu Saidi MSc.
Alumni ITB itu secara sadar memakai gelar ''haji'' di depan namanya untuk
menguatkan identitas keislamannya tersebut. ''Biasanya asosiasi masyarakat
terhadap pengusaha bakmi adalah orang-orang Chinese. Memang berbagai merek
bakmi terkenal di ibukota maupun kota-kota besar lainnya kebanyakan milik orang
Chinese. Tapi Bakmi Langgara dimiliki oleh orang Muslim, dan sudah haji pula,
sehingga dapat memberikan ketenangan kepada para konsumen Muslim yang kerap
ragu-ragu menyantap bakmi,'' tegas Wahyu.
Menurut Wahyu, pemakaian identitas keislaman dalam bisnis yang digelutinya
sejak tiga tahun terakhir itu sama sekali tak mengganggu. Justru makin
mendukung kesuksesannya. ''Bagi orang Muslim, pemakaian identitas keislaman itu
membuat mereka makin yakin untuk makan di Bakmi Langgara. Di sisi lain, para
pembeli non-Muslim, termasuk Chinese sama sekali tak terganggu oleh atribut
keislaman itu. Sebab, dalam bisnis restoran, yang terpenting adalah makanan itu
enak dan resik, harganya terjangkau, dan pelayanannya menyenangkan,'' paparnya.
Berkat keyakinannya itu, dalam waktu relatif singkat Bakmi Langgara Group
berhasil melebarkan sayapnya hingga 86 cabang -- sebagian besar dalam bentuk
waralaba. Gerainya tersebar di wilayah Jakarta Depok Bogor Tangerang Bekasi
(Jadebotabek), Bandung, dan Yogyakarta, hingga KM Kelud. ''Saya yakin bisnis
berbendera Islam sangat berkah dan menjanjikan. Untung akhirat, untung pula di
dunia. Adakah yang lebih indah dari hal ini?'' kata Wahyu.
Wahyu Saidi mengaku pihanya tak sekadar memakai nama Langgara. Manajemen
Bakmi Langara Group berusaha menerapkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan
syariat Islam. Misalnya: zakat, pengajian di kantor pusat maupun sejumlah
cabang, umrah untuk karyawan, kurban, bantuan untuk korban bencana alam.
''Tidak kalah pentingnya adalah kejujuran dan keterbukaan, sebab ini merupakan
prinsip utama dalam bisnis berbendera Islam. Nabi mengatakan, pedagang yang
jujur itu bersama para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada nanti di Surga,''
papar Wahyu.
----- truncated---
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com