wis pangsiunan....gantian saiki nunggu sopo sing ngundang...hayo sopo?

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Daryono
Sent: Monday, December 17, 2007 9:26 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi





... lho..jangan salah fr, biasanya  Pak Pri yang kasih gratisan .... antara 
lain .. undangan tournament golf  (maklum juragan sering ndapat undangan 
lebih...), tapi saiki wis suwe gak ono maneh ...!!!
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Heryadi
Sent: 14 Desember 2007 14:12
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi






Pa Pri, hari gini enda ada yang gratisan .......



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of PRIANTO 
TIRTOPRODJO
Sent: Friday, December 14, 2007 10:23 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi



Yok

Tak pikir gratis..............gak sido balik neng nyogja bae......

Haryoko Poerworiono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dear friends



Teman2, kalau ada yang pingin pulang kampung ke Yogyakarta pada saat liburan 
panjang nanti....tapi ngga bisa pulang karena sulit transportasi.....

Saya menawarkan Ticket Kereta Api jurusan Jakarta - Yogyakarta yang ngga jadi 
saya gunakan.



Jenis KA        : Taksaka II

Hari/tanggal    : Kamis, 20 Desember 2007

Jam                : 20:45

Jml seat         : 3 orang

Harga sesuai tarif resmi



Demikian info



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of kangucup
Sent: Wednesday, November 28, 2007 11:18 AM
To: [email protected]
Subject: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi

Beberapa waktu lalu nggak sengaja mampir ke Bakmi JawaDU67 di pojokan Jl Dipati 
Ukur dan Jl Tengku Angkasa Bandung (terserah aja kalo dianggap iklan). Di situ 
pula nggak nyangka ketemu dengan pemiliknya yaitu mas Murtioso Salamun, alumni 
Elektronika ITB dan baru saja pensiun dari LEN LIPI (udah kenal lama karena 
dari "kampung" yang sama).  Beliau buka warung Bakmi Jawa DU67 (Fortuga) itu 
konon karena terinspirasi oleh  Wahyu Saidi yang di kartu namanya menyebutkan 
Doktor - Tukang Bakmi.
Siapa sih Wakyu Saidi? Berikut kliping profil dan sepakterjang beliau sebagai 
dosen UNJ, sering memberi seminar, nulis di Kontan dan tentu saja sebagai 
"tukang bakmi"...

salam..



Wahyu dan "Virus" Wirausaha

Di kartu namanya tercetak Dr Ir Wahyu Saidi MSc. Tentu tidak istimewa karena 
masih banyak orang yang memiliki gelar lebih panjang dan lebih banyak. Baru 
terasa luar biasa ketika membaca profesi yang tercetak pada kartu namanya: 
tukang bakmi. Boleh jadi dialah satu-satunya tukang bakmi bergelar doktor 
insinyur.

Beneran, bukan gelar dengan ijazah belian. Alumnus Institut Teknologi Bandung 
ini kini memang menjadi pengajar di Universitas Negeri Jakarta. 

Mantan manajer sebuah perusahaan jalan tol dan perusahaan pertambakan terbesar 
di dunia itu bertekad menula rkan ?virus? kewirausahaan kepada sebanyak mungkin 
orang Indonesia. Ia bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya orang yang mampu 
menciptakan lapangan kerja buat dirinya sendiri dan orang lain, di tengah 
semakin ketatnya perebutan lapangan kerja formal. 

Karena itu, hampir separuh waktunya kini dipakai keliling Indonesia memenuhi 
undangan berbicara dalam forum seminar, diskusi, atau apa pun namanya. Tidak 
lain kecuali menggugah orang Indonesia untuk menjadi pengusaha profesional. 

Ia tidak hanya bicara. Kini, bekerja sama dengan UNJ, ia mulai memformalkan 
upayanya itu. Mereka yang berminat berwirausaha diberikan pendidikan dan 
pelatihan secara formal lalu diberi paket usaha, semisal usaha bakso, pijat 
refleksi, salon kecantikan, dan bengkel. 

?Jadikan bisnis sebagai suatu pilihan hidup. Kalau jadi pengusaha kue apem, 
jadilah pengusaha apem yang profesional, tekun, disiplin, pasti jadi. 
Masalahnya, kalau orang Indonesia menjual kue apem, kue cucur, mereka tidak 
menganggap dirinya sebagai pengusaha. Padahal, di situ ada potensi keuntungan 
besar. Kalau cuma uang 100 ribu rupiah sehari, gampang dapatnya,? katanya.

Berawal dari krisis moneter, ketika perusahaan tempatnya bekerja terpaksa 
?tidur?, dengan jabatan manajer tentulah sulit mencari pekerjaan di perusahaan 
lain untuk jabatan dan gaji yang setimpal. Maka, pilihannya adalah berhenti dan 
mencoba berusaha sendiri. Mulailah ia memasuki agrobisnis dengan bertanam cabe, 
ternak ayam, pembesaran ikan, buka bimbingan belajar, dan usaha makanan 
Palembang. 

Saat berusaha makanan Palembang ini, pengalaman mengajarinya bahwa makanan 
Palembang adalah makanan besar dan untuk orang dewasa. Seharusnya yang 
diusahakan adalah makanan untuk semua umur dan semua waktu. Sepanjang jalan di 
Margonda, Depok, ditelusuri untuk survei. Pilihan jatuh pada usaha mi ayam.

Persoalannya, mi ayam apa yang dijual supaya laku? Diupayakanlah untuk bekerja 
sama dengan bakmi GM yang sudah lebih dulu populer. Tetapi, apa daya tangan tak 
sampai. ?Wara laba mereka enggak mau, kerja sama enggak mau juga. Ya belajarlah 
sendiri. Saya tidak malu-malu mengatakan saya follower GM. Saya sebut bakmi ala 
GM, dan strategi ini efek tif sekali kala itu. Untungnya, bakmi GM tidak ada di 
mana-mana, hanya tempat tertentu saja,? paparnya. 

Ia pertama kali membuka ?warung? bakmi ala GM itu di Menara Kadin, Jakarta, 
pada Januari 2002. Omzetnya pada hari pertama sebanyak Rp 66.000. Tak lama 
kemudian dibukanya lagi satu warung di Jalan Pemuda dengan omzet hari pertama, 
Rp 200.000. ?Dua bulan kemudian baru mencapai omzet Rp 1 juta,? kenangnya.

Setelah dirasa usaha ini sudah bisa berjalan, dipatenkanlah nama sendiri, yakni 
Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet  pada tahun 2004. Ketika itu, ia sudah memiliki 
36 cabang.

Langgara berarti langgar, tempat orang berkumpul, juga bisa diartik an mampir 
pada saat lewat. Sementara Tebet, diambil dari sebuah nama kawasan yang 
berkonotasi Jakarta, untuk menciptakan kesan bagi orang yang berdomisili di 
luar Jakarta. 

Konsep waralaba mulai dikembangkan pada saat membuka cabang ke-11. ?Tapi 
sebenarnya lebih pada konsep joint operation, partnership. Waralaba penuh nanti 
pada cabang ke-12 untuk bakmi Langgara,? kenang Wahyu yang merasa mantap 
berusaha bakmi pada saat membuka cabang ke-10. 

Kini Wahyu yang lahir di Palembang tahun 1962 sudah punya 39 cabang restoran 
bakmi merek Langgara dan 62 cabang bakmi Tebet, di 18 kota di seluruh 
Indonesia. Total karyawan mencapai 700 orang. Sebentar lagi ia akan membuka 
cabang di Kucing dan Kuala Lumpur, Malaysia, serta di Mekkah, Arab Saudi. 

Meski demikian, bukan cerita sukses saja yang mengiringi perjalanan bisnisnya. 
Ada 15 cabang tutup.? Salah pilih lokasi, kontrak tempat habis, dan tidak cocok 
dengan partner,? katanya. 

Bisnis mi ini, menurut Wahyu, tidak bisa asal-asalan, harus serius dan 
disiplin. Bagi orang yang sudah punya duit, bisa saja menjadikannya usaha 
sampingan sehingga tidak serius. ?Nah kalau berhenti, bagi mereka tidak soal, 
tetapi bagi saya ya nama rusak,? paparnya menjelaskan tentang kriteria mitra 
usahanya dalam setiap pembukaan cabang. 

Cintai profesi dan menganggapnya ibadah juga sangat ditekankan kepada semua 
mitranya. Mengelap meja buat pengunjung, hal biasa baginya. (Andi suruji) 

****



Bakmi Lahir dari Tangan Doktor 

Resep bakminya mengacu pada cita rasa Bakmi GM. Kendati meraih gelar doktor dan 
menjabat manajer proyek pembangunan jalan tol, H Wahyu Saidi tidak merasa 
gengsi berjualan bakmi. Krisis ekonomi yang mendera Bumi Pertiwi sejak akhir 
1997 malah menjadi peluang baginya untuk mengembangkan usaha yang sudah lama 
diimpikannya. 

url:

   
<http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251>
 
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251
 

Berani Memulai Bisnis 

Seorang pemenang mampu menangkap peluang, berprestasi, berani bersaing, 
bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. H Wahyu Saidi, (42 tahun), dengan 
bangga menyatakan bahwa mungkin dialah satu-satunya insinyur lulusan ITB yang 
kini berprofesi sebagai tukang bakmi. Pria kelahiran Palembang 24 Oktober 1962 
lulusan Teknik Sipil ITB (1987) dan S2 Teknik Industri ITB (1991), memang patut 
berbangga. Karena sebagai dikemukak annya sendiri, 'Bakmi Langgara' dan 'Bakmi 
Tebet' yang didirikan dan dikembangkannya sejak tiga tahun silam, kini punya 
cabang di hampir seluruh tempat di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, 
Tangerang, Bekasi). 

Bahkan jangkauannya sudah meluas hingga ke Cilegon, Bandung, dan Yogyakarta. 
Lulusan Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (2000) itu 
mengungkapkan, Bakmi Langgara-nya sudah mempunyai 38 cabang dan Bakmi Tebet 47 
cabang. 

 url= 

 <http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152> 
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152

  

Bakmi Langgara 

Muhammad Firdaus (bukan nama sebenarnya), bisa dijadikan contoh. Profesi 
sehari-harinya adalah wartawan salah satu media cetak yang terbit di Jakarta. 
Tertarik dengan konsep bisnis waralaba Bakmi Langgara, ia pun kemudian membuka 
cabang di wilayah Sawangan, Depok. 

"Dari segi nilai investasi, Bakmi Langgara masih terjangkaulah. Saya pilih 
Sawangan karena di sini banyak permukiman (Bukit Rivaria) dan belum banyak 
saingan," jelasnya. Ia mengambil waralaba Bakmi Langgara sekitar pertengahan 
tahun 2004. Investasi awal yang harus i a keluarkan adalah Rp 60 juta. 

Itu untuk pembayaran franchise fee sebesar Rp 30 juta dan sisanya Rp 30 juta 
untuk peralatan, perabotan hingga pegawai yang semuanya disuplai oleh 
franchisor. Selaku terwaralaba (franchisee), dirinya masih harus mengeluarkan 
biaya tambahan untuk sewa tempat. 

Besarnya bervariasi tergantung mahal tidaknya lokasi usaha. Untuk Sawangan 
katanya, jelas lebih murah dibandingkan Margonda atau Warung Buncit misalnya. 
Untuk manajemen, selain ada kontrol rutin dari pihak Bakmi Langgara, 
operasional sehari-hari dijalankan oleh saudaranya. 

Setelah buka beberapa bulan, dirinya gembira karena bisnis waralabanya 
berkembang cukup baik. Setiap bulannya paling t idak omzetnya mencapai Rp 45-50 
juta. Dari jumlah itu, sekitar 20-30 persen menjadi keuntungan bersih baginya. 

"Lumayanlah. Kalau omzet seperti ini terus, paling lambat setahun saya sudah 
mencapai BEP (Break Even Point atau titik impas)," katanya berbangga hati. Yang 
penting bagi seorang pemula, katanya, adalah berani nekat namun tetap smart 
(pintar). Soal uang untuk investasi awal menurutnya bisa dengan mengajak teman 
atau saudara sehingga beban yang ditanggung lebih ringan. 

url:  <http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html> 
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html 



***

Bisnis Berbendera Islam Laris Manis 

-- truncated--- 
Nama lain yang juga mengusung bendera Islam dalam bisnis adalah Bakmi Langgara. 
Mendengar kata Langgara, asosiasi banyak orang segera saja tertuju kepada 
Langgar atau Mushalla yang merupakan tempat ibadah umat Islam (semacam masjid 
kecil dan tersebar di kantong-kantong pemukiman penduduk). ''Memang, Bakmi 
Langgara adalah bakmi yang dibuat oleh orang Islam (Muslim), dan merupakan 
bakmi halal. Inilah positioning kami. Meskipun dibuat oleh Muslim, Bakmi 
Langgara ditujukan untuk semua orang atau kalangan,'' kata pendiri dan pemilik 
Bakmi Langgara Gr oup, Dr Ir H Wahyu Saidi MSc. 

Alumni ITB itu secara sadar memakai gelar ''haji'' di depan namanya untuk 
menguatkan identitas keislamannya tersebut. ''Biasanya asosiasi masyarakat 
terhadap pengusaha bakmi adalah orang-orang Chinese. Memang berbagai merek 
bakmi terkenal di ibukota maupun kota-kota besar lainnya kebanyakan milik orang 
Chinese. Tapi Bakmi Langgara dimiliki oleh orang Muslim, dan sudah haji pula, 
sehingga dapat memberikan ketenangan kepada para konsumen Muslim yang kerap 
ragu-ragu menyantap bakmi,'' tegas Wahyu. 

Menurut Wahyu, pemakaian identitas keislaman dalam bisnis yang digelutinya 
sejak tiga tahun terakhir itu sama sekali tak mengganggu. Justru makin 
mendukung kesuksesannya. ''Bagi orang Muslim, pemakaian identitas keislaman itu 
membuat mereka makin yakin untuk makan di Bakmi Langgara. Di sisi lain, para 
pembeli non-Muslim, termasuk Chinese sama sekali tak terganggu oleh atribut 
keislaman itu. Sebab, dalam bisnis restoran, yang terpenting adalah makanan itu 
enak dan resik, harganya terjangkau, dan pelayanannya menyenangkan,'' paparnya. 

Berkat keyakinannya itu, dalam waktu relatif singkat Bakmi Langgara Group 
berhasil melebarkan sayapnya hingga 86 cabang -- sebagian besar dalam bentuk 
waralaba. Gerainya tersebar di wilayah Jakarta Depok Bogor Tangerang Bekasi 
(Jadebotabek), Bandung, dan Yogyakarta, hingga KM Kelud. ''Saya yakin bisnis 
berbendera Islam sangat berkah dan menjanjikan. Untung akhirat, untung pula di 
dunia. Adakah yang lebih indah dari hal ini?'' kata Wahyu. 

Wahyu Saidi mengaku pihanya tak sekadar memakai nama Langgara. Manajemen Bakmi 
Langara Group berusaha menerapkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat 
Islam. Misalnya: zakat, pengajian di kantor pusat maupun sejumlah cabang, umrah 
untuk karyawan, kurban, bantuan u ntuk korban bencana alam. ''Tidak kalah 
pentingnya adalah kejujuran dan keterbukaan, sebab ini merupakan prinsip utama 
dalam bisnis berbendera Islam. Nabi mengatakan, pedagang yang jujur itu bersama 
para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada nanti di Surga,'' papar Wahyu.

----- truncated---



 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 





 

Kirim email ke