Baik untuk yang Muslim maupun yang non Muslim, artikel ini bisa memberikan
perspektif yang mencerahkan dan menyejukkan...(ini opini saya.. kita boleh
berbeda opini kan?)


Islam yang Saya Pahami oleh Komaruddin Hidayat
Friday, 06 June 2008
AJARAN Islam itu sangat luas dan dalam. Dengan jatah umur yang terbatas   
 dan pengetahuan yang juga sangat terbatas, saya tidak pantas mengaku     
 sebagai juru bicara Islam dan tidak pantas merasa sebagai figur teladan
dalam beragama.  Kalaupun ada teman mengajak berdialog tentang Islam,
dengan senang hati saya akan berbagi pengetahuan dan kecintaan kepada
Islam, tapi— maaf––saya tidak mau menghakimi kadar iman, kesalehan,dan
pembagian jatah surga-neraka.

Islam itu bermula sebagai ajaran wahyu yang datang dari langit, bukan
muncul dari ranah bumi yang bersifat historissosiologis dan psikologis. 
Karena kehendak dan kasih Allah, dipilihlah para rasul- Nya untuk menjadi
juru bicara Tuhan. Mereka adalah manusia sebagaimana kita, tapi memiliki
kekhususan karena langsung dibimbing oleh Allah melalui malaikat Jibril.
Para rasul jubir Allah itu berakhlak mulia, cerdas, bijaksana,
penyantun,pemaaf,tapi tegas. Ibarat dokter yang mencintai kesehatan
pasiennya, tapi jika diperlukan mesti tegas melakukan operasi dan
amputasi. Semua objek yang saya imani itu gaib,nalar saya tak sanggup
menjangkaunya. Yang secara historis ilmiah bisa saya kaji––itu pun hanya
sebagian kecil––adalah mengetahui sejarah Rasulullah Muhammad dan memahami
Alquran. Selainnya betul-betul gaib. Bahwa Alquran datang dari Allah, itu
pun bagi saya merupakan loncatan dan pilihan iman karena secara ilmiah
tidak bisa dibuktikan.

Tentu saja nalar saya mencoba membangun dan mengumpulkan argumen bahwa
Alquran itu wahyu yang sangat mulia dan menunjukkan jalan kebaikan bagi
hidup saya.  Namun jika ditantang untuk memberikan pembuktian ilmiah
empiris, nalar dan metodologi empiris saya tidak mampu melakukannya       
bahwa Alquran itu dari malaikat Jibril, karena Jibril itu makhluk gaib.
Yang saya temukan adalah sebuah buku, terdiri atas kertas, tinta,dan
bentuk kalimat dalam bahasa Arab, dan orangtua serta guru saya menjelaskan
serta  meyakinkan saya bahwa itu merupakan himpunan wahyu ilahi.  Karena
isi Alquran datang dari Yang Mahasuci dan Mahakasih, untuk membaca dan
mendalaminya saya diajari agar menyucikan badan,hati, dan pikiran agar
mudah meresap. Jadi, sejak awal saya berpandangan bahwa Alquran itu bahasa
Tuhan yang terekspresikan dalam bahasa manusia, yaitu bahasa Arab.Namun
otak saya selalu saja berbahasa Jawa atau Indonesia ketika memahami
kandungan Alquran, bahkan ketika shalat.Bibir saya sewaktu shalat
berbahasa Arab Alquran,tapi bahasa mental tetap bahasa Indonesia dan
sekali-sekali bahasa Jawa.  Dengan begitu, bacaan mental shalat saya bukan
bahasa Arab karena bahasa Arab bukan bahasa ibu. Pengetahuan saya tentang
kandungan Alquran sangatlah minim. Kalau Alquran diibaratkan lautan luas
dan lepas, perjalanan saya hanya sampai di Pantai Ancol, mengenal dan
menyentuh air lautnya. Jadi,saya berhak mengatakan mengenal dan tetap
berusaha mendalami kandungan Alquran, tapi sungguh tidak berani merasa
menguasai kedalaman  dan keluasan laut serta isinya yang sangat kaya-raya.
 Argumen ilmiah historis yang memperkuat keyakinan saya tentang kebenaran
dan kemuliaan Islam adalah mengenal riwayat hidup pembawanya, yaitu sosok
Muhammad. Kalau mempelajari agama ataupun ideologi besar dunia, saya
selalu ingin memulai dengan mengenal siapa pembawa atau pendirinya. Untuk
ini pun saya pasti dipengaruhi oleh bacaan yang tersedia.  Karena terlahir
di wilayah padang pasir dan sudah masuk        abad keenam, dua faktor ini
sangat membantu bagi sejarawan untuk        menelusuri secara detail
tentang sosok Muhammad sebagai figur historis.

Catatan historis tentang Muhammad jauh lebih utuh dan transparan
ketimbang sosok rasul Tuhan sebelumnya yang sulit ditelusuri secara utuh
oleh sejarawan.  Sejak kelahiran sampai wafatnya, Muhammad berada dalam   
    terang sejarah sehingga bagi mereka yang ingin mempelajarinya sangat  
     terbuka, terlepas nanti seseorang akan memuji, mengkritik, mencintai,
       ataukah membenci, itu pilihan sikap masing-masing. Sosok Muhammad  
     benarbenar merupakan buku kehidupan yang terbuka. Bagaikan pendulum
yang bergerak dari nasibnya yang amat sangat menderita, terlahir yatim
piatu, pernah disayembarakan untuk dibunuh,sampai berakhir dengan
kemenangan gemilang, mewariskan sebuah peradaban agung yang getaran
pengaruhnya masih berkembang dan meluas sampai sekarang. Bermula
mengembangkan ajarannya di Mekkah,tapi karena memperoleh ancaman amat
berat lalu pindah ke Madinah. Setelah melakukan konsolidasi, Rasul
Muhammad pun lalu kembali merebut Kota Mekkah dengan gagah, santun, dan
damai.  Bahkan membuka lebar-lebar pintu maaf bagi mereka yang dulu pernah
mau membunuh dirinya dan pengikutnya. Begitu mulia dan pemaafnya
Rasulullah Muhammad. Betapa rendah hatinya di saat meraih puncak
kemenangan. Dia menaklukkan musuh-musuhnya dengan ajarannya yang rasional,
hatinya yang lembut, sikapnya yang simpatik, tapi tetap tegas dalam
mengajarkan agamanya. Itulah sosok peletak dasar Islam. Jauh dari sikap
yang angkuh, kejam, dan senang pada kebrutalan.  Yang membuat saya sangat
terkesan dan kagum pada ajarannya ialah Rasul Muhammad melarang dirinya
dibuat patung atau gambar sehingga saya terbebas dari pengaruh visual
bahwa dia adalah orang Arab.Kesadaran historis saya tentu yakin dia orang
Arab, tapi asosiasi etnis fisikal terkubur oleh ajarannya yang sangat
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal dan sangat membenci
kekerasan.  Saya sendiri punya kenalan dosen keturunan Arab yang
sangat alim,baik,rendah hati, serta penyantun seperti diajarkan
Rasul  Muhammad, sekalipun terhadap mereka yang berbeda agama. Namun saya
juga punya kenalan keturunan Arab yang mengaku muslim, tapi kadar karatnya
       —ibarat emas—mungkin rendah sehingga yang terkesan malah seperti
Arabnya        Abu Jahal yang beringas sekalipun bahasa Arabnya fasih
ketika menyebut        ayat-ayat Alquran.  Namun, begitulah manusia, dalam
hati kecilnya semua ingin hidup dengan baik, senang, dan memperoleh posisi
serta pengakuan dalam        masyarakat. Hanya niat dan pernyataan untuk
menjadi baik dan benar        tidaklah cukup. Nyatanya sepanjang sejarah
selalu tumbuh bersama antara        kekuatan negatif dan positif, antara
energi setan dan malaikat, antara        perang dan damai.That’s life.
Juga suatu fakta yang tidak bisa dibantah,        saya terlahir dan hidup
dalam suatu wilayah kekuasaan politik bernama        Republik Indonesia. 
Karena itu,sebagai warga negara, saya terikat pada hukum negara dan
sebagai seorang muslim terikat dengan hukum dan tradisi Islam. Sebagai
anak terikat dengan etika dan kewajiban kepada orangtua, sebagai seorang
suami dan ayah saya juga memiliki keterikatan dan tugas yang mesti saya
penuhi sebagai suami dan ayah. Saya merasa bersyukur mengenal dan       
memahami Islam yang memberikan arah, makna, dan pedoman bagaimana       
menjalani dan mengisi kehidupan. Terima kasih kepada Rasul Muhammad yang
telah mewariskan ajaran begitu mulia. Saya terlalu sombong untuk
mengatakan sebagai pembela  Islam karena Islam telah membela dirinya
sendiri.Tanpa saya, kebenaran Islam tak akan surut dan berkurang. Dengan
kehadiran saya, Islam juga tak akan menjadi lebih benar dan hebat.

Saya berpendapat, cara terbaik membela Islam— kalaupun kalimat itu benar—
adalah dengan menjadi seorang mukmin yang keimanannya membuahkan amal
dengan didasari dan diarahkan oleh iman Allah.

Kedua, memperbanyak amal kebajikan sebagai buah dari iman yang dirasakan
oleh sesama manusia, apa pun agamanya.

Ketiga, senantiasa sujud berserah diri kepada Tuhan sehingga terhindar
dari kesombongan dan tidak terpelanting dari orbit ilahi.

Keempat, hendaknya hidup ini dijalani dengan ikhlas, jauh dari keinginan
untuk mendapat pujian,tepuk tangan, dan sanjungan karena ujungnya hanya
akan membuat lelah fisik, mental,dan hati.  Ketika Islam menjadi komoditas
politik dan berbagai kelompok bertikai dengan garang seakan berebut kunci
surga—jangan-jangan bak matador yang diprovokasi oleh selembar kain merah
lalu mengamuk––, saya merasa sedih dan kasihan, apakah begitu cara membela
Islam dan menghargai kemanusiaan?

(*) *)Rektor UIN Syarif Hidayatullah  KOMARUDDIN HIDAYAT*

Sumber : SINDO






Baik untuk yang Muslim maupun yang non Muslim, artikel ini bisa memberikan
perspektif yang mencerahkan dan menyejukkan...(ini opini saya.. kita boleh
berbeda opini kan?)

Islam yang Saya Pahami oleh Komaruddin Hidayat
Friday, 06 June 2008
AJARAN Islam itu sangat luas dan dalam. Dengan jatah umur yang terbatas
dan pengetahuan yang juga sangat terbatas, saya tidak pantas mengaku
sebagai juru bicara Islam dan tidak pantas merasa sebagai figur
teladan dalam beragama. Kalaupun ada teman mengajak berdialog tentang
Islam, dengan senang hati saya akan berbagi pengetahuan dan kecintaan
kepada Islam, tapi— maaf––saya tidak mau menghakimi kadar iman,
kesalehan,dan pembagian jatah surga-neraka.

Islam itu bermula sebagai ajaran wahyu yang datang dari langit, bukan
muncul dari ranah bumi yang bersifat historissosiologis dan psikologis.
Karena kehendak dan kasih Allah, dipilihlah para rasul- Nya untuk menjadi
juru bicara Tuhan. Mereka adalah manusia sebagaimana kita, tapi memiliki
kekhususan karena langsung dibimbing oleh Allah melalui malaikat Jibril.
Para rasul jubir Allah itu berakhlak mulia, cerdas, bijaksana,
penyantun,pemaaf,tapi tegas. Ibarat dokter yang mencintai kesehatan
pasiennya, tapi jika diperlukan mesti tegas melakukan operasi dan
amputasi. Semua objek yang saya imani itu gaib,nalar saya tak sanggup
menjangkaunya. Yang secara historis ilmiah bisa saya kaji––itu pun hanya
sebagian kecil––adalah mengetahui sejarah Rasulullah Muhammad dan memahami
Alquran. Selainnya betul-betul gaib. Bahwa Alquran datang dari Allah, itu
pun bagi saya merupakan loncatan dan pilihan iman karena secara ilmiah
tidak bisa dibuktikan.
Tentu saja nalar saya mencoba membangun dan mengumpulkan argumen bahwa
Alquran itu wahyu yang sangat mulia dan menunjukkan jalan kebaikan bagi
hidup saya. Namun jika ditantang untuk memberikan pembuktian ilmiah
empiris, nalar dan metodologi empiris saya tidak mampu melakukannya
bahwa Alquran itu dari malaikat Jibril, karena Jibril itu makhluk gaib.
Yang saya temukan adalah sebuah buku, terdiri atas kertas, tinta,dan
bentuk kalimat dalam bahasa Arab, dan orangtua serta guru saya
menjelaskan serta meyakinkan saya bahwa itu merupakan himpunan
wahyu ilahi. Karena isi Alquran datang dari Yang Mahasuci dan Mahakasih,
untuk membaca dan mendalaminya saya diajari agar menyucikan badan,hati,
dan pikiran agar mudah meresap. Jadi, sejak awal saya berpandangan bahwa
Alquran itu bahasa Tuhan yang terekspresikan dalam bahasa manusia, yaitu
bahasa Arab.Namun otak saya selalu saja berbahasa Jawa atau Indonesia
ketika memahami kandungan Alquran, bahkan ketika shalat.Bibir saya sewaktu
shalat berbahasa Arab Alquran,tapi bahasa mental tetap bahasa Indonesia
dan sekali-sekali bahasa Jawa. Dengan begitu, bacaan mental shalat saya
bukan bahasa Arab karena bahasa Arab bukan bahasa ibu. Pengetahuan saya
tentang kandungan Alquran sangatlah minim. Kalau Alquran diibaratkan
lautan luas dan lepas, perjalanan saya hanya sampai di Pantai Ancol,
mengenal dan menyentuh air lautnya. Jadi,saya berhak mengatakan mengenal
dan tetap berusaha mendalami kandungan Alquran, tapi sungguh tidak berani
merasa menguasai kedalaman dan keluasan laut serta isinya yang sangat
kaya-raya. Argumen ilmiah historis yang memperkuat keyakinan saya tentang
kebenaran dan kemuliaan Islam adalah mengenal riwayat hidup pembawanya,
yaitu sosok Muhammad. Kalau mempelajari agama ataupun ideologi besar
dunia, saya selalu ingin memulai dengan mengenal siapa pembawa atau
pendirinya. Untuk ini pun saya pasti dipengaruhi oleh bacaan yang
tersedia. Karena terlahir di wilayah padang pasir dan sudah masuk
abad keenam, dua faktor ini sangat membantu bagi sejarawan untuk
menelusuri secara detail tentang sosok Muhammad sebagai figur historis.
Catatan historis tentang Muhammad jauh lebih utuh dan transparan
ketimbang sosok rasul Tuhan sebelumnya yang sulit ditelusuri secara
utuh oleh sejarawan. Sejak kelahiran sampai wafatnya, Muhammad
berada dalam terang sejarah sehingga bagi mereka yang ingin
mempelajarinya sangat terbuka, terlepas nanti seseorang akan
memuji, mengkritik, mencintai, ataukah membenci, itu pilihan sikap
masing-masing. Sosok Muhammad benarbenar merupakan buku kehidupan
yang terbuka. Bagaikan pendulum yang bergerak dari nasibnya yang amat
sangat menderita, terlahir yatim piatu, pernah disayembarakan untuk
dibunuh,sampai berakhir dengan kemenangan gemilang, mewariskan sebuah
peradaban agung yang getaran pengaruhnya masih berkembang dan meluas
sampai sekarang. Bermula mengembangkan ajarannya di Mekkah,tapi karena
memperoleh ancaman amat berat lalu pindah ke Madinah. Setelah melakukan
konsolidasi, Rasul Muhammad pun lalu kembali merebut Kota Mekkah dengan
gagah, santun, dan damai. Bahkan membuka lebar-lebar pintu maaf bagi
mereka yang dulu pernah mau membunuh dirinya dan pengikutnya. Begitu mulia
dan pemaafnya Rasulullah Muhammad. Betapa rendah hatinya di saat meraih
puncak kemenangan. Dia menaklukkan musuhmusuhnya dengan ajarannya yang
rasional, hatinya yang lembut, sikapnya yang simpatik, tapi tetap tegas
dalam mengajarkan agamanya. Itulah sosok peletak dasar Islam. Jauh dari
sikap yang angkuh, kejam, dan senang pada kebrutalan. Yang membuat saya
sangat terkesan dan kagum pada ajarannya ialah Rasul Muhammad melarang
dirinya dibuat patung atau gambar sehingga saya terbebas dari pengaruh
visual bahwa dia adalah orang Arab.Kesadaran historis saya tentu yakin dia
orang Arab, tapi asosiasi etnis fisikal terkubur oleh ajarannya yang
sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal dan sangat
membenci kekerasan. Saya sendiri punya kenalan dosen keturunan Arab yang
sangat alim,baik,rendah hati, serta penyantun seperti diajarkan
Rasul Muhammad,sekalipun terhadap mereka yang berbeda agama.Namun
saya juga punya kenalan keturunan Arab yang mengaku muslim, tapi
kadar karatnya —ibarat emas—mungkin rendah sehingga yang terkesan
malah seperti Arabnya Abu Jahal yang beringas sekalipun bahasa
Arabnya fasih ketika menyebut ayat-ayat Alquran. Namun, begitulah
manusia, dalam hati kecilnya semua ingin hidup dengan baik, senang, dan
memperoleh posisi serta pengakuan dalam masyarakat. Hanya niat dan
pernyataan untuk menjadi baik dan benar tidaklah cukup. Nyatanya
sepanjang sejarah selalu tumbuh bersama antara kekuatan negatif dan
positif, antara energi setan dan malaikat, antara perang dan
damai.That’s life. Juga suatu fakta yang tidak bisa dibantah, saya
terlahir dan hidup dalam suatu wilayah kekuasaan politik bernama
Republik Indonesia. Karena itu,sebagai warga negara, saya terikat pada
hukum negara dan sebagai seorang muslim terikat dengan hukum dan tradisi
Islam. Sebagai anak terikat dengan etika dan kewajiban kepada orangtua,
sebagai seorang suami dan ayah saya juga memiliki keterikatan dan tugas
yang mesti saya penuhi sebagai suami dan ayah. Saya merasa bersyukur
mengenal dan memahami Islam yang memberikan arah, makna, dan
pedoman bagaimana menjalani dan mengisi kehidupan. Terima kasih
kepada Rasul Muhammad yang telah mewariskan ajaran begitu mulia. Saya
terlalu sombong untuk mengatakan sebagai pembela Islam karena Islam telah
membela dirinya sendiri.Tanpa saya,kebenaran Islam tak akan surut dan
berkurang. Dengan kehadiran saya,Islam juga tak akan menjadi lebih benar
dan hebat. Saya berpendapat, cara terbaik membela Islam— kalaupun kalimat
itu benar— adalah dengan menjadi seorang mukmin yang keimanannya
membuahkan amal dengan didasari dan diarahkan oleh iman Allah. Kedua,
memperbanyak amal kebajikan sebagai buah dari iman yang dirasakan oleh
sesama manusia, apa pun agamanya. Ketiga, senantiasa sujud berserah diri
kepada Tuhan sehingga terhindar dari kesombongan dan tidak terpelanting
dari orbit ilahi. Keempat, hendaknya hidup ini dijalani dengan ikhlas,
jauh dari keinginan untuk mendapat pujian,tepuk tangan, dan sanjungan
karena ujungnya hanya akan membuat lelah fisik, mental,dan hati. Ketika
Islam menjadi komoditas politik dan berbagai kelompok bertikai
dengan garang seakan berebut kunci surga—jangan-jangan bak matador
yang diprovokasi oleh selembar kain merah lalu mengamuk––, saya
merasa sedih dan kasihan, apakah begitu cara membela Islam dan
menghargai kemanusiaan?(*) *)Rektor UIN Syarif Hidayatullah KOMARUDDIN
HIDAYAT*

Sumber : SINDO

Yang menyejukkan...

Islam yang Saya Pahami
Friday, 06 June 2008

AJARAN Islam itu sangat luas dan dalam. Dengan jatah umur yang terbatas dan pengetahuan yang juga sangat terbatas, saya tidak pantas mengaku sebagai juru bicara Islam dan merasa sebagai figur teladan dalam beragama.

Kalaupun ada teman mengajak berdialog tentang Islam, dengan senang hati saya akan berbagi pengetahuan dan kecintaan kepada Islam,tapi— maaf––saya tidak mau menghakimi kadar iman,kesalehan,dan pembagian jatah surga-neraka. Islam itu bermula sebagai ajaran wahyu yang datang dari langit, bukan muncul dari ranah bumi yang bersifat historissosiologis dan psikologis.

Karena kehendak dan kasih Allah, dipilihlah para rasul- Nya untuk menjadi juru bicara Tuhan. Mereka adalah manusia sebagaimana kita, tapi memiliki kekhususan karena langsung dibimbing oleh Allah melalui malaikat Jibril. Para rasul jubir Allah itu berakhlak mulia, cerdas, bijaksana, penyantun,pemaaf,tapi tegas.

Ibarat dokter yang mencintai kesehatan pasiennya, tapi jika diperlukan mesti tegas melakukan operasi dan amputasi. Semua objek yang saya imani itu gaib,nalar saya tak sanggup menjangkaunya. Yang secara historis ilmiah bisa saya kaji––itu pun hanya sebagian kecil––adalah mengetahui sejarah Rasulullah Muhammad dan memahami Alquran. Selainnya betul-betul gaib. Bahwa Alquran datang dari Allah, itu pun bagi saya merupakan loncatan dan pilihan iman karena secara ilmiah tidak bisa dibuktikan.Tentu saja nalar saya mencoba membangun dan mengumpulkan argumen bahwa Alquran itu wahyu yang sangat mulia dan menunjukkan jalan kebaikan bagi hidup saya.

Namun jika ditantang untuk memberikan pembuktian ilmiahempiris, nalar dan metodologi empiris saya tidak mampu melakukannya bahwa Alquran itu dari malaikat Jibril, karena Jibril itu makhluk gaib. Yang saya temukan adalah sebuah buku, terdiri atas kertas,tinta,dan bentuk kalimat dalam bahasa Arab, dan orangtua serta guru saya menjelaskan serta meyakinkan saya bahwa itu merupakan himpunan wahyu ilahi.

Karena isi Alquran datang dari Yang Mahasuci dan Mahakasih, untuk membaca dan mendalaminya saya diajari agar menyucikan badan,hati, dan pikiran agar mudah meresap. Jadi, sejak awal saya berpandangan bahwa Alquran itu bahasa Tuhan yang terekspresikan dalam bahasa manusia, yaitu bahasa Arab.Namun otak saya selalu saja berbahasa Jawa atau Indonesia ketika memahami kandungan Alquran, bahkan ketika salat.Bibir saya sewaktu salat berbahasa Arab Alquran,tapi bahasa mental tetap bahasa Indonesia dan sekali-sekali bahasa Jawa.

Dengan begitu, bacaan mental salat saya bukan bahasa Arab karena bahasa Arab bukan bahasa ibu. Pengetahuan saya tentang kandungan Alquran sangatlah minim. Kalau Alquran diibaratkan lautan luas dan lepas, perjalanan saya hanya sampai di Pantai Ancol, mengenal dan menyentuh air lautnya.Jadi,saya berhak mengatakan mengenal dan tetap berusaha mendalami kandungan Alquran, tapi sungguh tidak berani merasa menguasai kedalaman dan keluasan laut serta isinya yang sangat kaya-raya.

Argumen ilmiah historis yang memperkuat keyakinan saya tentang kebenaran dan kemuliaan Islam adalah mengenal riwayat hidup pembawanya, yaitu sosok Muhammad. Kalau mempelajari agama ataupun ideologi besar dunia, saya selalu ingin memulai dengan mengenal siapa pembawa atau pendirinya. Untuk ini pun saya pasti dipengaruhi oleh bacaan yang tersedia.

Karena terlahir di wilayah padang pasir dan sudah masuk abad keenam, dua faktor ini sangat membantu bagi sejarawan untuk menelusuri secara detail tentang sosok Muhammad sebagai figur historis. Catatan historis tentang Muhammad jauh lebih utuh dan transparan ketimbang sosok rasul Tuhan sebelumnya yang sulit ditelusuri secara utuh oleh sejarawan.

Sejak kelahiran sampai wafatnya, Muhammad berada dalam terang sejarah sehingga bagi mereka yang ingin mempelajarinya sangat terbuka, terlepas nanti seseorang akan memuji, mengkritik, mencintai, ataukah membenci, itu pilihan sikap masing-masing. Sosok Muhammad benarbenar merupakan buku kehidupan yang terbuka.

Bagaikan pendulum yang bergerak dari nasibnya yang amat sangat menderita, terlahir yatim piatu, pernah disayembarakan untuk dibunuh,sampai berakhir dengan kemenangan gemilang, mewariskan sebuah peradaban agung yang getaran pengaruhnya masih berkembang dan meluas sampai sekarang. Bermula mengembangkan ajarannya di Mekkah,tapi karena memperoleh ancaman amat berat lalu pindah ke Madinah. Setelah melakukan konsolidasi, Rasul Muhammad pun lalu kembali merebut Kota Mekkah dengan gagah, santun, dan damai.

Bahkan membuka lebar-lebar pintu maaf bagi mereka yang dulu pernah mau membunuh dirinya dan pengikutnya. Begitu mulia dan pemaafnya Rasulullah Muhammad. Betapa rendah hatinya di saat meraih puncak kemenangan. Dia menaklukkan musuhmusuhnya dengan ajarannya yang rasional, hatinya yang lembut, sikapnya yang simpatik, tapi tetap tegas dalam mengajarkan agamanya. Itulah sosok peletak dasar Islam. Jauh dari sikap yang angkuh, kejam, dan senang pada kebrutalan.

Yang membuat saya sangat terkesan dan kagum pada ajarannya ialah Rasul Muhammad melarang dirinya dibuat patung atau gambar sehingga saya terbebas dari pengaruh visual bahwa dia adalah orang Arab..Kesadaran historis saya tentu yakin dia orang Arab, tapi asosiasi etnis fisikal terkubur oleh ajarannya yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal dan sangat membenci kekerasan.

Saya sendiri punya kenalan dosen keturunan Arab yang sangat alim,baik,rendah hati, serta penyantun seperti diajarkan Rasul Muhammad,sekalipun terhadap mereka yang berbeda agama.Namun saya juga punya kenalan keturunan Arab yang mengaku muslim, tapi kadar karatnya —ibarat emas—mungkin rendah sehingga yang terkesan malah seperti Arabnya Abu Jahal yang beringas sekalipun bahasa Arabnya fasih ketika menyebut ayat-ayat Alquran.

Namun, begitulah manusia, dalam hati kecilnya semua ingin hidup dengan baik, senang, dan memperoleh posisi serta pengakuan dalam masyarakat. Hanya niat dan pernyataan untuk menjadi baik dan benar tidaklah cukup. Nyatanya sepanjang sejarah selalu tumbuh bersama antara kekuatan negatif dan positif, antara energi setan dan malaikat, antara perang dan damai.That’s life. Juga suatu fakta yang tidak bisa dibantah, saya terlahir dan hidup dalam suatu wilayah kekuasaan politik bernama Republik Indonesia.

Karena itu,sebagai warga negara, saya terikat pada hukum negara dan sebagai seorang muslim terikat dengan hukum dan tradisi Islam. Sebagai anak terikat dengan etika dan kewajiban kepada orangtua, sebagai seorang suami dan ayah saya juga memiliki keterikatan dan tugas yang mesti saya penuhi sebagai suami dan ayah. Saya merasa bersyukur mengenal dan memahami Islam yang memberikan arah, makna, dan pedoman bagaimana menjalani dan mengisi kehidupan.

Terima kasih kepada Rasul Muhammad yang telah mewariskan ajaran begitu mulia. Saya terlalu sombong untuk mengatakan sebagai pembela Islam karena Islam telah membela dirinya sendiri.Tanpa saya,kebenaran Islam tak akan surut dan berkurang. Dengan kehadiran saya,Islam juga tak akan menjadi lebih benar dan hebat.

Saya berpendapat, cara terbaik membela Islam— kalaupun kalimat itu benar— adalah dengan menjadi seorang mukmin yang keimanannya membuahkan amal dengan didasari dan diarahkan oleh iman Allah.Kedua,memperbanyak amal kebajikan sebagai buah dari iman yang dirasakan oleh sesama manusia, apa pun agamanya. Ketiga, senantiasa sujud berserah diri kepada Tuhan sehingga terhindar dari kesombongan dan tidak terpelanting dari orbit ilahi.

Keempat, hendaknya hidup ini dijalani dengan ikhlas, jauh dari keinginan untuk mendapat pujian,tepuk tangan, dan sanjungan karena ujungnya hanya akan membuat lelah fisik, mental,dan hati.

Ketika Islam menjadi komoditas politik dan berbagai kelompok bertikai dengan garang seakan berebut kunci surga—jangan-jangan bak matador yang diprovokasi oleh selembar kain merah lalu mengamuk––, saya merasa sedih dan kasihan, apakah begitu cara membela Islam dan menghargai kemanusiaan?(*) *)Rektor UIN Syarif Hidayatullah

KOMARUDDIN HIDAYAT*

 
Sumber : SINDO

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Koran Digital" Google Groups.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/koran-digital?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


Kirim email ke