Weiii hihihihi........
Wah kayaknya ada yang pernah ngalamin nih,
pla sharing donk!
 
 
Dusta di Balik Bisnis Sedot Racun

Klinik terapi detoks atau sedot racun tubuh kini semakin menjamur di
berbagai kota besar di Indonesia. Tapi berdasarkan penelitian alat itu
hanya elektrolisa air dan warna yang keluar bukan racun.

Liputan6.com, Jakarta: Akhir-akhir ini di berbagai kota besar di Tanah
Air tengah menjamur pengobatan alternatif yang disebut terapi ion atau
detoksifikasi. Terapi yang diadopsi dari budaya Cina ini dipercaya bisa
menyedot racun tubuh hanya dengan merendam kaki selama setengah jam.
Selain menyedot racun, detoks juga bisa membuat tubuh fit dan wajah
lebih segar.

Detoksifikasi sebenarnya istilah kedokteran dengan maksud sebagai
tindakan medis untuk mengeluarkan racun dari bagian tubuh. Kini istilah
itu sangat populer seiring dengan merebaknya klinik detoks. Berdasarkan
penelusuran tim Sigi SCTV, belum lama ini, klinik sedot racun banyak
bermunculan di mal, pusat perbelanjaan bahkan di bilik rumah kampung.
Maklum modal utamanya hanya mesin detoks yang kini diperjualbelikan
secara bebas di pasaran.

Klinik detoks memang seperti sihir yang luar biasa. Hanya dengan
membayar Rp 50 ribu dalam setengah jam racun yang menumpuk di tubuh
konon bisa disedot hingga seember penuh. Seorang wanita yang tengah
menjalani sedot racun di sebuah mal di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta
Utara, berharap kulitnya bisa halus dan lemak-lemak di tubuhnya bisa
lenyap.

Proses penyedotan racun berlangsung singkat. Mula-mula pasien diminta
melepas semua perhiasan yang berbau logam. Konon agar proses
detoksifikasi bisa maksimal. Setelah itu kaki direndam setinggi mata
kaki dalam ember berisi air hangat. Air dialiri listrik bertegangan
rendah yang dihubungkan dengan mesin detoks.

Selanjutnya dalam hitungan menit air di ember pelan-pelan berubah warna.
Dengan muncul warna tertentu berarti kadar dan bentuk racun sudah keluar
dari tubuh. Warna kemerahan dianggap racun dari persendian. Warna
kehijauan adalah racun dari ginjal dan saluran kemih. Sedangkan jika ada
bercak hitam menunjukkan adanya kandungan logam berat yang tersedot dari
tubuh.

Tren sedot racun tubuh kini sangat digandrungi warga. Diperkirakan ada
50 ribu orang setiap harinya memakai alat ini. Maklum terapi ini juga
dipromosikan bisa mengusir lebih dari 10 gangguan kesehatan mulai dari
jerawat, fungsi hati dan ginjal, lemak berlebih, asam urat hingga
meningkatkan kekebalan tubuh.

Kehebatan terapi ion membuat tak sedikit dokter yang berani mengadopsi
ilmu sedot racun gaya Cina ini. Bahkan seorang dokter rehabilitasi medik
terkemuka di Jakarta menjadi salah satu konsultan sebuah merek mesin
detoks. Padahal alat ini belum teruji secara klinis bahkan Departemen
Kesehatan pun tak mengakui sebagai alat medis.

Selain di mal atau klinik resmi, terapi sedot racun mulai merebak hingga
ke kampung-kampung. Hanya saja detoks di rumahan biasanya sangat
sederhana. Alatnya pun dirakit sendiri. Seperti alat detoks buatan Larto
yang dinamai terapi resik. Nama resik adalah kepanjangan dari rendem
sikil alias rendam kaki. Meski sederhana ternyata denyut setrum atau
aliran listriknya lebih terasa dibanding mesin detoks merek paten.

Tidak hanya kliniknya, kini bisnis mesin detoksifikasi juga menjamur di
sejumlah toko. Seorang distributor terkenal mengaku berhasil menjual
hingga 200 mesin. Padahal satu mesin berikut ionizer atau kutub anoda
katoda yang biasanya dicelup ke ember perendaman harganya berkisar
antara empat hingga 12 juta rupiah.

Tim Sigi mencoba membeli satu mesin detoks yang diklaim sebagai buatan
Amerika Serikat di sebuah klinik detoks di Mal Mangga Dua, Jakut. Alat
ini kemudian diuji coba oleh seorang peneliti alat medis. Ketika alat
ini dihidupkan layaknya proses detoksifikasi cuma tanpa mencelupkan
kaki, setengah jam kemudian ember berisi air berubah warna-warni persis
seperti yang dijumpai di klinik detoks.

Alat ini selanjutnya dibawa ke laboratorium biofisika Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa
Timur. Di kampus ini, Profesor Suhariningsih telah lama melakukan
penelitian terhadap alat detoksifikasi yang juga beredar luas di Jatim.
Menurut Guru Besar Fakultas MIPA Unair ini, warna merah, hijau atau
kuning yang keluar dari air sama sekali bukan racun atau kotoran tubuh
yang tersedot mesin detoks.

Suhariningsih berkesimpulan, alat itu hanya alat elektrolisa air yang
berfungsi mengurai ion-ion logam yang ada dalam elektroda yang terendam
air garam hangat. Mesin ini tak lain hanya power supply yang dilengkapi
regulator untuk mengubah dan menurunkan arus listrik. Suharningsih juga
mengingatkan adanya gas klorin yang dihasilkan dari proses elektrolisa
air ini. "Gas klorin sangat berbahaya jika terhirup manusia," kata
Suhariningsih.

Pendapat yang sama dilontarkan Profesor Iwan Darmansjah. Menurut Guru
Besar Farmakologi Universitas Indonesia, sedot racun dengan cara
merendam kaki di bawah aliran listrik tak pernah dikenal dalam dunia
kedokteran. "Kalau memang alat ini ampuh, itu penemuan luar biasa dan
patut mendapat penghargaan Nobel," kata Iwan.

Tapi pendapat itu dibantah dokter Aminudin konsultan detoks E-Puls dan
Suryono seorang manajer klinik detoks. Menurut mereka mesin detoks
benar-benar bisa mengaliri ion negatif yang membuat tubuh lebih sehat.

Alat detoks diakui pula telah memiliki sejumlah sertifikat
internasional. Namun tim Sigi mendapati surat penolakan pemerintah
kepada sebuah perusahaan mesin detoks. Menurut dokter Farid W. Husain,
Direktur Jenderal Pelayanan Medik Depkes, alat ini tidak bisa
dikategorikan sebagai alat kesehatan. "Klinik-klinik itu pun tidak
berizin," kata Farid.

Di Jakarta klinik terapi ion memang tetap laris manis. Namun di berbagai
kota di Jatim tak ada lagi klinik semacam itu yang masih beroperasi.
Maklum Dinas Kesehatan setempat secara tegas telah melarang klinik
detoks. Alasannya terapi ion masih diragukan manfaatnya dan alat seperti
ini tidak teregistrasi di Depkes.

Bahkan Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya berkesimpulan terapi ini
hanya bohong-bohongan belaka seperti hasil uji laboratorium biofisika
Unair. Karena itu, kata Kapolwiltabes Surabaya Komisaris Besar Polisi
Anang Iskandar, polisi menuduh dan menjerat penjual dan pembuat alat ini
dengan Undang-undang Kesehatan, dan UU Perlindungan Konsumen, serta UU
Industri. "Polisi sudah menyita mesin terapi ion dari sejumlah klinik
dan pabrik mesin detoks tak berizin," kata Anang.

Penutupan usaha terapi ion ini juga serempak dilakukan di kota lain. Di
Lamongan para pemilik klinik detoks juga tak boleh beroperasi. Meski ada
yang sembunyi-sembunyi membuka praktik, sejumlah pemilik menyatakan
sangat dirugikan dengan pelarangan ini. Kendati kontroversial, Depkes
mengaku tak punya kewenangan untuk menutup dan melarang klinik serupa
yang kian menjamur di pusat perbelanjaan di sejumlah kota di
Indonesia.(IAN/Tim Sigi)


__._,_.___

Website FEForum : http://groups.yahoo.com/group/feforum
Website Admin FEForum : http://arga21.blogspot.com
Website Indri <Member FEForum> : http://iniparirian.blogspot.com
Website Zeqen <Member FEForum> : http://zeqen.blogspot.com
Website member yang lainnya : silahkan dikirim urlnya ke admin





SPONSORED LINKS
Colleges and universities College and university search College and university information
Colleges and universities in College and university search engine

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke