Note: forwarded message attached.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

Website FEForum : http://groups.yahoo.com/group/feforum
Website Admin FEForum : http://arga21.blogspot.com
Website Indri <Member FEForum> : http://iniparirian.blogspot.com
Website Zeqen <Member FEForum> : http://zeqen.blogspot.com
Website member yang lainnya : silahkan dikirim urlnya ke admin





SPONSORED LINKS
Colleges and universities College and university search College and university information
Colleges and universities in College and university search engine

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
--- Begin Message ---
 
----- Original Message -----
From: raya dean
Sent: Monday, October 09, 2006 2:40 PM
Subject: Fwd: (T.T)



Note: forwarded message attached.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
--- Begin Message ---
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. 
Hari demi hari,orang tuaku membajak tanah kering
kuning, dengan punggung mereka yang berpeluh menghadap
ke langit. 
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda
dariku. 
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci
ayahku.

Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan
aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat
bambu di tangannya. 
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. 
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.

Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau
mengatakan, 
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" 
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. 
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, 
"Ayah, aku yang melakukannya!" 
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi.

Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus
mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata
kami dan memarahi, 
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, 
hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? ... 
Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak
tahu malu!" 
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami.

Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan
air mata setetes pun. 
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. 
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, 
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah
terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. 
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. 
Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. 
Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, 
ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. 
Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke
sebuah universitas propinsi. 
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok
tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, 
"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..." 
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela
nafas, 
"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai
keduanya sekaligus?" 
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata,
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
wajahnya. 
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat
lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan 
saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" 
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun
itu untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
muka adikku yang membengkak,
dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini." 
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, 
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai
pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
secarik kertas di atas bantalku: 
"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan
pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, 
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku
hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. 
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, 
dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen
pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya
sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang
penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada
seorang penduduk dusun mencariku?
Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. 
Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada
teman sekamarku kamu adalah adikku?" 
Dia menjawab, tersenyum, 
"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka
pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka
tidak akan menertawakanmu?" 
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.

Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan
tersekat-sekat dalam kata-kataku, 
"Aku tidak perduli omongan siapapun! Kamu adalah
adikku apa pun juga! 
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." 
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu- kupu. 
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, 
"Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memilikinya."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. 
Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah,
kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan
bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil
di depan ibuku. 
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu
untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum, 
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan
rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya?
Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku.

Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya
dan mebalut lukanya. 
"Sakit, dik...?" Aku menanyakannya. 
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada
kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku
bekerja dan..." 
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku telah membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air
mata mengalir deras turun ke wajahku. 
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sering kali
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang
dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah
mau. 
Mereka mengatakan, setiap meninggalkan dusun, mereka
tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Adikku tidak setuju juga, mengatakan, 
"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan
ayah di sini." 
Suamiku menjadi direktur di pabriknya. 
Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai
manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku
menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai
bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, Ketika ia mendapat sengatan
listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi
menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya
menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang
berbahaya seperti ini. 
Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. 
Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. 
"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
saya hampir tidak berpendidikan.
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti
apa yang akan dikirimkan?" 
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. 
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. 

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu.
Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya, 
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. 
"Ketika saya pergi sekolah SD, yang terletak di dusun
yang berbeda.
Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam
untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu
hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. 
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya
memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami
tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca
yang begitu dingin 
sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. 
Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih
hidup, 
saya akan menjaga kakakku dan akan selalu baik
kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku. 
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, 
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih
adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, 
di depan kerumunan perayaan ini, 
air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six
times"
Diambil dari seorang teman


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--- End Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke