thanks artikelnya.
marhaban ya ramadhan

--- On Wed, 8/4/10, Arga <[email protected]> wrote:

From: Arga <[email protected]>
Subject: {~FEFORUM~} 16 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan
To: "kisah" <[email protected]>
Date: Wednesday, August 4, 2010, 11:00 AM







 



  


    
      
      
      


 
- 


السلام عليكم ورحمته 
الله وبركا تها
semoga bermanfaat
wass....zainal 

16 Kekeliruan Umum Selama 
Ramadhan
 

Meski Ramadhan bulan adalah bulan 
ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah 
ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama 
Ramadhan 

Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera 
bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun 
batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari 
puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i) 


Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa 
ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan 
yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat 
memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan 
bermakna. 
1. Merasa sedih, 
malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan 

Acapkali perasaan malas segera 
menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. 
Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan 
aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada 
produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk 
mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat 
bahwa kemenangan-kemenang an besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang 
disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, 
terjadi di tengah bulan Ramadhan. 

Semoga ini menjadi motivator bagi kita 
semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata 
“Aku sedang puasa”. 
2. 
Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu 

Ini penyakit yang --diakui atau 
tidak-- menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup 
dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah 
shalat 
fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang 
tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah 
satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari 
dirinya. 

3. Berlebih-lebihan dan 
boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur 

Ini biasanya menimpa sebagian 
umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah 
berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma 
mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat 
berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit 
mereka 
sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 
tahun yang baru belajar puasa kemarin sore. 
4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat 

Asal makna berpuasa bermakna 
menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita 
bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa 
Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; 
Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari. 

Kesimpulannya, jika 
yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih 
dilarang. 

Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik 
kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, 
dsb. 

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, 
ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya 
(pahala puasanya tertolak). 
5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka 
sehingga melupakan shalat maghrib 

Para pelaku poin ini biasanya 
derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa 
tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya 
harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. 
Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan) . 
6. Masih tidak merasa malu membuka aurat 
(khusus wanita muslimah) 

Sebenarnya momen Ramadhan bila 
dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian 
hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala 
tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, 
misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari 
kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan 
dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula 
jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial 
(setengah-setengah) , tidak utuh. 
6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur 
berlebihan 

Barangkali ini adalah akibat dari 
pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya 
orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari 
adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang 
dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk 
sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar 
bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental 
loyo saat berpuasa Ramadhan. 

Lebih tepat bila hadits diatas difahami 
dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ; 


Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik 
kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ 
dsb. 

Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail 
(menghidupkan saat malam hari dengan ibadah) 

Tidur itu diniatkan untuk 
menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar 
rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing) , menonton 
acara-acara 
yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb. 

Pemahaman hadits 
diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut 
orang 
yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila 
difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak 
proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan 
mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, 
faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap 
karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya 
secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau 
gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan) 
7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa 
udzur/halangan 

Benar bahwa shalat tarawih adalah 
sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa 
berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, 
mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib. 

8. Masih sering 
meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( 
terutama untuk laki-laki muslim ) 

Hukum shalat fardhu secara 
berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada 
yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits 
Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum 
Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas 
kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid. 

9. Bersemangat dan sibuk 
beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu 
lima waktu masih tetap saja dilalaikan 

Ini pun contoh dari orang yang 
tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. 
Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah 
saja, 
semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah 
shalat 
fardhunya. 
10. Semakin 
jarang membaca Al Qur'an dan maknanya 
 
11. Semakin jarang bershadaqah 
 
12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan 

 
13. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu 
malam Lailatul Qadar 


Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 
13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi 
yang 
dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian 
dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang 
dijalankannya selama Ramadhan. 
14. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan 
Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan 
Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah) 
 
15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, 
camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir 
bulan Ramadhan 
 
16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada 
amalan puasa 


Mereka lebih sibuk apa yang 
dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini 
diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami 
poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana 
Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah 
menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa 
yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, 
pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa 
saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah 
mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. 
Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan 
agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan 
berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, 
dapat 
menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”. 

Semoga Allah menganugerahi 
kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang 
kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, 
perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik 
kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab. 
 
From: arthur_...@senayan- square.co. id 



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke