Berikut saya forward-kan hasil tulisan Pak Awang yang 2 minggu lalu hadir
diacara kuliah umum Prof.Mutti di Kampus Geologi Trisakti. (kebetulan saya
juga ikutan nongol disana, ambil cuti dari kantor demi ketemu Prof.Mutti,
hehe)

silahkan dinikmati dan diresapi :

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jakarta, 15 Maret 2012 di kampus geologi Trisakti, seorang tokoh geologi
terkenal di dunia mengajar tentang sedimentologi endapan sungai sampai
paparan. Kali ini dia tidak mengajar tentang endapan laut dalam, atau
secara umum disebut turbidit, yang membawa namanya mendunia. Dialah Prof.
Emiliano Mutti, 80 tahun, seorang gurubesar emeritus dari University of
Parma, Italia.

Mahasiswa2 dan para profesional geologi di seluruh dunia mestinya pernah
mendengar nama tokoh ini, paling tidak membaca namanya di kuliah2
sedimentologi, khususnya tentang turbidit, bersama ahli2 sedimentologi lain
yang mengkhususkan diri dalam sedimentologi turbidit (Kuenen, Migliorini,
Bouma, Walker, Mutti, Ricci Lucchi, dll.).

Publikasi klasiknya yang terkenal bersama Ricci Lucchi (Mutti & Ricci
Lucchi, 1972; Turbidites of the Northern Apennines: introduction to facies
analysis, International Geology Review, v. 20, p. 125-166, menjadi banyak
acuan di seluruh dunia. Di publikasi ini muncul “deep-sea fan model” (model
kipas laut-dalam), yang membagi fan system menjadi; canyon, inner-, middle-
dan outer-fan facies yang secara distal menerus ke basin-plain strata. Di
setiap facies itu ditunjukkan model fasiesnya, misal inner chanellized fan,
distributary system, atau thickening-upward prograding outer fan sequence.
Mutti dan Ricci Lucchi juga menemukan bahwa kipas bawahlaut ini mirip delta
di daerah transisi daratan-lautan.

Empat puluh tahun kemudian setelah publikasi tersebut, Mutti melakukan
kuliah umum di Trisakti Jakarta, kali ini bukan tentang deep-sea fan
modelnya yang terkenal itu, tetapi kali ini dia bergerak jauh ke daratan ke
endapan sungai-laut dangkal. Tetapi yang lebih menarik buat saya untuk
menghadiri kuliahnya adalah bukan kuliah sedimentologinya (sebab itu bisa
dipelajari di publikasi2-nya), tetapi tentang filosofi hidup geologi yang
dijalaninya dengan konsisten sampai kini ia berusia 80 tahun.

Prof. Mutti dua minggu lalu ada di sekitar Asia Tenggara untuk beberapa
presentasi undangan di Brunei, Bangkok; dan atas sponsor Statoil,
perusahaan minyak dari Norwegia yang bekerja di Indonesia, Prof. Mutti
diundang berbicara di dua kesempatan di Jakarta: di depan para profesional
perminyakan di bawah acara luncheon talk Indonesian Petroleum Association
(IPA) (Kamis, 14 Maret 2013) dan di depan para mahasiswa geologi di kampus
Trisakti (Jumat, 15 Maret 2013).

Saya memilih mendengarkan kuliah umum Prof. Mutti di Trisakti, di samping
bisa lebih frontal mendengarnya karena saya bisa duduk paling depan di
ruang kuliah, juga berharap bisa lebih pribadi (ngobrol-ngobrol dengannya).
Dan interaksi selama dua jam tersebut lumayan menanamkan beberapa filosofi
dasar bagaimana seharusnya bergeologi.

Sebagai seorang pekerja, periset dan guru yang mendasarkan penelitian dan
pekerjaannya atas data batuan, selama puluhan tahun, sampai usianya kini 80
tahun, tentu akan banyak pengalaman yang bisa dipetik darinya. Belajar
geologi, bisa dari textbook dan paper, tetapi belajar bagaimana seseorang
mengembangkan karier geologinya sampai puncak, baik langsung
ngobrol-ngobrol dengannya, agar tahu pahit-manis, jatuh-bangun bagaimana
mengembangkan dirinya. Berikut beberapa yang saya catat dari Emiliano Mutti.

1. MEMPELAJARI SEGALA SESUATU HARUS HOLISTIK
Mutti memang terkenal dengan konsep deep-sea fan-nya, tetapi dia tidak
memelajari turbidit langsung ke kipas bawahlautnya, dia memelajari nya
sejak pegunungan, sungai, delta, paparan, lereng, sampai lautdalam. Jangan
mengisolasinya, bisa keliru. Pelajari regionalnya, dan gunakan semua ilmu
yang berhubungan, tidak hanya sedimentologi, tetapi juga tektonik misalnya.

2. BANYAK MODEL DIKEMBANGKAN, PAKAI MODEL YANG PALING SESUAI
Banyak model turbidit dikembangkan, pakailah model yang secara geologi
cocok dengan wilayah penelitian. Model turbidit Gulf of Mexico yang passive
margin mungkin berbeda dengan model Apennina yang active margin. Lihat dulu
tataan regional geologi wilayah penelitian dan pakailah yang paling sesuai.
Jangan asal pakai model dan memaksakan menyesuaikannya.

3. PEKERJAAN GEOLOGI ADALAH PEKERJAAN LAPANGAN
Nasihat Mutti: You must have VERY STRONG PASSION ON FIELD GEOLOGY, or you
will give up soon on fieldwork. Pekerjaan fieldwork geologi jauh lebih
kompleks dan sulit daripada pekerjaan workstation. Jangan ingin buru-buru,
lihat skala besarnya dulu, baru ke skala detail, lihat berulang-ulang.
Setelah itu pun jangan berharap kita akan mengerti 100 % tentang singkapan
tersebut. NO SHORCUT IN GEOLOGY, IF WE SHOULD SUFFER JUST SUFFER ! Fotolah
setiap singkapan dengan baik, banyak foto dari berbagai sudut, tiga puluh
tahun kemudian mungkin kita baru mengerti tentang singkapan tersebut, kalau
banyak foto yang baik atas singkapan tersebut.

4. ONE OUTCROP OR ONE SECTION ONLY IS SCIENTIFIC CRIMINAL!
Dengan keras Mutti menyatakan ini. Bangunlah banyak section, bangunlah
banyak outcrop study sebab geologist harus berpikir dalam ruang dan waktu,
bagaimana suatu outcrop atau section berhubungan dengan barat, utara,
timur, selatannya, bagaimana hubungannya dengan masa yang lebih lampau, dan
sebagainya. Analisis ruang dan waktu tak bisa dibangun atas satu penampang
atau satu singkapan saja, bila mengevaluasi daerah dengan satu data itu,
itu namanya kejahatan ilmiah, scientific criminal!

5. GEOLOGY IS MOVING BIBLE, NOT A BIBLE
Meskipun geologi dibangun atas pengetahuan yang sudah dikembangkan hampir
250 tahun sejak James Hutton, belum semuanya kita tahu, dan kita tahu
dengan pasti, mungkin suatu waktu pengetahuan yang sistematik itu berubah.
Pada saat itu terjadi, ingatlah bahwa pengetahuan manusia tidak sempurna.

6. ANAK-ANAK MUDA SEKARANG KURANG MEMBACA DAN KURANG KE LAPANGAN
Mereka begitu senang dengan workstation, kurang ke lapangan; termasuk
membaca paper pun di komputer. Kalau saya membaca paper, saya akan cetak
paper itu, saya akan mencoret-coretnya dengan banyak tanda garis atau
stabilo sambil memikirkannya, begitulah seharusnya orang membaca paper.
Dan, banyaklah membaca. THE MORE YOU READ, THE MORE YOU UNDERSTAND.

Terakhir, Prof Mutti menceritakan tentang seseorang di mana dia pernah
bekerja lama, Petrobras Brazil, yang belakangan sukses dengan eksplorasi
lautdalamnya di Santos Basin, orang ini bukan geologist, tetapi karena
posisinya sebagai Operations Manager, dia banyak mengeksekusi program2
eksplorasi, dan orang ini sering mengatakan, “I do not believe anything,
but rocks!” (begitu tingginya penghargaannya atas batuan, masakan geologist
tidak…)
Demikian Prof. Emiliano Mutti, di usianya yang tahun ini mencapai 80 tahun.
Banyak filosofi kehidupan geologinya yang menarik untuk direnungi. Semoga
bermanfaat.

Salam,
Awang

Kirim email ke