selamat pagi... bagus sekali... memang seharusnya geologist itu pekerjaan lapangan.. terkadang kita saat ini mendewakan sekali yg namanya software, padahal kalau dipikir" software itu hanya tools yg hanya akan membantu logika usernya. tanpa logika user yg jitu maka hasilnya juga tidak akan akurat. kalau kata bule" tuh "garbage in garbage out".
sekaligus, saya sempat berdiskusi kepada salah satu mahasiswa, dan dari mahasiswa itu belajar yg sangat advance sekali (AVO dll) akan tetapi ketika saya coba tanya basic polarity atau cara menghitung koefisien refleksi pun tidak bisa. sehingga sesuatu yg advance itu akan menjadi tidak sempurna ketika basic nya juga mentah. so back to basic! bagus sekali mas avel atas sharingnya... lam salam, Koko Sent from my iPad On Mar 26, 2013, at 11:28 AM, Aveliansyah <[email protected]> wrote: > Berikut saya forward-kan hasil tulisan Pak Awang yang 2 minggu lalu hadir > diacara kuliah umum Prof.Mutti di Kampus Geologi Trisakti. (kebetulan saya > juga ikutan nongol disana, ambil cuti dari kantor demi ketemu Prof.Mutti, > hehe) > > silahkan dinikmati dan diresapi : > > --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- > Jakarta, 15 Maret 2012 di kampus geologi Trisakti, seorang tokoh geologi > terkenal di dunia mengajar tentang sedimentologi endapan sungai sampai > paparan. Kali ini dia tidak mengajar tentang endapan laut dalam, atau secara > umum disebut turbidit, yang membawa namanya mendunia. Dialah Prof. Emiliano > Mutti, 80 tahun, seorang gurubesar emeritus dari University of Parma, Italia. > > Mahasiswa2 dan para profesional geologi di seluruh dunia mestinya pernah > mendengar nama tokoh ini, paling tidak membaca namanya di kuliah2 > sedimentologi, khususnya tentang turbidit, bersama ahli2 sedimentologi lain > yang mengkhususkan diri dalam sedimentologi turbidit (Kuenen, Migliorini, > Bouma, Walker, Mutti, Ricci Lucchi, dll.). > > Publikasi klasiknya yang terkenal bersama Ricci Lucchi (Mutti & Ricci Lucchi, > 1972; Turbidites of the Northern Apennines: introduction to facies analysis, > International Geology Review, v. 20, p. 125-166, menjadi banyak acuan di > seluruh dunia. Di publikasi ini muncul “deep-sea fan model” (model kipas > laut-dalam), yang membagi fan system menjadi; canyon, inner-, middle- dan > outer-fan facies yang secara distal menerus ke basin-plain strata. Di setiap > facies itu ditunjukkan model fasiesnya, misal inner chanellized fan, > distributary system, atau thickening-upward prograding outer fan sequence. > Mutti dan Ricci Lucchi juga menemukan bahwa kipas bawahlaut ini mirip delta > di daerah transisi daratan-lautan. > > Empat puluh tahun kemudian setelah publikasi tersebut, Mutti melakukan kuliah > umum di Trisakti Jakarta, kali ini bukan tentang deep-sea fan modelnya yang > terkenal itu, tetapi kali ini dia bergerak jauh ke daratan ke endapan > sungai-laut dangkal. Tetapi yang lebih menarik buat saya untuk menghadiri > kuliahnya adalah bukan kuliah sedimentologinya (sebab itu bisa dipelajari di > publikasi2-nya), tetapi tentang filosofi hidup geologi yang dijalaninya > dengan konsisten sampai kini ia berusia 80 tahun. > > Prof. Mutti dua minggu lalu ada di sekitar Asia Tenggara untuk beberapa > presentasi undangan di Brunei, Bangkok; dan atas sponsor Statoil, perusahaan > minyak dari Norwegia yang bekerja di Indonesia, Prof. Mutti diundang > berbicara di dua kesempatan di Jakarta: di depan para profesional perminyakan > di bawah acara luncheon talk Indonesian Petroleum Association (IPA) (Kamis, > 14 Maret 2013) dan di depan para mahasiswa geologi di kampus Trisakti (Jumat, > 15 Maret 2013). > > Saya memilih mendengarkan kuliah umum Prof. Mutti di Trisakti, di samping > bisa lebih frontal mendengarnya karena saya bisa duduk paling depan di ruang > kuliah, juga berharap bisa lebih pribadi (ngobrol-ngobrol dengannya). Dan > interaksi selama dua jam tersebut lumayan menanamkan beberapa filosofi dasar > bagaimana seharusnya bergeologi. > > Sebagai seorang pekerja, periset dan guru yang mendasarkan penelitian dan > pekerjaannya atas data batuan, selama puluhan tahun, sampai usianya kini 80 > tahun, tentu akan banyak pengalaman yang bisa dipetik darinya. Belajar > geologi, bisa dari textbook dan paper, tetapi belajar bagaimana seseorang > mengembangkan karier geologinya sampai puncak, baik langsung ngobrol-ngobrol > dengannya, agar tahu pahit-manis, jatuh-bangun bagaimana mengembangkan > dirinya. Berikut beberapa yang saya catat dari Emiliano Mutti. > > 1. MEMPELAJARI SEGALA SESUATU HARUS HOLISTIK > Mutti memang terkenal dengan konsep deep-sea fan-nya, tetapi dia tidak > memelajari turbidit langsung ke kipas bawahlautnya, dia memelajari nya sejak > pegunungan, sungai, delta, paparan, lereng, sampai lautdalam. Jangan > mengisolasinya, bisa keliru. Pelajari regionalnya, dan gunakan semua ilmu > yang berhubungan, tidak hanya sedimentologi, tetapi juga tektonik misalnya. > > 2. BANYAK MODEL DIKEMBANGKAN, PAKAI MODEL YANG PALING SESUAI > Banyak model turbidit dikembangkan, pakailah model yang secara geologi cocok > dengan wilayah penelitian. Model turbidit Gulf of Mexico yang passive margin > mungkin berbeda dengan model Apennina yang active margin. Lihat dulu tataan > regional geologi wilayah penelitian dan pakailah yang paling sesuai. Jangan > asal pakai model dan memaksakan menyesuaikannya. > > 3. PEKERJAAN GEOLOGI ADALAH PEKERJAAN LAPANGAN > Nasihat Mutti: You must have VERY STRONG PASSION ON FIELD GEOLOGY, or you > will give up soon on fieldwork. Pekerjaan fieldwork geologi jauh lebih > kompleks dan sulit daripada pekerjaan workstation. Jangan ingin buru-buru, > lihat skala besarnya dulu, baru ke skala detail, lihat berulang-ulang. > Setelah itu pun jangan berharap kita akan mengerti 100 % tentang singkapan > tersebut. NO SHORCUT IN GEOLOGY, IF WE SHOULD SUFFER JUST SUFFER ! Fotolah > setiap singkapan dengan baik, banyak foto dari berbagai sudut, tiga puluh > tahun kemudian mungkin kita baru mengerti tentang singkapan tersebut, kalau > banyak foto yang baik atas singkapan tersebut. > > 4. ONE OUTCROP OR ONE SECTION ONLY IS SCIENTIFIC CRIMINAL! > Dengan keras Mutti menyatakan ini. Bangunlah banyak section, bangunlah banyak > outcrop study sebab geologist harus berpikir dalam ruang dan waktu, bagaimana > suatu outcrop atau section berhubungan dengan barat, utara, timur, > selatannya, bagaimana hubungannya dengan masa yang lebih lampau, dan > sebagainya. Analisis ruang dan waktu tak bisa dibangun atas satu penampang > atau satu singkapan saja, bila mengevaluasi daerah dengan satu data itu, itu > namanya kejahatan ilmiah, scientific criminal! > > 5. GEOLOGY IS MOVING BIBLE, NOT A BIBLE > Meskipun geologi dibangun atas pengetahuan yang sudah dikembangkan hampir 250 > tahun sejak James Hutton, belum semuanya kita tahu, dan kita tahu dengan > pasti, mungkin suatu waktu pengetahuan yang sistematik itu berubah. Pada saat > itu terjadi, ingatlah bahwa pengetahuan manusia tidak sempurna. > > 6. ANAK-ANAK MUDA SEKARANG KURANG MEMBACA DAN KURANG KE LAPANGAN > Mereka begitu senang dengan workstation, kurang ke lapangan; termasuk membaca > paper pun di komputer. Kalau saya membaca paper, saya akan cetak paper itu, > saya akan mencoret-coretnya dengan banyak tanda garis atau stabilo sambil > memikirkannya, begitulah seharusnya orang membaca paper. Dan, banyaklah > membaca. THE MORE YOU READ, THE MORE YOU UNDERSTAND. > > Terakhir, Prof Mutti menceritakan tentang seseorang di mana dia pernah > bekerja lama, Petrobras Brazil, yang belakangan sukses dengan eksplorasi > lautdalamnya di Santos Basin, orang ini bukan geologist, tetapi karena > posisinya sebagai Operations Manager, dia banyak mengeksekusi program2 > eksplorasi, dan orang ini sering mengatakan, “I do not believe anything, but > rocks!” (begitu tingginya penghargaannya atas batuan, masakan geologist > tidak…) > Demikian Prof. Emiliano Mutti, di usianya yang tahun ini mencapai 80 tahun. > Banyak filosofi kehidupan geologinya yang menarik untuk direnungi. Semoga > bermanfaat. > > Salam, > Awang
