Hadis Paling Sekuler

 

Ide sekularisasi terletak pada diperlukannya pemisahan antara agama dan no-agama. Pemisahan tersebut dipandang perlu mengingat nilai agama yang absolut dan anti keritik, sementara kondisi dan tuntutan zaman selalu mengalami perubahan. Selain alatas perubahan zaman (argumentasi aqli), terdapat pula alasan naqli yang mendasari gerakan ini, di antaranya adalah dua hadis berikut ini;

Dari Aisyah, dari Tsabir, dari Anas dikisahkan bahwa �Nabi Saw lewat ke suatu kaum yang sedang melakukan penyerbukan, maka beliau bersabda; �Kalau kalian tidak melakukannya pasti baik. Anas berkata; Maka tumbuhlah kurma yang jelek. Kemudian beliau Saw berpapasan dengan mereka dan bertanya; Bagaimana kurma kalian? Mereka menjawab; Anda telah mengatakan demikian dan demikian.� Beliau bersabda; �Kalian lebih tahu urusan dunia kalian (antum a`lamu biamri dunyaakum)�.

          Dalam hadis yang lain, beliau Saw bersabda, �Sesungguhnya saya adalah seorang manusia, apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu dari urusan agama kalian maka kalian taati, dan apabila aku perintahkan sesuatu dari pendapatku maka sesungguhnya aku adalah seorang manusia biasa.� dan kemudian diakhir beliau bersabda: �Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.�[1]

Kedua hadis di atas adalah hadis paling sekuler yang pernah saya temukan, sehingga tidaklah mengapa bahkan sebuah keharusan bagi umat Islam memilah antara urusan agama dan urusan dunia. Keduanya juga seakan ingin mengatakan bahwa permasalahan-permasalahan akhirat (agama) itu adalah urusannya para nabi, dan sementara urusan-urusan duniawi biarkan kalian urusi sendiri, karena kalian lebih tahu dan lebih mengerti akan hal itu.  

 

Nabi ingin bercuci tangan

Mengatakan sesuatu yang tidak diketahui tidaklah akan menunjukkan apapun selain kebodohan yang dimiliki pelakunya. Seandainya beliau tidak tahu bagaimana praktek pengawinan kurma, lalu kenapa beliau sok tahu dan memaksakan diri memerintahkan sesuatu yang terbukti menimbulkan kegagalan panen. Bukankah beliau pernah bersabda; �keselamatan seseorang terletak pada penjagaan lisan� dan bagaimana pula dengan wahyu yang diturunkan kepadanya;� Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. �(QS. Al-Isra: 36), sementara beliau sendiri mengatakan sesuatu yang beliau tidak tahu tentangnya  

Mungkinkah Nabi al-amin Saw ingin berlepas diri dari apa yang telah diucapkannya? Dari latar belakang hadis di atas, nampak sekali kalau beliau ingin bercuci tangan dan tidak mau bertanggungjawab atas ucapannya, sementara kerugian akibat gagal panen sudah tidak terelakkan lagi. Nabi nampak tidak merasa bersalah sehingga tidak perlu meminta maaf atas kejadian itu, bahkan menyuruh mereka mengurus sendiri tanaman kurmanya, karena beliau sebenarnya tidak begitu mengerti tentang itu.



[1] Shah�h Muslim, juz 7, kitab KeutamaanKeutamaan, bab Keharusan mengikuti apa yang beliau sabdakan  sebagai syara dan bukan apa yang beliau sabdakan sebagaii urusan-urusan manusia berdasarkan pendapat pribadi.


Discover Yahoo!
Get on-the-go sports scores, stock quotes, news & more. Check it out!

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke