Setelah saya mendiskusikan dan membaca beberapa buku berkaitan dengan pertanyaan2 seputar keadilan Tuhan, saya akan berbagi apa yang saya pahami, sekalipun - jujur saja- masih banyak kebingungan di sana sini.
Apakah yang dimaksud dengan adil?
Adil sering diartikan sebagai meletakkan sesuatu pada tempatnya, atau memberikan sesuatu sesuai dengan kadar porsinya. Memasukkan nasi ke dalam mulut bayi berusia dua hari tentu itu sebuah tindakan tidak adil, atau mengajarkan fisika kelas 3 SMA ke anak tingkat kelas 3 SD adalah sebuah kedzaliman, karena memberikan sesuatu bukan pada tempat dan porsinya.
Terkadang adil diartikan sebagai persamaan. Pengertian ini tidaklah bertentangan dengan yang pertama, dan bahkan perluasan darinya. Seandainya tiga orang siwa memiliki kemampuan dan prestasi akademik yang sama, dan lau sang guru memberikan penilaian yang berbeda, maka ia telah berbuat dzalim kepada dua atau salah satu dari ketiga anak tersebut. Guru tersebut seharusnya memberikan penilaian yang sama kepada ketiganya, dan inilah yang disebut adil.
Dari kedua definisi tadi, saya menyimpulkan bahwa keadilan atau kedzaliman berkaitan erat dengan perbedaan dan pembedaan. Sebuah perlakuan akan disebut sebagai dzalim ketika mengindikasikan adanya pembedaan di dalamnya, padahal kadar kemampuan menerimanya sama. Namun jika perlakuan berbeda diberikan karena ada perbedaan kadar kemampuan dan kesanggupan di antara penerimanya, maka itu tidaklah disebut kedzaliman. Dan perlakuan sama kepada mereka yang memiliki perbedaan adalah sebuah kedzaliman.
Bagaimana dengan perlakuan berbeda Allah kepada makhluk-Nya?
Terlebih dahulu �dengan melihat dua definisi di atas- kita harus melihat apakah yang diperlakukan beda itu memiliki kadar yang sama atau memang kadarnya berbeda-beda? Jika sama, maka pembedaan itu tentu sebuah kedzaliman. Artinya Allah telah dzalim jika memperlakukan berbeda antara dua atau lebih sesuatu yang kadar kemampuan dan potensi menerima atas sebuah anugrah adalah sama. Dan jika pembedaan itu karena memang kadar mereka yang berbeda, maka perlakuan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai dzalim, bahkan ia adalah keadilan itu sendiri, dan ini lebih tepat disebut sebagai perbedaan, bukan pembedaan, karena sebab perbedaan berasal dari obyek (makhluk)nya, dan bukan dari subjek (Khalik)nya.
kibroto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
# Pertanyaan pertama, adil menurut siapa? Pertanyaan kedua, apakah
ia HARUS adil? Haruskah Tuhan TUNDUK pada definis adil kita?
Haruskah Dia adil, apapun definisinya? Pertanyaan ini melebar, Tuhan
pengasih & penyayang bagi siapa? Haruskah Tuhan tunduk kepada
manusia bahwa Ia harus adil, pengasih, penyayang, anu, anu, anu.
Bukankah Ia makluk yang bebas? Bukankah Ia punya hak prerogatipnya
untuk ndak adil, ndak penyayang, kejam, bengis, keji, dst? Suka2
dia, to? Gelar2 Tuhan maha ini maha itu seolah menjadi Tuhan HARUS
ini HARUS itu. Jika begini caranya, maka Tuhan menjadi hamba
manusia, bukan?
Tanpa disadari hal2 itu mereduksi dan memarjinalken Tuhan menjadi
apa yang ideal menurut manusia. Ia tidak menjadi diriNya tetapi
menjadi proyeksi manusia.
--- In [email protected], hasan mawardi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Adilkah Tuhan?Kenapa di dunia ini ada yang bekulit putih dan yang lain hitam? Kenapa ada orang yang cantik dan ganteng, sementara yang lain jelek? Kenapa saya terlahir dari keluarga miskin sehingga kesulitan demi kesulitan selalu menghantui? Kenapa ada orang yang terlahir sempurna, semntara yang lainnya dalam keadaan cacat? Mereka yang berparas cantik dan ganteng akan lebih bisa diterima bila dibandingkan dengan si buruk rupa. Di akui atau tidak, cantik dan ganteng adalah syarat tidak tertulis, tapi justru sangat menentukan
kesuksesan karir seseorang. Atau pertanyaan lainnya; kenaap harus ada ada gempa, banjir, kebakaran hutan, sunami, gunung meletus, penyakit, dlsb?
Konon semua yang ada ini, berupa kebaikan atau keburukan, adalah ujian dari-Nya. Sejauh yang saya ketahui, ujian
berfungsi untuk mengetahui apa yang tidak kita ketahui sehingga menjadi tahu bagaimana yang sebenarnya. Seandainya sudah tahu, maka ujian menjadi tidak perlu lagi. Dan kalau pun dipaksakan tetap ada ujian, maka ia tidak akan bernilai dan hanya sekedar formalitas saja.
> Bagaimana dengan Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Tahu,
apakah fungsi ujian bagi-Nya, padahal Ia Maha Tahu segala hal yang nampak dan tersembunyi? Untuk sekedar formalitas, atau iseng-iseng saja?
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
[EMAIL PROTECTED]
