Note: forwarded message attached.


Start your day with Yahoo! - make it your home page

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Bahasa indonesia Philosophy Humanities
Diskusi Citizens of humanity Citizens of humanity jeans


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---

The End of Human[ity]

 

Oleh:

Audifax[1]

 

 

Step by step
Heart to heart
Left right left
We all fall down like toy soldiers

Bit by bit
Torn apart
We never win
But the battle wages on for toy soldiers

 

Dikutip dari lagu “Toy Soldier” – Martika

 

 

Pagi ini, 24 Juli 2005, saya membaca berita yang menggambarkan satu lagi peristiwa pengeboman. Dalam sebulan ini setidaknya ada sejumlah berita pengeboman yang mengguncang dunia. Belum habis perbincangan mengenai pengeboman di Inggris pada 7 Juli 2005, yang diikuti pengeboman kedua di negeri kerajaan itu. Dua hari setelah teror kedua di stasiun kereta bawah tanah di London, Inggris, aksi terorisme kembali muncul di kawasan Laut Merah. Tiga bom mengguncang Sharm el-Sheikh, kawasan wisata terkemuka Mesir di Semenanjung Sinai.


Sedikitnya 88 orang tewas -termasuk sembilan turis asing- dan 119 luka-luka dalam ledakan yang menyerang sebuah hotel mewah serta kafe. Serangan bom itu tercatat yang terburuk sepanjang sejarah Mesir. Selama ini, Sharm el-Sheikh merupakan kawasan wisata favorit di Laut Merah. Bahkan, lokasi tersebut sering dipakai sebagai lokasi konferensi dan pertemuan antara para pemimpin Timur Tengah dan negara-negara Barat. Apa yang dicari orang-orang ini?

 

Di awal Mei lalu, di sebuah kafe di Bandung, Saya bersama Yasraf Amir Piliang, Donny Gahral Adian, Alfahthri Adlin, Kurniasih dan seorang dosen dari Unpar berdiskusi mengenai militansi para pelaku pengeboman yang mengatasnamakan agama sebagai pembenaran perilakunya. Salah satunya kami memperbincangkan kontekstualisasi dari salah satu pemikiran Roland Barthes, seorang semiolog dari Perancis. Barthes pernah mengatakan bahwa kejahatan itu layaknya sebuah palung yang begitu dalam, yang menyerap hal-hal baik yang ada di atasnya. Logika ini tak bisa dibalik. Ya, perbincangan itu kembali menemukan kontekstualisasinya pada sejumlah pengeboman itu.

 

Agama, yang pada dasarnya mengajarkan kebaikan, telah terserap dalam palung tafsir yang akhirnya justru menghasilkan kejahatan. Celakanya, karena ia mengatasnamakan agama, maka tak pernah ada kesadaran bahwa yang dilakukan adalah sebuah kejahatan. Saya akan mencoba me-review kembali berita mengenai pengeboman serupa yang terjadi hampir 3 tahun lalu di Bali, agar kita bisa menelisik kembali logika yang ada di benak pelaku pengeboman.

 

 

Begitu dijatuhi hukuman mati di depan sidang kasus bom Bali di Gedung Narigraha Denpasar, Rabu (10/9), terdakwa Abdul Azis alias Imam Samudra (33), langsung memekikkan gema takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar."

 

Tidak pernah ada sikap atau perasaan menyesal sekalipun dari Imam Samudra atas perbuatan yang telah dilakukannya, yang tidak saja telah menimbulkan banyak korban jiwa, juga harta benda dan fasilitas umum lainnya. Bahkan, kata hakim, saat jaksa menuntut yang bersangkutan dengan hukuman mati pun, mimik wajah dan sikap Imam Samudra tetap tidak menunjukkan perubahan. "Terdakwa tetap bermimik wajah menantang dan sepertinya tidak pernah merasa berdosa," ujar hakim[2].

 

Ada suatu logika bahwa apa yang dilakukannya atas nama Tuhan. Implikasinya, mereka merasa kematian justru akan menghantar mereka menuju surga. “Tanah Terjanji” yang kerap dijanjikan oleh pemuka-pemuka agama pada umatnya. Inilah implikasi dari ajaran-ajaran mengenai “Tanah Terjanji” yang diberikan sebatas kontekstual.

 

"Saya tidak takut dihukum mati, karena apa yang selama ini saya lakukan telah berada di jalan Allah, dan sesuai dengan ajaran Islam," kata Imam Samudra saat menyampaikan pledoi di depan sidang kasus bom Bali, di Denpasar, Senin (11/8).

Di hadapan majelis hakim diketui I Wayan Sugawa SH, Imam menegaskan, meski tidak takut dihukum mati, namun pernyataannya ini tidak dimaksudkan untuk menantang hakim. "Saya tidak bermaksud menantang hakim, namun tidak lebih dari sekadar ungkapan jiwa yang merasa bertanggung jawab atas semua operasi jihad yang selama ini dilakukan kaum muslim," ucapnya.

Imam justru menyayangkan pernyataan sejumlah muslim yang ikut-ikutan mengutuk adanya aksi pengeboman di sejumlah negara. "Mereka ikut mengutuk, seperti apa yang dilakukan orang Amerika. Padahal belum tentu tahu persis, apa tujuan seseorang meledakkan bom tersebut," ucapnya.

Selama bom untuk tujuan jihad, yakni memerangi musuh-musuh Islam yang selama ini melakukan penindasan seperti Amerika Serikat dan sekutunya, justru harus didukung oleh kaum muslim. "Bukan ikut-ikutan mengutuk," jelas Imam Samudra.

Karena itu juga, dirinya menyatakan sangat mendukung aksi bom di Bali, yang adalah untuk memerangi Amerika dan sekutunya. "Hanya orang-orang yang tidak mengerti Islam, yang mau menyesali perbuatan itu," ucapnya, menandaskan. Namun demikian, Imam mengakui pada kenyataannya memang ada kaum muslim dan orang Indonesia yang lain, yang juga ikut menjadi korban dari ledakan bom di Kuta. "Untuk ini, saya mohon maaf," tambahnya[3].

Ya, dengan mudah ia meminta maaf bagi orang-orang tak bersalah yang ikut jadi korban. Seolah itu sudah merupakan harga yang pantas untuk sebuah perjuangan. Ini adalah sebuah titik nadir kehidupan di mana humanitas telah mati. Manusia sudah mencapai suatu logika pemahaman bahwa “tanah terjanji” bisa dicapainya melalui perjuangan-perjuangan mengatasnamakan “kebaikan yang menumbalkan berlaksa-laksa nyawa”. Kebaikan itu sendiri pun sudah sampai pada titik yang tak jelas lagi maknanya bagi humanitas. Kebaikan hanya sebatas tafsir-tafsir pada ayat-ayat Kitab Suci yang membuat humanitas melenyap di sana. Agama, yang pada awalnya begitu lekat dengan humanitas, di atas tafsir-tafsir itu, kini justru meniadakan humanitas.

 

Tak usah bicara dalam konteks pengeboman. Dalam kehidupan sehari-hari pun humanitas itu telah mati. Jika anda memperhatikan wawancara-wawancara artis, maka ketika ditanya kriteria pasangan hidup, hampir selalu dijawab “mencari yang seiman (baca: seagama)”. Tak jarang ada yang putus gara-gara tak seiman. Di sini tak berlaku pameo “Cinta adalah segalanya”. “Seiman” seolah menjadi jaminan, padahal faktanya perceraianpun banyak terjadi di kalangan artis. Fenomena ini juga menjadi cerminan kehidupan masyarakat. “Seiman’ itu seolah segalanya, menunjukkan bahwa manusia tak bisa lagi melihat “cinta” sebagai landasan relasi.

 

Donna Haraway, dalam tulisannya yang berjudul Cyborg Manifesto, menjelaskan bahwa dunia menuju pada suatu keadaan nirmaknawi. Manusia sudah berubah menjadi cyborg. Fenomena-fenomena “artifisial” yang menyemarak akhir-akhir ini adalah salah satu petanda.

 

By the late twentieth century, our time, a mythic time, we are all chimeras, theorized and fabricated hybrids of machine and organism; in short, we are cyborgs. Ths cyborg is our ontology; it gives us our politics. The cyborg is a condensed image of both imagination and material reality, the two joined centres structuring any possibility of historical transformation.[4]

 

Layaknya Cyborg, manusia hidup dalam suatu tatanan mekanis, tatanan sibernetik raksasa. Seperti kutipan lagu “Toy Soldier” yang saya hadirkan sebagai pembuka, manusia pun tak lebih dari boneka-boneka yang digerakkan oleh tafsir akan tanda. Ia mati. Tak lagi mampu merasakan sesamanya. Persis seperti logika pemikiran Imam Samudra berikut ini:

 

Imam mengaku, aksi bom yang dilakukan sebagai sebuah operasi jihad atas perintah "Allah" menyerang kaum kafir yang memusuhi umat Islam, yakni Amerika Serikat dan sekutunya. "Untuk menyerang Amerika, kenapa harus meledakkan bom di Bali ?," tanya hakim. Imam mengutip ayat Al-Quran, yang menyebutkan, "Perangilah orang-orang kafir dimanapun mereka berada."

Atas dasar itu pula, terdakwa mengatakan, Bali yang telah dipakai tempat maksiat oleh kaum kafir, yakni para "bule", beralasan untuk dijadikan sasaran peledakan bom. Namun pada kenyataannya, para korban tidak semuanya "bule", malah ada umat muslim-nya, tanya hakim. "Itu namanya ’error’," jawab Imam Samudra, berdalih. "Apakah ’error’ bisa dibenarkan ?," kejar hakim. Dalam pelaksanaan jihad, kemungkinan "error" dibenarkan.  "Ini sesuai dengan Surat Anissa ayat 92," ucap terdakwa, menjelaskan[5].

 

Begitu mekanisnya! Permainan tanda yang melenyapkan humanitas: “Kafir”, “Bule”, “Bali” dan entah apa lagi di kemudian hari. Seakan tak ada lagi “hati”. Sebuah drama tragis matinya kemanusiaan. Manusia, tak lebih dari boneka-boneka; ia tak mampu lagi menyadari kemanusiaannya. Inilah dasman yang dijelaskan oleh Martin Heidegger. Jika Friedrich Nietzche mengatakan “God is Dead” saya pikir itu karena manusiapun telah mati. God is dead, because humanity is dead. Tafsir-tafsir atas Tuhan hanya diletakkan sebatas kontekstual. Tuhan yang hidup, tak pernah tersentuh. Orang sibuk memuja dan menafsirkan Tuhan-tuhan transenden yang kosong (abskonditus) dan meletakkannya juga dalam imanensi kehidupan kosong mereka. Orang bisa mengalahkan “cinta” demi “iman” terhadap Tuhan kosong itu. Tuhan telah mati dalam sejarah dan tafsir atasnya.

 

Tuhan tak bisa menemukan Ketuhanannya jika tak menyatu dengan hidup manusia. Dalam kasus ini, Tuhan hanya ditempatkan sebagai objek dan ada jeda antara manusia dan Tuhan. Jeda ini kemudian diisi oleh berbagai tafsir yang membuat Tuhan hanya sebatas ilusi. Ilusi inilah yang berfungsi sebagai palung, seperti dijelaskan oleh Barthes, yang menelan semuanya, termasuk humanitas. Manusia, semuanya, jatuh ke dalam palung itu.

 

 

…We all fall down like toy soldiers

 

 

 

 

© Audifax – 24 Juli 2005

 

 

 

NB: Saya mem-posting artikel ini ke milis Psikologi Transformatif, R-Mania dan Forum Studi Kebudayaan. Administrator Psikologi Transformatif dan R-Mania mungkin akan mem-forward artikel ini ke sejumlah milis. Biasanya tanggapan terhadap artikel ini juga akan di-forward ke milis psikologi transformatif dan R-Mania. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif, R-Mania dan Forum Studi Kebudayaan. Melalui artikel ini pula saya mengundang siapapun untuk berdiskusi dengan saya di milis psikologi transfirmatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)

 

 

 



CATATAN-CATATAN

 

[1] Peneliti; Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA) - Surabaya

[2]  Vonis Mati untuk Imam Samudra - 10/09/2003, 13:42 WIB - KOMPAS Cyber Media - Berita Utama

http://www.kompas.co.id/utama/news/0309/10/134359.htm

[3]  Imam Samudra: "Saya Tidak Takut Dihukum Mati" - 11/08/2003, 15:40 WIB - KOMPAS Cyber Media - Berita Utama

http://www.kompas.co.id/utama/news/0308/11/154028.htm

 

[4] Donna Haraway, "A Cyborg Manifesto: Science, Technology, and Socialist-Feminism in the Late

Twentieth Century," in Simians, Cyborgs and Women: The Reinvention of Nature; online documents: http://www.kitchenmedialab.org/download/cyborgmanifesto1.rtf

[5] 10.  Imam Samudra: "Kami Bertanggung Jawab Atas Bom Bali" - 16/07/2003, 18:29 WIB - KOMPAS Cyber Media - Berita Utama; http://www.kompas.co.id/utama/news/0307/16/183019.htm

 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--- End Message ---

Kirim email ke