--- In [email protected], "fankuang_tzu" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Agama bukanlah "Jalan Ketuhanan" melainkan "Cara Kemanusiaan", oleh
> karena itu tidak ada hubungan dan berdampak pada mental kecuali
> emotional.  
> 

K: persepsi ....?

> Agama berusaha menjadikan manusia berakhlak meskipun lebih banyaklah
> kegagalan yang semakin hari semakin memprihatikan. Manusia bukan 
Takut
> sama Tuhan, tetapi sebenarnya takut dengan Agama. Tidak beragama,
> nanti dikatain orang PKI, atau nanti tidak masuk surga. Tidak 
beragama
> jelas tidak dapat menjadi pejabat.
> 

K: Beragama yang salah kaprah.

> Bangsa Indonesia  orang beragama dan bahkan mayoritas beragama 
Islam.
> Tapi beragama bukan jaminan bermoral. Bangsa ini justru memiliki
> budaya korup, anarki,  arogan, munafik dan fanatik. "Tiada hari 
tanpa
> Korup", karena itu aku bangga menjadi bangsat Indonesia.

K: Jadi yang salah agamanya atau penganutnya...? 


> Agama di Indonesia lebih tepat diberi difinisi  "TOPENG TUHAN" untuk
> menutupi wajah HANTU, he..he..he.
>  

K: Ha...? benarkah ......
   Jadi Tuhan kamu anggap hantu.....?
   Dan Syetan kamu anggap tuhan...? 
   
 


> Salam renung
> FK.
> --------------------------------------------------------------------
-
> --- In [email protected], "teddyleuwol" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> >
> > (Tulisan Pak Sarlito di Kompas ini layak dijadikan sebagai bahan 
> > perenungan bagi kita semua. salam :: teddy leuwol)
> > 
> > Bangsa Tak Berakhlak
> > 
> > Oleh: Sarlito Wirawan Sarwono
> >       Guru Besar Psikologi UI 
> > 
> > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/08/opini/2073148.htm
> > 
> > Akhlak adalah jargon agama untuk budi pekerti (istilah 
sekolahan), 
> > atau Moral atau Etika (istilah ilmiah). Ilmu Filsafat membedakan 
> > etika (baik-buruk), dari estetika (indah-jelek) dan logika (benar-
> > salah).
> > 
> > Sesuatu yang benar belum tentu indah, yang indah belum tentu 
baik, 
> > yang baik belum tentu benar, dan seterusnya. Namun, idealnya, 
hidup 
> > ini merupakan keseimbangan antara ketiganya. Misal, meski benar 
> > secara logika bahwa badan istri bertambah berat, tidaklah etis 
kalau 
> > mengatakan, Kamu kok makin gendut, sih? Bukankah lebih estetis, 
> > lebih manis, jika berkata, Yuk, ke butiknya Dewi Hughes. Rasanya 
ada 
> > baju yang lebih pas, buat kamu.
> > 
> > Tak berakhlak
> > 
> > Saat pesawat Mandala jatuh di Medan belum lama ini, dan setelah 
> > mengaitkan dengan banyaknya kecelakaan dan petaka yang sebenarnya 
> > tidak perlu terjadi, saya beranggapan bahwa bangsa kita adalah 
> > bangsa yang teledor.
> > 
> > Namun, seorang teman mengingatkan, keteledoran mengandung unsur 
> > ketidaksengajaan. Meninggalkan kompor menyala sehingga terjadi 
> > kebakaran, atau alpa mengecek rem sehingga mobil masuk jurang, 
atau 
> > lupa mengunci pintu sehingga si kecil masuk saat ayah sedang 
> > bercinta dengan ibu, itu namanya teledor.
> > 
> > Jika membakar kampung tetangga gara-gara ada cewek kena colek, 
atau 
> > mengeroyok pencopet sampai mati padahal belum tentu berdosa, atau 
> > korupsi miliaran rupiah tetapi tidak mau dipenjara meski sudah 
> > diputus pengadilan, atau sengaja berselingkuh atau berjudi, itu 
> > namanya bukan teledor, tetapi tidak berakhlak, kata kawan saya. 
> > Dalam perilaku tidak berakhlak ada niat, atau kesengajaan untuk 
> > berbuat buruk, atau melanggar etika, atau immoral.
> > 
> > Waduh... kalau begitu banyak perbuatan bangsa kita yang tidak 
> > berakhlak. Sengaja melanggar lampu merah sehingga lalu lintas 
macet, 
> > sengaja menaikkan harga untuk keuntungan sendiri, sengaja membeli 
> > ijazah palsu untuk mengelabui calon mertua, meminta pungutan 
liar, 
> > menebang hutan lindung, menyuap calo DPR, menggelapkan barang 
bukti, 
> > merusak sekolah karena tidak lulus ujian, dan seterusnya, itu 
> > contoh, ribuan bahkan jutaan. Pantas jika Indonesia mendapat 
julukan 
> > salah satu negara paling korup di dunia, bahkan paling munafik, 
> > karena kemaksiatan berjalan seiring makin maraknya hidup 
keagamaan 
> > bangsa ini.
> > 
> > Tidak berdampak
> > 
> > Masalahnya, menurut logika, tidak seharusnya maksiat berjalan 
> > seiring agama. Bagaimana mungkin agama tidak berujung kepada 
akhlak 
> > yang baik, seperti yang selalu diteorikan? Tentu ada yang salah. 
> > Beberapa pakar berpendapat, agama kita di Indonesia baru sebatas 
> > upacara, belum memengaruhi sikap mental sehingga tidak ada 
dampaknya 
> > pada perilaku. Tetapi, kok bisa, pendidikan dan pelajaran agama 
yang 
> > sudah masuk kurikulum sejak TK sampai mahasiswa tidak berdampak 
pada 
> > sikap?
> > 
> > Jika pertanyaan ini dijawab dari teorinya para ustadz dan khatib, 
> > tidak akan ketemu penjelasannya. Karena dalil yang selalu 
> > dikemukakan pemuka agama adalah jika kita melaksanakan ajaran 
Tuhan 
> > dan Rasul, ujungnya pasti akhlak (dunia) dan surga (akhirat). 
> > Padahal dalil inilah yang justru diterapkan dalam praktik 
pendidikan 
> > agama di sekolah-sekolah Indonesia: sejak TK murid diwajibkan 
> > menghafal ayat-ayat kitab suci dan doa-doa. Ulangan dan ujian 
juga 
> > seputar ayat-ayat dan doa-doa itu.
> > 
> > Sementara itu, menurut teori psikologi, khususnya teori belajar, 
> > yang terjadi sebaliknya. Dalam teori belajar dikatakan, seseorang 
> > harus berbuat dulu (psiko-motorik), baru timbul pemahaman 
> > (kognitif), akhirnya timbul sikap (afektif). Dengan demikian, 
untuk 
> > belajar akhlak, anak TK-SD seharusnya disuruh belajar praktik 
budi 
> > pekerti dulu, misal, bagaimana mengucap terima kasih, mengapa 
orang 
> > harus meminta maaf, apakah hari ini sudah mencium tangan mama-
papa, 
> > apakah sudah memberi makan kucing kesayangan? Dan seterusnya.
> > 
> > Melalui praktik budi pekerti timbul empati, yaitu kemampuan 
> > menyayangi binatang, mengagumi keindahan, menghargai dan 
berempati 
> > pada orang lain, dengan sendirinya akan terhindar dari sikap 
arogan 
> > atau mau menang sendiri. Ketika anak belajar ayat atau doa-doa, 
ia 
> > akan paham apa yang dimaksud ayat dan doa itu sehingga ia tidak 
akan 
> > menghujat atau membunuh orang lain sambil kerongkongannya 
> > meneriakkan nama Tuhan.
> >
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/pyIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke