- Sadar setelah meninggal adalah permulaan dari suatu "hidup
baru"
- Sebelum sampai pada tingkat kesadaran penuh serta keyakinan
bulat, berbagai tingkatan harus dilalui dalam waktu tidak lebih dari
3 x 24 jam
- Kira-kira selama 8 – 10 jam pertama masih terkandung
perasaan seolah-olah hanya berkunjung untuk sementara kedunia /
lingkungan baru itu.
- Tapi perasaan ini diselingi oleh keragu-raguan yang lambat
laun terkalahkan oleh keyakinan yang mulai bertumbuh.

A. Pertama-tama disadari bahwa dunia materi sudah ditinggalkan,
yaitu dunia pancaindera atau dunia "frekwensi rendah" dan yang
dihadapi sekarang adalah dunia "frekwensi tinggi".
Yang mempertegas hal ini adalah kenyataan-kenyataan / pengalaman-
pengalaman, antara lain sebagai berikut :
1. Orang-orang yang dikenal tidak memperhatikan kehadiran kita.
2. Orang-orang yang tersentuh oleh kita tidak memberi reaksi,
begitu juga yang kita panggil atau colek / dorong.
3. Berkumpul dirumah dalam suasana sedih orang-orang yang kita
kenal, tetangga, saudara-saudara dan yang ada hubungan famili.
4. Orang-orang berdoa.
5. Hal-hal yang menjadi bahan percakapan dari yang terkumpul
dirumah itu.
6. Persiapan / kesibukan2 yang biasanya ada hubungan dengan
kematian.
7. Tangisan keluarga.
8. Upacara-upacara.
9. Ucapan-ucapan dari yang sedih sambil menangis.
10. Dll. Dll.

B. Terdorong oleh keinginan mengetahui kebenarannya kita
melakukan tindakan-tindakan untuk mengechek / memeriksa, misalnya :
a. Dengan sengaja mencolek seseorang, tapi orang itu tidak
menoleh.
b. Memanggil orang-orang dekat, tapi tak ada reaksi.
c. Mengangkat suatu benda tapi tidak bergerak, tidak terangkat,
walaupun benda itu ringan timbangannya.
d. Mendorong sesuatu tapi tidak berpindah tempat benda itu.
e. Turut berbicara, tapi tidak dihiraukan dan tidak ada yang
mengarahkan pendangan pada kita.
f. Dll. Dll.

C. Ada lagi pengalaman-pengalaman yang lebih meyakinkan dan
mengurangi keragu-raguan yang susah dipadamkan, antara lain :
1. Bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal mereka
menyapa kita.
2. Melakukan komunikasi dengan mereka walaupun sementara hanya
singkat sekali.
3. Mereka menyambut kedatangan / kehadiran kita.

D. Terdorong oleh perasaan masih ragu juga, mulai memeriksa
tubuh sendiri yang ternyata sudah dalam frekwensi tinggi, misalnya :
Pandangan bisa tembus ditembok, melihat / mendengar hal-hal yang
jauh diluar kemampuan pancaindera.

E. Setelah yakin timbul perasaan-perasaan sebagai berikut :
1. Sedih
2. Sudah terlepas dari kaitan dengan masyarakat di dunia
3. Harta, milik sudah ditinggalkan
4. Sebatang kara
5. Keyakinan / kepercayaan diri merosot, tapi tidak sampai
hilang sama sekali.
6. Timbul keinginan mempelajari / mengetahui proses
dilingkungan.
7. Memperhatikan kaitan antara proses yang satu dengan proses
yang lainnya.
8. Mengamati situasi lingkungan serta isinya, wujud-wujud
materi.
9. Membeda-bedakan ciptaan antara yang hidup (ada persenyawaan
dan yang mati (tidak ada persenyawaan)
10. Memperhatikan hubungan / kaitan antara ciptaan-ciptaan.
Yang dimaksud dengan lingkungan dan ciptaan-ciptaan adalah hal-hal
diluar kemampuan pancaindera manusia, yaitu dunia halus.

F. Setalah mayat sudah mendingin, mulai terlintas bayangan-
bayangan garis besar dari perjalanan-perjalanan / pengalaman hidup
yang telah berakhir.
G. Mulai terlintas pula secara samar-samar kesadaran-kesadaran
(arwah-arwah) yang sedang menerima hukuman / kenikmatan.
H. Bertambah jelas lagi melihat orang-orang (arwah-arwah) itu
sedang mengalami hukuman-hukuman / penderitaan.
I. Setelah mengerti secara penuh bahwa imbalan adalah wajar,
mulai terlihatlah seluruh konsep unsur diri sendiri dalam bentuk
garis besar dan tingkat dari susunan imbalan tadi.
J. Barulah menyusul / mulai pelaksanaan / imbalan-imbalan yang
kita harus terima baik yang berbentuk derita (neraka) atau nikmat
(sorga)

Catatan : Orang yang pernah mati suri (hidup kembali dari kematian)
tidak sampai memasuki taraf pelaksanaan imbalan. Ada pula yang hanya
sampai taraf melihat orang-orang (arwah-arwah) yang sedang dihukum
(dineraka) atau yang dalam keadaan nikmat (sorga).





verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kematian seri 2, Vice Versa Syekh Siti Jenar, Mayat Hidup;

Menelusuri gagasan Syekh Siti Jenar, filsuf lokal Nagari Jawi, terasa ada
yang lain, karena gagasannya itu sering kali unik dan terbalik dibandingkan
dengan pandangan pada umumnya. Banyak orang menyebutnya jenius dan
gagasannya melampaui zamannya, tetapi ia juga menuai kritik keras bahkan
dianggap murtad. Terlepas dari sikap pro dan kontra, tidak ada salahnya
menyimak gagasannya tentang kehidupan di dunia ini. Menurut Syekh Siti
Jenar, dunia ini justru bukan alam kehidupan manusia yang sebenarnya. Alam
yang sebenarnya adalah setelah kematian. Siti Jenar berpendapat bahwa hidup
di dunia ini justru kematian, dan baru setelah manusia meninggalkan
jasadnya, maka ia akan memperoleh kehidupan sejati.

Coba kita renungkan ajarannya tentang hidup dan kehidupan secara mistis.
Dia berpendapat bahwa hidup yang selalu sedih, sengsara, kebingungan dan
sejenisnya adalah penjara. Ini bukan hidup di alam kehidupan, melainkan
hidup di alam "kematian". Manusia yang demikian terpuruk dalam kematian
hidup. Manusia yang terdegrasi nilai, curang, culas, korup, dan  sebagainya
adalah manusia yang telah mati menurut Jenar. Dengan demikian maka di dunia
ini telah dihuni manusia "Zombie" (mayat-mayat yang kotor), dengan struktur
kehidupan yang mati. Tak sedikit mayat-mayat itu mengejar rezeki yang
haram. Tak sedikit pula mayat tersebut berebut kedudukan.

Dalam konteks kematian, Jenar mengajarkan tata cara menjemput maut kepada
para wali. Kenapa para wali ini diajarkan "Meskipun kamu tahu dan dapat
melakukan, tentu kamu akan salah melaksanakan, sebab kamu masih tenggelam
dalam kesesatan. Melihat harta duniawi, kamu masih terpikat", demikian ujarnya.

Rasanya kritik Jenar terhadap wali, perlu disikapi dengan arif. Mengapa?
sebab jika mayat-mayat busuk bergentayangan ke sana-kemari mencari sesuap
nasi, sangatlah  tidak pantas jika kita sombong dan arogan. Pelajaran yang
kita terima adalah bahwa kita harus menjauhi semua sifat negatif duniawi.
Sudahkah kita koreksi diri kita?
Salam,
Ferrydjajaprana.multiply.com




At 03:24 PM 10/18/05, you wrote:
>Hidup dan mati itu adalah bagaikan koin, dengan dua sisi yang berbeda,
>walaupun hakikatnya satu. Satu sisi orang menyebutnya hidup di sisi yang
>lain orang menyebutnya mati. Orang disebut hidup apa bila masih bernafas,
>dan disebut mati apabila sudah tidak bernafas.
>Nafas berasal dari bahasa arab yang artinya jiwa. Sebenarnya sangatlah beda
>antara nafas dengan jiwa, tapi apa daya Orang Indonesia memang lebih senang
>dengan kemudahan dalam membuat bahasanya yang penting enak di dengar (gaya
>bahasa adaptasi). Dalam Nafs itu sendiri banyak sekali tingkatannya, Syech
>Abdul Jalil yang populer disebut Syech Siti Jenar membahasakannya ada
>beberapa tingkatan, diantaranya Nafs Alkhaiwaniyah, Nafs Allawamah, Nafs
>Muthmainah, s/d insan kamil.
>
>Dalam metamorphosis kehidupan, masing-masing mahluk punya gaya
>sendiri-sendiri, suka atau tidak suka begitulah caranya, contohnya :
>Kupu-kupu berawal dari ulat, kemudian jadi kepongpong, dan setelah sekian
>lama di kepongpong dengan kekuatan mistis, terlepas jadilah kupu-kupu, hal
>senada yang dialami oleh katak. Manusia lahirnya tidak sama dengan katak
>ataupun kupu-kupu, walaupun dia seorang "kupu-kupu malam", tentu dia bukan
>berawal dari ulat, tetap asalnya dari sperma plus ovum.
>
>Jalan hidup dan kehidupan mahluk Tuhan, akan diawali dari yang ada menjadi
>tiada (ada juga yang menyebut dari yang tiada menjadi ada, tapi ini tidak
>dibahas karena dari dulu gak ada habisnya). Setelah kita terlahir, tumbuh,
>hidup dan berkembang kemudian kita mati. Banyak manusia hidup dan takut
>mati, seolah kematian adalah akhir segalanya. Akhir kehidupan ini. Apakah
>benar demikian? Belum ada khabar yang menjelaskan tentang kehidupan setelah
>kematian, kalaupun ada di sinetron tentang orang yang sudah mati kemudian
>hidup, mereka menjelaskan tentang peristiwa ghaib, tapi sulit dicerna oleh
>akal - kita nyatakan itu mistis, atau kismis (kisah misteri), dengan
>kalimat kismis ini maka berakhirlah tanda tanya tentang ghaib itu, layaknya
>terkubur dan ditelan bumi.
>
>Dalam pengembaraan saya menapak kehidupan, terpengaruh dengan ajaran agama
>saya, yang menyatakan bahwa setelah kematian masih ada kehidupan
>berikutnya, dalam istilah disebutkan ada alam kubur/alam barzah dan juga
>alam akhirat, dengan prosesi-prosesi seperti timbangan amal (mizan?), dan
>seterusnya sehingga sampailah kita pada apa yang disebut surga - neraka.
>
>Perjalanan hidup di dunia hanyalah sebentar, masih ada alam ke abadian.
>Tapi akankah kita mencapai alam abadi nan kekal? Dunia ini fana yang akan
>luluh lantak pada akhir zaman, para rasul menyebutnya kiamat.
>Pertanyaan terus bergulir, akankah kita mencapai keabadian yang dinanti?
>Adakah jaminan surga itu abadi? yang abadi itu hanya Tuhan, maka ke Tuhan
>jua kita kembali. Ina Lillahi Wa Ina Ilaihi Rajiun. Aku mati secara ragawi
>dan tidak secara jiwanya, karena ruchku yang tercipta dari Minruchi kembali
>ke Sang Pencipta. Yang tercipta dari saripati bumi kembali terkubur di
>bumi, yang tercipta dari partialnya Tuhan kembali ke Sang Pencipta. Karena
>aku mati aku tidak bisa lagi bicara tentang kematian dan alam akhirat. Itu
>sudah urusan Tuhan. Aku tidak bisa bercerita lagi kawan.
>Salam,
>Ferry Djajaprana.multiply.com
>
>
>
>
>******************************************************
>Milis Filsafat
>Posting     : [email protected]
>Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
>Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
>Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
>******************************************************
>
>Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke