--- Nur Agustinus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dibicarakan di ruang privat itu bukan pengkerdilan.
> 
> Agama sebaiknya ada di ruang privat itu artinya,
> agama atau atribut-atributnya jangan ada di ruang
> publik. Apakah ruang publik itu?
> Ruang publik bukan berarti lingkungan. Kalau
> lingkungan yang ada adalah
> sebuah rumah ibadah, maka itu merupakan ruang
> komunitas (sejenis). Ruang
> publik itu misalnya kantor negara, sekolah negeri
> dan sejenisnya. Misalnya
> saja, bolehkah di sebuah sekolah negeri dipasang
> sebuah salib yang merupakan
> atribut agama kristen? Kalau tidak boleh, hal yang
> sama juga harus
> diberlakukan, tidak boleh juga memasang atribut
> agama lain di ruang kelas
> atau sekolah tersebut, termasuk bentuk kaligrafi
> atau sejenisnya. Mengapa
> tidak boleh? karena itu adalah ruang publik.

Kalau ruang publik di definisikan seperti itu... ya
tentu saja bisa, saya bisa memahaminya. Trims ya. 
Saya sendiri memahami ruang publik sangat berbeda. 
Saya dengan Tuhan saya adalah ruang private, Saya
dengan anak saya adalah ruang publik. Sebelah gereja,
sebelah mesjid itu ruang publik.  Di dalam ruang
publik, ada lagi identitas-identitas lain yang menjadi
pembeda.  Singkat kata, di organisasi terkecil, saya
berada di ruang publik.

> Balik soal dekonstruksi, bukan artinya filsafat
> boleh membedah-bedah agama.
> Ketika filsafat membedah agama, itu sudah merupakan
> kesalahan. Artinya, itu
> filsuf sudah kehabisan bahan 'kali...
 
Mas Nur yth.... sungguh deh, aku nggak paham kenapa
filsafat membedah agama itu sebuah kesalahan (?),
nggak apa-apa toh, kan sebaliknya juga bisa,
menyetarakan juga bisa, bisa juga kan keduanya membawa
pada "kebenaran" yang dicari.  Kukira, keduanya
memberikan nilai tambah untuk berpikir....
Bukankah kita bukannya sedang berada pada jaman ketika
socrates dipaksa minum racun atas tuduhan ateis.  Saya
kira, banyak hal yang berada pada jalur agama yang
dipikirkan filsafat atau sebaliknya tentang banyak
hal, bukan cuma berfilsafat tentang tuhan ada atau
tidak (ini memang tema paling asyik - ? - meskipun
bagi sebagian orang, termasuk saya, itu sih sudah
final, jadi tak asyik dilogikakan lagi...)


> Namun, selama pembahasan
> tentang tuhan itu dalam koridor filsafat, semua
> orang akan bisa ikut
> berdiskusi. tapi begitu sudah pakai dalil-dalil
> agama, tidak akan ketemu.
> Kita bukan berfilsafat kalau cuma 'perang' ayat.

Ya... emang sih... aku juga risih buanget deh kalau
lagi senang-senangnya baca milis tiba-tiba hasrat
membenarkan diri sendiri dan perang ayat menjadi
tembakan-tembakan salvo sana-sini.  Tapi, emang susah
sih menjadi bijaksana terlebih mencintainya....
Namun... nggak ada salahnya juga mendamaikan agama dan
filsafat yang kadang berdimensi keangkuhan keduanya,
kadang juga saling memahami, kadang biar saja berjalan
pada kedua koridornya....

salam,
aji






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/pyIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke