DARI MAJALAH FILM "F" EDISI 03 FEBRUARI-MARET 2006

PARAMARUPA FILM HOROR KITA
Nuruddin Asyhadie

Film horror hampir sama tuanya dengan film itu sendiri. Hanya satu 
tahun dari demontrasi proyektor pada tahun 1895 oleh Robert Paul di 
London, Lumiere bersaudara  di Paris, dan Thomas Alva Edison di 
Atlanta, Georges Méliès membangkitkan hantu-hantu dari kubur dan 
merekamnya dalam Le Manoir du Diable (1896). Semenjak itu orang 
dapat melihat hantu-hantu tanpa memerlukan kekuatan gaib.

Meski film mulai dikenal di Indonesia semenjak awal Abad 20, butuh 
waktu 41 tahun bagi rakyat negeri ini untuk menyaksikan hantu-hantu 
mereka sendiri di layar. Itu jika kita menghitung film Tengkorak 
Hidoep (1941). Kalau Lisa (1971), yang disebut-sebut sebagai film 
horror Indonesia pertama, sebagai patokannya maka waktu yang 
diperlukan adalah 71 tahun. 

Posisi dua film itu, seperti fakta-fakta sejarah lainnya, masih bisa 
diperdebatkan, namun yang jelas keduanya dibangun di atas subgenre 
horror yang berbeda. Tengkorak Hidoep menampilkan sebuah demonic 
horror atau satanic horror (arketip film horor), monster yang 
bangkit dari kubur dan ingin membalas dendam pada reinkarnasi orang 
yang telah membunuhnya dalam sebuah pertarungan. Lisa mengetengahkan 
sebuah psychological horror, seorang Ibu tiri yang dihantui figur 
fantasmatik anak tirinya yang telah ia suruh binasakan ke orang, 
namun sesungguhnya masih hidup, dan bersembunyi di suatu tempat.  

Berkebalikan dengan Tengkorak Hidoep, Lisa tak begitu sukses di 
pasaran, namun ia melakukan sebuah lompatan dalam perkembangan film 
horor, Keberadaan figur fantasmatik yang meneror sang ibu tiri 
membangun permainan intertekstualitas, yang pada saat itu bahkan 
belum terpikirkan oleh dedengkot-dedengkot film horror Barat, dan 
baru muncul di era 90-an lewat film Heavenly Creatures (1994) arahan 
sutradara New Zealand, Peter Jackson.

Di tahun 1971 itu pula muncul film Beranak dalam Kubur, yang seperti 
Tengkorak Hidoep menjual iblis yang bangkit dari kubur demi membalas 
dendam pada kakak yang membunuhnya untuk menguasai perkebunan milik 
keluarga, namun anehnya juga menakut-nakuti penduduk.

Sebuah psychological horror lain, berjudul Pemburu Mayat, diproduksi 
pada tahun 1972, berkisah tentang pencuri mayat yang mengidap 
nekrofilia (suka menyetubuhi mayat) dalam permainan logika ala 
Hitchcock yang mengejek metode deduksi.

Sebagaimana tahun sebelumnya, kemunculan film dengan subgenre 
seperti itu juga diiringi film demonic horror, seakan-akan terjadi 
sebuah pertarungan antara dua ethos ini. Judul film itu adalah Ratu 
Ular (1972), menceritakan seorang janda cantik kaya pemuja setan.

Tahun-tahun selanjutnya, dalam dekade 70-an, kita dapat melihat 
siapa pemenang pertarungan tersebut. Dari 20 judul film horror yang 
diproduksi selama 1973—1979, semuanya menampilkan kisah-kisah 
demonic horror yang bercampur dengan okultisme, sadisme, seks, dan 
komedi: Cincin Berdarah (1973) Mayat Cemburu (1973) Si Comel (1973), 
Si Manis Jembatan Ancol (1973), Drakula Mantu (1974), Kemasukan 
Setan (Dukun) (1974), Kuntilanak (1974), Arwah Penasaran (1975), 
Penghuni Bangunan Tua,(1975), Setan Kuburan (1975), Ingin Cepat 
Kaya  (1975), Arwah Komersil dalam Kampus (1977), Dewi Malam (1978), 
Godaan Siluman Perempuan (1978), Pembalasan Guna-Guna Istri Muda 
(1978), Tuyul (1978), Kutukan Nyai Roro Kidul,(1979), Penangkal Ilmu 
Teluh,(1979), Tuyul Eee Ketemu Lagi (1979), Tuyul Perempuan (1979).

Kemenangan tersebut agaknya didorong oleh trend film horror global 
masa itu yang berkiblat pada Rosemary's Baby (1968) Roman Polanski, 
film berbudget rendah, namun sukses secara pemasaran dan dipuji-puji 
kritikus. Film Kemasukan Setan (Dukun) (1974) menunjukan 
keterpengaruhan yang kuat, jika tak mau dibilang mengadaptasi, The 
Exorcist (1973), film William Friedkin, salah satu pengikut 
Polanski. Munculnya klenik seperti dalam Pembalasan Guna-Guna Istri 
Muda (1978), Cincin Berdarah (1973), Penangkal Ilmu Teluh (1979), 
juga menunjukan jejak Polanski. Masuknya monster gothic Eropa untuk 
pertama kalinya ke dalam film horror Indonesia, seperti drakula 
dalam Drakula Mantu (1974) merupakan hasil sadapan terhadap film-
film para sineas Italia seperti  Mario Bava, Dario Argento, Lucio 
Fulci, atau Spanyol seperti Jacinto Molina, Jesus Franco yang pada 
tahun 70-an menghadirkan kembali hantu-hantu tradisional Eropa yang 
sebelumnya, di tahun 50-an digarap oleh Hammer Films. Atavisme orang-
orang Eropa itu mengilhami pula naiknya makhluk gaib-makhluk gaib 
lokal seperti tuyul dan Nyai Roro Kidul. 

Kejutan di masa itu diberikan oleh Mayat Cemburu (1973), yang 
menjadi momen pertama kali penggarapan comedy horror, bukan hanya di 
kancah perfilman nasional,  tetapi juga internasional. Sayang, 
sejarah justru mencatat Close Encounters of the Spooky Kind (1980) 
Sammo Hung sebagai pelopor subgenre ini. 

Tahun 80-an merupakan tahun keemasan film horror Indonesia. Tercatat 
69 judul film horror disuguhkan ke khalayak—jumlah produksi 
tertinggi genre horror sampai saat ini. Demonic atau satanic horror 
masih menjadi favorit. Dari 69 judul tersebut hanya ada satu yang 
mengambil bentuk psychological horror., yaitu Misteri Sumur Tua 
(1987). 

Maraknya produksi film horror pada masa-masa itu dibarengi dengan 
peningkatan kualitas. Ratu Pantai Selatan (1980) mendapatkan piala 
LPKJ pada FFI 1981 untuk Spesiak Efek; Akting Rina Hassim dalam 
Genderuwo (1981) masuk unggulan FFI 1981 untuk Pemeran Pembantu 
Wanita; Dalam FFI tahun yang sama Ratu Ilmu Hitam (1981) bahkan 
masuk unggulan dalam lebih banyak kategori, Suzana untuk Pemeran 
Utama Wanita, WD Mochtar untuk Pemeran Pembantu Pria, juga editing, 
fotografi, dan artistik. Pada FFI 1987, 7 Manusia Harimau (1986) 
masuk unggulan untuk Pemeran Pembantu Pria (Elmanik), sementara 
Pernikahan Berdarah (1987) diunggulkan untuk kategori Artistik pada 
FFI 1988. 

Penonton juga semakin baik merespon film-film jenis ini. Sundel 
Bolong (1981) mencapai 301.280 penonton dan menjadi Film Terlaris 
III di Jakarta pada tahun 1981. Nyi Blorong (1982) menjadi Film 
Terlaris I di Jakarta pada tahun 1982, dengan jumlah penonton 
354.790, jumlah yang membawanya menggondol Piala Antemas FFI untuk 
Film Terlaris 1982—1983.  Pada tahun itu pula Setan Kredit  (1982) 
menjadi Film Terlaris IV  di Jakarta dengan 279.446 penonton.  
Telaga Angker (1984) juga menjadi Film Terlaris IV di Jakarta pada 
tahun 1986, ia menarik minat 235.491 penonton. Petualangan Cinta Nyi 
Blorong (1986) yang dilarang diputar di Lampung karena sadisme dan 
pornografi, menjadi Film Terlaris IV di Jakarta tahun 1987, 
mengumpulkan 290.412 penonton. Dengan meraup 325.473 penonton, 
Santet (1988) menjadi film terlaris V di Jakarta, 1989.   

Dekade selanjutnya, jumlah produksi film horror menurun sampai lebih 
dari separuh. Hanya ada 33 judul. Beberapa adalah sekuel dari film 
sebelumnya, seperti Misteri dari Gunung Merapi II (Titisan Roh Nyai 
Kembang) (1990),  Misteri dari Gunung Merapi III (Perempuan Berambut 
Api) (1990), yang melanjutkan Misteri dari Gunung Merapi (Penghuni 
Rumah Tua), (1989) atau versi layar lebar serial televisi yang 
sukses, seperti Si Manis Jembatan Ancol (1994). Selebihnya hampir 
semua adalah variasi dari tema-tema sebelumnya. hanya jauh lebih 
berani dalam pamer tubuh, sebagai bagian dari fenomena film `esek-
esek' masa itu, sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gairah Malam 
(1993), Godaan Perempuan Halus (1933), Misteri di Malam Pengantin 
(1993), Susuk Nyi Roro Kidul, 1993Godaan Membara, 1994, Cinta 
Terlarang (1994),  Pawang (1995), Bisikan Nafsu (1996), Mistik 
Erotik (1996), Rose Merah, (1996), Birahi Perempuan Halus (1997).   

Psychological horror tetap kurang dilirik dan terpinggirkan. Seperti 
periode sebelumnya hanya terdapat satu judul, yaitu Guntur Tengah 
Malam (1990). Bahkan kali ini, tampak sebuah usaha untuk 
mensintesiskannya dengan demonic horror.  Film ini mengisahkan 
perebutan harta antara seorang tante dengan dua keponakannya, laki-
laki dan perempuan, plus istri sang keponakan laki-laki, yang 
berkomplot membunuhnya dengan ilmu gaib. Ketiga anggota komplotan 
itu kemudian dihantui rasa bersalah, sampai pada akhirnya Si 
keponakan perempuan tewas secara mengerikan, sementara sang 
keponakan laki-laki dibunuh oleh istrinya sendiri yang sebelumnya 
masuk rumah sakit jiwa dan berubah menjadi monster.

Kisah Nyata Dukun AS (Misteri Kebun Tebu) (1997) dan Misteri 
Banyuwangi (Dukun Santet) (1998) mencoba memunculkan gagasan segar 
dengan mengangkat kisah nyata ke dalam film horror dan melahirkan 
dua subgenre baru, sebut saja biographic horror untuk Kisah Nyata 
Dukun AS yang mengangkat pembunuhan berantai yang dilakukan dukun 
berinisial AS yang mengaku telah membunuh 42 orang, setelah 
ditemukannya mayat 26 perempuan di Perkebunan Nusantara II, Dusun I, 
Kelurahan Aman Damai, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, 
tahun 1997; dan socio-historical horror bagi Misteri Banyuwangi yang 
berangkat dari kasus "perburuhan para dukun" pada tahun 1998 yang 
hingga kini belum terungkap. 

Film horror yang masuk Film Terlaris pada dekade 90-an ini adalah 
Ajian Ratu Laut Kidul, (1991), Film Terlaris V di Jakarta pada 1992, 
ditonton oleh 251.089; Skandal Iblis (1992), film Terlaris III 
Jakarta 1993 dengan 216.183 penonton; dan Gairah Malam (1993), yang 
mengumpulkan 269.804 dan menjadi Film Terlaris III di Jakarta tahun 
1994.

Film horror Indonesia pada milenial ke dua ditandai oleh kemunculan 
Jelangkung (2001). yang memberi nuansa lain, karena kekuatannya 
dalam fotografi, editing,dan suara. Dari Oktober 2001 sampai Januari 
2002 ditonton 748.003 orang di Jabotabek. Pada FFB 2002, ia 
mendapatkan penghargaan Terpuji untuk Efek Khusus 

Jelangkung, menghadirkan karakter-karakter remaja urban, yang 
sebelumnya tak pernah disentuh oleh film horror Indonesia, tetapi 
semenjak Scream (1996) karakter-karakter remaja dalam film horror 
memang merebak.  

Film Rizal Mantovani ini juga dipengaruhi film-film J-Horror (horor 
Jepang) yang menjadi trend internasional semenjak keberhasilan Ringu 
karya Hideo Nakata di tahun 1997. J-Horror lebih menampilkan adegan-
adegan menegangkan dan mengerikan tinimbang gelimang darah—The Sixth 
Sense (1999) M. Night Shyamalan adalah contoh paling berhasil dari 
film Barat yang dirasuki ruh Nakata.  

Pengaruh itu, serta kepercayaan Rizal pada gambar, sebagaimana 
generasi baru perfilman Indonesia, serta latar belakangnya sebagai 
pembuat video klip, membuatnya abai pada cerita dan lebih 
memfokuskan diri pada visualisasi. Sadar atau tidak, Rizal telah 
memindahkan film horror Indonesia dari narrative horror ke visual 
horror.

Film-film horror Indonesia selanjutnya banyak yang mengikuti upaya 
Jelangkung. Sebut saja Tusuk Jelangkung (2002) Dimas Djayadiningrat 
yang dianggap kelanjutan Jelangkung, film-film Nayato, seperti The 
Soul (2003) yang terpuji untuk fotografi dalam FFB 2004, Ada Hantu 
di Sekolah (2004), 12:00 AM (2005), atau Bangsal 13(2004) Ody C. 
Harahap, dan Mirror (2005) Hanny R. Saputra.

Di samping film-film visual horror tersebut, masih terdapat film 
horror Indonesia yang tetap percaya pada cerita. Titik Hitam (2002) 
misalnya, hanya menjadikan horror sebagai bumbu kisah cinta segi 
tiga yang melibatkan dua bersaudara sepupu yang memiliki indra 
keenam; Kafir (Satanic) (2002), sebuah biographic horror seorang 
dukun di Cirebon; Peti Mati (The Coffin) (2003),  yang berkisah 
tentang penghindaran takdir model Final Destination (2000), dengan 
latar budaya Tionghoa peranakan; Di Sini Ada Setan, The Movie 
(2004),  yang bercerita mengenai liburan yang berubah menjadi 
malapetaka semacam I Still Know What You Did Last Summer(1998); atau 
Kanibal—Sumanto (2004) yang diangkat dari kisah nyata Sumanto "Si 
Pemakan Mayat" yang menghebokan .

Kafir (Satanic) (2002) mendapat penghargaan Terpuji untuk Aktris 
(Meriam Bellina) pada FFB 2003, sementara Peti Mati (The Coffin) 
(2003)  menerima Terpuji untuk Aktor (Sandy Nayoan) dalam festival 
yang sama.

Dalam 33 tahun, berangkat dari Lisa (1972), atau 64 tahun, jika 
menghitung Tengkorak Hidoep (1941), ada banyak hal yang telah 
dicapai film horror Indonesia, namun semua itu seakan tersilap. 
Orang hanya mengingat adegan-adegan sadis, immoral, dan mistik, saat 
mendengar film horror Indonesia disebut. Bukan tak mengakui sisi-
sisi gelap itu, tetapi toh mereka tak musti menjadi nila perusak 
susu sebelanga. Bukan pula berarti sebuah pemahfuman kinerja ala 
kadarnya. Agar penonton tak tertawa ketika kita ingin menakutinya. 
Agar mereka tak menangis saat kita ingin menggelitik perutnya. Hanya 
itu. *** 








******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke