DARI MAJALAH FILM "F" EDISI 03 FEBRUARI-MARET 2006

KESENANGAN & KETAKUTAN 
PARADOKS SEBUAH HATI 

Nuruddin Asyhadie

"Nonton kok ditakut-takuti!"  Demikianlah olok-olok yang sering 
disemburkan pada para pecandu film horor, terutama oleh mereka yang 
memandang menonton adalah aktivitas mencari hiburan. Nyatanya banyak 
orang menyukai film horor, tak terkecuali anak-anak. Mereka seakan 
menghisap kesenangan berbeda dalam rasa takut. Apakah yang 
sesungguhnya berderak dalam paradoks hati ini?

Tahun 1990, Noel Caroll menerbitkan The Philosophy of Horror; or, 
Paradoxes of the Heart. Buku pertama dan satu-satunya sampai saat 
ini, yang membuka sekaligus menutup diskusi mengenai  ambiguitas 
kesenangan yang didapatkan dari film horror. The Philosophy of Horor 
sangat definitif, begitu definitifnya hingga menyisahkan sekelumit 
ruang saja bagi penyelidikan selanjutnya. 

Jawaban Carroll terhadap pertanyaan di atas adalah orang tak benar-
benar mendapatkan kesenangan dari `art-horror', sebuah istilah yang 
digunakan Carroll untuk menunjukan dunia khayali cerita horror,  
namun dari struktur plot, yang berkembang dalam proses penyingkapan 
dan penegasan. Proses itulah yang memberikan kepuasan secara 
kognitif pada pemirsa.

Emosi yang ditimbulkan oleh `art-horror' bukan tujuan utama dalam 
konsumsi fiksi-fiksi horor. Ia adalah ongkos yang musti dibayar demi 
mendapatkan jawaban atas sebuah rahasia. Rahasia dari sesuatu yang 
muskil dan tak masuk akal, yang  telah mengusik skema konseptual 
kita.

Objek-objek `art-horror', menurut Carroll, adalah semua makhluk yang 
oleh sains kontemporer diyakini tak ada. Monster-monster adalah 
makhluk yang berbahaya dan najis, sehingga menerbitkan rasa ngeri 
dan jijik dalam diri manusia. Orang takut pada mereka walaupun tahu 
mereka tidak ada. Makhluk-makhluk itu hidup dalam apa disebut oleh 
Rene Descartes `realitas objektif', yaitu realitas pikiran, 
bukan `realitas formal' atau realitas nyata. 
 
Kejijikan itu timbul dari keterbelahan diri manusia sebagai makhluk 
yang bertubuh dan berjiwa, dari bercampurnya dua dunia. Potongan 
tubuh-tubuh bergerak, serigala jadi-jadian, vampire yang hidup 
abadi, sundel bolong, dan sebagainya, yang terperangkap di dua dunia 
itu meruntuhkan bangun konseptual manusia. 
 
Untuk memahami paradoks kesenangan dalam kisah-kisah horor, orang 
harus mengingat kembali esei "Of Tragedy" David Hume dalam Essays 
Moral, Political, and Literary (1777). Hume memandang kesenangan 
[yang bersumber dari atau atas tragedi] timbul dari naiknya hasrat 
terpendam ke permukaan.  Hasrat, meski muncul secara alami, atau 
terangsang oleh sesuatu, juga merupakan sesuatu yang menyiksa. 
Kemudian ia diperhalus dan diperlembut oleh tangan seniman hingga 
berubah menjadi hiburan yang sangat menyenangkan. Kalau sebuah karya 
seni cuma hangat-hangat kuku, tak begitu tragis, maka emosi yang 
ditimbulkannya juga kurang kuat. 
 
Analisis vektor Humean ini diterapkan Carroll pada respon emosi 
terhadap horor. Rasa jijik dan teror yang dilesakkan oleh `art-
horror' bukan kesenangan, tetapi sentimen-sentimen hidup. Kesakitan 
yang muncul dari reaksi kejijikan yang menguasai akan teratasi oleh 
narasi yang menarik. Jadi lokus ketertarikan orang pada kisah horor 
bukanlah monster namun struktur narasi yang mementaskan monster 
tersebut. 
 
Rasa penasaran adalah jantung semua narasi. Sebuah narasi yang tak 
menggugah hasrat keingintahuan akan kehilangan daya 
tarik."'Bagaimanapun, kisah horor merupakan variasi khusus dari 
motivasi umum narasi, sebab ia bertumpu pada sesuatu yang dari 
fitrahnya gaib, tidak ada." tulis Carroll. Ia menyimpulkan bahwa 
kesenangan yang didapat dari kisah horor dan kunci daya tarik genre 
tersebut terletak pada proses penemuan, pembuktian, dan penegasan. 

Carroll memang telah memberikan solusi yang cerdas, dengan 
menyetarakan kesenangan atas horor dengan kesenangan atas tragedi 
milik Hume, namun ia tampak gagal atau tak mau menjelaskan 
kompleksitas rasa takut atau sakit itu sendiri. Dengan menarik 
pembatas yang tegas, bahwa rasa takut, sakit, tak akan pernah 
menjadi sesuatu yang menyenangkan, Carroll memindahkan kesenangan 
itu pada sumber yang lain yaitu plot, tempat yang berbeda dengan 
yang telah membangkitkan rasa takut manusia saat melihat hantu-hantu 
atau monster-monster. Tak cukup di situ, ia juga mengamputasi rasa 
takut itu dengan menyatakan bahwa sumber ketakutan tersebut tidak 
ada, dan orang paham akan hal itu. Kengerian yang menyergap meski 
sesuatu yang wajar namun adalah sebuah perasaan palsu, ilusi yang 
lahir dari `kesalahan kategoris' akibat dualisme manusia. Bagaimana 
orang bisa takut pada sesuatu yang ia tahu tidak ada? Dengan 
pembungkaman rasa takut tersebut maka ia seperti ingin menyatakan 
bahwa hanya ada satu hal ketika orang melihat film horror yaitu 
kesenangan, kesenangan yang dihirup dari plot penemuan, pembuktian, 
dan penegasan, kesenangan terhadap misteri yang muncul dari hasrat 
keingintahuan.

'Monstrous Equivocation'  Mark Vorobej dan "Horror and the Problem 
of Personal Identity" David Shaw, dalam jurnal Film and Philosophy 
Volume 3, 1996 melihat kegagalan itu karena Carroll membatasi 
definisi `art horror' pada film-film atau kisah-kisah horror klasik, 
dan melupakan film-film horror yang lahir kemudian seperti Psycho 
atau Dead Ringers, yang tak menyajikan monster-monster atau hantu-
hantu yang sesungguhnya tidak ada. 

"Why we put ourselves through that large class of horrific film 
experiences which do not involve impossible monsters?" tanya Vorebej.

Carrol memang telah melupakan jenis film horror yang oleh David Shaw 
dinamai sebagai `realistic horror' tersebut, namun pertanyaan 
Vorebej, yang secara implisit juga diajukan oleh Shaw, sesungguhnya 
selesai dengan kesimpulan Carrol, bahwa mereka (penonton) datang 
untuk sebuah kesenangan terhadap misteri, untuk hasrat-hasrat 
keingintahuan mereka, sebab menonton film horror bukan masalah 
merasakan kengerian atau ketakutan.

Meski demikian, dengan melepas terlebih dahulu kata-kata "the large 
class of horrific film experiences" dari pertanyaan tersebut, 
Vorebej dan Shaw menyadarkan kita akan unsur yang berpotensi 
meruntuhkan tesis Carroll.  Tanpa monster-monster itu, artinya objek 
film horror bukan sesuatu yang tidak ada, atau disadari tidak ada, 
artinya kengerian atau ketakutan di sana tak bisa lagi menjadi 
sekedar ilusi, melainkan sesuatu yang riil, paling tidak lebih riil, 
tentu masih dalam batas virtualitas `realitas objektif" Descartes, 
namun resistensi penonton menjadi lebih longgar, sehingga 
memungkinkan proses identifikasi diri penonton dengan objek-objek 
dalam film horror. Konsekuensinya kesenangan yang dibetot bukan 
melulu pada plot penemuan, pembukaan, dan penegasan, bukan melulu 
terpenuhinya hasrat-hasrat keingintahuan.    

Inilah yang kemudian coba dijawab oleh Shaw melaui psikoanalisa 
Freudian. Monster (dalam batasan yang lebih longgar, termasuk di 
dalamnya manusia jahat) merepresentasikan `the return of the 
repressed', mewadagnya kekuatan-kekuatan yang berlayar dalam alam 
bawah sadar. Kekuatan-kekuatan yang telah maujud itu muncul hanya 
untuk direpresi kembali melalui penghancuran wadag-wadag mereka. Di 
satu sisi alam sadar merasa takut terhadap sang monster, di lain 
pihak id ingin merampok, memperkosa, mengamuk, memporak-porandakan 
segalanya dengan kekuatan sang monster.  Hal ini menjelaskan fakta-
fakta atau fenomena-fenomena akan kesukaan ditakuti-takuti dan 
menakuti-nakuti, atau monster-monster yang dicintai atau dipuja 
banyak orang, seperti Frakenstein atau dalam konteks Indonesia Nyi 
Roro Kidul, atau keberadaan film-film horror nihilistik yang 
menjadikan sang monster sebagai dewa penolong, pelindung, atau hero?

Lebih lanjut, Shaw menjelaskan, bahwa film-film horor mengajukan 
pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi manusia, mengenai diri, 
melalui konfrontasi dengan liyan. Kekuatan sang monster membuat 
eksistensi spesies manusia dipertaruhkan. Dalam kisah-
kisah `realistic-horror,' orang dipaksa menghadapi potensi-potensi 
mengerikan umat manusia. Semua itu mengoda hati siapa saja yang 
belum atau tak tercemari oleh logos.

Shaw membukakan jalan bagi keterlibatan kehendak-kehendak berkuasa 
Nietszcean, dan masokisme dalam ambivalensi kesukaan menonton film 
horror, tapi apakah ia telah menjawab paradoks kesenangan dalam 
ketakutan? 

Tak ubahnya Carroll, Shaw hanya menunjukan bahwa ada dua arus yang 
mengalir ketika orang menonton film horror, kesenangan dan 
ketakutan, atau dengan ingatan terhadap Hume, kesenangan yang 
didapat dalam penghancuran ketakutan. Jawaban Carroll bahwa 
ketakutan itu ilusif, dan sebenarnya orang hanya menikmati 
kesenangan dalam plot penemuan, pembukaan, dan penegasan, bahwa 
paradoks itu hanyalah sebuah kesalahan kategoris dalam pendefinisian 
perasaan,  bahkan lebih memadai  

Benarkah paradoks ini sesungguhnya tidak pernah ada? Benarkah 
kesenangan tak pernah menyimpan ketakutan, atau sebaliknya?

Barangkali kita harus berangkat dari konklusi akhir Carrol, yaitu 
kesenangan dalam menonton film horror adalah kesenangan terhadap 
misteri atau terpenuhinya hasrat keingintahuan. Apakah yang 
tersimpan dalam hasrat itu? Mengapa orang menyukai misteri? Bukankah 
orang selalu merasa hampa ketika sebuah kebenaran, jawaban, 
terungkap? Sehingga mereka berlari mencari misteri lain, melakukan 
perjalanan baru, mengulang pengalaman-pengalaman, tekanan-tekanan 
mereka yang telah dan akan hilang setelah sang jawaban ditemukan? 
Tidakkah ini juga yang terjadi terhadap para pecandu horror yang 
selalu memasuki bioskop yang memutar film kesukaan mereka? Tidakkah 
itu menunjukan bahwa rasa takut inheren dalam kesenangan, vice versa?

Pertanyaan-pertanyaan sejenis dapat pula diajukan terhadap masokisme 
dan kehendak berkuasa yang diajukan oleh Shaw, yang bagaimana pun 
berdiri di halte yang sama dengan hasrat keingintahuan Carrol, meski 
keduanya berada di sudut yang berbeda, Shaw pada afirmasi keberadaan 
rasa takut dalam diri penonton film horror, Carrol pada penolakan 
eksistensi perasaan tersebut.

Jika filsafat dan psikologi tak mampu menjawabnya, mungkin kita 
harus lari ke biologi, bagaimana paradoks tersebut dikaitkan dengan 
naik-turunnya adrenalin, misalnya, atau neurologi, memeriksa selaput-
selaput mana saja yang berdenyar saat orang berada dalam paradoks 
hati tersebut. 

Apabila hal itu pun gagal, inilah salah satu horror yang kita 
hadapi, kesenangan sekaligus ketakutan kita, dalam `realitas 
formal', gitu?  ***  









******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke