Note: forwarded message attached.


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
IMAGO-WAR
 
Oleh:
AUDIFAX
 
Peneliti di Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA)-Surabaya
Penulis buku “Mite Harry Potter”
 
Dalam gempita perkembangan dunia dewasa ini, ada sebuah ‘ruang’ yang dapat digambarkan dalam dua kata: memprihatinkan [sekaligus] mengkhawatirkan. Pada banyak sisi, perkembangan dalam ‘ruang’ tersebut mengonfirmasi tesis Clash of Civilization-nya Samuel Huttington, perbenturan Barat vs Islam. Sisi memprihatinkan tampak pada agama yang bergeser menjadi ideologi. Sisi mengkhawatirkan merujuk pada orang-orang tak bersalah yang menjadi korban. ‘Ruang’ ini adalah ruang di mana segala citra mengambil alih realitas, di mana sebuah pertarungan imagologi tengah berlangsung dengan sengitnya.
 
Semenjak peristiwa runtuhnya menara kembar WTC hingga peristiwa Kartun Nabi, dalam ‘ruang’ ini tergambar perbenturan secara terus menerus pada berbagai momen, perbenturan antara pihak yang dicitrakan sebagai ‘Barat’ dan ‘Islam’. Ada dua keironisan di sini. Pertama, siapa yang dicitrakan sebagai ‘Barat’ maupun ‘Islam’ tak pernah jelas kriterianya, sehingga berimplikasi banyak orang tak tahu apa-apa menjadi korban. Perempuan-perempuan berjilbab di sejumlah negara di Eropa dan Australia memperoleh pelecehan pasca berbagai peristiwa peledakan. Bule-bule di sejumlah negara muslimpun tak kurang terusik ketenangannya, tak jarang mereka harus mengungsikan diri demi keselamatan. Keironisan kedua, pertikaian-pertikaian yang terjadipun tak jelas ‘diatasnamakan’ pembelaan terhadap apa. ‘Islam’ melihat Barat sebagai orang beragama kafir yang mesti dilawan, sedangkan ‘Barat’ sendiri bukanlah agama. Sebaliknya, ‘Barat’ melihat Islam sebagai ideologi, padahal ‘Islam’ adalah agama.
 
ARENA IMAGOLOGI
Pertarungan yang terjadi sebenarnya adalah pertarungan citra. Sebuah arena imagologi untuk bertarung dan mempertarungkan citra serta pencitraan. Bagaikan ranjau-ranjau, berbagai demonisasi dan glorifikasi ditebar dan manusia yang terkena ledakannya hangus dalam emosi serta kebencian primordial. Mereka yang mengatasnamakan ‘Islam’ tak jelas Islam yang mana karena pada realitanya ada begitu banyak manusia yang dicitrakan sebagai Islam berikut beragam pemikirannya. Begitu pula yang berada di pihak ‘Barat’, tak jelas kepentingan atau hak asasi ‘Barat’ yang mana yang dipertahankan, karena ada begitu banyak orang yang dengan mudah bisa dilekati citra ‘Barat’. Sayang tak banyak yang menyadari ini, sehingga citra yang muncul adalah ada dua kelompok besar homogen yang bernama ‘Islam’ dan’Barat’ tengah bertikai, lalu siapapun bisa diserang sejauh bisa dicitrakan sebagai ‘Islam’ atau ‘Barat’, esensi keterlibatan sudah bukan masalah lagi.
 
Manusia lantas kehilangan ciri manusianya. Individu menjadi hilang dan menjadi kawanan. Manusia Cartesian yang jernih dengan akalnya seketika hilang. Ajaran manusia sebagai mahkluk berakal budi, terpelanting dari kontekstualisasinya. Penjelasan manusia sebagai mahkluk berhati nurani melenyap entah kemana. Tuhanpun telah mati dalam arena ini, ketika segala kekejian, penyiksaan, penghinaan, penyengsaraan sesama manusia dilakukan atasnamaNya. Manusia terjebak dalam dunia pertarungan citra dan pencitraan yang meruntuhkan nilai-nilai humanitas.
 
MANUSIA TERJEBAK DALAM CITRA
Jacques Lacan, psikoanalis Neofreudian, pernah menjelaskan bahwa manusia adalah mahkluk yang terjebak dalam citra. Manusia membutuhkan citra untuk menjelaskan dirinya, namun banyak pula yang terjebak dalam citra dan pencitraan sehingga makin menjauhkan dirinya dari apa yang sebenarnya dicarinya. Mereka terpesona oleh citra, mengejar citra bahkan tak bisa membedakan lagi mana yang mungkin dan tak mungkin, mana yang nyata dan tak nyata.
 
Situasi seperti inilah yang menjebak mereka untuk masuk dalam pertikaian ‘Barat’ vs ‘Islam’. Berbagai pihak dengan jeli mempermainkan, memperjual-belikan citra dan pencitraan sehingga terbangunlah suatu panggung pencitraan yang mempertarungkan antara ‘Islam’ melawan ‘Barat’. Inilah panggung yang penuh dengan perayaan citra yang membuat manusia menjadi makin jauh dari kemanusiaannya. Darah, kematian, penyiksaan, air mata seolah menjadi suatu tontonan yang memuaskan dalam pementasan di atas panggung ini. Kebahagiaan atau kesedihan, cinta atau benci, tawa atau tangis, menang atau kalah, dosa atau kesucian, semuanya tak jelas namun menampak dalam perayaan kekosongan hidup di atas panggung tersebut. Semua tak lebih dari citra dan keterjebakan manusia dalam citra, tak ada makna, apalagi perenungan akan hidup.
 
DUA KESADARAN PENTING
Silang-sengkarut dalam arena pertikaian citra ini, tak membawa kemaslahatan apa-apa bagi umat manusia. Hanya kematian demi kematian, penderitaan demi penderitaan serta kebencian yang semakin meluas. Apapun yang dicari dan diperjuangkan keduabelah pihak, tak akan pernah didapat karena yang dipertarungkan hanya citra. Citra itu sendiri kosong, ia hanya bayangan, pantulan dari berbagai hal yang bukan hal itu sendiri. Pada titik ini ada dua hal penting yang mesti disadari. Apa yang mesti pertama muncul adalah kesadaran akan fenomena apa yang tengah terjadi. Kesadaran akan ‘ketakjelasan’ dari petarungan itu sendiri. Inilah yang membedakan dari perbenturan antara komunis dan liberalis di era sebelumnya, yang relatif terdapat kejelasan bahwa yang terjadi adalah perbenturan dua ideologi, berikut siapa penganutnya.
 
Kesadaran kedua adalah kembali pada kesejatian dari apa yang diperjuangkan masing-masing pihak. Sebagai agama, tak terkecuali ‘Islam’, spirit terbesar di dalamnya adalah sosok Ilahi yang disebut ‘Tuhan’. Namun, kebesaran dan keilahian ‘Tuhan’ di sini justru terlupa dan larut dalam banalitas. ‘Tuhan’ dengan segala kemahabesarannya, seolah selesai dalam berbagai perilaku yang diyakini segelintir manusia sebagai perpanjangan dari ‘kemauan tuhan’. Sungguh terkesan naif jika manusia menganggap Tuhan menginginkan dan menikmati sweeping dan pengusiran orang-orang bule yang sebenarnya tak ikut menggambar atau pempublikasian kartun Nabi. Kenaifan yang sama juga terjadi pada mereka yang mengimajikan diri sebagai ‘Barat’ dan mengagungkan pluralitas, hak asasi serta kebebasan, namun menafikkan hal-hal yang berada di luar logika pemikirannya, seperti halnya pemikiran Islam.
 
Kesadaran pertama dan kedua itu, bukan sesuatu yang bisa didapat dari arena pertarungan di media, di titik-titik pengeboman atau di ruang-ruang unjuk rasa. Dibutuhkan banyak ruang-ruang dialog dan perenungan pribadi untuk merealisasikan dua kesadaran tersebut. Dibutuhkan banyak refleksi dan pencarian yang melampaui citra dan pencitraan agar manusia tak dengan mudah menginjak ranjau-ranjau citra yang berpotensi meledakkan dan menghanguskan manusia dalam nirhumanitas.
 
© Audifax – 28 Februari 2006
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 
 


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.
--- End Message ---

Kirim email ke