Sejarah masa lalu telah mencatat bahwa HANYA di tanah inilah (Indonesia), manusia bisa membentuk (peradaban) masyarakat yang saling menghormati dan menghargai segala perbedaan etnis, budaya dan keyakinan (termasuk juga agama) yang tidak terhitung jumlahnya. TIDAK ADA SEBUAH NEGERI DAN PERADABAN MANA PUN DIDUNIA  memiliki catatan yang lebih MEMBANGGAKAN mengenai hal ini.
 
Indonesia dalam sejarahnya terbangun atas kelompok2 masyarakat yang sangat terbuka dan apresiatif atas kemungkinan masuknya unsur2 baru yang bisa diserap dan membangun budaya mereka. Islam bisa secara tidak langsung melebur dengan budaya Hindu, Budaya Jawa-China-India dll - serta banyak persilangan lintas budaya lokal yang melahirkan corak baru terjadi tanpa melalui proses “berdarah-darah” terlebih dahulu.
 
Benturan2, perselisihan peperangan atau konflik2 lain antar kerajaan2 yang terutama berelasi dengan upaya ekspansi kekuasaan, (setahu saya) hampir tidak pernah didasari oleh perbedaan2 etnis, budaya, agama dll – atau ditujukan untuk menghancurkan/memusnahkan warna/corak esensial yang dimiliki oleh wilayah yang ditaklukan (Apakah ada sejarah yang pernah mencatat terjadinya pembantaian/pembunuhan masal antar golongan/ras/kultur/penganut kepercayaan berbeda sebelum datangnya masa penjajahan?).
 
Secara garis besar, budaya / ragam daerah yang dikuasai akan tetap tetap memiliki kekhas-an sebagaimana sebelumnya untuk secara perlahan mengalami asimilasi secara alamiah seiring interaksi /pembauran antar kelompok2 masyarakat yang berbeda-beda. Nenek moyang bangsa ini telah cukup arif, bijak dan memiliki perspektif yang baik dalam memandang keberagaman sebagai sesuatu yang patut dihargai dan bukan sebaliknya. – FANATISME bukanlah akar budaya bangsa ini.
(Ps. (Pesan arwah embah2 kita) Silahkan yang mau pindah ke ARAB, VATIKAN, INDIA, THAILAND, ETC untuk segera mengurus paspor).
 
Jaman keemasan Majapahit dapat membuktikan kebenaran argumentasi diatas, dimana pada hampir wilayah kekuasaannya budaya/tradisi setempat tetap menjadi ciri khas dan milik masyarakatnya - Jogja tetap Jogja, Bali Bali dst. MAJAPAHIT BAHKAN sempat dipimpin seorang PEMIMPIN (raja/ratu) wanita – NO PROBLEMO LAH WITH GENDER ISSUE). HARMONISASI dalam / diatas segala PERBEDAAN dan KEBERAGAMAN (termasuk kepercayaan-agama) adalah catatan luhur dan SANGAT membanggakan yang pernah ditoreh oleh nenek moyang bangsa ini dalam SEJARAH PERADABAN UMAT MANUSIA - DI DUNIA.
 
Secara implisit, nenek moyang kita (pada masanya) telah memiliki kelebihan dalam memahami unsur KESETARAAN sesama manusia jauh lebih baik ketimbang masyarakat DI BELAHAN DUNIA MANAPUN. Adalah sangat menyedihkan kita tidak lagi MENGHARGAI atau sebaliknya (sekarang) ini justru merendahkan diri pada budaya2 lain yang pada sejarahnya TIDAK  TERLALU peduli untuk mengangkat tema tersebut sebagai acuan dalam membangun peradaban mereka, atau setidaknya tidak dijadikan alasan untuk MENGINJAK-INJAK / MENJAJAH / MERAMPOK tanah air kita.
 
Apakah hal tersebut cukup realistis untuk dijadikan acuan refleksi guna mengangkat kembali HARGA DIRI yang sekarang ini justru sering kita OLOK2 dan INJAK2 sendiri?  Apakah kita masih ingat bahwa nilai2 mulia KESETARAAN, saling MENGHORMATI yang tercermin dalam sikap RAMAH TAMAH tersebut justru kemudian dianggap sebagai KEBODOHAN yangk dimanfaatkan oleh bangsa asing untuk menjajah? (HARAP METODE2 IMPERIALISME LAMA hubungkan dengan KAPITALISME MODERN–atau SEBAGIAN CARA2 - PERILAKU BISNIS yang jelas2 bukan budaya kita).
 
Bukankah kita secara elegan dan terbuka (hampir) selalu menyambut datangnya komponen bangsa asing yang ingin berdagang atau bahkan ingin menetap ditanah air ini? Bukankah pada awalnya kita menghargai budaya mereka dan justru senang mendapat kesempatan untuk mempelajari hal2 yang baru? Bukankah nenek moyang kita (sesungguhnya) hanya ingin agar mereka juga menghargai kebudayaan (ciri khas) kita sebagaimana yang telah (senantiasa) terjadi berabad-abad sebelumnya? Jika saja bangsa2 asing (Belanda misalnya) tersebut ingin menetap ditanah air ini dengan jalan damai dan mau membaurkan diri mereka untuk hidup bersama dan membentuk budaya/peradaban baru, apakah nenek moyang kita akan menolaknya? (Harap hubungkan dengan nasib-sejarah kaum ABORIGIN Australia dan INDIAN & KULIT HITAM Amerika dimasa lalu untuk refleksi atas kapan, bagaimana dan darimana budaya bernama IMPERIALISME - FEODALISME itu berasal – apa yang anda lihat HARI INI?).
 
JANGAN PERNAH SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH! Soekarno tepat dalam hal ini. Apakah cerita diatas menyiratkan bahwa nenek moyang kita memang BODOH? Apa justru sebaliknya bangsa asing yang BODOH? Apakah betul penjelasan buku2 pelajaran modern yang menulis bahwa kita adalah masyarakat “TERBELAKANG” ketika ekspedisi asing menemukan kita? Apa dan siapa yang memberi acuan kata “terbelakang” tersebut (yang masih dipakai sebagai ACUAN dalam menyebut fenomena sejenis - bahkan hingga hari ini)?  Apa sinonim kata ‘TERBELAKANG’ kalau bukan “KURANG BERADAB”. Harap diulangi bacaan diatas dan simpulkan sendiri SIAPA yang sudah lebih BERADAB dengan siapa yang masih BIADAB.
Akan kemana-bagaimana sesungguhnya peradaban bangsa ini jika saja tidak di INTERVENSI bangsa oleh asing yang secara tidak langsung MERENDAHKAN derajat nenek moyang kita tersebut? (Pernahkah kita berpikir untuk bercermin kembali dan mencoba melanjutkan peradaban model KITA SENDIRI untuk bisa melihatnya – Mulai HARI INI?)
 
Kenapa ilmu pengetahuan (modern) tidak membahas lebih dalam atau mengkaji persatuan kelompok2 masyarakat ditanah air ini sebagai salah satu fenomena sejarah yang patut ditulis, dipelajari, dicontoh atau bahkan dikembangkan lebih jauh- tentang bentuk MANUSIA – MASYARAKAT - BUDAYA & KULTUR PERADABAN (SOSIAL) PALING IDEAL / FENOMENTAL yang penah ada dimuka bumi dalam memahami arti PERBEDAAN. ? (Bukankah persepsi tentang menghargai perbedaan dalam peradaban sekarang ini tidak jauh lebih baik dengan cara pandang masyarakat di jaman baheula tsb?)
 
Jawabnya adalah karena kita TIDAK MENULIS BANYAK TENTANG MEREKA ketika MEREKA MENULIS BANYAK TENTANG KITA – DASAR ILMU PENGETAHUAN MODERN – SEKALIGUS “ILUSI” SEMU SEBAGIAN BESAR PEMIKIRAN DI KEPALA-KEPALA KALIAN TENTANG “KEBENARAN” – PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN - (SESUNGGUHNYA) DIBANGUN ATAS DASAR YANG PINCANG – (DIAWALI / DIDASARI / DIDOMINASI )- SUDUT PANDANG / PERSPEKTIF SEPIHAK – LOOK AROUND YOU – PUT IT TOGETHER - REALITY DOES SPEAK! - Saya akan berusaha membahas hal ini lebih jauh kelak…
 
…DAN ATAS NAMA NENEK MOYANG (MBAH-MBAH – MU) JANGAN PERNAH MERASA MALU, RENDAH DIRI DAN / MASIH MASIH BERPANDANGAN BAHWA KITA ADALAH BANGSA YANG BODOH DAN / ATAU TERBELAKANG! – BAHKAN TIDAK UNTUK HARI INI. Karena ‘keterbelakangan’ yang di-sahkan sebagai label atas bangsa per-bangsa tidak lain hanyalah bentuk ‘ilusi kebenaran’ / perspektif sepihak (atas dasar apa? MONEY & POWER THO?) yang SEJARAHnya tercipta bukan sebagai bentuk pilihan, namun konsekwensi atas – PEMAKSAAN!!
 
HIDUP NENEK MOYANG!!
 


Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.


******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke