Saya tidak pernah ingat ada catatan sejarah masa lalu negeri ini yang memuat konflik etnis atau fenomena PENINDASAN-PERBUDAKAN “MASAL”sebelum datangnya era penjajahan?---(mohon diluruskan jika saya salah menyebutnya sebagai fenomena import). Fenomena-konlifk (sosial-politik-kultural-kepercayaan) yang secara implisit hubungkan dengan sejarah (kebiadaban) bangsa2 Eropa di masa lalu dimana pembantaian antar etnis, agama, budaya dan fenomena2 sejenis - terjadi secara berulang-ulang dan berlangsung sejak ribuan tahun lalu dan tercatat dalam sejarah umat manusia.
 
Fenomena yang secara implisit bisa dikatakan telah menjadi “BUDAYA” bangsa2 – yang melakukan PENJAJAHAN2 / POLITIK IMPERIALISME dimasa lalu (KAPITALISME MODERN?). BUDAYA yang bisa dikatakan telah secara ‘sukses” melahirkan negara2 MAJU & MODERN berkat hasil RAMPASAN2 dan JARAHAN2 mereka, dan sekarang ini menjadi UJUNG TOMBAK terbentuknya masyarakat GLOBAL yang menggaungkan DEMOKRASI untuk KEMAKMURAN - KESEJAHTERAAN - KESETARAAN HARKAT & MARTABAT seluruh umat manusia di dunia.
~ (Maaf, tapi saya kok senyum2 sendiri setelah baca tulisan diatas ya…).
 
Oh, ya maaf saya lupa ini kan era modern dan bukan saatnya lagi mengungkit-ngungkit masa lalu – inikan saat kita MAJU BERSAMA SEBAGAI BAGIAN MASYARAKAT INTERNASIONAL. Lagi pula mereka kan sudah meminta maaf,…eh betulkah? Atau kita yang justru banyak minta maaf karena sering melakukan pelanggaran HAM karena rakyat miskin-semiskin miskinnya & susah cari makan karena OKNUM2 yang sucara tidak langsung (dibiarkan-dididik –diarahkan - dibentuk untuk) obral (UPETI) kekayaan alam. Sementara BIANG KEROKnya malah sempat disebut2 sebagai TOKOH yang menjadikan bangsa ini “MACAN” ASIA? (32 tahun bo…yang mati, dibungkam udah buanyak tapi kritik HAM-nya dateng setelah sekitar hmmm…berapa (biji) tahun?).
 
HAM…hmmm HAM….siapa (bangsa2 mana) yang ngajarin kita HAM, saya usul gimana kalau kita adakan FIT & PROPER TES kayak pejabat sebelum kita pilih pemimpin HAM – Kita telusuri LATAR BELAKANG dan SEJARAHnya, kebiasaan2, budaya dan tabiat2nya – baru kita LULUSKAN untuk dijadikan pemimpin - panutan yang layak didengar NASIHAT-PETUAH2nya…(hingga dituruti SANGSI2-nya)
 
~ (Sekali lagi maaf, tapi saya kok ngerasa seperti seekor kadal (di-kadal-in) setelah baca tulisan diatas* …).
 
*Kenapa saya yakin bahwa fenomena/proses kadal-kadal-an dimungkinkan terjadi tanpa seseorangpun sadar/merasa bahwa dirinya adalah kadal? Jawabannya sekali lagi terletak pada buku2, institusi2, sistem (terutama pendidikan), pemahaman atau apapun yang secara psikologis-psikis mendasari nalar-indra-insting-otak-intuisi anda dalam menalar-memahami-menterjemahkan (hingga bahkan hari ini) – (Sesungguhnya) tidak dibentuk atas pilihan pribadi anda (termasuk (terutama) kebahagiaan) – anda merasa bahwa anda hidup dan di WAJIBKAN untuk hidup dalam sebuah POLA-RITME-ARUS utama ‘KEBENARAN’ yang harus dipatuhi – sebuah (ILUSI) tentang sistem yang paling “BENAR” – yang (terutama) lahir – berawal – diominasi oleh perspektif sepihak – yang membuat (anda) tidak sadar ketika diprogram menjadi KADAL yang tetap ber-ILUSI sebagai MANUSIA **.
 
**ALAM BERBICARA, BERCERITA DALAM / PADA / ATAS WAKTU, (saya meyakini bahwa) kebenaran tidak berbicara secara partial – namun keseluruhan – Through ages you shall step into higher wisdom – not (only) on certain reality – which will be forgotten– keep each stories carried by time – put it together – you shall see who human being are – you shall find yourself – the highest consciousness - the mind is free to choose – not to be directed – (&)  it is okay to be an alien (even) among whole world society – Moses – Jesus – Muhammad – Siddhartha – Krishna – etc – etc.***
 
Eh kok malah ngelantur, Bukankah untuk maju KE DEPAN seharusnya kita meletakkan perspektif lebih pada FENOMENA2 REAL dan UP TO DATE ketimbang mengungkit-ungkit (LUKA) masa lalu? Lagipula apa yang pernah mereka ‘JARAH”  (padahal saya yakin nenek moyang kita enggak pernah pelit buat bagi2 anugerah kekayaan di BUMI bernama PERTIWI ini), kan sudah dikembalikan secara tidak langsung melalui DONASI2, BANTUAN2 PINJAMAN, yang bisa dicicil (bunganya). melalui Badan2 / Organisasi2 (amal-pinjaman) “BENTUKAN” mereka.
 
Sekali lagi budaya adalah dasar (kuat) yang membentuk karakter sebuah bangsa & peradabannya. Lihat saja kemiripan antara pembentuk badan2/organisasi2 DONOR internasional  dengan KORPORASI2 yang juga ‘gemar’ bikin yayasan2 amal –--- dan amal adalah perbuatan “BAIK” – Ingat BERAPAPUN JUMLAH / HASIL / PROSENTASE KEKAYAAN ALAM yang telah dikeduk-dikuasai-dikumpulkan oleh mereka (dan dikonversikan kedalam bentuk2 tertentu) – Mereka adalah ‘kelompok’ BAIK-BAIK - INGAT - BAIK – Karena orang BAIK BER-AMAL – Dan AMAL itu SUKA RELA – Tidak boleh ada PAKSAAN – hitungan AMAL adalah urusan TUHAN – ALLAH semata (amin).
 
(~ Maaf, saya sangat tersentuh oleh paparan diatas, ijinkan saya kebelakang sejenak untuk mengambil tisu…)
 
Baik memang, bangsa mereka memang baik betul – punya niat MULIA dan patut dicontoh. Bangsa ini pantas malu dan memang SEHARUSNYA melupakan ASAL MUASAL –SEBAB MUSABAB kita MELARAT dan memerlukan bantuan, hingga dijuluki bangsa TERBELAKANG karena terlambat 350 TAHUN untuk membangun (sendiri) peradabannya (350 tahoen gitchu loch…). MALU deh aku…malu betul…apalagi ketika mereka bilang bilang - HARI GENEE UDAH DI BANTUIN MASIH MISKIN! SAYA CABUT NEEH BANTUANNYA!
 
Bukankah sangat KETERLALUAN jika masih ada sebagian pemikiran2 / pandangan2 dari sekelompok masyarakat yang menyerang / mengkritik BANGSA2 (KORPORASI2) yang suka BER-AMAL / MEMBERIKAN PINJAMAN tersebut?
 
Supaya lebih spesifik saya akan memakai KORPORASI sebagai contoh untuk ‘membabat’ argumentasi2 TIDAK LOGIS dari sebagian KECIL komponen bangsa ini yang kerap mengkritik keberadaannya (ck..ck..ck udah tahu - sadar bahwa kita adalah bangsa yang BODOH, kok bisa2nya ngritik sih?)  
 
Pada kasus KORPORASI - walaupun sebagian besar hasil2 kekayaan alam CIPTAAN TUHAN, dan bukan ciptaan MEREKA - telah berhasil mereka kumpulkan untuk kekayaan sekelompok kecil PRIBADI2, hal tersebut-kan bukan SALAH mereka? Itu PRESTASI mereka! Anda (yang mengkritik) harusnya baca terlebih dahulu majalah2 yang bercerita tentang “KE-ULET-AN” mereka untuk mencapai hal2 tersebut – dan bagaimana mereka semakin ULET sekarang ini. Salah sendiri anda kurang ULET. Coba bayangkan kalau semua orang bisa ULET2 di dunia ini? Semua orang bakal MAKMUR! Bakal KAYA2
…..eh kalau masih ada yang sisa ya kekayaan buminya….- kalau begitu kasusnya kelak - KITA harus metuntut TUHAN untuk menciptakan lebih banyak KEKAYAAN ALAM dimuka bumi untuk kita EKSPLORASI dan PEREBUTKAN ketika kita semua sudah / semakin ULET2 – (bukankah itu tujuan utama kita bersama Bos?)
 
Sekali lagi saya tekankan BUKAN SALAH MEREKA mengeruk, mengumpulkan dan menguasai dan mengkonversikan (dalam bentuk uang, surat berharga, properti dll) hasil KEKAYAAN ALAM (minyak bumi, ikan, kayu dll) dalam jumlah yang SANGAAAT BESUAAR. Dan hendaknya kita selalu ingat bahwa mereka orang yang SUKA BIKIN YAYASAN DAN BER-AMAL terutama buat masyarakat2 KURANG ULET yang berhasil DI SEDOT kekayaan alamnya – Ingat AMAL adalah BAIK- TUHAN suka orang yang ber-AMAL.
 
Salah sendiri orang2 di AFRIKA (misalnya) yang mati kelaparan karena lahir di negeri yang MISKIN KEKAYAAN alam. Mereka justru sudah sering dapat bantuan dari yayasan2 AMAL milik KORPORASI2 (terutama) untuk bertahan ketika terjadi musim2 buruk, wabah penyakit atau bencana alam lainnya. Saya bahkan pernah membaca berita tentang seorang CEO KORPORASI yang tiap tahun berani nyumbang (merelakan) sampai 2 Milyar…coba bayangin 2 M bo….padahal kira2 butuh waktu 6-JAM buat CEO itu dapet duit 2 M – hasil bunga bank…Coba bayangin 6 -JAM bo….Pikir gimana rasanya nunggu bus selama 6 jam, stress kan loe? Makanya NGACA – SADAR DIRI sebelum ngritik! Coba bandingkin ama diri loe sendiri - GAJI loe 900 ribu setiap bulannya tapi nggak pernah AMAL buat Afrika….mikir enggak sih loe? PAKE KEPALA DUNK ! PAKE OTAK…!
 
Udah baik disumbang biar (terutama) bayi2, ibu2 nyang mati berkurang – nonton TIPI dong makanya, kalau mau liat orang hampir MATI KELAPARAN harusnya situ sering dan lebih jeli kalo nonton TIPI – soalnya (terutama) kalo lagi ada yang LAGI KASIH SUMBANGAN, BIASANYA DI-MASUK-IN TIPI – Tiap hari sih banyak yang (masih/setengah) MATI, tapi ngapain juga musti sering2 masuk TIPI? Emangnya MATI KENA BOM? Jangan becanda deh loe!
 
Siapa juga yang mau pasang iklan buat tayangan yang nayangin orang ‘item2’’ perutnya busung atawa bayi yang tinggal tulangnya aja? Jijay kan bo…? Mau lu taruh dimana ACARA macam AMERICAN / INDONESIAN IDOL kalo ditambahin jam tayang ACARA2 model begituan? APA LU TEGA liat jutaan GENERASI MUDA kita kecewa? APA lu nggak ngerti PENTINGNYA acara2 model begituan buat didik mereka biar nggak terlalu “TERBELAKANG” lagi? REALISTIS dong…REALISTIS, gimana juga nasib pemili2k stasiun TIPI kalau pemasukan dari iklannya turun? KASIHAN enggak sih loe? Punya HATI enggak sih loe…?
 
JELASNYA - nggak bisa dong maksain PRIBADI2 / KORPORASI2 untuk bagi kekayaan (HASIL MENIMBUN KEKAYAAN ALAM) mereka dalam jumlah yang lebih besar – kan AMAL…sukarela (inget Allah dunk!). Lagi pula kebutuhan orang2 kan beda2, loe mungkin bisa tahu kalau sebagian besar orang2 (kelaparan) di AFRIKA butuh uang buat makan, berobat sekedarnya atau bertahan hidup karena (hampir) senasib ame diri loe. Tapi loe kan nggak tahu kebutuhan (misalnya) CEO sebuah KORPORASI-KAN? Gimana loe bisa tahu, kecuali sok tahu?
 
Dia (mereka) kan orang2 BER-PRESTASI – PRESTISE dan loe nggak bisa NGUKUR kebutuhannya mengingat loe bukan orang yang berprestasi. Loe nggak tahu kebutuhan dia berapa kan? Jadi jangan seenaknya (misalnya) loe nuntut dia buat nyumbang 2 M – lagi (hufff…..2 nolnya 9 bo…) buat Afrika. Gimana kalau dana itu udah di-alokasikan buat main GOLF selama 1 BULAN? Apa loe pernah kepikiran tentang hal tersebut…? Gimana kalau PRESTASI - BISNISNYA turun akibat kurang main GOLF? Loe nggak tahu kan? Makanya jangan SOK TAHU menilai orang BUNG! KETERLALUAN bukan? Orang suka AMAL sampe 2 M (2 nolnya 9) kok bisa-bisanya dikritik-kritik…..Masya Allah! - dech
 
Susah kok, emang susah, perspektif teman saya yang sekolah ‘diluar’ juga bilang - emang orang kita ini GOBLOK2 kok. Menurutnya (baru dari ‘luar’ bo…) bangsa kita mundur gara2 nggak bisa lihat dan baca ARUS perubahan GLOBAL……Ck…ck…ck…sayang yang BAWA ARUS juga nggak pernah MAU NGACA dan tunjuk jari siapa yang bikin orang kita GOBLOK2….
 
Eh udah deh, susah…ngapain juga gua jelasin sesuatu ke orang yang dasarnya emang GOBLOK. Mendingan gua ngerenungin nasib deh, terlahir di sebuah tempat yang penuh orang2 GOBLOK.
 
Ngomong-ngomong soal GOBLOK, saya jadi ingat cerita teman saya mengenai LOMBA / PEMILIHAN / KONTES orang TER-GOBLOK dikampung. Kebetulan memang ada seorang bernama Amir yang SUPER GOBLOK dan disuport oleh Ahmad untuk mengikuti lomba. Di panggung Amir membuktikan KE-GOBLOKAN-NYA dengan menjadi bintang panggung. Namun pada saat pengumuman Amir sangat kecewa karena ternyata hanya menduduki posisi ke-2. Dengan sangat kesal ia mendatangi para juri…
 
AMIR: Pak saya kan sudah menunjukan bahwa saya yang paling goblok dipanggung, tapi kenapa saya dapet juara-2.
JURI: Nah kok anda bisa tahu? Itu buktinya anda tidak terlalu GOBLOK…
Dengan kesal Amir kembali pada Ahmad dan menyuruhnya untuk kembali mempertanyakan keputusan juri dengan sebelumnya berpesan…”Bilang bahwa saya nggak tahu kalau juri (sesungguhnya) membuat keputusan yang salah”.
Dengan bersemangat Ahmad pun mendatangi meja juri,
Ahmad: Pak teman saya kan yang paling GOBLOK diantara semua kontestan, kenapa dia nggak jadi juara-1?
JURI: Gimana bisa juara-1, dia kan GOBLOK?
(Teman Amir manggut-manggut…)
 
HIDUP GOBLOK!!


Yahoo! Travel
Find great deals to the top 10 hottest destinations!


******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke