Makan Malam Bersama Orang Baru Dikenal Makan malamku kali ini bertemakan makanan daerah Timur Tengah. Di Jakarta rasanya sekarang sudah mulai ada penambahan restoran yang menyediakan makanan seperti nasi kebuli, martabak Mesir yang mirip dengan roti canay ala Malaysia dengan lauk daging kambing yang terasa menyengat aroma bumbu rempah-rempahnya, khususnya aroma bumbu kayu manis atau buah kapolaganya.
Disaat asyiknya menikmati menikmati makanan Timur-tengah (Timteng), ada satu orang pengemis yang minta nasi juga. Terus terang, kejadian ini merupakan kali ke dua dimana peminta-minta meminta makanan yang sama dengan apa yang aku makan. Kejadian pertama aku alami di Medan tepatnya di terminal bus Pematang Siantar dan yang kedua di Jakarta ini. Kejadian di Jakarta, untuk pengemis itu sebenarnya aku sudah berikan lembaran uang kertas, tapi ya tetap tidak mau, akhirnya makanlah kita bersama-sama, tentunya dengan membelikannya sama dengan apa yang kita makan, sementara kejadian di Pematang Siantar kita makan bersama satu piring karena saat itu aku makan sate, jadi kita nyaman saja. Sebenarnya kejadian makan bersama itu tidaklah aneh, asal sudah membudaya, untuk ukuran Indonesia, apa bila kita baru kenal rasanya masih sulit diterima, karena ada ketakutan jangan-jangan diberi obat bius, seperti kejadian-kejadian di bus luar kota. Makan bersama di Timur-Tengah sudahlah membudaya, apa lagi pada musim haji, atau musim umroh di bulan Ramadhan, semua orang berlomba-lomba berbuat kebajikan. Dulu pada saat di Mekah dan Madinah di bulan Ramadhan, bermodalkan sajadah yang saya kalungkan dipundak dan melangkahkan kaki menuju masjid al-Harammain biasanya banyak saudagar yang sudah menyiapkan tikarnya untuk mengajak makan bersama atau kendurian. Ternyata model makan dengan cara kenduri di Asia Subcontinetal (Sri Lanka, Bangladesh, India, Pakistan) khususnya bagi penganut Islam, sampai sekarang masih dilaksanakan. Tradisi ketimuran di negara-negara tersebut masih kuat menancap, lain halnya di negara kita, tradisi-tradisi lama perlahan-lahan mulai memudar, seakan-akan malu mengikuti tradisi lama, dahulu kita mengacu ke arah Timur, tempat matahari terbit, sekarang kita mengacu ke arah Barat. Sehingga efeknya menjadi lucu dan tidak nyambung, banyak orang yang "kakinya menancap di Timur, kepalanya menancap di Barat". Dahulu kala, waktu aku masih kecil, kenduri (Jawa : Banca'an) juga sering dilakukan di kampungku, seiring berjalannya waktu makan bersama tidak lagi dilakukan, sekarang biasanya apabila ada selamatan, cukup diberikan nasi kotak, dan dibawa pulang. Makan bersama satu tempatpun pelan-pelan sudah punah dimakan zaman. Gaya hidup individualis pelan-pelan merambah dusun dan perkampungan. Masih mengenang masa lalu, dulu makan malam bersama keluargaku selalu bersama-sama, andai salah satu anggota keluarga masih belum berada di ruang makan, maka dicari-cari sampai ketemu. Lain dulu lain sekarang, mengikuti kemajuan jaman menjadi tidak nyaman, makan malam bersama menjadi bukan ritual lagi, satu keluarga masih dalam satu meja tapi aktifitasnya berbagi, ada yang makan sambil menerima handphone, ada yang sambil nonton televisi, ada juga yang sambil membaca buku. Makan bersama akan menjadi berkah, apabila kita menikmatinya sambil bersyukur kehadiratNya. Kembali lagi ke masalah makan bersama orang baru, ada satu nasehat yang berkesan, yang sayangnya saya lupa mana sumbernya, nasehatnya menyatakan bahwa perhitungan amalan itu tidak seperti matematika, andaikan kita punya barang 10 unit, dan satu unit yang diberikan untuk amal, dan sembilan dipakai untuk kita pergunakan, maka sebenarnya sisa yang abadi adalah satu. Jika dibuatkan perumpamaannya, amalan itu diibaratkan biji, maka nilai amalan itu seperti biji yang ditanamkan, dimana nilainya setara dengan batang, dimana batang memiliki cabang, dan cabang memiliki ranting, dan tiap rantingnya ada sekumpulan buah. Sungguh luar biasa besar nilainya. Jadi, apabila anda mau makan, kenapa tidak disebelah anda duduk diajak turut serta menikmati rezeki anda? Berbagi kebahagiaan akan belipat rasa bahagia kita dan berbagi kesedihan maka akan berkurang kesedihan kita. Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
