Note: forwarded message attached.
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message ---CARTESIAN THEATREOLEH:AUDIFAXPeneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku Mite Harry Potter(2005, Jalasutra)Without mysteries, life would be very dull indeed.What would be left to strive for if everything were known?--Charles de Lint--Sekian abad lalu, Rene Descartes memaklumatkan Cogito Ergo Sum atau Aku Berpikir maka Aku Ada. Ego Cogito Cartesian ini, kemudian melandasi banyak pemikiran, terutama di era Renaissance dan Aufklarung. Sebuah dasar pemikiran yang hingga saat ini masih begitu terasa kuat mengakar dalam kehidupan manusia. Bahkan, ego Cartesian inilah yang tampak kental mewarnai nuansa panggung kehidupan manusia, dalam Narasi-narasi besar yang menafikkan narasi-narasi kecil. Hingga kehidupan jatuh dalam titik yang begitu parah dalam ketakmampuannya berhadapan dengan kemajemukan.Kita melihat orang berada dalam kawanan dan meneriakkan sesuatu atas nama sesuatu yang mengubur pluralitas dan keunikan individu. Orang-orang tertentu, berteriak atas nama Islam, Kristen, Katolik, Perempuan, dalam nama Yesus, demi Rasul, demi Negara, dsb. Rhoma Irama, di salah satu infotainment, mengatakan bahwa mereka yang melanggar RUU APP berarti melanggar apa yang telah disepakati bangsa ini. Kita mudah melihat orang mengklaim dengan menempelkan secara sembarangan term Mayoritas, dalam berbagai konteks peristiwa, Mayoritas Manusia, Mayoritas Umat, Mayoritas Warga Negara dan sejenisnya. Dalam semua sebutan tersebut, pluralitas dan keunikan individu lenyap oleh kerumunan. Narasi-narasi kecil ditenggelamkan dalam Narasi besar.Dengan mengatasnamakan kawanan, maka individu [seolah] merasa dirinya didukung oleh cukup banyak orang. Dengan meleburkan diri dalam kawanan maka tanggungjawab individu menjadi lenyap. Sementara, apa yang diperjuangkan atas nama kawanan tak lebih dari ilusi, karena pada saat itu, keunikan, keragaman, dan pluralitas individu seketika tercerabut.Salah satu contoh yang bisa saya hadirkan di sini adalah ketika sekelompok orang yang mengatasnamakan Perempuan menuntut jatah kursi di pemerintahan, atau ketika sekelompok perempuan yang mengatasnamakan Perempuan Indonesia menggugat keikutsertaan seorang perempuan pemenang Putri Indonesia ke ajang Miss Universe, dengan alasan tak sesuai citra perempuan Indonesia. Ketika ada sesuatu yang diatasnamakan Kawanan Perempuan, maka seketika itu pula terjadi pembunuhan terhadap keunikan individu dengan segala talenta yang bisa dikembangkannya. Pada kenyataannya itu semua adalah ilusi, bahkan jika jatah perempuan di pemerintahan dipenuhi, itu tak akan merubah nasib perempuan di Indonesia, kecuali nasib perempuan yang mendapat jatah di pemerintahan. Ketika sekelompok orang dengan karakteristik dan talenta yang berbeda dengan pemenang putri Indonesia menggugat mengatasnamakan perempuan Indonesia maka seketika itu juga terjadi pembunuhan terhadp perempuan dengan keunikan dan talenta tertentu. Inilah drama Cartesian dalam kehidupan manusia, Aku berpikir mengenai Aku dan memaksa orang lain menjadi Aku.Inilah drama di mana selalu muncul momen sang kambing hitam dengan segala kenistaan dan kerendahan martabatnya. Ketika berhadapan dengan kenyataan nasib perempuan Indonesia yang tetap begitu-begitu saja, walau jatah perempuan terpenuhi (misalnya) maka akan ada kambing hitam yang dipersalahkan. Putri Indonesia yang mengikuti Miss Universe ditempatkan sebagai kambing hitam citra perempuan Indonesia. Kambing Hitam dalam moralitas kawanan adalah mahkluk yang harus ada untuk tempat pelemparan tanggung jawab.Semua berteriak Salibkan Dia!, dan mahkluk yang hina dan papa ini dilahirkan di atas panggung massa. Adegan ini berulang di manapun individu lenyap dalam kerumunan dan tak mampu menegaskan-dirinya. Masyarakat yang mengebiri hak-hak individu, individu-individu tanpa wajah dan tanpa nurani dalam kolektisme membutuhkan kambing-kambing hitam[i]. Julia Kristeva menjelaskan bahwa semua politik interpretasi yang mengedepankan klaim identitas kelompok, berpotensi mengarah pada dogmatisme, kekerasan, dan pembinasaan perbedaan personal[ii].Dalam ilusi-ilusi Cartesian manusia-manusia dekaden bersembunyi dari tanggung-jawabnya menghadapi hidup serta keputusan-keputusan atas hidupnya. Sekian tahun sebelum seorang perempuan bisa menduduki presiden, bergema wacana perbaikan nasib perempuan jika seorang perempuan menjabat presiden. Namun, ketika itu benar terjadi tak ada perbaikan signifikan terhadap nasib perempuan.Sekarang orang banyak berwacana kehidupan negara agama berbasis ideologi tertentu yang diilusikan akan membawa kemaslahatan bagi masyarakat Indonesia. Lalu banyak orang berusaha mengajak orang lain pindah agama dengan iming-iming surga, Tanah Terjanji dan sebagainya yang semuanya tak lebih dari ilusi teater Cartesian yang menenggelamkan keunikan individu. Aku berpikir aku Islam, maka Aku Ada, Aku berpikir aku Kristen maka Aku Ada, Aku berpikir aku Katolik maka aku Ada, Aku berpikir aku perempuan maka aku ada dst. Lalu, karena berpikir dengan basis AKU, maka merekapun memperlakukan YANG-LAIN seperti halnya AKU BERPIKIR TENTANG AKU.Kristeva menjelaskan bahwa untuk kehidupan yang lebih baik, manusia mesti mengarahkan pada kesadaran akan adanya perbedaan identitas personal itu sendiri. Ini adalah langkah sentral untuk memecahkan problem kemajemukan yang bisa dilakukan manusia dalam upayanya memahami perbedaan tersebut tanpa berusaha mentotalisasinya, membinasakannya, atau merekonsiliasinya. Di sini ada kesadaran bahwa subjek bisa memahami Liyan, bersimpati dengan Liyan dan merasakan apa yang ada di posisi Liyan, karena subyek itu sendiri adalah Liyan[iii].Menarik, justru subyek adalah Liyan, Yang-Lain. Subyek justru bukan aku, ego, fixed. Namun perhatikan, justru dengan menempatkan Subjek sebagai Liyan maka subjek bisa terbebas dari keterbatasannnya. Ia keluar menyelami ketakterbatasan kemungkinan dan menerima sebagai bagian dari kehidupannya.KISAH DAN PANGGUNG KEHIDUPANKehidupan itu sendiri adalah panggung tempat dipentaskannya berbagai kisah. Problematika humanitas muncul ketika satu orang atau pihak tertentu berusaha mengelevasi kisahnya ke posisi lebih tinggi dari kisah YANG-LAIN., bahkan berusaha merenggut YANG-LAIN untuk masuk dalam KISAH-[A]KU. Inilah salah satu titik krusial dalam permasalahan kemajemukan. Orang tak berani menghadapi kisah yang dituturkan YANG-LAIN. Orang tak bisa menerima YANG-LAIN dalam keunikan kisahnya. Mereka yang tak berani menghadapi narasi-narasi kecil kisah YANG-LAIN ini, berusaha memaksakan sebuah kisah sebagai narasi besar, sebagai kebenaran tunggal yang menelan keunikan manusia beserta masing-masing kisahnya.Ekses dari situasi ini, bukan hanya banyak orang tertelan ke dalam kisah yang menjadi narasi besar itu, tapi juga banyak orang bahkan tak mampu lagi berkisah, tak mampu lagi bertutur tentang diri dan segala keunikannya dengan tulus. Manusia mati dalam narasi-narasi besar. Mereka tak mampu berkisah sesuai diri dan hidupnya. Mereka bahkan tak tahu apa sebenarnya yang dikisahkan tentangnya. Hari ini kau bisa menjadi pahlawan, esok kau sudah menjadi pesakitan. Orang bahkan banyak yang tak tahu apa yang dimaksud ketika orang lain mengatakan sesuatu kepadanya. Orang meributkan kebenaran sejarah. Orang berteriak-teriak tentang pelanggaran HAM. Namun, ordang tak sadar bahwa nirhumanitas sebenarnya justru terletak pada banyaknya manusia yang tak mampu berkisah tentang dirinya. Banyaknya manusia yang ditelan oleh Kisah-kisah yang menjadi narasi besar yang mencerabut hak manusia atas narasi kecil kisah dirinya sendiri.. Inilah panggung Cartesian yang mengonstruksi kisah-kisah yang mencerabut manusia dari diri.REFLEKSI:Inilah saat di mana kesadaran akan kemajemukan adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dari nirhumanitas. Kesadaran bahwa manusia harus berhadapan dengan hidupnya sekarang, di sini dan dengan tulus menatap apa yang ada di hadapannya. Manusia harus mulai belajar bertutur tentang dirinya yang unik dan mengarungi masa depan sebagai keluasan kemungkinan kisah-kisah di dalamnya. Manusia harus melepaskan diri dari kebiasaan mengambil narasi-narasi sejarah, menggantungkan diri dari tuhan-tuhan kosong, menggantang harapan pada datangnya sang penyelamat yang tak kunjung tiba. Panggung kehidupan masing-masing dari kita adalah tanggungjawab kehidupan yang harus diterima sebagai bagian dari dalam diri, bukan dilempar keluar diri. Manusia harus belajar berkisah tentang diri dan dengan segala ketulusannya berhadapan dengan kisah dari YANG-LAIN. Manusia harus belajar melihat dan menerima dirinya sendiri dengan segala keunikannya terlebih dulu, mengisahkan apa adanya, lalu mempertemukan dengan kisah dari YANG-LAIN, untuk menemukan bahwa ada sebuah panggung kehidupan yang bukan sebuah kebetulan. Sebuah panggung di atas panggung yang mentransendensi manusia dari imanensinya. Panggung yang mempertemukan berbagai kisah yang mampu menginspirasi dan menyelamatkan manusia dari nihilisme.© Audifax 4 April 2006NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
[ii] Kelly Olliver; (1993); Reading KristevaUnravelling the Double-bind; Bloomington & Indianapolis: Indiana University; hal. 149[iii] Kelly Olliver; (1993); Reading KristevaUnravelling the Double-bind; Bloomington & Indianapolis: Indiana University; hal. 149
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC for low, low rates.
--- End Message ---
