Tragedi ini berkisah tentang Drs. H. I. Budhyana, MSI, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Propinsi Jawa Barat, yang disampaikan kepadaku pada saat mengadakan pameran Kebudayaan"Kemilau Nusantara" tahun lalu. Menurutnya, pada saat itu dia bersama kawan-kawanya memancing di tengah laut tepatnya di Ujung Genteng, Pelabuhan Ratu, tiba-tiba saja badai besar menerpa perahu long-boat yang dikendarainya. Karuan saja, seisi perahu panik, perahu dicoba dipacu ke pantai di Pelabuhan Ratu yang lamat-lamat terlihat.. duh.. sayangnya mesin mati. Setelah di check pada mesinnya, ternyata pada tangki solar dicampur air.
Setelah ditanya tentang keberadaan air tersebut sang nahkoda mengakui bahwa dia sengaja mencampuri solar dengan air agar tangki solar nampak penuh, kenapa alasan bodoh ini dilakukan ? Menurutnya karena harga BBM mahal, sehingga langkah itu dilakukan. Tapi kan mana bisa tercampur antara solar dengan air? Betul, namanya juga kurang pendidikan sehingga tidak tahu ilmu fisika, kalau air tak bakalan bercampur dengan minyak, dia tidak tahu bahwa tindakan bodoh itu bisa mengakibatkan kecelakaan yang berakibat hilangnya nyawa. Kemiskinan yang mendera sang nahkoda berakibat kepada menurunnya moral oknum nelayan.
Perahu masih oleng dipermainkan ombak....., aktifitas seisi perahu berlainan, ada yang membantu nahkoda memperbaiki mesin, ada yang berdoa, ada yang cemas, dan ada yang diam terpaku, masing-masing memikirkan keselamatan dirinya. Terasa sekali bahwa manusia ini terasa kecil dibandingkan dengan alam ciptaanNya, dengan membandingkan diri ini dengan alam saja sudah terasa kecil, apalagi ingin membandingkan dirinya dengan Sang Pencipta Alam, apa tidak malu?
Jangkarpun segera dilempar, sepelemparan batu dari perahu ada karang setinggi 20 meter menghadang diburitan kapal. Jangkar mengikat sasaran. Perahu mulai tenang. Seisi kapalpun mulai tenang.. Bencana besar yang siap melumat seisi kapal terhindarkan. (Bagaimana kejadian itu divisualkan? lihat http://ferrydjajaprana.multiply.com/market/item/24)
Bersyukur ke hadlirat Ilahi Rabbi, akhirnya seisi kapal selamat, pelajaran itu tidak dilupakan seumur hidup mereka. Terutama untuk Sang Nahkoda, dalam mencari rizeki itu ada etikanya, ada yang halal (diperbolehkan) ada juga yang haram (tidak diperbolehkan). Apabila kita didera persoalan dunia yang berat, semestinya kita kembalikan persoalan kepada Sang Pencipta, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sandarkan hati kepada Nya (tawakal) semata. Hendaknya kita yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam ujud ini kecuali Dzat Nya, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rezeki, atau pemberian maupun pelarangan, bahaya maupun manfaat, kemiskinan ataupun kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati, dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang ada (maujud), semuanya itu adalah dari Allah.
Badaipun pasti berlalu, setengah hari di tengah laut kidul memberikan pelajaran yang sulit dilupakan. Jangkarpun ditarik, dengan bantuan beberapa rekan nelayan, perahu ditarik mendarat. Cuaca perlahan-lahan kembali cerah, seakan melupakan tragedi yang telah berlalu dengan cepat.
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
