Tangan dan kaki itu berbeda
wasugi
Ahir-ahir ini seakan tidak henti-hentinya kita
didera `berbagai macam cobaan`. UU Porno,
`Omelan` tetangga yang sok ngurus dan revisi UU
No.13. bahkan mungkin banyak lagi problem-problem
lain yang belum terselesaikan. Korupsi kek, Nepotisme, Papua dan lainnya.
Perbedaan seharusnya tidak selalu disikapi dengan
egois, karena toh tidak ada atuh yang
namanya kebenaran mutlak. kecuali milik tuhan.
tetapi ahir-ahir ini kenapa selalu saja adanya
justifikasi kebenaran menururut segelintir orang.
Yang nyebabin merambat dan menyebabkan
terjadinya konflik atau
keluarnya stetment-stetment arogan. `Kalau tidak
sama, berarti bukan dari golongan kita, maka dia
musuh`. entah kenapa, katanya ingin menjadi
bangsa yang terhomat, tapi malah untuk menjadi
bangsa yang terhormat kok dengan cara-cara yang tidak terhormat. atau memang inilah proses untuk menjadi bangsa yang demokratis.
Nurani seperti disimpan jauh-jauh, akal sehat
seakan dikesampingkan, yang ada malah nafsu.
Padahal `katanya` yang membedakan antara manusia
dengan binatang adalah akal. lantas kenapa akal
tidak bisa memimpin manusia? atau mungkin karena
kita tidak bisa membedakan mana ajakan akal dan mana ajakan hawa nafsu?
Demonstasi sebagai media `ungkapan hati` kan? kok
malah dijadikan media pengrusakan, penjarahan dan
ekspresi kemarahan. Bangsa ini milik bersama
bukan? kalau milik bersama berarti milik kita
semua. KOK, kita malah merusak milik kita sendiri, padahal kita sendiri yang membuatnya. aneh yah?
Pot-pot bunga itu milik kita, bus-bus itu milik
kita, toh tanpa bus kita juga yang `merana`.
Tapi, dengan jurus 8 tapak naga malah kita rusak,
lantas serta merta juga kita menyalahkan pemerintah kalau transfortasi indonesia kurang. sama saja kita memukuli diri sendiri.
Lepasnya Timor timur, tsunami, banjir, longsor dan
lain-lain harusnya sudah cukup untuk menjadikan
kita manusia dewasa dan beradab.
kejadian-kejadian itu media introspeksi. bahwa kita memang satu jiwa. berbangsa satu bangsa indonesia. berbahasa satu bahasa indonesia.
Ibarat kita baru lahir, kita akan belajar banyak
hal, alam ini mengajari kita. kalau kita jalan
tidak memakai sendal takutnya kita kena paku,
atau kaki kita akan sakit kena batu. jadi kita harus memakai sendal biar kaki kita kagak ketusuk tuh paku. semakin besar kita, filosofinya juga semakin tinggi, agar
dihormati kita harus pintar, untuk pintar kita
harus belajar.
Tetapi entah kenapa, kejadian-kejadian di indonesia
itu tidak pernah diambil hikmahnya. Menjadi
bangsa yang terhormat memang tidak semudah
membalik tangan. untuk mempertahankan kehormatan
yaa jelasnya harus dengan cara-cara terhormat. ingin dihormati yaa harus menghormati orang lain. karena tidak ada
kebenaran itu sendirian. kita kan tahu, yang
namanya Hadits mutawatir itu harus banyak orang,
kalau satu-satu itu disebut `ahad`.
dan itu tidak bisa menjadi landasan hukum, apalagi kalau `munqothi` (terputus).
dan itu tidak bisa menjadi landasan hukum, apalagi kalau `munqothi` (terputus).
Badan itu harus ada tangan, kaki, dan kepala. kalau kurang satu berarti
cacat. yang saya tau juga, yang namanya tangan berbeda dengan kaki. kalau sama
gimana jadinya?
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
