|
Mas aku hanya ingin bertanya…kerjaan yang bisa mencerminkan konsep homo faber marx di zaman sekarang apaan… Trus kalo rasio instrumentalis diharamkan dengan cara apa kita menafkahi diri kita? Sipakah kapitalis yang harus dilawan itu ? trims -----Original Message-----
Saya ingin berkomentar dgn nada yg lain. Sudah semenjak Marx, orang mulai bicara bahwa bekerja atau berkarya adalah cara manusia menyatakan siapa dirinya di hadapan alam dan di hadapan sesamanya. Kerja atau karya, dgn demikian adalah ungkapan kepenuhan dari kemanusiaannya. Seperti pematung yg mengungkapkan dirinya dalam arca tempaannya, manusia menjadi puas dan berbahagia dgn ungkapan kerja/karya tangannya, buah pikirannya. Alienasi yg semenjak Marx juga sudah diperdengarkan, harus jujur kita akui masih dan makin terasa di udara globalisasi dan neoliberal yg sekarang kita hirup. Orang tidak lagi berkarya dan bekerja untuk mengungkapkan kemanusiaannya, tetapi semata utk menghasilkan produk yg kemudian dinilai dengan uang. Logika uang atau lagika harga merampas semua ruang ekspresi dalam mana manusia mengungkapkan jati diri dan harga dirinya. Tenaga dan buah pikir tidak lebih dari sekadar komoditi. Tidak ada yg salah dengan kenyataan bahwa orang menguangkan karya atau buah pikir. Yg tidak beres adalah ketika orang tidak lagi merasakan ada ruang ekspresi dari kemanusiaan atau kediriannya dalam karya atau buah pikirnya, semata-mata karena segala upaya utk menelorkan karya itu diarahkan untuk maksimalisasi nilai tukarnya sebagai komoditi. Ini yg kemudian oleh orang-orang aliran Frankfurt disebut sebagai logika instrumentalis. Rasio, akal budi dan daya manusia dikerahkan sebagai alat dalam kerangka pikir efektivitas dan efisiensi, untuk menghasilkan apa yg paling bermutu sebagai komoditi. Bahasa ekonominya, bagi sebesar-besarnya menghasilkan uang, bagi sebesar-besarnya produksi. Dalam cara pandang ini, kreativitas tidak lagi bermakna dalam artinya yg hakiki sebagai wujud kekayaan daya hasil budi manusia yg dengannya manusia dpt berbangga tentang dirinya, tetapi ia menjadi ungkapan (sebuah) efisiensi, efektivitas dan daya saing dalam dunia yg hanya mengenal istilah jual dan beli. Maka dalam arti ini pun, kita bisa mengatakan bahwa bahwa kreativitas masa kini adalah "kreativitas destruktif", karena manusia dihancurkan menjadi komoditi' daya cipta tidak lain adalah daya saing. Karena itu, kita akan melihat orang lain sebagai saingan dalam dunia jual beli, bukan partner dalam dunia pecptaan dimana orang memandang karya org lain sebagai yg memperkaya proses penciptaan selanjutnya (proses penciptaan=proses pengungkapan kedirian manusia). Rasionalitas peradaban kita adalah rasionalitas instrumentalis, rasionalitas yg tunduk pada logika pasar, yg mengabdi di bawah hukum efisiensi dan efektivitas, terarah semata-mata utk menghasilkan apa saja yg bernilai sebagai komoditi. (efektif dan efisien bukan ungkapan2 yg buruk pada dirinya sendiri; tapi ini soal arah atau kepada siapa mereka mengabdi; mereka mengabdi kepada alienasi manusia yg sama artinya dgn dehumanisai). Apakah tidak ada ungkapan yg lebih optimis. Tentu ada! Ntar, mo ngobrol ama yayang dulu! (ingat! relasi adalah bagian yg masih bisa luput dari dehumanisasi, sejauh kita masih memberi nilai tinggi pada ungkapan manusiawi yg satu itu)
Salam, Mas Pri
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
