|
Sekilas wajah:
Tombeng
Tombeng adalah salah seorang yang saya percaya untuk memelihara beberapa
ekor kambing saya. Serahkanlah pekerjaan pada ahlinya, maka pekerjaan
tersebut akan beres. Dan soal merawat kambing, Tombeng adalah ahlinya.
Kambing-kambing saya terpelihara dengan baik di kandang belakang rumahnya. Dua
kali sehari dia ngarit mencari pakan. Tiap hari paling tidak dia akan
mencemaskan hal ini: Kemana lagi hari ini aku akan mencari pakan?
Dan mencari pakan bukanlah hal yang mudah: Menentukan lokasi di mana dia
dapat menemukan dedaunan yang segar yang disukai kambing, dan lebih-lebih lagi
tak akan ada orang yang keberatan jika dia ngarit di situ, bukanlah
persoalan yang sepele. Namun dia sudah ngarit kurang lebih tujuh tahun,
dan dia selalu menemukan lokasi untuk mencari pakan. Bagi saya hal itu sudah
merupakan sebuah keajaiban.
Dan Tombeng saya rasa bukan saja mencukupi kebutuhan pakan
kambing-kambingnya, tapi juga memelihara mereka dengan penuh
rasa kecintaan.
Soal urusan cinta perkambingan ini saya rasa tidak berlebihan. Saya pernah
diajak Tombeng mengawinkan kambing. Karena kami tidak punya
kambing pejantan, kami terpaksa harus pergi ke kampung sebelah pada seseorang
yang memiliki kambing pejantan etawa. Kambing pejantan etawa ini ukurannya
sangat besar, sehingga kambing babon kami tak akan kuat menopang berat
badannya. Maka mengawinkan kambing bukanlah persoalan yang mudah, terutama
jika pejantannya setinggi dada orang dewasa! Tapi Tombeng adalah
seorang yang pantang menyerah dan selalu penuh semangat. Maka dia pun duduk
bersandar pada tembok dengan posisi badannya agak condong ke belakang.
Dengan kedua tangannya dia menopang kambing babon yang tepat berada di atas
tubuhnya, sementara si kambing pejantan 'main' dari belakang. Saya tak bisa
menahan geli melihat adegan tersebut. Dan boleh percaya atau tidak, kambing pun
melakukan foreplay sebelum main. Saya melihat dengan kepala saya
sendiri, kambing pejantan dengan rakus menjilati pipi kambing betina. Dan karena
muka Tombeng begitu dekat berhadapan dengan muka kambing betina,
saya takut kalau-kalau kambing pejantan itu salah mencium pipi yang
mana.
Namun Tombeng bukan saja pandai bergaul dengan kambing. Dia juga
seorang yang sangat luwes dalam pergaulan. Dia disukai semua orang. Di mana saja
dia berada, dia selalu menjadi pusat perhatian dan menebarkan semangat pada
orang-orang yang ada di sekitarnya. Tombeng dapat menembus batas. Dia dapat
bergaul baik dengan semua kalangan. Meskipun pekerjaan sehari-harinya cuma
ngarit, dia dapat bercanda akrab bahkan saling meledek dengan
kalangan birokrat yang ada di kecamatan, juga dengan bapak-bapak
polisi yang ada di Polsek. Pada acara-acara seperti hajatan dia
akan jagongan bersama 'orang-orang penting' dalam pemerintahan
desa dan tertawa bersama mereka. Mereka menyukai
Tombeng. Kami semua menyukai Tombeng.
Saat pemilihan umum atau pemilihan kepala desa, Tombeng menjadi
seorang tokoh yang sangat diperhitungkan. Kemampuannya bergaul baik dengan semua
kalangan menjadikan dia cukup menentukan dalam perolehan suara.
Tombeng dapat mempengaruhi suara orang banyak.
Saya sering merenungkan pribadinya: Dia bukan seorang kaya, bukan
seorang yang berkuasa, bukan seorang yang berpendidikan tinggi, juga bukan
seorang pria yang tampan, tapi kehadirannya sungguh berarti. Bahkan dalam urusan
politik pun dia menjadi tokoh yang sangat diperhitungkan. Orang macam
apakah itu?
Hidupnya memang seperti kura-kura yang merangkak dalam lumpur, tapi seperti
yang dikatakan oleh Chuang Tzu, kura-kura yang merangkak dalam lumpur jauh
lebih baik daripada kura-kura yang diawetkan dengan air keras dan tinggal
di istana raja.
***
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** YAHOO! GROUPS LINKS
|
